
Siwi hanya diam lalu menundukkan pandangannya. Takut dan khawatir. Broto langsung menggenggam tangan Siwi dan merangkulnya.
"Istriku cuma mau liburan... Tidak usah terlalu di permasalahkan Bu... " ucap Broto lalu mengajak Siwi masuk.
"Liburan apa minggat? Ga ijin suami, ga ijin orang rumah, mendiamkan suami. Jangan-jangan waktu minggat sambil cari suami barukan kita ga tau... " sindir eyang. "Alice kenapa kok gendutan? " tanya eyang mengalihkan pembicaraan setelah menyindir Siwi.
Siwi hanya diam lalu cepat-cepat masuk ke kamar dengan air mata yang mulai berlinang.
"Jadi manja ya... " ucap eyang sambil menengok Siwi yang masuk kamar bersama suaminya.
Aji dan Alice hanya saling tatap satu sama lain. Bingung harus berbuat apa.
"Aku mau keluar... " ucap Aji yang tak tahan dalam situasi begini.
"Ikut! " ucap Alice yang jelas tak mau terjebak lagi dalam keluarganya kali ini.
Aji hanya diam membiarkan Alice mengintilinya masuk ke mobil.
"Kita omongin ke papa mama kalo eyang ga ada aja ya... " ucao Alice yang hanya di angguki Aji sambil menghela nafas.
●●●
Alif duduk diam sambil melihat pintu kamar yang tertutup. Mamanya sudah selesai mandi, tapi kali ini mamanya lama sekali di dalam tak kunjung keluar. Wafer yang di bawa Alif juga terus di genggamnya, menunggu Nana keluar agar bisa di pamerkan.
"Mama ngapain? " tanya Alif sambil mengetuk pintu.
Segera Nana keluar setelah merasa sudah cukup siap menemui keluarganya.
"Liat aku dapet wafer... " pamer Alif dengan ceria.
"Pak, om Nana dah nentuin pilihan buat nikah sama ustadz Arif... " ucap Nana dengan tenang dan berusaha terlihat senang.
Semua anggota keluarga kaget melongo, mendengar keputusan Nana yang begitu mendadak. Bahkan pak Janto sendiri belum sempat menjelaskan pada Alif soal pernikahan Nana. Nana juga tak pernah terdengar menasehati putranya itu soal papa baru atau sejenisnya.
Om Bram dan tante Yuni tak kalah terkejut lagi. Setelah mengira kalau Nana akan benar-benar fokus pada masa depannya, fokus kuliah. Sekarang tiba-tiba bilang kalau akan menikah dengan Arif.
Oke Arif memang orang baik, soleh dan suci. Bahkan rasanya terlalu indah untuk jadi kenyataan, jangankan jadi kenyataan mengkhayalkannya saja tak pernah terlintas. Nana yang di cap sebagai wanita murahan yang ternodai dengan membawa anak haram itu menikahi seorang ustadz sekaligus ahli agama. Bukan main.
"Kamu serius? Yakin gak mau kuliah dulu yang benar? " tanya om Bram yang di angguki pak Janto dan tante Yuni yang sama-sama syok dengan keputusan Nana.
"Yakin, aku belum pernah seyakin ini... " jawab Nana penuh rasa percaya diri. "Kan aku bisa kuliah sama jadi istri juga. Ga masalah... " sambung Nana memperkuat jawabannya.
Om Bram hanya bisa diam. Tak menyangka kalau keponakannya ini akan mengambil keputusan serius secepat ini.
"Ya lagian nolak lamaran juga ga baik kan mas... " ucap tante Yuni dengan lesu pada om Bram.
●●●
"Aku mau nikah sama Nana, Nana dah setuju Bu. Nanti ga usah repot-repot, seadanya aja gapapa yang penting cepat sah... " ucap Arif pada Jamilah melalui telepon.
"...iya gapapa... Kapan persiapan? Biar ibu bisa siap-siap juga... " jawab Jamilah semangat.
"Besok ibu dateng ke sini bisa? Kalo ga secepatnya biar bisa cepat fix... " pinta Arif.
"...insyaallah ibu usahakan ya nak... " jawab Jamilah lalu menutup panggilan teleponnya.