My Baby Need a Daddy

My Baby Need a Daddy
Part 49



"Om, mas Arif bentar lagi mau pindah tempat pengabdian... Aku mau di rumah bapak... " ucap Nana saat menelfon om Bram.


"...loh kok cepat sekali, apa jangan-jangan cuma main-main... "


"Aku ga mau su'udzon kayak gitu... Tapiku harap ga gitu, doakan saja yang terbaik Om... "


"...apa perlu kita antar juga waktu pulang? Om ga yakin soalnya... "


"Terserah Om aja... " jawab Nana pasrah.


"...yaudah nanti biar om yang ngomong sama dia... " tutup om Bram.


Nana masih saja terdiam memikirkan omongan om Bram. Bagaimana bila Arif hanya main-main? Bagaimana kalau selama ini hanya lelucon? Bagaimana kalau sebenarnya Arif sama dengan yang lain? Pikiran Nana jadi kacau sendiri dan penuh dengan tanda tanya.


"Mama... Ayo TPA!" ajak Alif yang sudah rapi.


"Oh iya adek TPA ya... " ucap Nana lalu bersiap-siap mengantar Alif. "Adek, adek nanti jangan nakal jangan repotin ustadz ya... " ucap Nana mewanti-wanti Alif sambil berjalan ke masjid.


"Iya... Aku kan tidak repotin siapa-siapa... Aku kan baik... " jawab Alif. "Mama nanti tunggu aku di sana apa mau jahit? " tanya Alif.


"Mama mau jahit biar cepat jadi... " jawab Nana yang membuat Alif cemberut.


"Kalo mama ga jahit, nanti mama ga punya uang buat sekolahin adek loh... " ucap Nana menjelaskan kondisinya pada Alif.


Alif hanya mengangguk lesu. "Kok mamanya temenku bisa tungguin terus Ma? " tanya Alif membandingkan.


"Soalnya uangnya sudah banyak... " jawab Nana sesederhana mungkin.


"Tapi kan dia tidak kerja? " tanya Alif lagi.


"Kata siapa tidak kerja? Emang adek liat waktu dia kerja? " ucap Nana mengembalikan pertanyaan Alif.


Alif hanya tersenyum malu mendengar pertanyaan Nana.


"Nanti kalo uang mama banyaaaaaak banget nanti mama temenin adek terus tidak bekerja lagi... " ucap Nana membesarkan hati Alif. "Jadi sekarang mama harus kerja dulu biar uangnya bisa banyaaaak banget gitu... " sambung Nana yang di angguki Alif.


"Mama Alif... " sapa Arif yang menyambut Nana. "Kalau minggu besok ku ajak ke pondok sama kerumahku bisa tidak? " tanya Arif.


Nana mengangguk pelan sambil tersenyum sumringah tapi langsung ia tutupi dengan menundukkan pandangannya.


"Nanti aku bilang bapak, aku mau ajak bapak juga... " ucap Arif yang lagi-lagi hanya di angguki Nana.


Astaghfirullah... Aku ini mikir apa dari tadi. Ternyata ga perlu su'udzon... Batin Nana yang malu sendiri dengan prasangkanya.


"Mama pulang sana jahit lagi... " ucap Alif sambil mendorong mamanya agar tidak lama-lama mengobrol dan bisa cepat punya uang banyak.


"Iya... Mama pulang dulu ya... " ucap Nana lalu berjalan pulang tanpa sempat berpamitan pada Arif karena terlalu salah tingkah.


Ih gemes liat mama Alif... Batin Arif yang memperhatikan Nana yang terus berjalan menjauh.


●●●


"Mamaku lagi sibuk bekerja biar uangnya banyak nanti bisa temenin aku terus... " ucap Alif yang curhat pada Arif sambil duduk menunggu waktu maghrib.


"Mama biasa sibuk ya? " tanya Arif yang duduk bersandar di tembok di samping Alif.


Alif hanya mengangguk. "Aku tidak suka mama bekerja terus, sibuk terus aku tidak suka... " ucap Alif dengan alis yang mulai mengkerut.


"Kenapa? " tanya Arif penasaran.


"Kan mama cewek... " jawab Alif lalu menatap Arif. "Yang harusnya kerja kan cowok. Kayak papanya temen-temenku... " sambung Alif.


"Kalo aku jadi papanya Alif mau ga? " tanya Arif yang di jawab dengan tawa dari Alif.


"Ya tidak bisa..." jawab Alif.


"Loh kenapa? " tanya Arif syok.


"Nanti yang jadi ustadz siapa? " Alif dan Arif tertawa bersamaan.