My Baby Need a Daddy

My Baby Need a Daddy
Part 80



"Maaf aku tadi bentak Alif... " lirih Arif. "Na... Menikahlah denganku... Aku tersiksa menunggu jawabanmu... Aku mulia tak percaya diri lagi... "


Mungkin ini saatnya aku memilih... Aku ga mungkin selamanya sendiri. Mas Arif mungkin suami dan papa yang tepat buat Alif... Sulit buat orang nerima aku, sekarang ada yang mau sama aku sama Alif juga mau ku suruh menunggu sampai kapan? Aku gak gadis lagi, ga menarik lagi, ga ada yang memilihku kayaknya mas Arif emang yang paling telat. Aku yakin! batin Nana yang mulai memantapkan diri. Melihat betapa gundahnya Arif, betapa lama ia menunggu. Nana mulai memikirkan banyak hal.


Tak terpikirkan lagi soal Alif di kepala Nana. Tak terpikir pula soal pertimbangan keluarga atas pilihannya. Nana menundukkan pandangan, menghela nafas panjang lalu menatap Arif. "Ayo menikah Mas... " ucap Nana mantap menjawab permintaan Arif.


"Serius?! " tanya Arif antara senang dan tak percaya.


Nana segera mengangguk dengan yakin yang membuat Arif makin senang dan refleks memeluknya bahkan mencium pipinya sengan penuh suka cita.


"Astaghfirullah.... " Nana membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang di lakukan Arif.


"Apa? Gapapa dong kan bentar lagi jadi istriku! " tegas Arif yang masih begitu senang sebentar lagi bisa menikahi janda cantik Nana.


●●●


Arif tak langsung memulangkan Nana. Nana sendiri juga tak ingin cepat-cepat pulang. Bagai pasangan muda lainnya yang tengah di mabuk cinta keduanya hilang akal. Lupa kalau persetujuan Nana tadi hanya persetujuan biasa. Tak ada dasar hukum yang kuat di dalamnya. Bahkan Nana yang pernah berbuat salah rasanya sudah tak ingat lagi. Tak ingat bila hanya ucapan cinta saja tak bisa menjadi landasan hukum yang kuat. Tak ada perlindungan atas dirinya.


Kalau biasanya Arif menjaga jarak dengan Nana dan tak mau kontak fisik dengannya. Kali ini berbeda, sudah berani bergandengan bahkan Arif beberapa kali menciumi punggung tangan Nana.


"Ini hari terindah... " bisik Arif di telinga Nana sebelum akhirnya mendaratkan ciumannya di bahu Nana.


Nana hanya mengedikkan bahunya. Tak menyangka perasaannya kembali berbunga-bunga setelah melakukan begitu banyak kontak fisik dengan Arif. Tak munafik Nana rindu sentuhan seorang pria dewasa di tubuhnya. Gatal... Panas... Nana butuh lebih, ingin sesuatu yang lebih lagi, rindu akan belaian dan kucuran kasih sayang di tubuhnya.


"Aku bener-bener ga sabar ijab nikahin kamu, saya terima nikah dan kawinnya.... " Arif mulai berandai-andai sambil terus memegangi tangan Nana dan menciuminya entah sayang entah nafsu.


Nana tersipu di buatnya. Sudah lama sekali ia tak berandai-andai, lama sekali ia tak di sentuh. Ah sial ingatan panasnya dengan Aji berputar kembali di ingatannya. Bukan benci dan segera menyadarkannya Nana malah makin panas dan kehilangan kewarasannya secara perlahan.


Arif bangun dan melihat sekitar. Nana tak berani bangun kakinya terlalu lemas. "Lihat ada karaoke, mau kesana? " tawar Arif yang lagi-lagi di angguki Nana.


Bergegaslah Arif membawa Nana ke tempat karaoke yang di maksudnya, dengan uang pas-pasan di kantungnya. Arif menyewa ruang karaoke dengan paket selama dua jam. Tanpa mengingat Alif, pak Janto, keluarga... Jangankan itu Tuhan saja rasanya di lupakan. Nana dan Arif masuk ke dalam ruang karaoke.


Bingung putar lagu yang mana, lagu apa. Keduanya asal putar saja. Menyanyi? Tentu tidak, keduanya langsung bercumbu tanpa ampun. Mengabaikan status satu sama lain, persetan dengan status yang penting keduanya tau sekarang sudah saling memiliki hanya saja belum sah.