
"Apa gak papa aku nginep ?" tanya Zulia ragu ketika Arif mempersilahkannya untuk masuk ke dalam rumah saat hujan begini.
"Gapapa... Dari pada kamu pulang hujan-hujanan, dah malem pula... " jawab Arif lalu masuk dan menyalakan lampu. "Nana sama Alif nginep di rumah mas Aji, bapaknya Alif... Besok baru pulang. Abis subuh kita keluar jadi aman... " Arif menjelaskan rencan terdekatnya.
Zulia mengangguk pasrah menuruti Arif. Arif juga langsung menutup pintu rumahnya setelah memasukkan motor matic milik Zulia.
"Dingin? " tanya Arif sambil melepaskan atasannya yang sedikit basah terkena hujan.
"Menurutmu? " Zulia mengembalikan pertanyaan basa-basi Arif sambil melepaskan kerudungnya yang basah.
Senyum tersungging di bibir Arif melihat Zulia yang dengan santainya membuka kerudungnya.
"Ada daster nana kalo kamu mau pakai... " ucap Arif lalu melepas celana panjangnya yang cingkrang itu lalu menggantungnya di jemuran.
Tepat di depan mata Zulia terpampang Arif yang telanjang bulat dan nampak sengaja mengajaknya mengobrol untuk memamerkan tubuhnya.
Argh sial pikiran Zulia terbang kemana-mana setelah menatap kejantanan Arif yang berukuran sedang bahkan bagi nana sama sekali tak memuaskan itu. Matanya tak bisa fokus.
"Ga usah malu-malu kamu kan dah pernah nyobain juga... " ucap Arif. "Mumpung Nana ga ada, Alif juga ga ada boleh kita coba... Lagian bajumu juga basahkan... " bujuk Arif yang tak selang lama seolah kejantanannya paham harus apa, ia sudah ereksi duluan. Siap tempur.
●●●
Pagi menjelang, Arif dan Zulia bagaikan berbulan madu semalam. Entah berapa kali Arif keluar di dalam dan Zulia yang mencapai puncaknya hingga keduanya tertidur dengan lemas dalam selimut di ranjang tempat Nana dan Arif juga Alif tidur.
"Assalamualaikum... " pak Janto yang datang bertamu pagi-pagi membawakan beberapa ayam tepung yang di beli dipinggir jalan.
Tak ada jawaban. Saat mencoba membuka pintu juga pintunya terkunci. Jadilah pak Janto duduk menunggu di kursi depan rumah Nana.
Tak selang lama Nana dan Alif yang di antar Aji juga supirnya datang. Nana cukup terkejut melihat bapaknya sudah menunggu di depan rumahnya. Bisa-bisa bapaknya berpikir negatif bila melihatnya semobil dengan Aji dan kembali akur lagi begini.
Aji dan Nana saling tatap dengan panik. Tapi tak selang lama Aji tersenyum lembut berusaha menenangkan Nana. "Biar nanti aku yang jelaskan... Jangan khawatir, sekarang aku pemberani... " ucap Aji menenangkan perasaan Nana.
Nana hanya mengangguk lalu bersiap turun.
"Tunggu... " tahan Aji. "Aku mau ambil video alif biar nanti kalo aku ke luar negri lagi gak kangen... " ucap Aji lalu menyiapkan ponselnya untuk mengabadikan momen bersama Alif.
"Om papa mau pergi keluar negeri lagi? " tanya Alif sedih yang langsung di video kan Aji.
😷
"Iya tapi nanti pulang lagi terus kita main lagi kayak biasanya... Papa mau bekerja... " jawab Aji sambil memvidiokan Alif yang tampak sedih.
Alif hanya mengangguk dengan sedih. "Om itu sebenarnya sayang aku cuma pura-pura ya? " tanya Alif sedih.
"Loh kata siapa? Beneran dong papa sayang banget sama adek... " Aji langsung menepis pertanyaan Alif. "Papa bekerja kan buat adek juga, biar bisa sekolah, beli mainan, makan ayam tepung, pergi jalan-jalan, kursus... " jelas Aji lagi.
Alif hanya mengangguk lesu sambil berjalan menuju rumahnya.
Nana tampak menjelaskan apa yang terjadi sambil berusaha membuka pintu. Bahkan Nana sempat memanggil-manggil Arif tapi tak kunjung mendapat jawaban. Akhirnya Nana mencoba masuk lewat pintu samping rumah.
Betapa bingung dan terkejutnya nana ada motor matic zulia yang berwarna oranye yang memang jelas milik zulia. Tapi yang lebih membuat Nana kaget saat melihat baju zulia yang tergantung di jemurannya dan pakaian dalam yang berceceran di lantai.
Tak mau salah langkah Nana langsung membuka pintu dan meminta pak Janto juga Aji dan supirnya masuk. Sementara Nana sudah berlinangan Air mata memeluk Alif.
Nana hanya menggeleng sambil terus memeluk Alif.
"Astaghfirullah hal adzim!" pekik pak Janto yang langsung masuk ke kamar Nana dan mendapati Arif dan Zulia tengah terlelap dalam posisi telanjang.
Supir Aji tak mau ketinggalan momen langsung memvidiokan kejadian di rumah barusan. Aji pun begitu.
Arif dan Zulia langsung terbangun dengan keget dan ketakutan. "I-ini gak kayak yang bapak kira... Kita gak ngapa-ngapain... " dusta Arif begitu lancar meskipun baru sadar dari tidurnya.
"Di selesaikan saja di pengadilan... Buktinya terlalu kuat, kalau mengelak kita visum... Ada sisa pejuhmu gak di dalamnya... " sinis Aji sambil melirik Zulia dan Arif dengan jijik. Sementara Zulia kebingungan cara untuk menutupi tubuhnya yang telanjang bulat.
Astaghfirullah kok bisa mas arif selingkuh sama neng zulia... Batin Nana terpukul.
Aji langsung mengambil banyak foto bukti, sementara Nana dengan air mata berurai mengemasi barang-barangnya juga alif yang tak seberapa itu. Arif terus memohon pada Nana agar tetap di rumahnya tapi Nana hanya menggeleng dan terus berjalan ke mobil Aji membawa barang-barangnya.
Zulia hanya bisa menangis, tak selang lama pula orang tua Zulia datang juga orang tua Arif yang syok dengan apa yang di lakukan anak-anaknya. Orang tua zulia yang paling terpukul. Arif yang terpojok juga hanya bisa diam.
Nana pergi kembali kerumah orang tuanya. Pak janto ikut semobil dengan aji dan nana juga alif, sementara supir aji membawa motor butut pak Janto.
"Sudah bapak sama Nana ga usah sedih, ga usah di pikirin dalam-dalam biar saya yang urus... " ucap Aji sambil menyetir.
"Om papa katanya mau ke luar negara lagi... " ucap Alif sambil menatap Aji sedih.
"Nanti saja habis urusin ini papa ke luar negaranya... " jawab Aji santai.
Alif langsung tersenyum sumringah lalu menutupi wajahnya dengan malu-malu.
"Maaf ngerepotin terus mas... " lirih Nana.
"Gapapa Na... Ini bukan apa-apa... " jawab Aji lalu menggenggam tangan Nana yang duduk di sampingnya. "Aku bantu sampai benar-benar tuntas... " sambung Aji lalu mengecup tangan Nana di depan pak Janto juga Alif.
Alif yang melihat kemesraan Aji dan Nana hanya bisa tersenyum geli. Belum pernah Alif melihat Nana mesra dengan Arif sebelumnya. Alif merasa sedikit aneh dan jijik tapi ia senang melihat mamanya di sayangi dengan baik.
Pak janto yang masih syok melihat Arif dan Zulia juga sudah tak bisa berkata apa-apa lagi. Sudah terlalu blank setelah menemukan fakta anaknya di selingkuhi bahkan hingga zina.
●●●
Arif berhadapan dengan hukum. Selain harus bercerai dengan Nana ia juga langsung di hadapkan pada pertanggung jawaban atas penggelapan uang transferan dari Aji. Belum berhenti sampai di sana Arif masih harus mempertanggung jawabkan perbuatannya setelah menzinai Zulia.
Aji di bantu firma hukum papanya mengusut tuntas semua hak-hak milik Nana dan Alif. Sidang tak sealot yang Aji bayangkan karena Nana tak meminta harta gono-gini dan apapun yang di minta hanya resmi bercerai.
Berita Arif dan Zulia yang zina langsung di tutupi keluarga dengan menikahkan keduanya setelah arif selesai berurusan dengan Aji. Arif benar-benar memulai hidupnya dari nol bahkan minus. Zulia mau tidak mau juga harus mulai ikut hidup susah dengan Arif karena perbuatannya.
Tinggal Nana dan Aji yang mempersiapkan diri untuk menikah setelah selesai masa idah dan sudah mendapat restu keluarga. Meskipun memang tampak dari keluarga Aji yang masih sengit, tapi sesungguhnya mereka tetap senang dan bisa menerima Nana juga Alif sebagaimana mestinya.
Tak mau menunggu lama pula Aji langsung memboyong Nana dan Alif untuk tinggal di rumahnya yang tak jauh dari rumah pak Janto juga orang tua Aji.
"Kayak gini baru bener... " bisik Aji sambil menghela nafas lega melihat Nana tengah menyiapkan makan malam saat ia sampai di rumah.
"Mas... " sapa Nana yang langsung memeluk Aji yang baru pulang.