
Arif masih diam di depan rumah pak Janto, terduduk di teras. Pikirannya kalut, ia tak menyangka kalau Nana hamil di luar nikah. Wanita sebaik Nana yang bisa begitu sabar dan terlihat begitu bersahaja kenapa bisa hamil duluan?
Apa mungkin dia terjerat pergaulan bebas? Apa mungkin dulu dia nakal? Tapi kalau memang begitu tak mungkin Nana bisa sabar menghadapi semuanya. Tak mungkin Nana bisa tahan diri untuk tidak mengumpat tiap kali di hujat.
Tapi yang paling tidak mungkin lagi, kalau benar Nana seburuk yang ada di pikiran Arif. Tak mungkin Nana mau hamil dan membesarkan Alif seorang diri di usainya yang begitu belia. Tak mungkin pula ia masih mau berusaha untuk kuliah kalau memang Nana itu wanita nakal.
Tapi bisa jadi semuanya mungkin dan sekarang Nana sedang melakukan taubatan nasuha. Nana tengah menebus dosa-dosanya, siapa yang tau pasti?
Batin Arif makin bergejolak, kebingungan dengan Nana dan keluarganya. Juga pria barusan. Semua tampak rumit dan semrawut.
Car! Bugh! Suara gelas pecah disertai suara jatuh dari dalam rumah. Arif langsung tersadar dari lamunannya yang memikirkan semua hal barusan. Segera Arif masuk dan mendapati pak Janto yang jatuh dan tampak begitu kesakitan.
Tanpa pikir panjang lagi, Arif langsung menelfon ambulans agar pak Jabto dapat penanganannya dengan baik dan benar. Terutama kalau sampai pak Janto terkena penyakit fatal seperti jantung dan stroke.
●●●
Arif terus menemani pak Janto setelah mengurus administrasi dan membayar biaya pengobatan dengan semua uang yang ia punya. Alhamdulillah tak ada masalah serius, hanya tekanan darah yang terlalu tinggi saja. Tak ada masalah serius, jadi Arif bisa bernafas lega karena pak Janto tidak kenapa-napa.
"Maaf ya jadi merepotkan mas ustadz... " ucap pak Janto pada Arif setelah lama bangun dan hanya diam menatap langit-langit rumah sakit.
"Alhamdulillah bapak sudah sadar... " Arif merasa sangat lega melihat pak Janto.
Pak Janto tersenyum lembut. "Habis berapa administrasinya? Nanti biar saya ganti kalo dah di rumah... " ucap pak Janto lalu duduk bersandar di bantu Arif.
"Mohon maaf sebelumnya pak, saya mau tanya... Mungkin ini sedikit lancang... "
"Pria tadi siapa? " tanya Arif yang akhirnya menyampaikan pertanyaan atas rasa penasarannya beberapa waktu.
"Itu bapaknya Alif, dulu pacaran sama Nana... Nana di ajak tinggal serumah bilangnya kalo asrama... " pak Janto mulai menceritakan soal Aji pada Arif sedetail yang ia bisa dan ia mampu ceritakan sambil berurai air mata.
Arif diam mendengarkan semua dengan perasaan iba dan prihatin pada Nana dan keluarganya terutama Alif. Ia benar-benar tak menyangka wanita muda itu begitu sudah banyak memakan pil pahit dan merasakan kerasnya hidup. Kalau sebelumnya Arif merasa kalau ia dan ibunya sudah jadi orang paling nelangsa, sekarang ia tarik kembali ucapan dan pikiran itu.
Kesaktiannya selama ini yang berusaha memecahkan kerasnya karang kehidupan masih belum seberapa dengan Nana. Apalagi Alif. Arif merasa sangat malu sekarang. Betapa gigihnya wanita itu, bahkan dalam kerasnya hidup ia masih tak meninggalkan sisi welas asihnya sebagai wanita dan ibu.
"Mas ustadz jangan cerita sama siapa-siapa ya... Kasian Nana... " ucap pak Janto sambil menjabat tangan Arif dan menepuk-nepuk lembut punggung tangannya.
"Iya pak... " ucap Arif menyanggupi. "Oh iya saya mau kabari Nana dulu biar kesini... " ucap Arif yang di angguki pak Janto.
Arif segera keluar dari ruang UGD untuk menghubungi Nana. Perasaannya jadi campur aduk dan berkecamuk memikirkan bagaimana Nana dan Alif. Juga Aji yang terus mengganggu. Khawatir, mungkin hanya itu yang ada di kepala Arif.
"...halo assalamu'alaikum... " ucap Arif saat telfonnya di angkat.
"...wa'alaikumsalam, maaf ini siapa ya?..." jawab Nana.
"...ini ustadz Arif, ini pak Janto di rumah sakit. Bisa kesini ? Nanti alamatnya saya share loc... "
"...astaghfirullah hal azim... I-iya mas, makasih ya, saya langsung berangkat... " Nana langsung menutup teleponnya, sementara Arif langsung mengirim lokasinya.