
Alif berangkat ke tempat les di antar Aji sementara Nana tidur siang setelah kenyang makan. Tapi belum lama nana terlelap ada seseorang yang berulang kali menekan bel rumahnya hingga nana terbangun. Setelah sempat merapikan pakaian yang di kenaikannya nana berjalan ke depan dengan sedikit terburu-buru tapi begitu ia melihat siapa yang datang seketika ia langsung berlari masuk ke dalam rumah dan buru-buru mengunci pintu dan semua akses masuk ke rumahnya. Bahkan nana juga langsung bersembunyi ke kamar lagi dan buru-buru menghubungi aji.
"Mas... Ada mas Arif di depan aku takut..." cicit nana.
"...ngapain?..." tanya aji langsung panik.
"Ga tau... "
"...aku dah perjalanan pulang. Tunggu di kamar jangan kemana-mana, kamu yang tenang... " putus aji yang langsung tancap gas pulang.
"Telfonnya jangan di matiin... " rengek nana.
"...iya... " saut aji yang tak jadi mematikan sambungan telfonnya.
Tak lama setelah nana menelfon ada suara mobil yang berhenti di depan rumahnya. Nana hanya mengintip dari jendela kamarnya. Tapi belum nana beranjak tampak aji juga sudah datang sementara arif sudah pergi sejak melihat ada mobil yang datang mendekat.
Aji keluar dari mobilnya untuk menemui orang dalam mobil yang terparkir tepat di depan rumahnya. Aji tampak panik dan kesal tapi berusaha terlihat tenang menghadapi tamunya.
Sadar suaminya sudah datang nana langsung berjalan keluar melihat siapa tamu yang datang.
"Nana... Apa kabar? " sapa Wulan dengan ramah dari mobil.
"Ya allah, mbak Wulan apa kabar... Lama ga ketemu... " sambut nana hangat.
Aji hanya diam melirik tajam ke arah Wulan lalu kembali masuk ke mobilnya untuk memarkirkan dengan benar. Sementara nana membukakan pintu rumahnya untuk menyambut kedatangan Wulan.
Aji menghela nafas melihat Nana yang tampak sudah akrab dengan Wulan.
"Di bikinin minum apa mas? " tanya Nana.
"Ga usah... " jawab aji lalu berdiri di belakang nana sambil merangkulnya.
"Alif mana? " tanya Wulan.
"Lagi les... " jawab nana sambil mempersilahkan Wulan masuk.
"Ini Wulan, mantan istriku... Ini nana, istriku... Mamanya anak-anakku... " ucap aji memperkenalkan Wulan pada nana dan sebaliknya sebelum muncul permasalahan.
"Sudah, ini lagi hamil anakku... " jawab aji santai.
Nana hanya diam menatap Wulan dan Aji bergantian. Sedikit rasa cemburu muncul di hati nana. Aji tampak begitu imbang bersama Wulan. Keduanya tampak serasi dan tidak jomplang, sama-sama sudah dewasa, sama-sama dari keluarga terpandang.
"Aku kesini ngira kalian baru mau nikah, gak taunya dah nikah. Yaudah alhamdulillah... " ucap Wulan senang.
"Iya alhamdulillah..." ucap nana.
"Kamu gimana sekarang? " tanya Aji sambil menggenggam tangan nana yang duduk di sampingnya.
"Aku punya anak... " jawab Wulan sedikit malu.
"Loh, kok bisa? Maksudku kamu dah sembuh? Sorry... Aku ga masalah kamu dapet anak dari siapa. Tapi aku senang kamu dah bisa hamil... " ucap aji senang lalu mengeratkan genggamannya.
"Iya, tapi aku ga tau dia anak siapa juga. Aku ga mau cari tau juga... "
"Anakmu cowok apa cewek?" sela aji.
"Cewek dong... " jawab Wulan bangga.
"Umur berapa? " tanya aji.
"2 taunan... Aku titipin ke susternya... Aku sibuk... " ucap Wulan.
Nana hanya diam menatap betapa hangat pembicaraan Aji dan Wulan. Nana yang awalnya hanya sedikit cemburu, sekarang jadi benar-benar cemburu. Tapi nana berusaha menahan dirinya. Apa lagi aji terus menggenggam tangannya atau merangkulnya, bahkan di sela obrolan saat mendengarkan wulan bercerita aji mencium keningnya.
"Aku cuma mampir... Aku mau ada urusan... Aku balik dulu ya, kita kabar-kabaran aja ya na... " pamit wulan sebelum pergi.
.
.
.
maaf baru up aku sibuk banget akhir2 ini 🙏