
Alif langsung berlari setelah di bantu naik, dengan sandal yang masih di genggamnya Alif terus berlari menuju ke rumahnya dengan ketakutan dan panik. Pria itu hanya menghela nafas lalu melangkah sedikit lebih cepat untuk menangkap Alif.
"Mama!!! Tolong!!! Mama!!! " jerit Alif meminta tolong sambil memanggil-manggil mamanya.
"Adek kita cuci kaki aja... Om janji ga apa-apa in kamu... " ucap pria yang benar-benar membuat Alif ketakutan itu yang langsung menangkap Alif dan membawanya ke tempat wudhu masjid. Alif terus menangis tapi pria itu terus membersihkan kakinya bahkan juga sandalnya.
"Sudah jangan nangis... " ucap pria itu sambil menyeka air mata Alif dan mengecup keningnya.
"Astaghfirullah hal adzim!!! Alif!! " pekik Nana yang melihat Aji bersama Alif di tempat wudhu masjid.
"MAMA!! " pekik Alif yang langsung berlari ke arah Nana tanpa memakai sandal.
Aji tersenyum melihat interaksi Nana dan Alif, perlahan pandangannya tertunduk ke arah sandal jepit tipis yang di tinggalkan Alif barusan. Tampak sudah lapuk, bahkan bagian yang di jepit saja sudah di sambung dengan tali rafia.
"Apa perlu ku belikan sandal yang lebih bagus? " tanya Aji pada Nana dan Alif.
"Aku punya sandal bagus sendiri, itu buat main! " tolak Alif lalu mengambil sendalnya. "Ayo pulang Ma... " ajak Alif setelah memakai sandalnya.
Nana mengangguk lalu berjongkok untuk menggendong Alif di punggungnya.
"Alice hamil... " ucap Aji tak mau kehilangan kesempatan bicara dengan Nana.
Nana terdiam lalu menatap Aji. "Wah, selamat ya..." ucap Nana tulus yang terdengar begitu sarkas bagi Aji.
"Ga ada suaminya... " ucap Aji sebelum Nana melangkah.
"Mama sudah ayo pulang!! " rengek Alif sambil menggerak-gerakkan kakinya.
Nana mengabaikan Aji lalu kembali melangkah. "Terus kenapa? " tanya Nana cukup sinis.
"Adek tadi kenapa? Kok bisa nangis? " tanya Nana pada Alif, sengaja agar bisa mengabaikan Aji.
"Aku tadi di suruh pulang sama bapaknya Doni, terus aku pulang sambil mainan sandal terus sandalku jatuh seselokan... " Alif mulai bercerita sementara Aji terus saja mengikutinya pulang. "Om, pulang aja. Kan mama ga suka sama om, aku juga... Makasih ya dah bantu aku, om pergi aja sana hus! " usir Alif sambil menoleh kebelakang.
Aji menggelengkan kepala dan kekeh mengikuti Alif yang di gendong Nana pulang. Alif memelototi Aji, kesal karena terus mengganggunya.
"Om ini udah aneh di kasih tau neyel! " omel Alif yang bingung harus mengusir Aji bagaimana lagi. "Om pulang aja, bekerja biar uangnya banyak, biar ga ganggu aku sama mama! " sambung Alif yang masih usaha mengusir Aji.
"Uangnya udah banyak... " jawab Aji menanggapi Alif.
"Duh neyel sekali... " Alif bingung cara mengusir Aji yang terus mengikutinya.
Aji hanya tersenyum sambil menahan tawanya mendengar putranya yang terus saja ingin mengusirnya. Ingin sekali Aji menggantikan Nana untuk menggendong Alif pulang. Ah tapi sudahlah Aji cukup bersyukur kali ini tidak ada penolakan secara kasar dari Nana.
"Na, gimana keputusanmu? " tanya Aji pelan dan rasanya cukup malu untuk mendesak Nana.
"Belum pengumuman aku tidak tau... " jawab Nana acuh tak acuh.
"Udah sana pergi... Kan mamaku udah jawab tidak tau... " usir Alif lagi kali ini di ikuti tangannya yang di kibas-kibaskan mengusir Aji.
Aji tertawa kecil melihat cara Alif yang mengusirnya. "Aku menunggumu Na... Aku terus menunggu... " ucap Aji lalu menghentikan langkahnya. "Rekeningmu masih sama? " tanya Aji. "Aku rutin transfer ke sana sejak kamu hamil... Di pakai ya... Buat Alif... " sambung Aji tanpa menunggu jawaban Nana lalu melangkah pergi.
Nana tersiam lalu menoleh ke arah Aji yang berjalan ke arah mobilnya.
"Nah gitu tidak neyel... " gumam Alif senang akhirnya Aji tidak mengikutinya lagi.