
"Na... Masih habis lairan mau apa? " tanya tante Yuni saat Nana pindah ke rumahnya.
"Belum tau tante... Mungkin lanjut jualan, nanti sambil masak-masak lauk dititipin, kalo ga ya mau jual gorengan... Masih bingung, tapi kan aku bisa jahit, jadi kayaknya mau bantu bapak jahit kalo ga kerja di konveksi... " jawab Nana yang memang dari awal ia memutuskan untuk menjadi orang tua tunggal sudah berusaha mempersiapkan diri.
"Apa ga mau ikut balai pelatihan kerja gitu? Cari softskill baru? " tanya tante Yuni yang senang dengan apa yg di rancang Nana meskipun belum mantap.
"Apa bisa? Aku kan harus jagain anakku juga tan... Belum dia juga butuh biaya banyak... " jawab Nana mempertimbangkan sambil mengelus perutnya.
Jujur di akui Nana membahas soal masa depannya dengan orang lain terasa seperti olok-olokan baginya. Bahkan dia sudah menghancurkan masa depannya sendiri dengan pergaulan kelewat bebasnya. Sekarang mau bicara soal tatanan masa depannya, tidakkah terdengar lucu. Belum lagi membicarakan anaknya nanti... Duh... Duh... Bapaknya saja enggan menerima, sekarang rasanya seperti melihat gembel yang begitu bangga memperoleh sepatu hanya sebelah saja. Tak berguna.
Nana kembali menundukkan kepala tersadar bagaimana memalukannya ucapan barusan. Tangannya yang mengelus perut besarnya dengan tulus dan penuh rasa cinta juga rasanya tak wajar. Toh ia hanya jadi benalu, ia bukan seorang istri, ia hanya wanita bodoh yang di butakan Cinta lalu di rayu lelaki kutang ajar.
"Na... Kamu masih mau kuliah ga sebenarnya? " tanya tante Yuni sambil berbisik.
"Kalo kamu mau, insyaallah tante sama om masih bisa biayai... Tapi ga bisa fasilitasi apa-apa... Paling ya cuma motor bebek punya tante itu kamu pakek... " ucap tante Yuni menawari lago dengan lebih serius karena tak ada jawaban dari Nana.
"Masalah mau jelas mau tante... Tapi kan aku dah banyak repotin om sama tante... Nanti ngurus anakku ini gimana? Aku ga mau membebani tante sama om lebih jauh lagi... Lebih berat lagi... " Nana mencoba menjelaskan kondisinya.
"Hmm... Iya juga... Tapi coba kamu fikirkan ulang... Anakmu titip ke tante juga boleh sekalian buat pancingan biar tante cepet hamil... "
Nana hanya mengangguk sambil tersenyum canggung. Bagaimana bisa ia tega menambah beban begini. Apalagi Nana juga sudah bilang kalau ia akan bertanggungjawab full atas kesalahannya sebagai bentuk penebusan dosanya. Tapi bila di pikir lagi kesempatan ini tak mungkin datang duakali. Baiklah mungkin kesempatan datang duakali, tapi tidak dengan kepercayaan.
Kepercayaan om tantenya ini serasa mukjizat bagi Nana. Benar-benar mukjizat, selain karena di terima dengan lapang dada, nana juga di tawari untuk kuliah dan tantenya mau menjaga bayinya. Beruntung sekali! Mungkin ini saatnya Nana memfokuskan dirinya pada sesuatu yang lebih. Kemampuannya selama ini akan benar-benar di uji, bukan hanya saat mengisi soal-soal UN/SBMPTN bahkan menjawab TTS, sekarang ia akan menjawab soal-soal yang akan membawanya masuk dan melangkah lebih dekat, lebih maju ke kesuksesannya. It's like dreams come true!
"Iya tante...nanti Nana pikir lagi, sama minta pertimbangan bapak... " jawab Nana senang dengan mata berbinar-binar menahan tangis harunya yang begitu senang masih di beri kepercayaan oleh keluarganya.