My Baby Need a Daddy

My Baby Need a Daddy
Part 44



Wulan langsung kelabakan kebingungan menyusun strategi apa lagi sebelumnya sudah sempat mengancam ini itu juga. Hari yang awalnya masih bisa mengangkat wajahnya dengan bangga dan menepuk dada untuk mendampingi Wulan. Langsung di habisi oleh keluarga Wulan, Wulan juga langsung kehilangan pegangan dan tak bisa membela atau mempertahankan Hari lagi. Hidupnya kelewat kacau.


"Ibu dah bingung gimana cara nasehatin kamu! Dari awal ibu udah bilang stop yang pacaran! Udah cukup! Cukup! Nekat! " kesal Ratna memarahi Wulan.


Wulan hanya diam dengan wajah tertunduk di depan keluarganya yang jadi berkumpul begini. Kakak-kakaknya sudah kehabisan kata-kata untuk menasehati adik bungsunya itu. Bahkan sampai kakak pertamanya yang pernah menjabat menhan (menteri pertahanan) saja sampai lepas tangan kebingungan menasehatinya.


Tak di sangka-sangka keputusannya menyerah untuk menasehati waktu itu adalah hal yang salah. Bukti-bukti sudah jelas bahkan saksi dan yang melapor kala itu juga bukan iparnya langsung tapi pegawainya. Berharap masalah ini tak akan menjadi bom waktu bila ia turun tangan menasehati Wulan ternyata salah.


Wulan dengan argumen-argumennya ternyata jauh lebih kuat untuk memelintir fakta akan perselingkuhannya waktu itu. Aji tak menafkahinya dengan baik, Aji jarang pulang, Aji tak mengijinkannya merawat mendiang bapak yang waktu itu sakit keras terus di suarakan oleh Wulan demi membenarkan perselingkuhannya. Bahkan banyak lagi penguatan argumen yang di besar-besarkan.


Keluarga Aji masih belum bergerak, belum memberikan gebrakan baru lebih tepatnya. Setelah eyang mengirimkan foto perselingkuhan Wulan waktu itu, rasanya sudah cukup untuk membungkam dan menggoncang pertahanan keluarganya. Awalnya Wulan inginan untuk meninggalkan Aji dan keluarga Aji yang di anggap sudah tak memberikan feedback lagi. Keluarganya juga sempat mendukung bahkan mensuportnya dulu. Tapi begitu Wulan salah langkah begini, habis sudah semuanya.


Kepercayaan publik jelas akan memudar, kepuasan publik dengan kinerjanya selama ini akan hilang. Kasus ini jelas akan terus di goreng oleh lawan-lawan politiknya dengan tanpa ampun. Kakak pertamanya Wisnu, yang pernah menjabat menhan itu jelas tak mau kasus perselingkuhan menjad bom waktu di keluarganya. Belajar dari kasus dirut maskapai penerbangan Vulture yang jelas nyata di depan matanya bahkan nyaris menyeretnya.


Belajar juga dari kasus pejabat daerah dengan kepuasan lebih dari 70% masyarakat yang di gilas habis lawan politiknya dengan kasus penistaan agama hanya karena berucap dalil yang tidak tepat. Terus di goreng, di demo berjilid-jilid bahkan dari demonya sampai muncul alumninya.


Sebisa mungkin kasus seperti itu di hilangkan, minimal jauh dari terpaannya. Apa lagi sebentar lagi Kartika keponakan Wulan, anaknya Wisnu akan maju dalam pemilihan DPRD sebagai awal langkah politiknya. Wulan yang di gadang-gadang bisa membantu dan memfasilitasi juga menjadi vote gather besarnya malah akan jadi duri dalam daging bila kasus ini terus membesar.


"Adakan pertemuan keluarga... Kita atur strategi dari awal... " perintah Ratna. "Merendahlah di depan Aji dan keluarganya! " tegas Ratna pada Wulan lalu berjalan masuk ke ruangannya.


Wanita tua itu berjalan masuk di bantu Tatik menantunya, dengan tongkat yang membantunya menopang tubuh di tangan kanannya. Ratna perlu mengatur strategi lagi, menyusun bidak caturnya lagi, memperbaiki pertahanannya yang di gempur dengan masalah rendahan begini.