My Baby Need a Daddy

My Baby Need a Daddy
Part 59



Sudah semalaman Broto tidak bisa tidur. Matanya terus saja terjaga apalagi saat ia tau istrinya tak membawa ponsel begitupun dengan putrinya. Ucapan Siwi kala itu yang di kira hanya gertak sambel seperti biasa, tapi benar-benar di lakukan.


Kekhawatiran Broto makin memuncak saat tau istrinya tak membawa kartu debit maupun kredit darinya. Benar-benar kabur seadanya. Broto benar-benar tak bisa membayangkan wanita lemah itu pergi tanpa persiapan matang begini.


"Apa ibu perlu carikan istri lagi buat kamu? " tanya eyang yang menghampiri Broto dengan secangkir teh di tangan.


"Bu! " bentak Broto. "Ini Siwi, istriku! Ibunya anak-anak... Gimana bisa ibu malah mikir cariin aku istri baru? Aku dah hampir tiga puluh lima tahun sama dia!"


"Cukup! Nyatanya dia pergi! " potong eyang tak terima di bantah.


"Kalo gitu aku juga cukup, aku ga mau tinggal sama ibu lagi! " jawab Broto lalu pergi meninggalkan rumah.


Aji yang dari tadi memperhatikan eyang dan ayahnya tengah berdebat hanya diam. Ia tak menyangka ayahnya akan membantah dan melawan sampai meninggalkan rumah.


Eyang hanya diam terkejut menerima perlawanan dari semua anggota keluarganya. Seumur hidupnya baru kali ini ia mengalami perlawanan, pembantahan dan pemberontak dari keluarganya. Wanita tua itu hanya bisa terduduk dengan airmata yang mulai menggenang.


"Eyang, berhentilah menyetir semuanya... " ucap Aji sambil menepuk bahu eyang dengan lembut sebelum akhirnya ikut pergi.


●●●


"Sarah... Kenalin ini Nana calon istriku... " ucap Arif di perjalanan pulang. "Na, ini Sarah, anaknya pak Umar yang pernah ku tunjukin fotonya itu loh... " Arif kembali memperkenalkan.


"Oh... Hai... " sapa Nana canggung pada Sarah yang langsung membuang muka enggan menatapnya.


Ternyata... Batin Sarah kecewa dan langsung patah hati. Harapannya untuk bersanding dan pergi jauh-jauh dari Arman langsung pupus begitu saja.


Alif terus memperhatikan Sarah, memperhatikan perubahan mimik wajahnya dari pantulan kaca mobil. "Ini... " Alif memberikan permen susu yang ada di kantong jaketnya pada Sarah lalu kembali diam menatap jalan.


●●●


"Lancar? " tanya Aji lalu duduk berhadapan dengan Wulan.


Wulan hanya mengangguk pelan lalu tertunduk, wanita garang itu tampak gugup kali ini. Pertama kalinya Wulan bersikap seperti ini di depan Aji setelah perceraian dan masalah yang mereka hadapi.


"Ada apa? " tanya Aji sambil mengaduk minuman yang sudah di pesankan Wulan sebelumnya.


Wulan tersenyum malu lalu kembali menundukkan kepalanya.


"Tidak apa-apa aku sudah memaafkanmu, aku sekarang bakal tanggung jawab ke Nana sama anakku..." ucap Aji. "Maaf dari awal aku tak jujur terutama soal Nana... " sambung Aji lalu menghela nafas.


Wulan terdiam mendengar ucapan Aji dan sedikit rencana yang terucap darinya. Kalau dulu ia di pusingkan soal keturunan yang tak kunjung hadir dalam pernikahannya dengan Aji, kini Wulan di pusingkan dengan hal serupa namun kebalikannya. "Mas... " lirih Wulan bingung memulai pembicaraan dari mana.


Aji menatapnya dengan sebelah alis terangkat. "Ya? " sautnya.


"Aku... A-... Aku... Aku hamil... " ucap Wulan lalu menggigit bibir bawahnya.


"Ha-hamil? Hamil? Hamil anak siapa? " tanya Aji yang di jawab gelengan oleh Wulan. "Aku sudah lama sekali tidak menidurimu, aku tak pernah menyentuhmu lagi sejak aku lihat kamu ML sama ajudanmu! " elak Aji lsebelum di suruh tanggung jawab.


Air mata Wulan mengalir begitu mendengar pernyataan Aji yang hanya bisa di jawab dengan gelengan.


"Berapa kali... Argh! Maksudku berapa banyak pria yang menidurimu? " tanya Aji sambil mengacak-acak rambutnya sendiri dengan frustasi.