
Aji langsung sibuk mengurus jadwal bulan madunya. Tanpa meminta persetujuan Nana dulu. Semua di atur sesuai selera Aji. Aji tak mau membuang waktu.
"Papa... " sapa Alif lalu memeluk pinggang Aji. "Aku pengen menginap lagi, aku mau sama adek ken... " ucap Alif pada Aji sambil melompat-lompat minta di gendong.
"Yah... Ga pulang-pulang dong... Nanti mama sedih loh, kita masih ke rumah bapak juga... " jawab Aji lalu menggendong Alif.
"Aku tapi masih mau sama adekku... " ucap Alif memelas.
Aji hanya menghela nafas lalu mencari Nana untuk membujuk Alif pulang. Tapi saat Aji bertemu dengan Nana, tampak Nana sedang menggendong Ken yang mulai rewel dan haus, sementara Alice masih asik makan.
"Sabar sayang... Mama lagi makan... " ucap Nana sambil menepuk-nepuk pantat Ken yang rewel.
"Eh mamaku! " seru Alif yang langsung turun dari gendongan Aji dan berlari ke arah Nana. "Mama... Aku juga di gendong.... " rengek Alif cemburu melihat mamanya menggendong ken.
"Tangan mama penuh dong kakak... Kan lagi gendong adek... " ucap Nana lalu duduk agar alif bisa melihat Ken.
Alif langsung cemberut mendengar tolakan dari mamanya.
"Adeknya haus... " ucap Nana.
"Ya minum... " jawab Alif yang bt mamanya di ambil adik kecil barunya.
"Adeknya masih kecil, belum kayak kakak alif sudah bisa minum sendiri, makan sendiri. Adeknya baru bisa *****... " jelas Nana lalu mencium kening Alif yang duduk di sampingnya.
Alif hanya diam lalu memeluk mamanya. Nana hanya tersenyum lalu kembali bangun agar Ken lebih tenang. Sementara Aji yang semula ingin segera gas pol membuat adik untuk Alif jadi berpikir dua kali.
Usai makan malam dan solat isya Alif tanpa di minta langsung merapikan barang-barangnya dan bersiap pulang tanpa tawar menawar dengan Aji lagi. Melihat mamanya sayang juga dengan adik barunya membuat Alif tidak suka. Nana dan Aji juga tak keberatan saat tiba-tiba Alif minta pulang.
"Kakak ga mau main dulu sama adek? " tanya Aji di tengah perjalanan pulang.
Alif menepuk dadanya. "Aku adek, adek alif... " jawab Alif.
"Sekarang kan dah jadi kakak... " ucap Nana mengingatkan Alif.
"Loh kenapa? " tanya Nana dan Aji bersamaan.
"Adeknya juga di sayang mama, harusnya di sayang aku aja... " jawab Alif. "Aku sayang adek, terus mama sayang aku begitu... " jelas Alif.
"Padahal yang bagus itu kalo semuanya sayang adek sama kakak loh. Tidak satu-satu begitu... " ucap Nana menjelaskan pada Alif.
"Kalo alif punya adek yang dari mama mau apa enggak? " tanya aji.
"Emang bisa? "
"Bisa, mama nanti hamil dulu tapi. Baru bisa ada adek... "
Alif langsung menggeleng. "Aku aja adeknya tidak usah adek lagi... " jawab Alif.
Aji hanya bisa menghela nafas tak menyangka bila meminta persetujuan alif akan lebih sulit dari yang ia bayangkan. Kemungkinan untuk bulan madu juga jadi hilang. Selain pekerjaannya yang susah untuk di tinggal, Aji juga akan makin susah memiliki waktu berdua dengan Nana. Tak hanya itu sekarang saja Alif menempel dengan manja pada Nana seolah tak bisa lepas.
Aji ingin menitipkan Alif ke rumah mertuanya juga berpikir dua kali. Ingin menitipkan di rumah tante Yuni apa lagi. Menitipkan di rumah orang tuanya lagi? Ah yang benar saja. Tak satupun ada tempat aman selain bersamanya agar Alif tak bertemu Arif atau di bully teman-temannya lagi.
"Gapapa Na, di tunda saja... " ucap Aji sambil menggenggam tangan Nana dan mengecup punggung tangannya.
"Maaf ya mas... "
"Kita harus mengutamakan alif... Gapapa... " sela Aji.
.
.
.
kalo aku bikin cerita khusus kehidupan si Arif setelah cerai dari Nana mau baca ga?