
Cukup lama aji, alif, pak janto dan siwi menunggu nana melahirkan. Meskipun siwi tidak bisa menemani terlalu lama dan berencana akan datang paginya karena suaminya sakit dan ken tidak ada yang menjaga malam ini. Maklum alice masih mau menikmati masa mudanya.
Alif menunggu sampai terlelap di bangku ruang tunggu bersama pak janto. Alif tetap berkeras menemani di depan ruang tunggu dari pada di kamar meskipun sudah di bujuk mbak rin dan pak janto.
Menjelang Fajar baru suara bayi terdengar dari ruang bersalin nana. Aji yang harusnya mengadzani bayinya malah langsung pingsan begitu tau istrinya berhasil melahirkan dengan selamat. Aji pingsan cukup lama sampai bayinya selesai di bersihkan dan menyusu. Begitu sadar bukannya mengadzani aji malah menangis haru melihat bayi laki-lakinya yang begitu sehat tengah menyusu.
Akhirnya dengan suara dan tubuh yang bergetar aji mengadzani bayinya lalu mengecup keningnya dengan lembut.
"Namanya siapa? " tanya nana sambil menatap aji yang masih terus-menerus menyeka air matanya sendiri.
"Ahmad... Kan cowok... " jawab aji tanpa pikir panjang.
"Ahmad siapa? " tanya nana lagi menunggu aji memanjangkan nama bayinya.
"Ahmad Wibisono... " jawab aji setelah berfikir panjang. "Wibisono nama almarhum eyang kakung... " sambung aji menjelaskan.
"Mama... " alif membuka pintu ingin melihat kondisi mama dan adik bayinya.
"Adeknya cowok namanya Ahmad Wibisono... " sambut nana pada alif.
Alif langsung berdiri di kursi agar bisa melihat adiknya. Alif tampak begitu takjub pada bayi yang masih kemerahan itu adalah adiknya. Alif resmi menjadi kakak. "Namanya Jawa sekali kayak orang tua tapi... " ucap alif sambil membiarkan adik bayinya menggenggam tangannya erat.
Nana hanya tertawa kecil mendengar komentar alif soal nama adiknya. "Kakak harus sayang loh sama adeknya harus saling menjaga. Ini sodaranya kakak alif satu-satunya... " ucap nana menasehati alif yang langsung di angguki alif.
"Iya aku sayang adekku... " ucap alif sambil terus menatap adiknya.
Pak janto yang melihat putri juga cucunya sudah di akui dan disayangi sebagai mana mestinya oleh aji ikut senang, apalagi keluarga kecil aji tampak begitu damai dan bahagia.
Nana setidaknya sudah hidup dengan sangat layak sekarang. Melahirkan pun tanpa ada kekhawatiran akan bayaran ini itu. Tanpa perlu menggadaikan apapun untuk mendekap buah hatinya. Semua sudah di tanggung aji yang berusaha ada dan bertanggungjawab atas nana dan anak-anak.
Aji hanya mengangguk lalu mengambil ponselnya untuk mengabari keluarganya. Pak janto yang melihat cucu barunya yang sehat dan lebih gemuk dari pada alif dulu jadi terharu. Pak janto tak menyangka semua getirnya kehidupan bisa di laluinya hingga akhirnya hidup layak begini.
●●●
Lima tahun berselang...
Alif sebenatar lagi menyelesaikan sekolahnya di SDIT. Sementara Ahmad baru akan masuk SD yang sama dengan alif dulu. Ahmad begitu ceria dan jauh lebih petakilan dari pada alif meskipun ahmad akan diam dan bersembunyi tiap kali bertemu tamu atau orang baru.
Ahmad begitu senang bisa menghabiskan waktu bersama kakaknya. Bahkan tanpa aji minta untuk tidur berpisah darinya dan nana, ahmad sudah sering meminta untuk tidur di kamar alif. Bisa di bilang sejak ahmad mengerti kalau kakaknya juga bisa di ajak bermain, sejak itu ia sudah nempel dengan alif.
Ahmad juga kerap berkelahi dengan ken, adik sepupunya yang jauh lebih tua darinya dalam memperebutkan alif. Pokoknya ahmad hanya ingin melakukan sesuatu bersama alif. Mulai bermain, makan, mandi, belajar, solat. Semuanya sebisa mungkin ahmad selalu bersama alif.
Pernah sekali alif pergi kemah sabtu minggu di sekolah. Ahmad terus saja menangis dan menunggu alif pulang di ruang tamu. Aji sendiri sampai heran kenapa putra kecilnya ini begitu lengket pada kakaknya.
"Adek, kita jajan es bonbon yuk... " ajak alif setelah mengambil uang dari celenhannya.
"Em... Oke... " jawab ahmad setuju yang langsung mengambil topinya dan mencari nana. "Mama aku mau ikut kakakku jajan es... " ucap ahmad pamit pada nana.
"Jajan es apa? " tanya nana.
"Bono bono... " jawab ahmad.
"Bonbon... Yang kayak di beli mbak rin itu loh ma... " ucap alif.
"Ooo iya, langsung pulang ya ga usah main panas-panasan... " pesan nana lalu membiarkan kedua putranya pergi jajan.
Alif langsung pergi bersama ahmad naik sepedanya. Ahmad membonceng di belakang sambil berpegangan erat di pinggang alif.