My Baby Need a Daddy

My Baby Need a Daddy
Part 110 #2



Nana hanya diam setelah mendengar cerita dari Aji. Usai Alif puas bermain mandi bola dan sudah kelelahan bermain hingga langsung tidur di gendongan Aji, awalnya berniat langsung pulang. Tapi karena Siwi menelpon mengabarkan ia memasak untuk Nana dan Alif, Nana jadi mampir ke rumah mantan calon mertuanya itu sebelum pulang.


"Papa kenapa beli mobil mainan? " tanya Siwi melihat suaminya yang membeli mobil aki seperti yang biasa di sewakan di mall.


"Ehm... " Broto berdeham salah tingkah dengan pertanyaan istrinya. "I-ini kembalian... " dusta Broto lalu masuk kamar untuk mandi dan bersantai usai bekerja.


"Jajan di mana Pa? Keren banget... " goda Siwi yang membuat Broto makin malu.


Alif nanti suka gak ya... Batin Broto.


Dah suka sama Alif kayaknya... Batin Siwi senang.


"Assalamualaikum... " terdengar suara Aji dan Nana yang baru datang, Siwi langsung menyambut kedatangannya dengan senang hati.


"Wa'alaikum salam... Oww lagi bobo... Yuk masuk dulu... " jawab Siwi yang langsung mengizinkan masuk dan mengajak Alif yang di gendong Nana ke kamar Aji. "Mama bikin puding, nanti cobain ya Na... Mama mau lanjut bikin flanya dulu... " ucap Siwi langsung kembali ke dapur setelah melihat Alif sudah tiduran di tempat tidur Aji.


"Na... " Aji membawakan handuk dan pembalut untuk Nana. "Kalo mau mandi pakek aja, kalo nanti alif mau mandi aku ada bajunya alif juga di sini... " ucap Aji.


"Nana kalo mau mandi mama ada daster buat ganti loh Na... " ucap Siwi agak berteriak dari dapur.


"Mas... Makasih... " ucap Nana antara menolak dan mengiyakan permintaan Aji dan Siwi.


"Anggap aja rumah sendiri... " ucap Aji lalu menggenggam tangan Nana. "Gapapa kamu mau ngapain di sini, terserah... Kamu bebas... " sambung Aji lalu mengecup punggung tangan Nana lalu melepaskannya sejenak untuk mengusap pipi Alif yang tampak menggemaskan.


Apa gapapa kalo aku nyaman di sini... Batin Nana khawatir atas perasaannya sambil memperhatikan Aji dan Alif.


"Aku mau mandi dulu... " ucap Aji lalu beranjak dari tempat tidur.


Nana hanya mengangguk lalu ikut tiduran di samping Alif sambil menatap langit-langit kamar Aji. Nana merasa selalu menjadi dirinya setiap bersama Aji, seperti sekarang. Bahkan ketika ia tau ada Broto dan eyang yang akan mengusirnya habis-habisan tapi ia tetap ingin berada di sisi Aji.


Bukan hanya kenangan yang di bangkitkan kembali oleh Aji. Tapi apa yang di lakukan Aji sejak kembali bertemu dengannya kala itu hingga saat ini menunjukkan betapa seriusnya Aji pada perasaan juga komitmen untuk Alif. Argh Nana serba salah.


Ingin berlari ke pelukan Aji kembali yang sudah jelas menerimanya, tapi di sisi lain ada Arif yang sudah sah menjadi suaminya. Terlepas sekarang Nana tau kalau Arif menyembunyikan sesuatu darinya Nana tetap tak sampai hati bila langsung mengambil keputusan tegas.


"Na... " Siwi masuk dengan daster dan pakaian dalam baru yang ia miliki untuk Nana. "Mandi, pasti capek seharian pergi jalan-jalan... " ucap Siwi sambil duduk dan memijit kaki Nana sebentar karena Nana sudah buru-buru duduk tak enak hati bila Siwi memijit kakinya.


"Iya tan... "


"Mama, panggil mama aja kayak dulu... " potong Siwi sambil tersenyum sumringah. "Mama seneng kamu mau kesini lagi... " ucap Siwi dengan mata yang berkaca-kaca lalu menundukkan badannya untuk mengecup pipi Alif, mengalihkan perhatiannya agar airmatanya tak mengalir.


⊙﹏⊙


"Eh ada mobil mainan!! " pekik Alif senang melihat mobil aki yang ada di ruang tengah setelah keluar dari kamar. "Bagus sekali! " puji Alif sambil bertepuk tangan.


Broto yang mendengar reaksi Alif merasa puas dan ikut senang. Meskipun broto tetap memasang wajah sangarnya.


"Aku mau coba boleh tida... " alif tak melanjutkan ucapannya saat melihat broto yang menatapnya dengan sengit. "Nanti kalo aku dah besar aku beli sendiri... Aku bekerja biar uangku banyak... " ucap Alif meralat ucapannya lalu bersembunyi di balik Nana.


Nana yang sudah mandi dan mengenakan daster milik Siwi juga langsung merasa sungkan dan tidak enak hati. Ingin rasanya langsung kabur pulang setelah melihat tatapan angkuh dan sengit dari broto.


"Ayo makan... " ajak Siwi dengan lembut.


Nana dan Alif saling bertatapan ragu akan ajakan Siwi meskipun sudah lapar.


"Ayo makan Na... " ajak Aji sambil menggiring Nana agar duduk bersama di ruang makan.


Nana dan Alif akhirnya ikut makan bersama keluarga Aji dengan perasaan yang sangat canggung dan serba tidak enak hati, meskipun masakan yang di sajikan terasa nikmat.


Alif yang di suapi Aji juga terus melihat mobil-mobilan yang benar-benar menggodanya itu. Broto ingin mengajak Alif bermain tapi terlalu gengsi juga hanya bisa diam.


"Adek mau coba main mobil? " tanya Siwi pada Alif yang jelas langsung di angguki Alif.


"Tidak... " jawab Alif tidak singkron yang mengundang tawa Aji dan Siwi.


"Ehmm... " broto beranjak dari ruang makan dan langsung masuk ke ruang kerjanya agar Alif bisa lebih leluasa dirumahnya.


Alif langsung cepat-cepat menyelesaikan makannya dan ingin buru-buru mencoba mobil maina yang sudah menjadi incarannya dari tadi.


"Om sama mama belum selesai makan. Oma juga belum. Tunggu ya... " ucap Aji.


Samar broto yang mendengar ucapan Aji kembali keluar dari ruang kerjanya dan duduk di ruang tengah sambil menonton TV.


"Coba tanya opa mau nemenin main ga... " ucap Siwi pada Alif. Alif langsung menggeleng takut sambil menundukkan wajahnya. "Gapapa... Adekkan pemberani. Sana bilang... " paksa Siwi.


Akhirnya Alif yang sudah ingin main mobil-mobilan turun dari kursinya lalu berjalan mendekati broto. "Aku mau main mobil-mobilannya boleh tidak? Aku main cuma sebentar, cuma duduk saja... Aku tidak rusakkin... " ucap Alif meminta izin pada Broto.


Broto menghela nafas sambil menatap Alif dengan alis bertaut.


"Yaudah aku ga naik aku cuma pegang sama liat aja... " ucap Alif yang takut bila di marahi broto.


"Yaudah ayo main gapapa... " Broto akhirnya menurunkan egonya.


Hampir dua jam tanpa henti sejak broto menurunkan egonya dan asik dengan alif bermain mobil-mobilan. Keduanya juga masih tampak belum lelah bahkan sudah hampir memutari rumah berkali-kali. Hilang sudah tampang sangar broto setelah bermain dengan alif.


⊙﹏⊙


"Itu opa loh yang beli... " ucap Siwi pada Alif sambil menyuapkan melon yang sudah di potong kecil-kecil.


"Kenapa beli ini? " tanya Alif spontan.


"Beli buat cucuku... " jawab Broto yang kembali ketus.


"Aku mau! Aku mau jadi cucu yang baik! " Alif langsung melompat-lompat sambil mengacungkan tangannya dengan begitu semangat.


Broto hanya diam sambil menatap Alif sinis.


"Aku baik. Tidak suka jajan. Aku bisa baca sedikit. Aku nanti nurut tidak nakal..." Alif membujuk Broto.


Alif ingin terus bisa bermain mobil dan ingin tetap bisa berada di rumah Bagus milik Broto. Tapi terlepas dari itu, bisa bermain bersama seperti tadi juga alif suka.


Siwi yang melihat reaksi dingin suaminya langsung memeluk alif lalu menggendongnya. "Alif kan sudah jadi cucunya oma sama opa. Ga usah minta juga sudah dapet... " ucap siwi berusaha menghibur Alif.


"Apa iya? " tanya Alif sambil terus menatap Broto berharap mendapat jawaban yang ia inginkan.


Broto langsung memalingkan wajahnya dan pergi masuk ke kamarnya. Sungguh broto ingin sekali mengangguk atau menjawab ucapan Alif tapi sayang egonya terlalu cepat untuk muncul kembali.


Alif turun dari gendongan Siwi dengan lesu lalu berlari menuju mamanya. "Ayo pulang... " ajak Alif sedih.


Duar! Terdengar suara petir dari luar.


"Hujan... " ucap Aji menahan Alif agar betah.


"Aku pakek payung gapapa... " ucap Alif kekeh ingin pulang.


"Jauh... " ucap Nana.


"Aku jalan sendiri nanti, aku tidak capek... " Alif masih berkeras hati.


"Nanti aja ya kalo udah gak hujan pulang ya. Di anter oma... " bujuk Siwi yang akhirnya mempan membuat alif mau tinggal meski hanya sampai hujan reda.


Aji buru-buru merapal doa minta hujan agar hujan lebih deras dan lebih lama. Bila ada doa meminta bencana sejenis badai atau banjir mungkin sudah di rapalkannya juga, Aji ingin lebih lama bersama Alif dan Nana.


"Kita tunggu di kamar om aja yuk! " ajak Aji yang jelas di setujui Nana dan Alif. Selain potensi bertatap muka dengan broto menjadi sedikit, alif juga mungkin bisa merasa lebih nyaman.