My Baby Need a Daddy

My Baby Need a Daddy
part 138 #2



Sesampai di warung alif yang membawa uang sedikit lebih membeli beberapa ciki, ahmad juga mengambil balon.


"Buat apa balon? " tanya alif.


"Nanti di isi air... " jawab ahmad yang sudah membayangkan bisa mandi sambil bermain balon air.


Alif hanya mengangguk menuruti permintaan adiknya, lalu sesuai pesan nana yang menyuruh mereka untuk langsung pulang alif langsung mengajak ahmad pulang. Tapi rasanya taman di dekat kompleksnya cukup menggoda ahmad untuk bermain di sana sebentar.


"Kita duduk di taman sebentar yuk kak. Sambil makan es... Terus pulang... " ajak ahmad.


"Jangan adek, kan kata mama langsung pulang... " tolak alif.


"Tapi aku kan cuma sebentar, sampai esnya habis deh terus kita pulang. Kan sebentar... " ahmad berusaha membujuk kakaknya.


Alif diam sejenak lalu menepi ke taman sesuai yang di pinta ahmad. "Cuma sebentar ya dek! " alif mewanti-wanti.


"Iya! " jawab ahmad senang.


Ahmad langsung berlari ke perosotan, berseluncur beberapa kali. Lalu memanjat dinding yang sudah di pasangi pijakan, lalu bermain ayunan dan memaksa alif bermain jungkat-jungkit.


Tapi kesenangannya tak bertahan lama. Boni teman sekolah alif yang jelas beda kompleks dengannya muncul bersama beberapa anak lain menaiki sepeda. Boni langsung turun dari sepedanya saat melihat alif dan ahmad di taman.


Alif langsung menyembunyikan ahmad di belakang badannya dengan wajah serius menatap boni. Boni mengambil plastik jajanan yang tadi di beli alif dan ahmad.


"Jangan di ambil, itu punya kita... " ucap ahmad sambil berjalan ke arah boni dengan penuh keberanian dan berusaha mengambil kembali plastik yang di ambil boni.


Boni menatap ahmad dengan jengkel lalu mendorong ahmad hingga jatuh terjungkal ke belakang. Alif buru-buru menangkap ahmad dan kembali berusaha melindunginya.


"Boni, kamu jangan gitu. Ahmad kan ga salah apa-apa... " ucap alif membela ahmad.


Ahmad begitu sebal dengan perlakuan boni yang merusak hari cerahnya.


"Iya adekmu ga salah! Tapi kamu yang salah! " kesal Boni. "Gara-gara kamu! Semua orang jadi ga suka sama aku! " kesal boni tak beralasan jelas lalu memukul alif.


Alif menangkisnya. Boni menyerang ahmad yang tak siap dengan menendang tulang kering kakinya. Ahmad mengaduh kesakitan sambil berjongkok mengelus-elus kakinya. Alif langsung ikut berjongkok, tapi dengan tanpa ampun boni menendang pasir di dekat kakinya ke wajah alif dan ahmad.


Beruntung alif bisa melindungi ahmad agar tidak kelilipan pasir. Tapi sayangnya saat alif mendekap ahmad, boni langsung menendang alif. Alif berusaha bertahan.


Ahmad hanya bisa menangis sekencang yang ia bisa agar ada orang dewasa yang membantunya. Sementara alif terus menahan pukulan dari teman-teman boni yang membabi buta padanya.


"Tolong! Tolong! Aku di pukulin anak nakal! Tolong! Tolong! " teriak ahmad sambil menangis.


"Astaghfirullah hal adzim! Alif! Ahmad! " jerit mbak rin yang melintas saat hendak pulang ke rumahnya.


Boni dan anak-anak nakal lainnya langsung kabur terbirit-birit melihat ada orang dewasa yang datang, meninggalkan alif dan ahmad di taman.


"Ya allah ya rab! Alif kenapa di pukulin?! " ucap mbak rin khawatir sambil membantu alif dan ahmad di taman untuk bangun.


Ahmad masih saja menangis sambil berteriak minta tolong dan mengatakan ia di pukul anak nakal, tangannya juga masih memegangi baju kakaknya.


"Sstt... Sudah... Tidak papa... " alif menenangkan adiknya.


Ahmad menatap kakaknya yang jadi kotor kareba di pukuli juga beberapa anak yang menendangnya dengan penuh emosi tidak terima. Alif mengambil plastik jajanannya. Tak ada yang bersisa selain balon milik ahmad.


"Ini kita masih punya balon. Adek jangan nangis... " hibur alif.


"Aku sedih, kita tidak salah di pukulin... Aku sedih tidak bisa lawan! " ucap Ahmad.


Alif hanya menghela nafas. "Mbak rin aku sama ahmad pulang dulu ya... " ucap alif lalu menggandeng ahmad kembali ke sepedanya yang ternyata juga di gembosi.


"Mau di antar pulang dek? " tanya mbak rin.


"Tida... "


"Iya! Antarin pulang! " potong ahmad.


Dengan senang hati mbak rin mengantar ahmad dan alif pulang sambil menuntun sepedanya.


"Udah adek jangan marah-marah, tadi itu kita menang... Kakak menang, kita kuat. Mereka lemah makannya tadi kabur duluan... " ucap alif membesarkan hati adiknya.


Ahmad menatap alif kesal. Ahmad tidak suka bila harus mengalah dan di pukuli seperti tadi.