My Baby Need a Daddy

My Baby Need a Daddy
part 19



"Om... Tante... Kayaknya Nana ga usah kuliah S1 deh, kursus aja... Kalo gak D3 aja biar cepat lulus... Biar bisa cepat kerja... " ucap Nana setelah mendengar perihal yang akan di sampaikan om tantenya hingga datang jauh-jauh mengunjunginya.


"Gapapa Na... Kamu kuliah saja... Nanti kamu tinggal di rumah tante... Sama Alif juga TK di sana... " ucap tante Yuni.


"I-iya nanti Nana pikirin lagi tante... " ucap Nana lalu bangun mengantarkan tantenya keluar.


"Di pikirin dulu baik-baik... " ucap tante Yuni lalu memberikan selembar lima puluh ribuan untuk Alif sebelum masuk mobil.


Nana hanya mengangguk sementara Alif tampak ceria mengantar kepergian om Bram dan tante Yuni sambil melambaikan tangan. Alif sebenarnya ingin ikut, tapi ia sudah terlanjur rapi dan siap TPA jadi ia hanya bisa mengantar sampai depan bersama mama dan pak janto yang di panggilnya bapak.


"Yuk dek kita TPA... " ajak Nana yang membawa bungkusan nasi gorengnya juga bekal untuk menyuapi Alif.


"Ini uangnya buat mama... Tapi nanti aku mau jajan sedikit... " ucap Alif yang memberikan uangnya pada Nana.


Nana hanya mengangguk lalu memasukkan uang dari Alif kedalam dompet. Setelah Alif pamit pada pak Janto barulah ia berjalan ke masjid bersama mamanya. Alif masih membawa pralonnya dan berjalan dengan ceria sambil mengibas-ngibaskannya.


"Nanti mama temenin adek TPA... " ucap Nana saat sudah mau sampai masjid.


"Loh mama ga bantuin bapak potongin kain? " tanya Alif.


"Tidak... " jawab Nana yang langsung membuat Alif tersenyum senang.


Ini kali keduanya TPA di temani mamanya. Dulu mamanya menemani Alif waktu awal mendaftar, awalnya Alif malu-malu dan takut. Bahkan hari kedua juga begitu. Tapi saat mamanya berbisik kalo harus di temani terus nanti mamanya tidak bisa cari uang, Alif akhirnya mau di bujuk ustadzah Asnia yang saat itu pengabdian untuk mengajar di TPA-nya sekarang.


Ini benar-benar hari terbaik bagi Alif. Alif tampak sangat semangat dan bersuara paling kencang agar mamanya dengar dan tetap memperhatikannya. Alif juga terus melihat mamanya yang duduk diluar meskipun ustadz sudah menegurnya.


Tak selang lama ibu-ibu yang lain datang, mereka sudah tampak tak suka dengan kehadiran Nana di sana. Tapi tetap saja Nana melempar senyum dan sapaan hangatnya. Jujur nana tidak nyaman dengan suasana seperti ini, tapi bila ia pulang atau pergi pasti Alif akan sedih dan mencarinya.


"Alif ngaji dulu... Iqra' nya di bawa? " tunjuk ustadz pada Alif karena Alif yang sudah tampak tak jenak.


Alif langsung berlari dengan semangat sambil melompat dengan riang ke mamanya. Tapi belum juga sampai...


Bugh! Alif jatuh tersandung di jegal Rian yang langsung di tertawakan murid-murid TPA juga para ibu yang dari tadi memperhatikan.


Mata Alif langsung berkaca-kaca melihat ke kanan dan kiri, ke arah orang-orang yang menertawainya. Dadanya terasa sesak, begitupun perutnya. Wajah Alif langsung memerah antara menahan tangis dan sakit.


Ustadz langsung menolongnya meskipun berbeda sesaat.


"Aku tidak papa... " dusta Alif yang mulai terisak saat di bantu bangun.


Dagu Alif ternyata juga memar karena jatuhnya yang cukup keras.


Teman-temannya yang melihat Alif di tolong dan reaksinya malah tertawa makin kencang ada juga yang melemparkan pensil padanya.


"Anak haram sih... " komentar salah satu ibu.


Nana yang melihat sedari tadi hanya bisa menahan marah juga tangisnya. Nana tak paham mengapa semua membencinya bahkan juga Alif yang bahkan tak pernah berbuat buruk pada mereka.


"Anakmu usil ya jeng... " ucap salah satu ibu pada ibu dari Rian dengan santai sambil berusaha menahan tawa karena Nana menatap gerombolannya.


"Maklum namanya anak-anak suka bercanda... Iya kan mama Alif? " tanya ibu Rian pada Nana yang sudah susah payah menahan marah.


"Yang saya tau bercanda itu kalau kedua belah pihak sama-sama bahagia... Sama-sama tertawa... " jawab Nana tak terima.


Ibu Riyan langsung mengedikkan bahunya dan berkacak pinggang. "Humornya anakmu saja yang rendahan, emang Alifnya aja yang lemah makannya nangis... Tuh liat yang lain ketawa kan MA? MAMA ALIF? " ucapnya penuh penekanan saat menyebut Nana dengan sebutan mama Alif.


"Mama kok ga ada papanya... " imbuh ibu lain yang benar-benar membuat Nana kesal dan memilih diam.