
Pagi hari datang. Ibu sudah bangun dan memasak. Aku dan Mbak Sasa membantu. Damar minta jalan jalan sama Omnya. Geng Hello Kitty lainnya entah kemana. Kami berkumpul untuk sarapan. Rencananya akan balik kerumah hari ini.
"Van, aku agak masuk angin ini semalem tidur jadi cicak nempel tembok. Kamu yang nyetir yaa." Mas Dipo cari alasan.
"Halah Mas, alasanmu aja." Kata Revan. Padahal waktu berangakt akhirnya juga cuma Revan yang pegang kemudi. Padahal janjinya mau gantian ditengah jalan. Kami berpamitan pada keluarga kecil Mas Kris.
"Kita beneran pulang atau mampir dulu ini?" Tanya Revan saat kami semua sudah didalam mobil.
"Mampir kemana yukkk mumpung sampai sini. Masih pagi juga." Ayah semangat. Akhirnya Revan membawa kami kepantai. Pantai dengan ombak tinggi. Yang terkenal dengan mitos baju hijaunya. Hanya satu jam perjalanan dari rumah Mas Kris. Aaaaa segarrr juga bisa mencuri waktu piknik sejenak.
Dipantai Revan mau naik ATV. Aku menolak saat diajakin.
"Ini cuma kaya naik motor. Gak usah takut." Kata Revan meyakinkan. Akhirnya kami berboncengan naik ATV. Mas Dipo dan Mbakku sibuk ngajak Damar main air. Aki dan Nini tiga cucu menikmati pantai dibawah payung sewaan dan air kelapa.
Ternyata naik ATV tidak sama dengan motor. Sensasi pasir pantai seperti licin berpadu dengan ban. Apa lagi Revan mengendarainya tidak pelan. Ia memilih menepi disamping tebing ujung pantai. Kemudian main kebut kebutan disana. Awalnya aku takut. Tapi aku percaya pada orang yang memboncengku. Dia tidak akan mencelakkakanku. Aku menikmatinya dengan tawa.
"Lumayan, kamu bisa ketawa waktu ngebut. Gak penakut lagi sekarang." Kata Revan menghentikan ATV nya menghadap laut. Tebing yang tinggi disamping kami menghalangi sinar matahari terik menerpa tubuh. Kami masih diatas ATV, masih sambil berpelukan. Aku memeluk punggung Revan dengan nyaman. Kepalaku bersandar pada pundaknya.
"Aku gak takut karena percaya sama kamu. Kamu gak akan bikin aku celaka." Kataku. Dia tersenyum. Lesung pipinya terlihat terhalang helaian rambutnya yang diterbangkan angin. Aku merapikan rambutnya. Menyelipkannya kebelakang telinga. Bermaksud mencium pipinya sebentar. Tapi dia malah menoleh. Kami jadi berciuman bibir sekilas.
"Aku maunya pipi lho." Kataku. Dia tertawa lagi.
"Bibir juga enak Dek." Tangannya menarikku untuk memeluknya lebih erat.
"Aku pingin hamil." Kataku kembali menyenderkan kepala dipundaknya.
"Anak itu buah cinta Dek, buah. Ada pohon yang tidak berbuah. Ada yang berbuah lama. Bagiku tidak masalah. Mau lama atau tidak berbuah sekalipun. Asal pohon cintanya tetap kokoh berdiri." Kata Revan sambil mengelus tanganku yang melingkar memeluk perutnya.
"Jangan terbebani. Nikmati saja." Kata Revan.
"Tapi kamu juga pingin kan?" Tanyaku. Dia mengangguk.
"Tentu saja. Tapi aku tidak mau memikirkannya terus. Bagiku bersamamu saja sudah kusyukuri. Jika ada anak yang harus kujaga, maka itu kepercayaan Tuhan yang lain." Kata Revan. Dia menarik tanganku agar lebih memeluknya.
"Ayo balik, sebelum kita diumumkan hilang sama Ayah." Katanya. Aku tertawa.
Kami balik ke payung Ayah. Damar sudah selesai main air. Lagi disuapin mie kemasan sama Uti.
"Van ayo kesini buat makan siang." Kata Mas Dipo menunjukkan hpnya. Revan menerimannya.
"Tidak jauh." Katanya Revan setelah mengamati hp Mas Dipo sejenak.
"Nanti sampai rumah kemalaman tidak?" Ibu mengingatkan.
"Gak lah Bu, ini masih siang. Ayo ah.... Dipo yang traktir makan ikan sepuasnya." Kata Mas Dipo menepuk dadanya bangga. Revan melemparinya dengan kunci mobil.
"Sekalian setirin." Kata Revan sambil nyekikik.
"Sia*lan!" Umpat Mas Dipo. Kunci mobil itu tepat mengenai keningnya.
Kami berpindah posisi. Mas Dipo dan Mbakku depan. Uti, Kakung, dan Damar tengah. Aku dan Revan belakang.
"Dudukmu mundur sekali Van, kakimu itu kepanjangan." Kata Mas Dipo mengatur kursi.
"Tinggal seting Mas, kakiku gak salah." Kata Revan. Tangannya sudah menyelusup dibalik kaosku. Mengelus elus perutku. Aku kegelian, tapi kutahan. Kami menuju pantai selanjutnya yang katanya terkenal dengan olahan sea food segar dan murah.
Sepanjang perjalanan tangan Revan gak bisa diam. Aku memelototinya. Bahkan mencubit tangannya. Dia tersenyum jahil. Rasanya sangat tidak nyaman. Dirang*sang begitu gencar, tahu tidak akan diapa apain. Harus menahan mulut untuk tidak mende*sah. Ada keluargaku di jog depan. Sia*lan!! Aku mencubit keras tangannya yang menelusup dicelanaku. Dia membalasnya dengan menjepit milikku dibawah sana dengan jarinya. Aku menggigit bibir bawahku agar tidak mende*sah. Dia masih santainya dengan sesekali menanggapi candaan Mas Dipo dan Ayah. Sambil menikmati wajahku yang kalang kabut. Aku sudah bungkam berkeringat. Aku yakin mukaku merah padam.
Sampai dipantai mukaku masih merah padam. Ibu bertanya apa aku mabuk perjalanan.
"Sedikit mual, tapi gak papa Bu." Jawabku. Revan nyengingis sambil mengelap jarinya dengan tisue basah. Suami edan!!!!
Ibu heboh membeli sea food goreng yang harganya miring. Sudah menyebutkan nama tetangga yang akan diberi oleh oleh. Kami mengikutinya dengan sabar. Siapa berani menentang Ibu Negara. Damar tertidur dipelukan Mbak Sasa. Aku menolak rangkulan Revan. Sebel!!!! Dia senyum senyum. Kemudian menawarkan diri menggendong Damar.
Kami makan sea food sepuasnya. Enak, sea food yang segar dan bumbu yang tidak berlebih. Diiringi suara deburan pantai dan angin sepoi sepoi. Aku jadi kekenyangan dan sedikit mengantuk. Kami kembali saat hari beranjak sore.
Aku minta ijin mandi dulu sebelum kembali. Celanaku lengket.
"Ngapain. Ini masih jam tiga sore." Mbakku protes.
"Gak lama kok." Aku ngeyel.
"Yaudah ayo aku antar. Aku bawakan sekalian baju gantinya. Kurang apa aku jadi suami." Kata Revan sok bijak.
"Kurang ajar!!" Jawabku cepat. Revan malah nyekikik. Keluargaku memandang heran aku dan Revan yang tiba tiba jadi musuh. Ibu membuka bagasi mobil Revan untuk menyimpan oleh oleh. Menemukan tas peralatan prepairnya.
"Astaga Van, ini apa? Baju kok sama sendal jadi satu." Ibuku heran.
"Biarin Bu, aku udah pisah pisahin nyampur lagi mereka. Katanya enak begitu. Bawanya gampang. Suka suka dia lah Bu, asal orangnya gak nyampur didalam sekalian." Kataku. Membuat keluargaku tertawa.
"Biar Mamas yang nyetir. Aku pusing disupirin Mas Dipo." Kataku. Protes langsung berkumandang lantang dari Mas Dipo. Kubiarkan saja asal aku tidak tersiksa di jog belakang. Revan senyum senyum gak jelas.
"Ini langsung pulang atau menikmati malam diM*l*o*o*o ?" Tanya Revan lagi. Menyebutkan tempat iconic dikota ini yang terkenal dengan PKL dan suasana syahdunya saat malam hari.
"Kamu gak capek?" Tanya Ibu.
"Kita yang duduk enak enak aja jalan jalan begini. Yang nyupir itu." Lanjut Ibu.
"Saya biasa begini Bu tenang saja. Yang lain aja gimana? Masih lanjut apa mau pulang?" Tanya Revan.
"Lanjooooottt." Kami bersorak.
Tempat iconic itu kami kunjungi. Delman dan jajaran PKL, dan toko toko penjual pakaian dan makanan tumpah ruah ditempat itu. Kursi kursi berjajar dengan lantai putih. Suara angklung dan musisi jalanan mengalun. Sekarang aku yang heboh beli daster dan pakaian rumahan lain. Ibu heboh juga beli kue. Kami tarik tarikan antara ketoko kue atau ketoko daster.
Akhirnya rombongan terpecah. Janjian kumpul lagi satu jam kemudian. Revan memeluk pundaku berjalan berhimpit. Suasananya ramai sekali. Kami berdesakan hanya untuk jalan. Aku merasa pelukannya semakin mengerat. Tiba tiba dia berbalik. Menangkap tangan seseorang tepat dibelakangku.
"Kamu salah sasaran brow!" Kata Revan dengan galak. Ditangan pria itu ada dompetku. Kulihat tasku rusak tersilet atau sejenisnya.
Revan menjatuhkan orang itu ketanah. Kami langsung menjadi pusat perhatian. Dia menggeledah orang itu dan mnemukan hpku dikantong celananya. Aku terbengong bengong. Beberapa patugas keamanan dan polisi mendekat.
"Dia mencopet." Kata Revan menunjukkan dompet dan hpku pada petugas keamanan. Petugas keamanan memegangi pria itu. Sorakan terdengar menyoraki pria itu.
"Suruh dia pergi saja. Kami tidak ingin lebih panjang." Kata Revan. Petugas keamanan berlalu membawa pencopet tadi.
"Bubar!! Bubar!!" Teriak seorang polisi. Orang orang pun bubar melanjutkan aktifitas.
Polisi itu masih memandang Revan. Mereka saling pandangan cukup lama. Kukira mau pukul pukulan. Karena kulihat wajah Revan tegang sesaat. Ternyata Revan memeluknya.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya polisi itu.
"Jalan jalan... dan kecopetan." Kata Revan.
"Haaa Revan Aji kecopetan." Kata Polisi itu. Hening....... Canggung.
"Pacarmu?" Tanya polisi itu lagi sambil menjabat tanganku. Aku menerima uluran tangnya.
"Istriku." Jawab Revan membenarkan.
"Putri." Kataku memperkenalkan diri.
"Andi." Katanya sambil tersenyum. Canggung sekali.
"Jangan memandangnya lebih dari lima menit." Kata Revan aneh.
"Dasar pendendam!!" Kata Andi mengalihkan pandangan dariku.
"Oke, selamat berjalan jalan. Aku harus kembali bertugas." Lanjut Andi. Revan mengguk merangkul pundakku lagi.
"Eh, Van!" Panggil Andi lagi. Revan menoleh.
"Aku minta maaf atas apa yang terjadi dimasa lalu." Kata Andi. Revan tersenyum.
"Tidak usah disebut. Aku sudah bahagia." Kata Revan sambil menepuk pundak Andi.
"Aku dengar kau putus darinya?" Tanya Revan. Andi mengangguk.
"Kami... tidak cocok. Sudah aku coba, tapi aku tidak bisa." Kata Andi. Revan mengangguk.
"Selamat malam." Kata Revan sambil berbalik merangkulku lagi.
"Selamat malam." Balas Andi.
Tentu saja Revan aku brondong pertanyaan setekah itu. Jawabannya singkat sekali.
"Mantan pacarnya Nada setelah aku. Artikan sendiri setelah itu." Kata Revan. Aku sampai menutup mulutku sangking syoknya. Berarti Andi adalah orang yang berantem dengan Revan dulu. Teman dekat yang meniduri pacarnya.
"Ayo cari tas baru untukmu!" Ajak Revan. Dia seperti tidak ingin membahasnya lagi. Mulutnya rapat walaupun sudah kupancing dengan berbagai umpan. Hahahaha suami yang menyebalkan memang. Tidak bisa diajak bergosip. Aku mencari tas dan banyak daster karena semuanya terlihat bagus.
Kami berkumpul dititik temu yang tadi disepakati. Makan malam dicafe dekat situ. Revan bilang harganya lebih masuk akal.
"Tadi katanya orang orang ada copet. Dipukuli sama orang yang dicopet. Trus dibawa petugas keamanan." Cerita Mas Dipo heboh. Aku dan Revan saling pandang. Betapa gosip lebih tajam dari fakta.
Kami semua sudah sangat capek. Hari yang indah tapi melelahkan. Separuh perjalanan semua orang tertidur di jog belakang. Aku juga ngantuk sebenarnya, tapi kasihan Revan kalau aku ikut tidur. Aku mengganti chenel radio. Lagu Simpel mengalun dengan vocalis baru. Kami mendengarkan dalam diam.
"Betapa hidup ini aneh Dek. Aku bertemu denganmu. Ternyata kamu mantan pacar adiku. Kamu juga yang secara tidak langsung mengungkapkannya. Takdir kita terhubung dengan rumit. Andi dan aku dulu berteman dekat. Dekat sekali, kemudian bertengkar karena dia merebut pacarku. Tapi sekarang aku baik baik saja. Waktu menghapus segala amarah dihatiku. Kamu mengobati patah hatiku. Tapi kau mematahkan hati adikku. Tidak ada orang yang benar benar jahat. Atau baik didunia ini. Yang ada mereka bertindak sesuai porsi yang ditakdirkan." Kata Revan. Aku manggut manggut. Kata katanya yang panjang dan penuh makna. Entah berapa tahun lagi bisa aku dengar.