I Love U, Mas

I Love U, Mas
Ciumannya yang handal



Revan tahu Putri mengambil jurusan hukum dan pontang panting mencari bea siswa. Agak heran juga.... Orang tuanya sepertinya mampu membiayai kuliah. Akan tetapi Revan tetap bahagia saat senyum kecil Putri mengambang. Revan mendukung dan membantu Putri sekuat tenaga agar gadis itu tidak kesusahan.


"Makasih Mas, kamu mau bantu aku dapat keringanan biaya, walau cuma setengah aku seneng." Katanya polos. Revan tertawa dalam hati. Siapa juga yang mau membiayai anak PNS yang dinyatakan mampu. Apalagi nyarinya mepet kaya gini. Darimana juga dia dapat info bea siswa. Semua hanya akal akalan Revan. Beasiswa itu dari kantongnya sendiri. Menggunakan uang hasil menjadi anak Bapaknya yang pengusaha. Yang sudah bertahun tahun menumpuk begitu saja. Karena gajinya sebagai perwira sudah cukup membiayai gaya hidupnya yang sederhana. Revan tahu dia mulai bucin dengan bocah berusia belasan.


Mereka semakin dekat, tapi Revan belum punya kesempatan jujur dengan profesinya. Dia bingung memulai. Hingga malam itu, saat dia dan timnya gagal melakukan penangkapan. Apel penutup digelar bersamaan saat beberapa orang yang terjaring razia keluar dari mobil... Revan sampai mengerjabkan mata. Dia melihat Putri diantara orang orang itu. Revan mempercepat apel yang harusnya jadi ajang dia marah marah pada bawahannya yang tak becus.


"Sudah, bubar semua. Kebodohan ini tidak boleh terulang. Tim bodoh seperti ini membuatku pusing. Kalian benar lulus sekolah polisi atau hanya tidur saat sekolah? Bubar!!! Bubar semua!!!!!!" Bentak Revan kemidian berlalu. Beberapa anak buahnya memandang heran dan lega. Biasanya mereka akan dapat omelan panjang lebar dari Iptu Revan yang terkenal perfeksionis. Kali ini mereka selamat. Iptu Revan seperti sedang terburu buru dan tidak minat mengomel.


Revan mengikuti Putri yang ditempatkan diruangan bersama orang orang yang terjaring razia tadi. Dia menyeret gadis itu keluar ruangan. Jantung Revan tidak aman saat Putri memeluknya erat, dia membenci rompi berat yang dia pakai. Menghambatnya merasakan......... 'kekenyalan' yang lama dia rindukan. Jantungnya kembali tidak aman saat melihat paha mulus yang terbuka. Bodohnya lagi tidak disadari pemiliknya. Revan ngos ngosan sendiri walaupun bisa menguasai mimik mukanya... Gadis bodoh di depannya ini membuat dia tidak baik baik saja.


***


Hingga di gudang rumah Putri yang berdebu..... Gadis itu menciumnya duluan dengan lihai. Lidahnya menari nari dalam rongga mulut Revan. Revan menanggapi, tapi tidak seaktif Putri. Haaa pasti mantan pacar Putri yang anak band itu mengajarinya dengan sangat baik. Bibirnya manis, Revan suka walaupun dia bukan yang pertama. Ada rasa cemburu yang merasuk. Dia bukan yang pertama, tapi ini enak.


Akan tetapi Revan memutuskan untuk membuang Putri. Dia tahu bocah itu masih mencintai mantan kekasihnya. Revan gak mau jadi pelampiasan saja. Dia mau Putri dan hatinya. Revan tetap memantau Putri dari hpnya yang sudah terhubung dengan hp Putri tanpa disadari pemiliknya. Pekerjaannya kacau, dia merindukan bocah ingusan itu. Revan mencoba menahan perasaan rindunya dengan amat sangat memaksa.


Revan membuang hpnya sampai hancur. Tadi ada pesan masuk dari Putri untuk membujuknya. Untuk kesekian kalinya. Dia tidak ingin membalasnya. Daripada membalasnya lebih baik dia lempar saja hpnya. Orang yang seruangan sama Revan sampai pada kaget.


"Pak Revan mau ganti hape? Sampai hapenya diremukin gitu?" tanya Boby sambil mengusap dadanya karena kaget dengan atasannya yang tiba tiba ngelempar hp. Revan cuma diam mematung. Dia bingung dengan hatinya. Dia mencintai Putri, tapi seperti bertepuk sebelah tangan.


"Kamu kenapa sih Re? Kacau sekali beberapa hari ini," kata Ine ikut berkomentar. Revan masih diam saja. Berlalu dari ruangan itu menuju ruang rapat. Dia sedang menghadapi gengster besar. Butuh bantuan Ayah angkatnya.


Revan melihat Putri, dia justru mempercepat langkahnya. Walaupun Revan tahu Putri berteriak teriak memanggilnya. Revan mempercepat langkahnya dan masuk ruangan. Sekuat tenaga dia tidak ingin menoleh dan memeluk Putri yang ada dibelakangnya.


"Muka mu seperti baru lihat hantu Van," komentar Pak Sidiq saat Revan masuk.


"Saya memang baru saja lihat hantu Pak, hantu yang selama ini berputar putar dikepala saya. Membuat pusing dan susah konsen," jawab Revan sambil duduk didekat pintu masuk. Teman teman satu ruangan itu ikut tertawa. Detik berikutnya Putri dengan nekatnya masuk menyusul Revan. Pak Sidiq langsung tahu permasalahan Revan. Dan mengerjai Putri habis habisan.


Revan kembali berbaikan dengan Putri. Dia punya harapan ternyata. Gadis itu juga mencintainya dan rela dipermalukan. Revan senang. Dia akan berjuang menghapus Riyan dari ingatan Putri.


***


"Saya mau perhiasan yang spesial. Yang bagus sampai tidak mau dilepaskan." Kata Revan. Dia geram dengan bayang bayang Riyan diantara hubungan mereka. Penjaga toko perhiasan tersenyum.


"Mas mau gelang, kalung, cincin atau anting?" Tanya penjaga toko. Revan berfikir sejenak. Apa? Kalau gelang bagaimana kalau tidak dipakai?? Dia.... tidak terlalu percaya diri.


"Kalung, kalung yang paling indah." Kata Revan.


"Kalau indah itu selera Mas. Kalung ada disebelah sana, mari saya antar." Kata pramuniaga. Revan mengangguk. Dia berdesakan dengan emak emak yang memilih kalung. Dia merasa...... tidak jantan. Menyebalkan!! Ini demi bocah ingusan yang cantiknya sangat menggangu.


"Silahkan dipilih Mas." Kata pramuniaga. Revan tersadar dari lamunannya. Terdiam lama. Akhirnya memilih sebuah kalung dengan liontin peri. Berharap kalung itu mampu menandingi pesona gelang Riyan. Dia juga berharap mampu menandingi pesona Riyan dimata Putri.


***


"Apa hasilnya?" tanya Revan pada temannya.


"Aku belum melihatnya. Buka saja sendiri," kata temannya berseragam putih. Revan mengangguk.


"Terimakasih untuk bantuannya Jo," kata Revan sambil menepuk pundak Jo.


"Sama sama, aku senang membantu," kata Jo ramah. Revan membuka amplop putih itu diparkiran mobil. Membaca sekilas dan memukul stir mobil dengan telapak tangannya berkali kali. Anjin*!!! Lelaki itu adiknya. Mantan kekasih Putri yang mempesona itu adiknya. Mereka dinyatakan kakak adik oleh hasil tes DNA dan catatan sipil..... mereka seibu.... Revan bingung sendiri dengan fakta yang Ia temukan.


Hingga Putri kembali terlibat masalah demo *******. Ia tak bisa melindungi Putri. Didepan sana teman polisinya sibuk baku tembak. Ia harus menyembunyikan Putri dan membantu satuan kepolisian yang sedang sibuk. Nama Riyan dan kelompoknya terpikir. Tapi.... mempertemukan Riyan dan Putri berdua tanpa dirinya hanya akan membuat masalah baru. Putri bisa saja terlepas.... pesona adiknya begitu kuat. Revan pasrah.... apa saja asal gadis itu bisa cepat meninggalkan TKP.


Siapa yang tahu ternyata hati Putri berbalik arah. Revan tak menyangka..... dialah pemenangnya. Mulai saat itu dia berjanji untuk mempertahankan Putri sampai kapanpun. Dengan cara apapun. Dia mencintai gadis itu, sampai tak tersisa hatinya. Bocah ingusan yang tumbuh menjadi gadis cantik. Bocah ingusan yang tegar, pintar, tapi polos. Sekarang menjadi gadis manja untuknya. Walau kepintarannya masih terkadang menyulitkan, tapi Revan mampu memakluminya. Selamanya.... dia akan melemahkan gadis itu.... hingga Putri tak mampu hidup tanpanya. Agar tak ada pria lain yang mampu menguasainya. Mendekat saja jangan..... dia adalah pencemburu tipe akud.