
Kerja dimana Dek?" Tanya Mas Dipo pada Revan mengalihkan pembicaraan. Takut diomeli Ibu Negara teus menerus.
"Aku... cuma nguli mas. Mas kerja dimana?" Tanya Revan balik. Sepertinya dia memang susah menyebutkan profesinya.
"Aku buka variasi mobil kecil kecilan. Nguli apa kamu? Nguli panggul, nguli pasar? Masak ganteng ganteng nguli? Kalau cuma nguli mending Putri tak kenalin temanku. Kaya, ganteng dan putih." Kata Mas Dipo minta dijitak. Dia memang orangnya santai santai polos nyebelin. Revan emang item, tapi dia hitam maniskan. Kaya kecap.
"Tembak aja Van, biar gak nyebelin lagi." Kata Ibuku sewot.
"Ya jangan dong." Kakaku membela pacarnya yang setengah somplak itu. Mereka itu pasangan serasi. Cowoknya somplak, ramai, ceweknya pendiam dan cenderung kalem.
"Kok tembak?" Tanya Mas Dipo lagi heran.
"Dia polisi p o l i s i. Gimana mau di tembak beneran?" Tanya Ibu gemas. Revan tersenyum.
Ibuku memang paling rame kalau ketemu Mas Dipo. Teman berdebat ini dan itu. Mas Dipo juga mantu yang paling dicari. Seminggu saja tidak kelihatan Ibuku kangen. Bukan Kakakku hahahaha. Tapi kalau ketemu ya gitu, apa apa diperdebatkan sampai pusing yang dengar. Satu rumah isinya suara mereka berdua. Hubungan yang aneh antara mertua dan mantu.
"Kok polisi, bukannya kemarin guru?" Tanya kakakku minta penjelasan. Semua orang rumahku tahunya memang Revan itu guru. Sesuai dengan Pengakuan awalnya.
"Kemarin belum ngaku mbak." Kataku menjelaskan.
"Wiihhh keren aku punya ipar polisi. Kapan ngelamar Putri?" Mas Dipo lagi berbalik arah dengan cepat. Entah beneran kagum, entah karena takut di tembak beneran. Aku sudah mau membuka mulut protes. Terdengar tukang cilok langganan lewat. Kakak ku sudah berhitung jumlah orang. Aku bersembunyi dibalik punggung Revan. Revan menoleh ku dengan heran.
"Ibuk gak pakai kecap." Kata ibu berlalu pergi.
"Aku juga gak pakai kecap, Mas mu juga, kamu sama Revan terserah. 3 ribuan saja." Kata Mbakku sambil mengacungkan uang 15 ribu kepadaku. Aku menghela nafas. Agak malu kalau dusuruh beli cilok didepan pacar kayak gini. Kakakku itu gak mikir harga diriku ihhh. Aku jadi kelihatan bocah kan.
"Beli sendiri dong. Aku kan malu masak udah gede ngantri cilok sama bocah." Jawabku membela diri. Revan senyum senyum geli. Haaa ancur citraku.
"Kok aku, kamu kan yang paling kecil." Jawab Mbaku seperti biasa. Kata kata pamungkas kalau aku gak mau disuruh beli jajanan.
"Iya Mbak, aku paling kecil dirumah, tapi kalau antri cilok aku udah tante tante." Kataku sebal. Revan masih nyengir dari tadi. Tapi aku tetap mengambil uang dari Mbakku. Nasib anak bungsu emang begitu. Di suruh suruh beli jajan. Alasannya paling kecil. Helooo anak paling kecil ini udah bisa bikin anak kecil juga kali......ehhh....
"Ayah juga mau Pak De Bas juga mau." Sahut Ayah dibalik pintu. Muncul sohibnya dibelakang.
"Uangnya kurang." Kataku sambil menengadahkan dua tangan kesembarang arah. Revan merogoh sakunya dan menyerahkan uang pecahan 50 ribu. Mataku langsung berbinar. Aaaa kalau gini aku mirip bocah beneran. Bodolah. Udah terlanjur basah, nyemplung aja sekalian.
"Ini kebanyakan, biasanya kembaliannya buat aku." Kataku nyengir disampingnya. Revan mencubit hidungku dengan gemas.
"Mamas pakai kecap?" Tanyaku pada Revan. Dia terkejut dengan panggilan barunya.
"Ngikut Adek aja." katanya tak mau kalah pakai panggilan baru. Hihihi... imud juga dia dipanggil Mamas. Terlalu imud untuk mukanya yang garang. Hahaha entah, itu panggilan sayang atau panggilan menjerumuskan. Aku keluar rumah sambil senyum senyum.
Ternyata Ayah dan Pak De Bass beneran mancing. Mereka dapat ikan banyak. Rencananya mau di bakar buat makan malam. Kami bagi tugas. Ibu nyiapin bumbu, Aku dan Kakak nyiapin lalapan, Ayah dan Pak De nyiapin arang, dan Mas Dipo juga Revan membersihkan ikan. Riuh lah malam ini kami dihalaman depan yang gak terlalu luas.
"Kebetulan ada dua calon mantu, jadi bisa di suruh suruh bersihin ikan." Kata Ayah.
"Lha kita ini calon mantu apa babu? Biasanya calon mantu tuh enak tinggal makan." Kata Mas Dipo protes. Tangannya sudah belepotan darah ikan. Revan anteng saja. Tangannya cekatan sekali bekerja. Calon mantu??? Revan juga????
"Itu kalau calon mantunya milyader, kalau calon mantu pas pasan ya suruh bersihin ikan." Jawab Ibu sewot gak mau kalah.
"Lagian cuma bersihin ikan, bukan manjat sutet. Protesss aja kamu tuh." Lanjut Ibu.
"Lha emang ngapain manjat Sutet Bu, Ibu njemur baju di atas sutet?" Mas Dipo gak mau kalah. Malam itu sambil menunggu ikan matang diisi dengan perdebatan Ibu dan Mas Dipo yang kadang kadang absrud. Sepasang mantu dan ibu mertua yang selalu berdebat, tapi saling merindukan satu sama lain.
Aku melirik kearah Revan. Semakin kesini..... kenapa senyumnya mirip seseorang. Struktur gigi dan jenis giginya juga sama. Bukan gigi kelinci. Tapi gigi kecil kecil panjang yang rapi. Garis tulang pipinya juga sama, tapi tidak terlalu terlihat karena Revan berewok yang satunya selalu tampil licin tanpa jenggot.... ah.... apa aku masih merindukannya?? Jadi siapa saja yang dekat denganku jadi kelihatan mirip dia..... dia..... sedang apa dia sekarang. Masih gantengkah? Apa dia masih ingat aku???
Malam semakin larut. Kami sudah kekenyangan makan ikan. Mas Dipo ketiduran diruang tamu diselimuti Ibu. Revan pamit pulang tanpa mengganggunya.
"Terimakasih untuk hari ini. Terimakasih sudah di ijinkan ada diantara keluarga yang hangat." Kata Revan. Dia nampak bahagia. Aku tersenyum.
"Terimakasih juga udah ngajak aku kencan. Buat kembalian ciloknya juga terimakasih." Kataku sambil nyengir. Revan tersenyum dan mendekatkan mulutnya ditelingaku.
"Kamu menggemaskan. Kalau tidak banyak orang, aku pasti langsung menciummu." Katanya dengan suara serak. Gigitan kecil mendarat didaun telingaku. Aku kaget, seperti terserang ribuan volt listrik. Melihat kedalam rumah. Mas Dipo masih tidur tersampir dikursi. Aman.
"Pulang sana!!" Usirku sambil menepuk punggungnya. Dia mengacak ngacak rambutku dengan gemas dan melesat dengan motornya.
Mas Dipo ternyata sudah bangun. Dia melihat aksi Revan menggigit daun telingaku. Habis aku malam itu.
"Buk, Ibuk anakmu gak utuh lagi. Udah tinggal separo digigit Revan tadi." katanya. Uasseeemmm aku malu. Masuk kamar pura pura gak dengar. Punya Kakak Ipar cowok, tapi embernya melebihi emak emak tukang gosip disekitar rumahku.
***
Ada waktunya kita down dengan suatu keadaan. Harus apa kalau begitu?? Bangkit masih sakit. Diam tetap sakit. Nangis tidak mau. Aku ora mudheng..... Otornya agak galau dikit gak papa ya gaes. hihihihi