
Kami mampir makan siang sebelum pulang. Usai sudah rangkaian tes dikantor Revan. Tinggal nikah kantor nanti sekitar dua minggu atau 1 bulan lagi paling lama. Tinggal menunggu panggilan nanti.
Tanganku lama lama terasa mati rasa. Badanku juga seperti akan demam. Dia peka kondisiku.
"Kamu sakit Dek?" Tanya Revan saat kami masih makan siang. Tangannya meraba ijdat dan leherku.
"Hanya kurang enak badan. Sepertinya efek suntikan. Tanganku pegal." Kataku.
"Ayo pulang kalau begitu. Gak usah kerja kerumahku dulu. Bapak pasti ngerti banget kok." Kata Revan. Aku manggut manggut. Kami cepat cepat menyelsaikan makan siang dan pulang.
Kami pulang kerumahku. Dia nampak khawatir. Aaaaa senangnya dikhawatirkan.
"Kalau butuh apa apa bilang ya Dek. Atau mau priksa sekalian?" Tanya Revan saat tiba dirumahku. Aku menggeleng.
"Kata dokter klinik tadi diminumi paracetamol saja Mas. Dirumah ada kok paracetamol." Kataku. Dia mengangguk sambil mengelus kepalaku.
"Istirahat kalau begitu. Tidur yang lama. Aku balik kekantor lagi yaa..." Katanya kemudian pamit Ibu. Dia kembali kekantornya setelah mengantarku pulang. Sebenarnya aku mau kerja setelah pemeriksaan kesehatan, tapi ternyata gak sanggup. Aku ambruk dikamar tidurku. Bangun karena dibangunkan Ibu. Hari sudah hampir magrib ternyata.
Aku keluar kamar, ternyata Revan sudah didepan tv main sama Damar. Bayi itu semakin hari semakin lengket sama Omnya.
"Kapan kesini?" Tanyaku.
"Tadi pulang dari kantor. Aku khawatir sama kamu. Kayaknya pucet banget tadi. Jadi demam?" Tanya Revan sambil meraba keningku lagi. Tangannya terasa dingin. Mungkin benar aku agak demam.
"Itu biasa Van efek suntik sebelum nikah." Kata Mbak Sasa. Mukanya sedikit muak melihat drama Revan memperhatikan aku hahahaha.
"Lusa juga hilang kok. Manja aja dia." Lanjut Mbak Sasa sambil menggendong Damar.
"Aku gak manja iihhh. Ini tuh sakit beneran yaa.." Kataku membela diri.
"Alah manja ya manja. Kakak dulu habis suntik masih bisa kerja. Masih bisa ngapa ngapain. Kamunya aja yang makin kesini makin manja sama Revan." Kata Kakak gak terima.
"Aku gak gitu lho.... ini tuu sakit banget." Kataku sama Revan. Kayak bocah mengadu sama ibunya. Revan tersenyum dengan sabar.
"Iyaa... Dek iya, Mamas percaya kok." Jawab Revan sambil mengangguk pelan.
"Heleh gak terima dibilang manja, mendramalah dia." Kata kakaku. Aku melempar bantal sofa kearahnya. Meleset, padahal jarak kami hanya dua meter paling panjang. Kakakku ketawa ketawa sambil masuk kamar bersama Damar. Tidak lupa menjulurkan lidahnya kearahku. Dasar Mbak Sableng ya gitu.
"Ini tuh sakit gara gara kamu tau. Gara gara mau nikah sama kamu. Kenapa coba yang disuntik cuma aku. Padahal kamu yang mau nikah." Kataku sama Revan. Menyalahkan sepihak. Padahal aku juga calon manten. Benar kata Mbak Sasa aku sebenarnya mendrama. Hahaha.
"Iya, maaf ya. Mau di komores pakai air hangat biar gak sakit?" Tanya Revan sabar.
"Aku mau mandi dulu. Pakai air hangat." Kataku sambil menarik narik ujung kaosnya.
"Aku siapkkan yaa..." Kata Revan sigap kedapur. Menyiapkan air panas. Ibu marah marah mengomel padaku.
"Putri kok diturutin Van!! Manja dia itu. Kamu keterlaluan kalau begini. Belum jadi suamimu, tapi kamu udah suruh suruh Revan. Yang sakit kan cuma tangan kiri. Kaki sama tangan kananmu gak papa kan!! Van, makin manja dia kalau kamu turutin!!!!" Ibu ngomel panjang.
Aku segar habis mandi dengan air hangat yang embernya saja di bantu angkat sama Revan. Hahaha kayaknya aku keterlaluan yaa.. tapi dia anteng ga protes.
"Mau dimandikan sekalian?" Bisik Revan saat kami berhimpit dikamar mandi.
"Hus, ada Ibu." bisikku balik. Dia nyengir saja.
Ngilu di tangan kiriku semakin terasa. Aku sampai tidak bisa menggerakkannya. Sakit. Kalau yang ini gak pakai drama.
Ayah dan Mas Dipo pulang atur atur kepada para saudara. Sekarang giliran Mas Dipo dan aku yang montang manting ngurus nikahanku. Mereka membawa tiga bungkusan besar sate ayam.
"Ayo makan!!" Ibu negara memberi komando kepada kami. Kami urut ngantri ambil makan. Revan entah masih malu malu atau gak suka sate. Dia masih anteng memainkan hpnya mode kerja. Mukanya serius sekali.
"Revan ayo makan." Ajak Ibu. Yang diajak anteng. Seperti tidak dengar. Diulangi sekali lagi.
Revaaannn, ayo makan!!" Teriak Ibu lebih keras. Yang punya nama masih anteng.
"Revan!!! Cepat makan!!" Ibu membentaknya mirip membentak aku dan Kakak dulu waktu kami ngeyel. Revan terkejut dan sigap berdiri mengambil nasi.
"Dari tadi disuruh diam saja!! Semua orang jadi patung kalau main Hape! Makan dulu makan. Kamu pikir hp bisa bikin kenyang!!!" Ibu ngomel lagi. Aku lihat Revan senyum senyum. Tapi matanya menahan haru.
"Van, jangan nangis." Kata Mas Dipo. Yang ada didepan Revan ambil nasi.
"Masak polisi dibentak begitu nangis?" Ibu gak percaya menghampiri Revan yang sedang mengambil nasi. Ravan justru memeluk lbu.
"Maaf Bu, saya tidak dengar. Saya selalu membayangkan disuruh makan dirumah sama Ibu saya, tapi tidak pernah terjadi. Saya senang akhirnya ada yang marah marah karena saya gak makan. Maaf saya hanya terbawa perasaan." Kata Revan pilu. Seisi rumah jadi ikut melow. Ibu mengusap ngusap punggung Revan dengan sayang.
"Kamu anak Ibu sekarang. Kamu sering sering kesini kalau mau Ibu suruh makan." Kata Ibu sudah ikut mewek.
Revan tersenyum. Menghapus airmata di pipi ibu.
"Revan makan ya Bu." Katanya. Ibu mengangguk.
"Tapi Ibu yang ada disini adanya yang cerewet, galak dan suka nyuruh nyuruh Van. Wes susah pokoknya kalau Ibu Negara sudah ber titah. Belum kalau tanggal tua Van, kita salah ngletakin sandal saja bisa kena omel seharian. Belum kalau di tinggal Ayah main sama teman Masehinya itu. Wooo didepan Ayah cuma cemberut. Ngomelnya sama kita yang dirumah." Kata Mas Dipo. Kami manggut manggut akur. Ayah senyum senyum gak jelas.
"Cepat makan Dipo!!" Ibu meneriakinya. Mas Dipo anteng melanjutkan makan. Kami berdesakan diruang keluarga itu. Mirip arisan RT ibu ibu sedang keluar hidangan.
Belum juga selesai makan hp Revan berbunyi. Dia mengangkatnya diteras rumah. Berbicara dengan nada serius.
"Aku ada tugas." Katanya padaku. Sudah menjabat tangan Ayah mau pamit.
"Makan dulu di habiskan. Makan belum habis udah main pergi pergi aja. Makan dulu yang benar. Kamu pikir tugasmu itu bisa bikin kenyang......" Ibu ngomel. Revan melanjutkan makannya dengan omelan ibu. Mas Dipo berbisik
"Naahhh..... nyeselkan kamu, diterima anak."
Revan senyum senyum, kami juga tapi tidak ada yang berani melawan Ibu negara yang lagi ngomel. Termasuk Iptu Revan Aji Pratama yang menunda sebentar tugasnya untuk menghabiskan makan malamnya.