I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 82



Aku cemberut bahkan saat mobil sudah berjalan menuruni perbukitan. Dia masih senyum senyum gak jelas.


"Udah dong, nanti cantiknya ilang." Rayuan gombal Revan keluar.


"Udah gak cantik lagi. Udah diculik sama diobok obok sekalian." Kataku kesal. Dia malah tertawa.


"Aku cuma geladi resik Sayang, sepertinya kita gak bisa malam pertama dirumahmu. Jarak perkamarnya terlalu dekat. Dan kamu terlalu berisik. Aku mau sewa hotel nanti habis ijab." Kata Revan. Bodo amat!! Malam pertama? Bukanya tadi udah???


"Emang tadi belum?" Tanyaku. Dia tertawa lagi.


"Aku tadi cuma mainin Sayang. Bahkan belum menyentuh. Kamu masih virgin." Kata kulkas mesum. Aku bengong. Dia menjelaskan sedikit tentang permainannya tadi. Katanya jarinya saja belum masuk keintiku. Benar juga sih. Kata orang orang seperti itu akan sakit, tapi aku tadi enak dan tidak sakit. Dia juga masih berpakaian lengkapkan.


"Kenapa rasanya enak?" Tanyaku.


"Karena biar kamu ketagihan." Jawab Revan santai. Lalu kenapa kamu begitu ahli? Kamu bukan Riyan yang entah sudah tidur dengan berapa cewek. Apa ini bukan yang pertama bagimu? Tanyaku dalam hati.


Dia melihatku sekilas. Aku ketahuan memandanginya dengan pertanyaan dalam batin.


"Kenapa?" Tanya Revan penasaran. Aku menggeleng lemah.


"Capek." Kataku beralasan. Dia tersenyum manis.


"Wajar, pelepasan pertama." Katanya santai. Membuatku semakin curiga. Aku... sepertinya bukan yang pertama untuknya. Walaupun aku juga tidak yakin.


***


Sampai rumah semua orang berkumpul panik. Dia baru menyerahkan hpku yang dia sita. Saat mobil sampai dihalaman rumah. Ibuku sudah mengomel bahkan sebelum kami keluar mobil.


"Aku gak salah Bu. Semua salah dia. Hpku disita. Aku diculik." Jelasku pada Ibu yang marah besar. Bodo amat dengan dia.


"Revaaaaaannn!!!!! Benar yang dibilang Putri. Kamu biang keroknya!!!" Kata Ibu ngamuk. Revan senyum senyum sambil mengangguk kecil.


Revan langsung dapat omel dari Ayah dan Ibu.


"Kamu tahu tiga hari lagi ada acara? Kamu tahu betapa paniknya kami mencari Putri. Apa jadinya kalau manten menghilang 3 hari sebelum hari H. Kalian kemana saja? Dari siang sampai malam begini!!!" Kata Ayah sudah dengan emosi jiwa.


"Maaf Bu, Ayah, aku kangen banget sama Putri. Kalau minta ketemu pasti gak boleh. Kata pepatah lebih baik minta maaf dari pada minta Izin." Kata Revan sambil meringis. Ibuku menjewer telinganya.


"Pepatah pepatah. Bagaimana kalau kupatahkan telingamu." Kata Ibu makin jengkel.


Entah dia dimarahi sampai jam berapa. Yang jelas sidang atas nama terdakwa Revan Aji Pratama digelar lama diruang tamu rumahku.


Aku capek sekali. Tanpa terasa tertidur disampingnya. Bangun pagi hari aku sudah berbaring dikamar. Dengan baju belum ganti dari kemarin. Tepok jidat.


Setelah kejadian itu aku dilarang keluar rumah. Benar benar tidak bertemu Revan sampai hari H.


Malam sebelum hari H.


'Dek, kamu gak berencana kaburkan?' Pesan dari Revan.


'Aku takut kamu kabur. Aku takut gak jadi nikahin kamu. Aku suruh Boby berjaga dirumahmu ya..' pesannya lagi. Aku tertawa.


'Aku gak mau kabur Mas. Gak usah kirim Boby. Kamu juga harus tanggung jawab karena udah nelanja*ngin aku.' Ketiku. Dia mengirimkan emosi tertawa berderet deret.


'Aku akan tanggung jawab Sayang. Mulai besok aku akan tanggung jawab dengan seluruh hidupmu. Jangan pernah berfikir melarikan diri dariku atau menyingkirkan aku dari hidupmu.' Pesan Revan panjang lebar. Ahhhh...... aku jadi melow. Dia jarang sekali mengungkapkan seperti ini.


***


Hari pernikahanku tiba. Aku ngantuk ngantuk sudah dirias. Beberapa kali menguap membuat mbak MUA sedikit kesulitan mendandaniku.


"Gak tidur tadi malam Mbak?" Tanya Mbak MUA


"Tidur Mbak, dari jam tujuh udah mulai tidur, tapi prakteknya gak tidur sampai tengah malam. Gak bisa tidur." Kataku. Mbak MUA tertawa.


"Grogi ya Mbak." Katanya.


"Iya Mbak, pengalaman pertama." Jawabku asal.


"Kalau pengalaman kedua ya kamu udah janda Put." Mas Dipo nimbrung. Membuat kami tertawa.


Revan datang jam 6 bersama Bu Nirmala. Beliau memastikan pakaian kami tidak kurang suatu apapun. Aku jadi terharu.


Revan mencium tangan Ibu masih dapat jeweran ditelinganya.


"Ini nih, manten bandel. Mantu paling bikin sakit kepala sebelum hari H!!!" Kata Ibu.


Dia senyam senyum saja. Bu Nirmala bengong. Dia langsung di beri pakaian adat jawa putih dan di toch up dikit. Namanya juga Revan pasti rewel dengan kecantikan atau perawatan. Dia hampir ngamuk karena diberi eyeliner.


"Tau dari mana saya kalau Mbaknya gak nyolok mata. Itu deket banget sama mata!" Kata Revan galak. Semua orang jadi cekikian. Hadehhh.... bawa harimau alas kesalon.


"Mbak, biar saya yang makein." Kataku. Dengan agak ribet aku berdiri menghampiri meja riasnya.


"Kalau aku yang pakaiin, Kamu percaya gak bakalan nyolok mata kan?" Tanyaku. Dia malah bengong. Matanya mengisyaratkan kerinduan padaku.


"Lihat keatas." Kataku dia masih bengong.


"Kamu...... cantik. Aku kangen." Kata Revan. Langsung dapat cieh cieh dari seisi ruang makeup. Membuatku ingin mencoretkan tiga kumis saja menutupi lesung pipinya. Biar mirip kucing. Hahahaha....


Selesai urusan eyeliner dia anteng dimakeup. Kemudian digiring keluar duluan. Aku keluar saat semua orang sudah bersiap di posisi. Dia menunggu dikursi yang sudah disediakan. Melihat kedatanganku tanpa berkedip. Apa aku secantik itu? Bikin baper aja Mas Mas.


Dia mengucapkan ijab qobul dalam sekali tarikan nafas.


"Sah!!!!!" Semua orang mengatakan satu kata itu usai ijab qobul. Ada yang meremas hatiku dan mendesirkan perasaanku. Mulai sekarang dia imam yang harus kutaati. Dia... yang awal kenalan begitu gigih, namun tidak pernah kulirik. Dia yang selalu ada untuk setiap masalah dan dukaku. Perlahan lahan membuatku berpaling dari Riyan yang aku rasa dulu begitu sempurna. Dia yang membuatku manja didekatnya. Yang bahunya kokok kusandari dan kutangisi. Aku mencium tangannya dalam haru. Air mataku tak sanggup kutahan lagi.


"Kamu kok nangis? Gak bahagia nikah sama aku?" Bisik Revan.


"Aku menangis bahagia Mas. Akhirnya setelah semua yang kita lalui, kita menikah juga." Kataku. Dia tersenyum. Beskap putih dan blangkon yang dia kenakan seperti pantas sekali untuknya. Aku seperti dinikahi pangeran keraton.


Acara berlanjut dengan sungkeman. Sebelum aku ganti baju untuk resepsi. Rasanya seperti aku berpamitan pada Ayah dan Ibuku. Hatiku jatuh. Aku yang sebesar ini selalu hidup dalam perlindungan dan kasih sayang mereka. Kini seperti harus berpisah. Apa yang sudah kuberikan? Apa? Semuanya hanya bias semu dibanding segalanya yang mereka berikan. Wajah haru Ibu dan Ayah semakin membuat deras hujan dimataku. Apa lagi kudengar Ayah menitipkanku pada Revan.


"Jaga dia Nak, anak ragil kesayangan kami yang manja. Selanjutnya bimbing dia menjadi istrimu yang selalu kau cintai." Kata Ayah haru.


Istri Pak Sidiq menggantikan Ibu Revan disamping Bapak. Aku lihat Revan juga meneteskan air mata. Dua bapak anak itu saling berpelukan lama. Bapak juga memelukku saat aku sungkem didepannya.


"Kamu putri Bapak. Mulai sekarang dan selamanya, kamu putri Bapak yang cantik." Bisik Bapak padaku.


Revan berkali kali mengkode asisten WO mengganti tisueku yang sudah basah dengan air mata. Bahkan saat duduk pun aku masih sesenggukan. Dia yang biasanya menyampaikan kalimat penghiburan sekarang sama sama haru. Hanya genggaman tangan dan tepukan lembut dia berikan.