I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 103



Kami berangkat kedokter buru buru setelah sarapan soto daging yang aku muntahkan kembali. Revan panik setengah mati, tapi kata bapak itu wajar. Dijalan Revan terus menawariku makanan. Aku menggeleng. Kepalaku pusing, perutku mual.


Kami diantar keruangan dokter setelah menunggu beberapa saat. Usg dilakukan.


"Ini memang sudah terlihat kantong kehamilannya. Tapi janinnya belum terlihat. Masih terlaĺu dini. Kita coba USG dua minggu kedepan yaa." Kata Dokter.


"Tapi hamil kan Dok?" Tanyaku.


"Semoga Bu, jaga kesehatan. Makan makanan yang bergizi. Ini pasti lagi mual mualnya kan? Saya beri obat mual dan vitamin." Kata Dokter.


Entah karena tahu hamil atau gimana tubuhku jadi melemah. Aku terus muntah kalau pagi hari. Pusing bukan main.


"Mbak, saya boleh masuk? Saya disuruh Mas Revan nemenin Mbak Putri." Kata Bude Marni dibalik pintu.


"Masuk Bude." Kataku. Didalam kamar.


"Aku sangat senang Mbak Putri hamil." Kata Bude Marni sambil duduk ditepi ranjang. Kami berbincang bincang sambil aku tiduran. Dari beliau aku tahu banyak gosip gosip disekitar kampung sini.


"Yang Bude dengar Pak Aji dulu itu anak ningrat, tapi diusir karena nikah dengan ibunya Mas Revan." Kata bude Marni memulai bergosip.


"Apakah Ibunya Revan orang yang ramah Bude?" Tanyaku.


"Setahu Bude beliau pendiam Mbak. Mirip Mas Revan. Jarang cerita apa apa sama tetangga. Beda lah sama emak emak yang biasanya suka gosip." Kata Bude Marni.


Bude Marni sendiri adalah janda dua anak. Ditinggal meninggal suaminya saat anak anaknya masih tanggung sekolah. Satu SMP satunnya SMA. Rumahnya ternyata masih sekitar sini. Sebelum kerja disini dia kerja serabutan. Sampai akhirnya ditawari Bapak kerja.


"Kerja disini paling enak Mbak, majikannya gampang, gak ada yang galak. Pantes aja banyak orang betah kerja disini." Katanya. Aku tersenyum.


"Aku juga gak banyak adaptasi jadi mantu disini Bude." Kataku.


"Tak kirain dulu Mas Revan bakal nikah sama Mbak Ine, ternyata salah. Dapat istri yang cantiknya mirip bidadari gini. Ya Mbak Ine kalah. Hahaha." kata Bude Marni. Ngobrol sama Bude Marni membuat aku lupa muntah. Biasanya kalau udah tengah hari aku sudah bisa bangun. Tidak pusing lagi.


***


Dua minggu berlalu. Kami kembali priksa kedokter. Saat USG bayi kecil itu sudah terlihat. Dokter menyatakan aku hamil. Gambar USG dikuasai Revan. Dia langsung memasukkannya dalam dompet. Kami berebut gambar sampai pulang kerumah. Nambah satu lagi yang rebutan karena Bapak juga tidak mau kalah. Hahaha sepertinya kami konyol. Aku mengelus perutku yang masih rata. Kamu membawa kebahagiaan Nak. Batinku.


Tapi perjuanganku tidak cukup berbaring sampai tengah hari. Hormon yang jungkir balik membuatku sama sekali tidak tahan dengan bau keringat. Harusnya setelah tengah hari aku bisa ngapa ngapain, tapi kedepan membantu Bapak juga tidak bisa karena banyak pekerja yang sudah berkeringat lewat tengah hari.


"Aku tidak tahan. Rasanya bau sekali didekat hidungku. Padahal dulu aku tidak penah merasa bau. Aku jadi gak enak sendiri Mas." Keluhku pada Revan.


"Ya sudah didalam rumah dulu Dek. Gak usah keluar. Ada Alya juga yang bantu. Istirahat saja dulu." Kata Revan penuh pengertian.


Aku juga tidak tahan naik mobil. Udara dalam mobil membuat aku mabuk dan muntah. Alhasil aku tidak bisa kemana mana. Revan tidak mengizinkan aku naik motor selama hamil. Untuk priksa kandungan saja aku harus bawa banyak kantong kresek dimobil. Akhirnya kuhabiskan masa hamil muda dengan gelergoran sambil baca novel dan nulis.


Beberapa orang datang menjengukku. Ibu dan Ayah datang. Membawakan macam macam camilan kesukaanku. Juga serantang penuh masakan Ibu. Aku girang bukan main. Seminggu sekali mereka menginap disini. Menggantikan aku yang biasanya pulang kerumah Ibu seminggu sekali juga. Biasanya hari minggunya Mas Dipo juga datang kesini bersama Mbakku dan Damar. Aku jadi merasa tidak kesepian.


Diki juga datang untuk urusan pekerjaan sebenarnya, tapi sering masuk rumah menyapa. Dia sering menggodaku dengan mengatakan aku lemah dan cengeng. Seperti macan kehilangan taring.


"Haaa rasakan besok kalau istrimu hamil Dik." Kataku. Diki sebenarnya lebih tua 4 tahun dari aku, tapi karena akrab aku memanggil namanya saja. Dia sepertinya juga tidak keberatan.


"Memang wanita mana yang kamu pikirkan? Sampai tidak bisa memikirkan wanita? Atau jangan jangan kamu memikirkan pria?" Tanyaku sambil tertawa. Dia ikut tertawa.


"Aku normal Put. Mulutmu itu hamil masih cari gara gara." Katanya. Aku tertawa.


"Lalu siapa yang kamu pikirkan?" Tanyaku.


"Ada, tapi tidak bisa kumiliki. Aku juga tidak berani berharap. Tapi aku memikirkanya lekat dalam pikiranku." Kata Diki menerawang.


"Haa..... apa dia tidak tahu kau pikirkan? Tidak tahu kamu jatuh hati padanya?" Tanyaku simpati. Kasihan sekali kisah cintanya.


"Tidak, tentu saja tidak. Dia tidak boleh tahu." Kata Diki mantap.


"Kamu mau sesuatu? Anggap saja ini traktiran dari Om Diki untuk calon keponakan." Katanya lagi. Aku menggeleng.


"Aku jarang mau makanan. Cuma tidak tahan bau keringat." Kataku.


"Tapi kenapa kamu tidak bau? Bukankah kamu juga bekerja sebelum kesini?" Tanyaku heran.


"Karena aku mandi di mushola dekat warung sebelum kesini." Katanya. Dia tahu dari Bapak kalau aku gak tahan bau keringat.


"Serius?" Tanyaku. Dia mengangguk. Aaaa manis sekali. Aku merasa disayangi banyak orang.


Revan dan Bapak akan mandi dulu sebelum masuk rumah. Revan terlihat lebih perhatian. Dan aku semakin manja. Hahahaha. Kadang aku merasa lebay sendiri dengan kemanjaanku. Tapi yang memanjakan biasa saja. Dia jadi overprotektif. Tidak boleh ini tidak boleh itu. Kamar mandi yang sering kugunakan harus disikat tiap hari agar tidak licin, lantai yang dipel harus segera dikeringkan. Makanan yang masuk perutku benar benar diawasi. Bahkan satu satunya kegiatanku memasak juga dihentikan. Aku protes besar. Akhirnya dia mengalah setelah perdebatan panjang. Aku masih diijinkan masak walaupun dengan bantuan Bude Marni.


"Papah Papah." Kataku suatu malam sambil menowol nowel lengan Revan yang tengah tertidur. Dia membuka matanya.


"Apa Mamah?" Tanyanya balik. Menguap, tapi matanya terbuka memperhatikan aku.


"Aku lapar." Kataku.


"Haaa mau makan apa?" Tanyanya sudah duduk tegap. Ini dini hari, tapi aku pingin banget makan bakso. Rasanya mau nangis pingin bakso. Tapi kok kasihan Revan. Tanpa sadar aku malah nangis.


"Eh, eh kenapa sayang eh.... jangan nangis." Kata Revan sigap memelukku.


"Aku mau bakso, tapi ini dini hari. Tapi baksonya tuh kaya ada didepan mataku." Kataku sesenggukan. Entah kenapa aku emosional sekali.


"Mau bakso kok sampai nangis. Udah, tunggu disini aku carikan." Katanya. Aku menggeleng.


"Aku mau ikut." Kataku mewek lagi.


"Kamu gak tahan naik mobil sayang, ini tengah malam dini hari malah." Katanya. Dia benar, tapi aku mau nangis.


"Boleh naik motor? Aku ikut." Kataku. Revan menghela nafas kasar.


"Kalau aku bilang gak boleh kamu pasti nangis. Kali ini saja aku ijinkan. Pakai jaket tebal, celana tebal, baju lengan panjang, kaos kaki dan penutup kepala." Katanya tegas.


Kami muter muter dini hari. Gak ada bakso buka, tapi aku senang. Akhirnya makan diwarung magelangan. Pulang kerumah sudah subuh. Kukeluarkan semua makanan tadi. Tandas.... Muntah sampai pahit mulutku. Pusing.... gelap.