
Riyan menggeleng. "Aku tidak bisa keluar dari ayahku. Keluar artinya mati. Aku tidak bisa Put." Katanya seakan pasrah.
"Kenapa?" Tanyaku heran.
"Aku sudah dipersiapkan untuk mewarisi bisnisnya. Mau atau mati. Itu pilihannya. Karena aku tahu sepak terjangnya dari kecil. Aku saksi dari segala jenis kejahatan. Dan sekarang aku tahu jaringan yang menghubungkannya. Rumit. Tak ada jalan lain kecuali ikut arus." Kata Riyan panjang lebar. Aku tidak terlalu bisa mempercayainya. Aku gak mau percaya. Aku mau Riyan keluar dari dunia ayahnya dan hidup bersama denganku selamanya. Hening sebentar....
"Lalu Simpel? Kau akan meninggalkan simpel?" Tanyaku. Dia menggeleng.
"Aku akan membuat mereka beriringan. Aku juga butuh profesi untuk menyamarkan bisnis Ayahku...." Katanya mengawali penjelasan. Simpel akan terus berjalan. Ia akan memulai debut pertamanya dengan Simpel sebagai band papan atas. Ia akan berjalan sebagai vokalis dan pewaris bisnis ayahnya secara bersamaan. Katanya bisnis ayahnya tak perlu pergi ke kantor tiap hari. Hanya perlu berfikir, menyuap, bertahan, dan kejam. Sudah. Tidak menyita waktu seharian. Ia akan tampil ke publik sebagai vokalis Simpel.
"Tapi kalau kau ikut denganku, aku akan meninggalkan Simpel. Sulit hidup sebagai bintang kalau sudah melarikan anak gadis orang." Kata Riyan.
"Tapi pasti menyenangkan, hidup denganmu selamanya." Lanjutnya sambil memegang tanganku. Aku terdiam bingung berfikir harus gimana.
"Kau harus memutuskan sekarang Put. Aku tidak punya banyak waktu duduk disini. Tidak bisa menemuimu sesering dulu. Kau dalam pengawasan ketat ayahmu yang cerdik kan? Aku yakin dia menyita hpmu." Katanya tidak sabar.
Aku mengangguk.
"Ayo kita pergi." Ajaknya lagi dengan sungguh sungguh. Hening...
Aku, aku tidak punya nyali sebesar itu untuk pergi mengikutinya. Dan meninggalkan duniaku sejak kecil.
"Aku.....ti.....tidak bisa." Jawabku sambil mengurai air mata. Dia terbengong.
"Aku... ingin melihatmu sebagai vocalis Simpel yang hebat. Aku... akan disini. Melanjutkan sekolah dan bersama orang tuaku. Aku akan menjadi orang hebat. Yang akan...... mengeluarkanmu dari pengaruh buruk ayahmu. Aku ingin melanjutkan hidupku....... dan...... dan mandiri secepatnya." Kataku terbata. Aku tak sanggup berkata kata lagi. Sesenggukan oleh keputusanku sendiri. Dia menggeleng tidak percaya.
"Tidak mungkin.... duniaku tidak semudah pikiranmu Put. Tidak ada jalan keluar sekali masuk akan tetap berada didalam." Katanya pesimis. Aku menggeleng.
"Gak ada yang gak mungkin asal ada niat Yan. Kamu itu cowok yang cerdik. Pikirkan cara aku akan membantumu." Kataku. Kali ini giliran dia yang terdiam.
"Kau hanya dididik untuk itu Yan, tidak mungkin tidak ada jalan. Kau hanya tidak mau keluar. Kau anak baik Yan. Anak baik. Anak baik yang terjebak dalam lingkungan yang buruk." Kataku meyakinkannya. Dia tetap menggelang.
"Tidak ada. Tidak ada jalan keluar. Kau tidak mengerti Put." Katanya.
"Aku mohon pergi denganku sekarang juga." Katanya memelas. Meremas tanganku dalam genggamannya. Kali ini aku yang menggeleng.
"Aku janji akan menjadi mandiri secepatnya. Aku akan menjadi pembelamu yang akan mengeluarkanmu dari dunia yang buruk." Kataku mantap. Dia justru melepaskan tautan tangan kami.
"Sementara itu, biar aku lihat kamu jadi vocalis Simpel. Mewujudkan mimpi baik dalam dirimu." Lanjutku sambil berlinangan air mata.
Dia melepaskan ciuman kami. Kami berpandangan cukup lama.
"Kau benar Sayang, tidak seharusnya aku merusakmu. Hiduplah dengan benar. Aku akan melepasmu." Katanya dengan pancaran sedih dimata.
"Satu yang harus kau tahu, suatu saat aku tetap ingin kembali padamu. Ketika saat itu tiba, aku akan jadi kuat untuk bisa melindungimu. Aku akan selalu melindungimu." Kata Riyan.
"Aku berharap kamu bisa keluar dari lingkungan yang buruk Yan. Hidup dengan baik bersamaku. Kamu adalah cinta pertamaku yang takkan kulupakan." Kataku. Kami berpelukan lagi dalam diam.
"Kembalilah kekelas. Atau kamu akan dapat masalah." Katanya sambil melepsakan pelukan. Aku mengusap kering sisa air mataku dan keluar dari mobilnya. Aku berjalan meninggalkan mobilnya sambil menoleh beberapa kali. Aku meninggalkannya..... kami berpisah..... Segala yang pernah kita lalui terlintas cepat dipikiranku. Aku merasa sepi diantara riyuh lalu lalang kendaraan yang ramai siang itu. Berjalan ditrotoar dengan gontai...... aku mencintaimu Yan, sangat mencintaimu. Cinta pertamaku dengan lawan jenis. kamu yang indah, selalu mempesonaku dengan baik.
***
Aku kembali kesekolah saat jam keempat. Artinya aku bolos satu mapel setelah olah raga. Alasan sakit perut menjadi alasan yang tepat. Aku diijinkan masuk oleh guru pengampu jam pelajaran setelah olah raga. Walaupu masuk di satu jam terakhir.
"Kamu habis nangis?" Tanya Tika disebelahku. Aku mengangguk.
"Kamu putus dari Riyan?" Tanyanya lagi. Aku mengangguk.
"Kenapa?"
Aku menggeleng.
"Aku gak bisa cerita apapun walau sama kamu Tik." Jawabku mantap.
Aku fokus kedepan. Mencatat dan memahami semua yang guru ajarkan. Aku harus menjadi terbaik di kelas ini. Menjadi juara sekolah kalau perlu.
Hari hari berikutnya kuisi dengan belajar belajar dan novel untuk selingan. Seperti saat aku tak mengenal Riyan dulu. Seperti sebelum aku mengenal rindu. Seperti sebelum aku mengenal debaran debaran yang disebut cinta. Seperti sebelum aku menghirup parfumya yang menjadi parfum terenak menurutku. Walaupun rindu ini ternyata begitu menyiksa. Dan cinta yang dipatahkan begitu saja meninggalkan luka. Aku diam dalam tangis. Walaupun luka didadaku begitu tragis.
Aku kangen? Bodoh jika tidak. Yang kulakukan hanya mengusap gelang dan memandangnya berlama lama. Menyanyikan lagu yang kami buat bersama. Walaupun hanya dalam hati. Aku harus bangkit. Semua kerinduan itu kutampung. Mengubahnya dengan energi belajar. Aku harus pintar. Jadi juara dunia kalau perlu.
Aku sering bermimpi Riyan. Mengulang beberapa kali adegan kami. Saat aku menungguinya manggung. Menungguinya latihan. Atau bercanda dengannya. Aku sering memimpikan dalam malam malamku yang sunyi. Mengkhayalkan dia memegang gitarnya. Mengubah puisi puisiku menjadi nada. Kemudian tersambung menjadi sebuah lagu. Aku kangen Riyan. Aku kangen Riyan.
Kenapa kami harus berpisah? Karena dia penjahat? Tapi dia tidak jahat sama aku. Dia baik. Dia romantis, bahkan dia menjagaku. Tidak semua orang jahat itu jahat. Mungkin dia jahat karena keadaan. Mungkin dia jahat karena terpaksa. Riyan itu anak baik. Aku yakin! Tapi terjebak dalam lingkungan yang buruk. Aku harus membantunya terlepas dari lingkungan itu. Harus!!! Entah bagaimana caranya nanti.
Aku diam tentang Riyan. Tidak membicarakan apapun pada siapapun. Kerinduan ku pendam. Pembelaan terhadapnya kusimpan. Nama Riyan tak pernah kusebutkan, tidak mau disebutkan siappun juga.