
Ujian semester menanti didepan mata. Aku fokus belajar. Revan terkadang datang untuk main catur dengan Mas Dipo. Bukan Mbakku yang di boyong kerumah Mas Dipo, tapi Mas Dipo yang dibawa kesini. Tiap hari rumah ini ramai dengan keabsrutan dan perdebatannya dengan Ibu. Aku kadang susah konsen kalau dua orang itu berdebat. Walaupun begitu, ujian semester kali ini kulewati dengan selamat.
Reuni SMP akan diadakan sebulan lagi. Tomy menjadi salah satu panitia. Reuni yang rencananya akan diadakan disebuah restoran itu katanya gratis. Ada donatur yang bersedia membiayai. Wow, fantastik. Apa teman temanku sesukses itu sekarang? Kalau begitu Aku cuma remah remah rempeyek diantara mereka. Ada yang membuatku tidak nyaman. Kutanya Tomy berkali kali katanya Riyan tidak hadir.... sedikit.... kecewa.
Minggu saat acara reuni diadakan. Aku sudah manis saja pakai kaos oblong sedikit pres body dan celana jeans. Tas slempang kesayangan juga tidak lupa. Flat shose yang nyaman masih andalanku. Rambutku kugerai saja. Bergelombang diujung ujungnya dengan alami. Rambutku memang seperti ini sejak dulu. Aku menunggu Revan diteras rumah. Sebenarnya Tomy meminta bareng, tapi dia panitia dan berangkat lebih dulu. Aku malas nunggu lama lama. Dia juga berpesan aku untuk datang sendiri.
"Gak usah bareng Revan, ingat datang sendiri. Sama Revan kamu gak bebas ha ha hi hi." Kata Tomy. Aku manggut manggut saja saat Tomy bilang gitu. Mereka memang gak bisa akur. Tapi kadar manjaku sama Revan itu semakin bertambah seiring bertambahnya semesterku hahaha. Aku gak pede kalau gak gandengan sama dia kemana mana.
"Uweeeehhh aku tadi di wa Revan katanya dia gak dateng." Mas Dipo cari gara gara.
"Masak sih? Waaahh sekarang Mas udah jadi menegernya yaa. Sama aku aja dia gak bilang apa apa." Kataku.
"Iiihhh bener Put, dibilangin gak percaya." Katanya sambil benerin kolor. Aku lihat jam tangan. Sudah tepat waktunya berangkat. Revan itu selalu on time. Kemana dia??
Sepuluh menit berlalu. Aku Mulai gerah. Aku mengiriminya pesan. Tidak dibaca. Terakhir aktif satu jam lalu. Berarti dia udah bangun tidur kan? Gak ketiduran kan? Apa dia kerja? Tapi masak gak kasih tahu aku.
Lima belas menit pesanku masih sama. Belum terbaca. Apa Mas Dipo benar? Tomy sudah menanyakan apa aku jadi datang. Aku telfon juga Revan. Tiga kali panggilan baru terjawab.
"Kenapa Dek?" Jawabnya diujung telpon.
"Mamas gak lupa kan Aku ada reuni SMP?" Tanyaku. Diam diujung sebrang sana. Suara ramai menjadi background. Apa dia kerja?
'Maaf Dek, Mamas lupa hehehe. Tadi dini hari ada tugas. Ini Mas masih dikantor. Mas bisa datang kok. Tunggu sebentar. Mas ngebut kesana." Katanya. Telfon terputus. Aku menepuk jidatku beneran.
Alamat telat lama ini kesana. Dia dikantor dari dini hari. Kemungkinan belum mandi juga ada. Aaaaaa ini orang kalau tak suruh mandi pasti tambah lama, kalau nggak mandi yaaa gitu penampilannya kalau kerja. Sudahlah pasrah aja. Yang penting kelihatan batang hidungnya.
Dia datang 20 menit kemudian dengan memasang wajah imut imut. Aku sudah dapat gambar gambar yang dikirim via grob. Tika juga sudah disana. Cemberut total sudah mukaku.
"Hampir aku mau ganti daster rumah!" Kataku kesal. Dia senyum mengacak rambutku dan pamit sama Ibu.
Gak ada uyel uyel manja. Beberapa kali dia minta cium kutepis terus. Kebiasaannya ngacak ngacak lipstikku juga makin parah.
"Aku telat juga baru kali ini." Membela diri.
"Iya tapi parah. Kita sampai sana teman temanku udah mau pulang. Tau gitu aku berangkat sendiri. Nyebelin!" Omelku. Aku lihat penampilannya. Celana jeans robek dengkul, kaos hitam, dan jaket flanel hitam. Rambut acak acakan, bewok kemana mana. Tepok jidat dalam hati. Yakin belum mandi.
Sampai sana benar saja MC acara sudah melakukan game game seru. MC itu teman kami sendiri. Aku terbengong didepan pintu masuk. Meriah dan mewah sekali. Pesta standing party tapi dengan kursi kursi berjajar banyak dipinggirnya. Revan sudah kugelayuti lengannya ikut diam di depan pintu.
"Putriiiiii!!!!" Teriak Tika menghambur kepelukanku. Kami berpelukan sampai bergoyang goyang. Kangen banget. Udah lama gak ketemu Tika.
"Woooo ini dia juara kelas kita... karena dia datang paling telat ayo kita hukum dia." Si MC yang aku lupa namanya ikut melihat kearahku dan Revan.
"Maju! Maju! Maju!" MC memprovokasi. Semua orang ikut menyerukan 'maju!'. Tika juga sudah mendorong dorongku kedepan. Kugandeng tangan Revan. Dia harus tanggung jawab.
"Weweweeww maju juga harus gandengan." Pembawa acara cerewet.
"Ini gimana kabarnya? Udah punya anak? Udah nikah sama Masnya ini? Apa kesibukan mantan juara kelas tiga tahun berturut turut?" Tanya MC menyodorkan mic kebibirku.
"Belum nikah, masih kuliah, otomatis belum punya anak dong." Kataku.
"Kuliah jurusan apa? Trus setatus Mas ini apa?"
"Pacarku." Lanjutku. Orang orang sudah bersiulan. Si MC bilang dia patah hati. Katanya aku ini incarannya dulu, tapi dulu dia tidak pede mendekati juara kelas yang cuwek. Lebih sibuk membaca novel dari pada menanggapi cowok yang meliriknya. Aku masih saling pandang dengan Riyan. MC balik tanya sama Revan. Siapa namanya, Apa pekerjaannya? Berapa lama pacaran? Dan tips tips menaklukan hatiku yang dulu terkenal cuwek.
"Nama saya Revan. Saya guru. Kami dekat dari 4 tahun yang lalu. Kamu benar, mendapat perhatian dari Putri itu sulit karena dia cuwek dan cenderung tertutup. Tapi cinta saya mengalahkan segalanya." Katanya sambil merangkul pundakku. Cie cieh dan tepuk tangan terdengar. Aku sudah malu dan menyembunyikan wajahku didadanya. Kami dihukum nyanyi. Langsung menolak suara kami tidak pantas diperdengarkan. MC menyerahkan hukuman pada teman teman kami dibawah panggung.
"Musikalisasi puisi." Teriak Riyan. Dia maju kepanggung. Semua orang sudah heboh. Beberpa orang pasti tahu hubunganku dengan Riyan dulu. Celakanya si MC juga tahu....
"Waaa apa ini namanya? Ketika aku, mantan, dan pacar ada disatu panggung?" Komentar MC. Penonton heboh, mata Revan sudah siaga satu. Maju satu langkah menutupiku. Menggenggam tanganku dibelakang punggungnya.
"Cepat selsaikan drama panggung kalian. Aku muak!!!" Bisik Riyan pada kami.
"Put, cari puisi yang bisa kau bawakan cepat. Aku iringi dengan gitar akustik. Dan kau!!! Minggir ketepi!" Kata Riyan pada Revan. Tatapan mereka seperti sudah seperti mau saling bunuh. Aku merinding.
"Kalau cuma akustik aku bisa. Kamu yang minggir!!" Bisik Revan gak mau kalah. Haduhhh alamat gak selesai ini dua orang yang keras kepala.
Aku nyembul dibalik punggung Revan.
"Boys, gini aja. Mamas gitar, kamu tifa." Kataku menunjuk alat musik diatas panggung. Setahuku Riyan juga bisa memainkan alat musik dari timur itu.
"Aku cari puisi, kalian cek alat. Please ini diatas panggung." Kataku ditengah dua orang yang saling tatap itu. Untungnya dua orang itu nurut. Persiapan kami 5 menit. Tapi lumayan lah. Aku gak tahu Revan bisa main gitar, walaupun gak selihai Riyan. Tepukan penonton terdengar saat kalimat terakhir puisi yang kubacakan berakhir. Puisi dari internet yang kucomot bertema pertemanan.
"Woooo hebat hebat. Terimakasih kepada Riyan pentolan band Simpel sudah membantu." Kata MC.
Kami turun panggung dengan ketegangan yang luar biasa. Revan sudah erat menggandeng tanganku. Pandangan Riyan yang tidak melunak kearah Revan. Aku aneh, kalau Revan mengenal Riyan itu wajar, tapi Riyan sepertinya juga mengenal Revan. Apa mereka pernah bertemu?
Revan turun panggung dan mencari minum. Tanganku sampai berkeringat karena digenggam terlalu erat. Aku lihat Riyan duduk di pojok dengan botol bir ditangannya. Acara ini menyediakan bir???
"Kalau sudah puas cepat pulang." Kata Revan. Setelah tandas meminum air putih kemasan. Kembali mencari tanganku. Aku menepis.
"Aku makan sesuatu dulu, lalu pulang." Kataku. Ketegangan mereka dipanggung menguras energiku. Aku mau makan dulu.
"Mamas mau kuambilkan sesuatu?" Tanyaku.
Revan menggeleng dengan cepat. Tatapannya tertuju pada pojok ruangan tempat Riyan duduk. Celakanya Riyan juga menatap kearah kami.
Aku kembali dengan dua potong cake coklat. Revan langsung tersenyum kecut.
"Bertemu mantan membuatmu stress berat yaa." Katanya sinis.
"Bukan mantannya yang membuat aku stres, tapi ketegangan kalian yang menakutkan." Kataku. Dua orang itu masih saling tatap.
Tika datang disampingku. Memecah konsetrasiku. Aku jadi sedikit santai dengan candaannya. Revan sepertinya tertarik juga dengan cake coklatku. Dia memintaku menyuapinya. Jadilah aku ngobrol sama Tika sambil menyuapi bayi besar yang justru menghabiskan banyak cake daripada aku.
"Dek, minum seret." Kata Revan. Aku menoleh heran. Tidak biasanya Revan manja.
"Ambilin!" Katanya sambil menowel daguku. Aku justru syok. Gak biasanya dia gitu.
"Ihh, romantis banget sihhh.. jadi iri. Mamas Revan kerja jadi guru dimana?...." percakapan Revan dan Tika berlanjut saat aku tinggal mengambil minum.
Upnya agak telat ya Bestie... tadi nganter Jasmine priksa. Dia agak bapil karena cuaca yang syahdu hampir seminggu ini. Sehari dua hari bisa dibilang syahdu, kalau seminggu jenenge cuacane ngejak padu hahahaha. Tetap sehat Bestie. Alhamdulillah untuk pencapaian hari ini. Makasih Noveltoon.