
Aku bangun terkejut dengan suasana baru. Ini bukan kamarku. Lalu aku ingat ini kamar Revan. Kami sudah menikah...... hhhaaaa iya, akhirnya aku nikah sama dia. Revan sudah tidak ada. Udara sejuk membuatku mengantuk lagi. Sejak kapan juga kamar ini ber AC dan ber air panas. Revan memasangnya baru saja kutebak.
Ini sudah siang. Kulihat jam disamping meja. Jam sepuluh. Haaaa mantu kurang ajar pertama kali tinggal disini bangun jam 10 siang. Aku bergegas keluar kamar. Kulihat Bapak nyantai didepan TV. Sambil memainkan gitar akustik.
"Mamas mana Pak?" Tanyaku.
"Kenapa sudah bangun. Revan bilang kamu tidur dini hari. Tidur lagi sana. Atau mau sarapan dulu. Bapak udah beli bubur ayam tadi." Kata Bapak tidak menjawab pertanyaanku.
"Mas mu sedang ngurusin gedung kemarin sama pihak WO. Sebentar lagi pulang. Sarapan sana." Kata Bapak lagi. Hehehe sepertinya bakat membaca pikiran Revan turun dari Bapaknya. Aku cengar cengir sambil menuju dapur.
Kuambil sekotak bubur ayam dilemari dapur. Aku kembali lagi kedepan TV dengan bubur ayam.
"Bapak udah makan?" Tanyaku.
"Udah, Revan juga sudah tadi." Kata Bapak. Aku makan didepan TV sama Bapak. Canggung. Aku memang sudah biasa sama Bapak, tapi... hari ini dia mertuaku beneran. Ngomong apa yaaa......
"Bapak buka lagi tiga hari dari sekarang. Kalau kamu masih capek jangan bantu bantu dulu. Ngerti?" Kata Bapak. Aku mengangguk.
"Oh iya pak orderan yang kemarin udah beres kah? Aku lama sekali gak masuk......." Kataku membicarakan pekerjaan. Canggung mulai mencair. Kami nyambung banget kalau ngomongin kerjaan.
Obrolan beralih ke topik keluarga. Menceritakan masa kecil Revan dan kenakalannya. Haaaaa ternyata dia bandel sekali.
"Pernah hilang dua hari semalam karena main kejauhan. Pulangnya diantar satpol pp. Dia terjaring razia anak jalanan." Kata Bapak. mengakhiri kisah. Aku tertawa terpingkal pingkal. Bapak juga.
"Mukanya sudah hitam legam, kumal mirip anak jalanan beneran. Untung itu tidak tercatat dikepolisian. Jadi dia diterima masuk polisi dengan mudah. Bapak tidak menyangka Nduk. Dulu Ibunya bilang, kalau Revan berbakat dalam kemiliteran. Ternyata do'a Ibunya manjur. Dia menjadi polisi sekarang. Bahkan Bapak baru saja mengantarkannya menikah dengan tata cara militer. Ibunya pasti bangga." Kata Bapak. Mata Beliau menerawang jauhhh. Mengenang istri yang begitu Beliau cintai. Petikan gitar ditangan Bapak membuat suasana semakin melow.
"Ibunya dulu yang sering main tembak tembakan sama Revan. Mereka sering mengetapel mangga dihalaman belakang itu." Kata Bapak lagi.
"Kena Pak?" Tanyaku. Mangga di ketapel??? Kalau kena ya jago. Bapak mengangguk.
"Kena, Ibunya Revan itu bagus sekali ketepatanya. Menurun pada Revan. Bapak tidak pernah susah payah memanjat. Mereka cari mangga sendiri dengan ketapel." Kata Bapak.
"Wooooo hebat!!!. Seorang wanita yang pandai main ketapel. Sepertinya bukan tipe tipe wanita manja mirip aku. Hahahaha." Kataku sambil tertawa. Bapak juga ketawa. Revan pulang bawa makan siang dan rujak eskrim.
Aku belum lapar. Baru dua jam lalu makan bubur. Tapi dua pria ini sudah makan dengan lahap.
"Bubur sampai mana tow Nduk. Udah dua jam. Udah hilang itu bubur dari perut." Kata Bapak.
"Ah ya masih disini Pak. Belum kemana mana. Ini perutku masih kenyang buktinya." Kataku. Bapak tertawa. Dia bilang enak punya mantu makannya sedikit.
Revan menarikku kekamar selesai dia makan. Menciumi ku dengan ganas.
"Aku belum mandi lho dari pagi." Kataku. Dia mulai melucuti pakaianku.
"Masak, kok masih wangi." Kata Revan sambil menciumi perutku. Aku sudah menggeliat kegelian. Tangannya sigap membuka pengait dipunggungku. Haaaa napsunya besar sekali. Ternyata fungsi celana itu memang memudahkan gerakannya. Dia tidak perlu mencopotnya. Hanya geser dikit langsung bisa masuk. Astagaa.... tau dari mana dia celana wanita model ginian.
Dia belum puas main satu ronde. Istirahat sebentar mulai menggrayang lagi.
"Udah Mas aku capek." Protesku.
"Aku udah nahan diri 5 tahunan lho Dek, ini waktunya balas dendam." Kata Revan ngeyel. Aaaaa gimana ini. Tulangku didalam masih ngilu terkena sodokan benda asing terus menerus. Benda itu terlalu panjang dan enak. Lemas sudah badanku. Usai ronde kedua aku tertidur sangking capeknya.
***
"Aku kira pingsan lho Dek. Tidurmu lama." Kata Revan disela sela ciumannya.
"Udah katagori pingsan emang Mas. Marathon dari kemarin." Kataku sebal. Dia tertawa.
"Habis kamunya enak, cantik, bikin pingin terus." Rayuan gombal datang dari Iptu Revan.
"Emang dasarnya mesum mungkin." Kataku menjauh dari jangkauannya. Dia bersiap menerkam lagi. Membuka paksa selimut yang membungkus tubuhku. Kami main tarik tarikan selimut.
"Enggak, cukup!!! Dua hari gak boleh gitu. Hukuman buat pesta lajangmu yang gak bilang bilang!!! Buat pepet pepet penyanyi sexy juga!!" Kataku. Dia kaget.
"Siapa yang cerita?" Tanya Revan.
"Dinding juga bisa ngomong Mas. Kamu ngadain acara sekampung juga tahu. Udah gitu pulangnya mabuk lagi. Kamu ini polisi, tapi ngasih contoh gak baik." Kataku ngomel. Dia garuk garuk kepala.
"Harusnya aku ngadain direstoran atau bar yaa biar gak dibicarakan ibuk ibuk among tamu." Kata Revan langsung bisa menebak tepat aku tahu dari mana.
"Harusnya gak usah diadain!!!! Gak ada gunanya!!!!" Kataku gemas. Dia tertawa sambil mengeratkan pelukannya ditubuhku.
Revan bilang kalau itu permintaan teman teman kantornya. Kalau masalah penyanyi emang dia dipepet terus juga kerjaan teman temannya yang tahu dia selalu dingin dengan wanita. Mabuknya gara gara Pak De Bass yang bawa minuman dari rumah.
"Cuma dikit kok. Aku gak mabuk banget. Masih bisa nyetir sampai rumahmu dengan selamat. Buat seru seruan minum sama Ayah mertua dan Ipar. Woooo belum tentu orang lain berani." Katanya bangga. Kutabok lengannya.
"Mabok kok dibanggain. Sama mertua lagi... sebenarnya siapa yang setengah kopling kalau begini." Kataku sebal. Dia tertawa lagi.
"Mau jalan jalan?" Tawar Revan.
"Besuk aku udah masuk soalnya." Tambanya.
"Kok cepet?" Kataku heran.
"Harusnya dua hari setelah resepsi darimu aku masuk. Eh, kita terdampar di resort. Ya udah ini gantinya." Kata Revan sambil senyum senyum. Yakin membayangkan kejadian kejadian yang iya iya diresort.
Aku akhirnya mandi. Pergi kerumahku untuk ambil beberapa barang penting dan baju.
"Eh, udah pulang aja ini manten." Kata Mas Dipo menyambut kami.
"Mau ambil barang barang." Kataku. Revan membantuku packing. Ngobrol ngalor ngidul sama Ibu dan Mbak Sasa. Waktu menunjukkan pukul 10 malam saat kami keluar rumah.
"Mau nonton?" Tanya Revan saat dimobil.
"Ini udah malam Mas, Nanti aku dicariin." Jawabku bodoh. Aku langsung menepuk jidatku.
"Aku lupa kalau udah nikah. Hehehe. Sekarang gak ada jam malam yaa....." Kataku. Tapi..... kok rasanya seneng seneng sedih yak. Seneng karena nikah dan bebas dari jam malam. Sedihnya gak dicariin dong sama Ayah sama Ibu.
****
...Mau ngucapin terimakasih buat Riyan didunia nyata. Yang udah ngasih inspirasi lagu No Coment dalam aransemen rock. Dia ngirim lagu itu beneran kemarin. Ngamuklah karena aku jadiin cerita disini, tapi gak bilang makasih....
..."Udah karakterku kau matikan, gak ada terimaksihnya kau." Ngamuk Riyan ditelpon kemarin hihihihi....
...Riyan didunia nyata adalah lulusan S1 teknik disebuah universitas ternama dikotaku. Pria tampan dengan usia 30 tahun. Tidak pernah tinggal kelas seperti yang diceritakan. Bukan juga anak mafia tentunya. Dia pria humoris, romantis, dan sedikit tengil. Hobynya masih sama, memangku gitar kemanapun. Dia pemilik sebuah bengkel motor kecil, juga mengurus showroom mobil bekas milik ayahnya. Dan yang paling penting dia itu SINGGEL. Mungkin ada dari pembaca wanita yang berminat kenalan dengan Beliau. Bisa hubungi saya secara pribadi. Riyannn...... tunjukkan pesonamu. Hahahahahaha.......