
Upacara pedang pora dimulai. Revan menungguku. Aku diantar kedekatnya. Menggandeng lengannya dengan kedua tanganku.
"Senyum." Bisik Revan saat aku sampai disampingnya. Aku tersenyum walaupun tanganku bergetar. Beberapa orang berseragam membuat semakin grogi. Orang yang kugandeng tangan kirinya juga bersragam lengkap dengan pangkat dua balok emas tersandang dipundak. Licin bersih tanpa jenggot beberapa bulan ini. Mukanya serius mode kerja. Aaaaaa aku takut.
Mc terlebih dahulu memperkenalkan orang tua kami masing masing. Aku baru tahu kalau gelar Bapak adalah sarjana seni. Kemudian memperkenalkan kami pengantin, juga siapa yang bertindak sebagai komamdan upacara dan inspektur upacara.
Pedang diayunkan kedepan kami. Perlahan kami berjalan, perlahan juga pedang mengayun keatas membentuk gapura. Revan berjalan sambil hormat. Mukanya serius sekali. Musik yang dialunkan mendayu, memiliki daya magis tersendiri menurutku. Sebuah puisi dibacakan dengan indah. Berisi tentang kesiapan kami menempuh bahtera rumah tangga dengan berani. Dulu, sebenarnya pedang pora ini adalah upacara untuk melepas para tentara menuju medan perang. Dan pernikahan dianggap gerbang baru untuk kehidupan, maka dislenggarakan upacara ini untuk mengantar para perajurit menempuh hidup baru. Kami melewati semua gapura pedang itu. Dibelakangku ada tiga polwan membawa lilin, buket bunga, simbolis sragam bhayangkari, cincin dan untaian melati.
Usai melewati gapura pedang, kami dikelilingi melingkar oleh pasukan pedang tadi. Pedang mengayun keatas. Membentuk sebuah kubah pedang diatas kami. Kami saling memberikan cincin. Kubah pedang diturunkan. Inspektur upacara, Pak Sidiq dan istri masuk kelingkaran pedang. Pak Sidiq mengalungkan rangkaian melati pada Revan. Bu Nirmala memberikan simbolis sragam bahayangkari padaku, juga buket bunga untukku. Kemudian mereka meninggalkan lingkaran.
Pasukan berbalik. Mereka kemudian jadi setengah berdiri. Revan mencium keningku. Saat itu juga kulihat ribuan lampu kecil kecil menyala. Menggantung dilangit langit gedung ini. Berkerlip dengan berbagai warna indah. Ini..... romantis sekali.
Kami menaiki singgasana. Laporan upacara selesai. Lagu berubah Diki bernyanyi dengan suara beratnya duet dengan seorang penyanyi wanita.
My love love, there's only you in my life
The only thing that's right
Aku jadi terharu. Ini pernikahan yang indah. Suasana menjadi sangat sangat romantis. Revan sudah menggodaku.
"Aku gak mau yaa kebanjiran. Sayang bajuku kalau basah." Bisik Revan menyebalkan.
"Crewet iiihh aku lagi terharu." Kataku sebal sudah bercucuran airmata haru. Kami saling goda dalam bisikan. Satu satu tamu berfoto, bersalaman dengan kami. Lagu lagu romantis terus mengalun.
Ine naik keatas pelaminan. Beberapa teman Revan langsung bersorak. Baru kali ini kulihat Ine dari seluruh rangkaian acara pernikahanku dengan Revan. Dia memeluk Revan kemudian menyalaminya.
"Selamat menempuh hidup baru Mas." Kata Ine pada Revan. Mata mereka berkaca kaca.
"Terimakasih adikku sayang." Jawab Revan.
Dia kemudian menyalamiku juga. Aku sudah bersiap mendengar kata kata pedasnya.
"Aku benci, tapi kamu benar. Didunia ini ada jutaan laki laki yamg lebih baik dari Suamimu. Aku tidak lagi terpasung olehnya. Selamat." Kata Ine masih dengan nada ketus. Aku menahan tangannya agar tidak berlalu.
"Mulai sekarang bolehkah kita berteman? Aku lelah bermusuhan dengan polwan bermulut pedas sepertimu." Kataku. Dia tersenyum. Memelukku dengan erat.
"Ayo berteman." Bisik Ine ditelingaku. Beberapa orang menyoraki kami. Bahkan ada yang bersiul. Haaaa sepertinya permusuhanku dengan Ine sangat viral di kantor Revan. Kulihat kearah Revan, dia tersenyum.
Malam beranjak. Lagu romantis berubah menjadi sedikit keras. Simpel mengambil alih acara. Re mengambil mic Diki.
"Aku mengenal mempelai wanita saat dia masih mengenakan jaket coklat dan rok abu abu. Dia.... saksi merangkaknya Simpel dari band lokal bermarkas digarasi mobil. Dia juga yang menciptakan beberapa lirik lagu Simpel yang dinyanyikan oleh almarhum Riyan vocalis kami terdahulu. Sebenarnya Riyan lebih pantas menyampaikan ini. Dia... ceweknya Simpel, keluarga simpel selain kami para anggota bandnya. Gara gara dia aku dan Riyan dulu sempat baku hantam. Hahahaha. Bukan masalah yang besar, hanya kesalahpahaman kecil. Malam ini, kami mempersembahkan Simpel untuk Ceweknya Simpel. Selamat berbahagia untuk Revan dan Putri." Kata Re, kemudian mundur kealat musiknya. Musik mengalun. Lagu dulu yang kami ciptakan mengalun. Airmataku sudah berdesakan lagi. Revan menepuk tanganku yang mengelayut dilengannya.
"Sudah, nanti beneran banjir gimana? Susah ngepelnya." Katanya sambil senyum senyum.
"Bodolah, ngerusak suasana." Kataku. Sambil sibuk mengusap titik air mata.
"Mesum." Jawabku. Aku jadi lupa menangis.
Suasana memanas saat Simpel menyanyikan lagu dangdut yang lagi viral. Mereka merubah genre musiknya menjadi rock. Dengan intro petikan gitar listrik yang cadas.
"Kubukan dokter cinta......." Suara berat Diki memulai syair.
"No comment, itu sih deritaaaa looooo.... Masa bodoh, kasihan deh looo." Teriak para tamu saat reff lagu dimainkan. Parah lagi karena teman teman Revan rusuh. Mereka naik keatas pelaminan mengajak kami berdua joget jejingkrakan. Aku baru tahu itu Revan bisa berjoget.
***
Malam semakin merangkak naik. Waktunya pesta berakhir. Saatnya mereka yang tersisa pamit. Satu satu keluargaku juga pamit Kakak, Mas, Ponakan, Ayah..... dan Ibu........ tiba tiba aku merasa ditinggal. Kupanggil Ibu dan memeluknya erat.
"Ibu pulang ya... jadi istri yang baik. Buktikan didikan Ibu dan Ayah berhasil dikamu. Anak ragil Ibu yang cantik." Kata Ibu. Aku semakin menangis. Ibu melepaskan tanganku dan berjalan menjauh. Revan memelukku. Aaaa aku sudah jadi tanggungannya sekarang. Aku sudah jadi istri, yang akan terpisah tinggal dari Ibu.
Uforia pesta sudah bergati dengan denting alat makan yang dibereskan dengan sigap.
"Pulang yuk Nduk, anak Bapak." Kata Bapak sambil menggandeng tanganku. Kami bertiga bergandengan. Revan, aku, dan Bapak. Masuk mobil, mengakhiri seluruh rangkaian pesta pernikahanku malam ini.
***
Dini hari baru beres aku masalah kostum dan sanggul.
"Selesai, mandilah. Ada kran air panas dikamar mandi. Aku akan mandi setelah kamu." Kata Revan, dia membantuku melepaskan semua sanggul dan baju. Aku pun mandi dengan nyaman.
"Mas, aku lupa gak bawa baju ganti." Rengekku saat keluar. Bodohnya aku.... bagaimana bisa lupa bawa baju ganti. Revan tersenyum.
"Kemarilah." Kata Revan. membuka lemari tiga pintu yang seingatku dulu tak ada dikamar ini.
"Aku memilihkan beberapa baju untukmu." Kata Revan membuka salah satu pintu lemari. Isinya beberapa kaos oblong dan celana harian. Juga beberapa daster baru, bahkan beberapa potong dres untuk bepergian. lengkap dengan beberapa pakaian dalam. Aku terpukau sesaat.
"Kau memang tukang prepair yang bagus, Mas." Pujiku pada Revan. Dia tersenyum.
"Tapi...... apa ini?" Tanyaku sambil menenteng ****** ***** yang hanya berupa tali.
"Mulai sekarang pakai celana yang seperti itu. Memudahkan aku bergerak." Katanya santai.
"Tapi apa yang ditutupi dari celana ini?" Kataku heran semi protes. Dia tertawa, kemudian berlalu masuk kamar mandi.
semua baju dan celana harian itu pas ditubuhku. Dia tahu betul ukuran tubuhku. juga pakaian dalamnya. Walupun semuanya kurang bahan. celananya hanya kain sempit ditambah tali. Sedang yang atas sebenarnya ukuranku tapi modelnya memang terbuka sekali. Tepok jidat beneran.
Dia selesai mandi. Ikut nimbrung dikasur bersamaku. Kami berpelukan dan terlelap. Dia sepertinya juga lelah, kalau tidak bisa dipastikan aku dilucuti.