I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 64



"Itu untuk semua kebaikan Riyan." Kata Bagas. Setelah dia melempar hp. Kemudian berlalu pergi dengan orang orang tadi. Meninggalkan kami dengan santainya. Revan mengambil hp itu.


"Halo, Aku Iptu Revan Aji dari unit narkoba. Cepat datang kedaerah xxx aku tidak tahu lokasi pastinya. Kukirim maps lewat aplikasi. Bawa ambulan. Banyak yang terluka....." Kata Revan menelpon. Aku sudah muntah muntah parah. Tekananku pada punggung Riyan berkurang.


"Biar aku gantikan Dek." Kata Revan menggantikan posisiku menekan luka Riyan. Aku menganngguk, duduk diam bersandar. Tangan dan kaki kami berdua masih terikat. Mayat dan darah menjadi pemandanganku. Gudang tua ini mungkin akan selalu menjadi mimpi burukku selamanya.


Revan berkali kali memangil Riyan.


"Riyan.... Riyan......Sadar bodoh sadar. Kamu akan selamat. Kamu harus selamat." Katanya getir. Riyan diam tidak bergerak. Seperti mayat mayat lain di tempat ini.


***


Kami dibawa kerumah sakit. Riyan ditangani tim medis dan diangkat keambulan buru buru. Aku dan Revan mengikuti dibelakangnya dengan mobil polisi. Gudang tua itu ternyata sangat terpencil. Berada dipelosok desa jauh dari pemukiman. Revan memelukku sepanjang perjalanan.


"Semua sudah berakhir Sayang sudah berakhir, kita aman sekarang." Bisik Revan padaku. Aku hanya diam.


Kondisiku baik. Aku diijinkan pulang. Revan harus dirawat, tapi dia bersikeras menunggui Riyan diruang operasi. Akhirnya kami berdua duduk diruang tunggu operasi setelah Revan dibersihkan lukanya. Orang tuaku datang.


"Pulang Nduk, ayo kita pulang dulu kerumah." Kata Ibu. Aku menggeleng.


"Ngapain kamu nungguin penjahat dioperasi!!!" Ayahku sewot.


"Penjahat itu adik saya, dia yang menyelamatkan nyawa kami berdua." Kata Revan. Orang tuaku shok mendengarnya. Revan menceritakan sekilas tentang apa yang sebenarnya terjadi.


"Riyan menggantikan Putri menerima pelu*ru dari Papinya Nur." Kata Revan mengakhiri kisah. Orang tuaku manggut manggut mendengarkan.


"Kalau gitu ayo pulang dulu ganti baju, kemudian kesini lagi. Bajumu kotor ini." Ibu membujukku. Aku menggeleng lagi


"Bawa saja bajunya kesini." Kataku. Ibu dan Ayah menyerah membujukku. Akhirnya mereka pulang berjanji datang lagi membawa baju untukku.


Aku duduk diam diruang tunggu operasi. Bapak datang seperti Ibu, dia meminta kami pulang.


"Revan mau disini. Menunggu adiku selesai operasi. Dia orang yang sudah menyelamatkan nyawa kami." Kata Revan. Bapak tidak terlalu terkejut.


"Bapak tahu, senyumnya mirip dengan Ibumu dulu." Kata Bapak.


"Kalau begitu, Putri pulang yuk Nduk. Nanti dicariin orang tuamu." Bujuk Bapak padaku. Aku geleng geleng lagi.


Orang orang disekitar kami juga datang meminta kami pulang. Aku diam seribu bahasa. Revan yang menjawab semua permintaan itu. Dia tetap kekeh menemani Riyan selesai operasi. Aku juga.


Riyan masuk ICU setelah operasi. Dokter bilang lukanya serius. Aku tidak terlalu mendengarkan. Yang jelas Riyan belum bangun. Ibu datang lagi membawakan aku baju ganti dan perlengkapan lain. Juga makanan untuk kami berdua.


"Mandilah. Aku yang jaga dia." Kata Revan. Aku mengangguk, kemudian berlalu.


***


Tiga hari aku dan Revan menunggunya dalam debaran didepan ruang ICU. Bersama dengan keluarga pasien lain. Tiap lampu ICU menyala kami semua siaga. Berita baik atau berita buruk. Keluarga siapa yang di panggil. Aku dan Revan meringkuk dilantai beralaskan tikar dari rumahku. Bergantian Ayah, Ibuku, Kakakku, Mas Dipo atau Bapak datang. Membawakan kami makanan dan macam macam kebutuhan kami. Tidak ada yang selera makan diantara aku dan Revan. Kami makan hanya untuk mengisi tenaga saat keluarga Riyan dipanggil.


"Pasien Riyan sadar, dia memanggil Mas." Kata perawat.


"Aku, aku Masnya." Kata Revan mantap. Kami dibawa ketempat tidur Riyan. Macam macam alat terpasang dibadannya. Lututku lemas seketika, namun aku masih berusaha berdiri tegak.


"Kerja bagus Dek, aku tahu kamu pasti selamat." Kata Revan disamping Riyan. Mata Riyan mengerjab pelan. Tangan mereka menaut. Dibalik oksigennya Riyan berkata lemah.


"Mas, akkkuu gggggak mau berrrrssaing deengaaanmu." Monitor penunjuk detak jantung berbunyi panjang. Tangan Riyan terkulai dari pegangan Revan. Petugas medis panik. Aku sudah merosot dilantai.


"Bangun bodoh!!! Bangun kataku!!! Siap suruh kamu meninggalkanku. Siapa suruh!!!" Teriakan Revan terdengar pilu. Revan keluar ruang ICU diseret dua petugas pria. Aku dipapah keluar ruangan. Kami berdua sesenggukan dilantai. Kata perawat dokter akan melakukan tindakan yang sudah kami tanda tangani sebelumnya.


Setengah jam kami menunggu dalam debaran ketidak pastian. Merosot dipintu ICU. Dokter keluar menyatakan kalimat penghiburan. Riyan kami pergi........


Revan membawa jenazah Riyan kerumahnya. Waktu sudah dini hari. Bapak membuka pintu karena terdengar keributan dari luar rumah. Bapak terpaku didepan pintu.


"Bapak, dulu Bapak pernah memakamkan Ibu apapun resikonya. Bolehkah Revan memakamkan adikku apapun resikonya?" Tanya Revan pada Bapak. Mereka kemudian berpelukan.


"Turunkan dia. Dia anakku." Kata Bapak pada petugas ambulan.


Bapak memberikan tempat pada Riyan.


"Dia akan dimakamkan disamping makam ibu kalian. Tempat itu sebenarnya sudah dipesan untuk Bapak kelak, tapi tidak apa. Biar Riyan disamping Ibunya." Kata Bapak. Revan memeluk Bapaknya sebagai ucapan terimakasih. Kemudian Bapak merentangkan tangannya padaku. Kami bertiga berpelukan dalam haru.


Pemakaman Riyan dihadiri banyak pelayat. Karena dia vocalis band terkenal. Wartawan juga hadir. Bapak dan Revan mengakui dia sebagai anak dan adik.


"Riyan meninggal karena sakit jantung." Jawab Revan saat diwawancara. Menutup semua keburukan yang terjadi pada publik. Jajaran bunga duka cita memenuhi halaman rumah Revan. Menutupi mebel mebel dibelakangnya. Orang orang yang mengenal Riyan datang. Personil Simpel dan beberapa teman SMPku juga hadir. Prosesi pemakaman lancar digelar.


***


Kami sudah berdiri didepan undukan makam bertabur bunga. Dinisan baru itu tertulis nama Riyan Nur Permana.


"Lihatlah, bahkan strukutur nama kami sama. Diberikan oleh satu orang yang sama." Kata Revan. Aku kembali jatuh dipelukannya. Entah sudah berapa puluh kali aku menangis. Riyan ku.... Riyanku..... penyelamat nyawaku, cinta pertamaku. Manusia supel yang pandai menyembunyikan kesedihan. Dia selalu ceria, apa pun rasa di dadanya....


"Dia sengaja munyumpal mulutku agar Nur tidak tahu kita saling mengenal. Memberdirikan aku juga untuk mengulur waktu. Dan memudahkan dia menerima pel*uru itu menggantikan aku. Tangannya bergetar, tapi tidak dengan suaranya." Kataku sambil sesenggukan didada Revan.


"Aku tahu, aku tahu." Kata Revan mengelus kepalaku.


"Aku berhutang nyawa pada Riyan yang sudah menyelamatkamu." Kata Revan lagi. Kami tenggelam dalam lamunan masing masing.


Aku teringat senyumannya pertama kali memegang tanganku saat SMP. Muka frustasinya mengajari aku main gitar demi band paksaan dari guru seni musik galak. Senyumnya saat nangkring dimotor besarnya menungguku di depan SMK. Aroma parfumnya waktu aku memeluknya diatas motor berboncengan. Bunga yang dia berikan saat HUT sekolah. Sweet seventeen yang indah. Senyumnya waktu dia memangku gitar. Menciptakan karya yang dia sukai.


Jugaaa ciuman terakhir kami dilapangan sebelum dia memulai debut sebagai vocalis band. Janjiku untuk mengeluarkan dia dari dunia hitam........ semuanya............. sia sia....... dia tidur disamping ibunya yang belum pernah dia temui.


Riyanku Riyanku sayang. Semua cita cita dan senyumnya hilang. Dia menggantikan aku menerima pel*uru itu. Dia menggantikan aku menuju ajal. Dia menggantikan aku untuk mati. Harusnya itu aku. Yang terbaring kaku dan dikuburkan. Harusnya dia bersama kakaknya. Bercanda dengan Mas nya yang baru dia ketahui. Harusnya mereka bersama. Mengukir hari dan senyuman yang belum pernah mereka lewatkan.


"Ayo pulang Dek." Kata Revan. Dia menuntunku menjauhi makam Riyan. Hari sudah sore kami sudah terlalu lama disini.