I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 50



Aku mulai kerja dirumah Revan.


"Ini Putri admin baru gantiin Mirna. Kalian bisa minta apa apa sama dia juga. Dia sepesial, karena juga calon mantuku." Kata Bapak memperkenalkan aku. Para pekerjanya mencieh cieh.... aku jadi malu.


"Waaa Mas Revan seleranya bagus." Kata salah seorang dari mereka.


"Aku beri tahu agar kalian jaga mulut kalau ada Revan. Tahu sendiri orangnya ngamukan." Kata Bapak selanjutnya. Mereka mengangguk. Apa Revan suka mengamuk??


Kemudian aku berdiskusi masalah jam kerja sama Bapak.


"Kata Revan kamu masih kuliahkan, jadi jam kerjamu bebas. Sesenggang kuliahmu saja asal semua pekerjaan terpegang." Kata Bapak. Aaaa senangnyaaa. Aku jadi sungkan menanyakan gaji.


***


Dua minggu setelah aku disana.....


Sebenarnya usaha rumahan ini lumayan besar keuntungannya. Tidak pernah sepi pemesan. Kadang tukangnya sampai ambil harian karena tukang tetap sudah kuwalahan. Bapak masih terjun jadi tukang kalau beliau senggang. Dan jangan salah. Beliau ini perfeksionis. Hasil mebel harus dicek dengan tangannya sendiri. Salah sedikit saja Beliau memutuskan gagal kirim. Mungkin ini yang menyebabkan usaha ini bertahan hingga puluhan tahun dan laris.


Apa aku sering ketemu Revan? Jarang. Dia ada dirumah pagi pagi. Pulangnya sering malam. Aku ada disana biasanya siang sampai sore kadang sampai malam juga. Tapi masih malam pulangnya Revan. Hanya beberapa kali seminggu dia terlihat dirumah. Tapi kata orang orang Revan lebih sering terlihat dirumah sekarang. Kadang dia juga sering mengerjakan pembukuan sepulangku.


"Mbak ini notannya." Kata salah satu tukang yang tadi berbelanja. Aku mengangguk menerimanya. Menghitung kembaliannya dan memasukkan dalam pengeluaran. Motor Revan masuk halaman. Tumben pulang sore. Bersamaan dengan sebuah mobil datang, Bapak langsung melambai. Sepertinya pelanggan.


"Nduk ambilkan daftar harga." Kata Bapak. Aku bergegas mengambil katalog sederhana. Revan dan aku berpapasan diteras. Meja kerjaku memang diteras itu. Sempat sempatnya mencium pelipisku sekilas. Aku memukul dadanya. Untung semua orang sibuk.


"Admin baru Pak? Wah cantik yang ini. Montok lagi. Boleh dong kenalan." Kata pelanggan melihatku. Pria setengah tua itu senyum senyum.


"Ngawur, dia calon mantuku!" Bapak sewot. Aku menoleh keteras. Revan duduk dimejaku matanya sudah tajam seperti menguliti. Aku merinding.


"Sana temani Revan nduk, biar Bapak yang jelasin." Kata Bapak. Aaaa Bapak pengertian sekali. Biasanya aku yang menjelaskan. Kadang nego harga juga aku. Bapak memberikan harga pokoknya dan keuntungan terendahnya untukku.


Aku kembali keteras. Revan langsung menggandeng tanganku masuk. Terus masuk melewati ruang tamu.


"Mas, ada Bapak ih.." Kataku saat dia membuka pintu kamar.


"Bapak ngerti aku kangen kamu." Katanya menggandengku masuk. Ini yang dimaksud Bapak, dia ngamukan kalau miliknya diusik. Celakanya ngamuknya dilampiaskan keaku dalam wujud uyel uyel manja.


***


Aku keder melihat gaji yang diberikan Bapak. Bukan gaji UMR, gaji tertinggi yang kubayangkan. Karena kerjanya nyantai sekali.


"Berapa keuntungan bersih bulan ini?" Tanya Bapak saat akhir bulan. Aku sedang menghitung dengan kalkulator, hampir selesai.


"Rp. xxxxx Pak." Kataku setelah dapat angka final. Bapak mengangguk.


"Bagi dalam tiga rekening. Rekening Bapak, Revan, dan Kamu." Kata Bapak.


"Aku?" Tanyaku kaget.


"Iya, itu buat gaji kamu selama bantuin Bapak, Bapak sudah anggap kamu anak sendiri. Bapak gak mau dengar penolakan." Kata Bapak. Aku keder. Keuntungan home industri ini menyentuh angka belasan bahkan puluhan juta setiap bulannya.


"Tapi Pak....." Kataku terpotong sama Beliau.


"Tapi apa? Udah itu rejeki kamu Nduk. Bapak udah bilang gak ada penolakan." Kata Beliau tegas. Aku melihat Revan versi tua kalau begini.


Aku mengadu pada Revan tentang gaji yang diberikan Bapak.


"Kamu gila apa? Kamu tahu persis berapa nominalnya kan?" Kataku. Revan mengangguk.


"Tentu, aku sudah dapat pembagian dari usia 15 tahun. Bapak tidak pernah memberiku uang jajan setelah itu. Melepas keuanganku dari hasil mebel." Katanya.


"Itu terlalu besar untukku. Aku hanya pekerja disini." Kataku.


"Kamu anaknya Bapak, 'calon istriku'. Wajarlah kalau dapat pembagian keuntungan." Katanya menegaskan kata 'Calon Istri' lagi. Kemudian berlalu, tidak mau berdebat lagi denganku.


Aku pun menjadi lebih rajin saat menerima gaji pertama. Banyak trobosan kulakukan. Mengiklan onlen dan melobi banyak tempat memperbaiki katalog. Membuat akun resmi untuk usaha ini. Termasuk menciptakan produk baru eksperimanku. Walaupun hanya tunjuk karena aku sama sekali gak bisa nukang. Bapak dengan sabar melakukan eksperimen denganku. Beliau justru senang produknya ada perubahan. Tidak jalan ditempat.


Aku juga punya kebiasaan baru dirumah Revan. Bersih bersih. Bukan karena caper tapi aku risih. Dua orang pria dirumah ini cuweknya minta ampun. Mau rumah mirip kapal pecah atau hutan tidak peduli. Awalnya Bapak melarang. Tapi lama lama beliau suka rumahnya tersentuh wanita. Lagian hanya nyapu, lap dan ngepel hanya kulakukan seminggu sekali. Dirumah ini semuaya praktis. Baju loundry, makanan beli, minum galon. Kompor pun jarang nyala disini.


***


Kenaikan BBM akan terjadi dalam waktu dekat, namun belum pasti kapan terjadi. Grub kampus sudah merencanakan demo. Aku sih tidak terlalu tertarik ikut. Lagu campursari mengalun dari radio dihalaman. Menemani kerja para tukang sehabis makan siang dua jam yang lalu. Laptop Revan menemani aku memasukkan data. Sambil ngadmin onlen kalau ada yang nanya nanya. Campur sari berganti iklan, menawarkan konser Simpel pulang kampung diadakan dua minggu lagi. Membuatku menghentikan aktifitasku.


Tiba tiba mati listrik. Semua karyawan tepuk tangan sambil bilang 'Horeeeee'. Aku tertawa mendengarnya. Mereka glegoran diteras. Ada yang dibawah mejaku.


"Amit gih Pak!" Kataku permisi. Karena aku duduk di atas.


"Nyantai Nduk." Jawabnya.


Mobil Revan memasuki halaman. Tumben, ini masih siang. Dia turun dari mobil. Mukanya terlihat lelah.


"Mati lampu yaa?" Tanyanya.


"Nggih Mas." Jawab salah satu tukang. Dia ikut glegoran di teras. Tukang bakso gerobag lewat.


"Mas bakso Mas." Kata salah satu tukang sambil mengguncang guncang pundak Revan.


"Iya, aku tahu itu bakso, yang bilang cendol siapa?" Jawab Revan santai.


"Siapa tahu Mas Revan mau kasih kita gizi. Tau gak Mas kita disiksa sejak adminnya dia. Kerjaan sampai modiyar gak ada habisnya hehehe." Kata salah satu tukang. Memang akhir akhir ini permintaan meningkat. Karena melayani onlen juga dengan sistem PO. Revan tertawa.


"Panggil baksonya." Katanya.


"Es tehnya tak pesen diwarung Bue Ine yaa."


"Gorengannya sekalian yaa." Kata yang lain. Kompak sekali morotin anak juragan. Revan mengangguk. Aku jadi ketawa geli.


"Bapak mana Dek?" Tanya Revan padaku.


"Pergi Mas, katanya ada urusan." Jawabku. Kami makan bakso beramai ramai.


Revan mengeluarkan dompetnya menyerahkan kepadaku.


"Kalau kurang ambil diatm depan pinnya aku kirim. Aku tidur sebentar." Katanya. Aku mengangguk. Dia tidak pulang sejak kemarin malam ternyata. Dia masuk rumah.


"Atau suruh saja Mas Parno atau Jono bayar. Kamu bikinin aku kopi di dalam." Katanya kembali lagi. Matanya merah sayu menahan kantuk. Aku menggeleng. Tahu betul kalau aku dekat dengannya sekarang, maka bukan hanya bibirku yang dia incar.


"Tidur sana. Aku mau bayar saja.." Kataku beranjak kabur.