
Revan pulang kerumahku setelah kerja. Dia sempat bertukar mobil dirumahnya. Halaman rumahku yang sempit kini tidak ada celah. Tiga mobil terparkir berhimpit di depan rumah. Mobil Mas Dipo, Mobil Mas Kris, dan mobil Revan. Belum empat motor milik Ayah, Aku , Mas Dipo dan Mbak Sasa. Ini mirip parkiran bukan rumah. Ruang tengah juga tergelar kasur gulung tempat tidur kakak pertamaku, ocha, dan suaminya. Penuh sesak sudah rumah sempit ini.
"Mau tidur dimana?" Tanya Revan saat kami didalam kamarku.
"Disini." Jawabku riang sambil nyengir. Aku yakin dia tidak akan meminta jatah kalau tidur disini. Hahahhaha. Dia cemberut.
"Disini rame, pulang kerumah atau kehotel yuk." Ajaknya mode merayu level 4.
"Gak mau, aku mau disini dulu. Sebelum resmi diantar kerumahmu." Aku berkilah. Dia mencebik.
"Kamu jahat Dek. Itu hakku lho. Kewajiban kamu buat menuhin mau aku." Katanya merajuk mirip anak kecil.
"Lahh kamu gitu juga boleh, bebas. Asal didalam kamar." Kataku yakin. Dia gak mungkin ngelakuin itu disini. Kita terlalu berisik kalau begituan. Terutama aku.
"Haaaa jangan menyesal dengan apa yang kamu ucapkan." Kata Revan. Matanya berkilat penuh ancaman.
"Tidak, tidak akan." Kataku balik menantang.
Diluar kamar, Damar dan Ocha sibuk rebutan mainan. Mbah Utinya sudah teriak teriak melerai.
"Kita harus marathon bikin Dek. Itu biar tambah kenceng teriakan Uti." Kata Revan sambil senyum senyum. Aku jadi tertawa. Anak kami yaaa.... ahhh.... seperti apa wajahnya???
Tapi ternyata napsunya mengalahkan malu. Dia membekap mulutku saat melakukannya dimalam hari. Entah dapat dari mana lakban ini. Gila!!!!
"Gak bisa ciuman gak papa yaa.... aku bisa cium yang lain sama nikmatnya." Bisik Revan ditelingaku. Aku jadi mirip korban pemer*kosaan. Dibekap saat melakukannya hahahahah. Ini juga malam panas pertama kami dirumah ini.
***
Dua kali semalam membuatku malas bangun pagi harinya. Dia bangun duluan bersiap kerja. Aku masih mager dengan selimut yang menempel. Belum pakai baju dari semalam.
"Mana Putri?" Tanya Ibu saat Revan keluar kamar untuk mandi.
"Masih dikamar Bu, gak papa mungkin capek." Jawab Revan.
"Dasar malas!! Masak iya udah punya suami bangunnya masih ngebo. Puuuuutttt .... Putriiiii bangun!!!" Ketukan terdengar diluar kamar. Ibu negara ngomel.
"Gak papa Bu, saya biasa siap siap sendiri. Biar Adek tidur lagi." Kata Revan membelaku. Aku anteng aja dikamar sambil nyengingis. My super hero berhasil meredam marah Ibu Negara. hihihihi.
Ku dengar Mas Dipo keluar dari kamar sebelah. Dia ngobrol sama Mas Kris diruang tengah depan kamarku.
"Wesss udah keramas aja itu anak Mas, enak ya bikin kita gagal fokus tidurnya." Kata Mas Dipo.
"Apa? Aku gak bersuara lho." Suara Revan. Dia udah selesai mandi rupanya.
"Gak bersuara mulut kalian Van, tapi ranjang tua itu terlalu cerewet kalau harus dua kali semalam." Kata Mas Kris.
"Istriku sampai pingin, apa daya kami tidur diruang tengah." Lanjut Mas Kris. Aku mau pura pura pingsan sangking malunya. Bodoh, kenapa tidak terpikirkan!! Ranjang besi ini memang berdecit cukup lama tadi malam. Astagaaaaa maluuuuu. Tapi sepertinya yang malu cuma aku. terdengar suara tawa Revan menghadapi dua Masku. Santai sekali.
"Lama banget Van, pakai jamu apa?" Tanya Mas Dipo. Revan tertawa lagi.
"Latihan fisik dong Mas gak perlu jamu." Jawab Revan.
"Polisi Po, pasti udah pasti diantri cewek cewek selesai pendidikan. Udah latihan dulu pasti sebelum ini." Kata Mas Kris.
"Waaa udah geladi resik sebelum ini gitu?" Tanya Mas Dipo kepo.
"Gak semua cuma oknum. Tau tuh Revan udah geladi resik belum." Mas Kris.
"Rahasia." Jawab Revan. Entah mengisyaratkan apa pada Mas Masku, tapi mereka kemudian tertawa bersama. Pembicaraan absrud yang membuatku pasang telinga tajam.
"Yang ini." Kata Revan sambil tertawa. Suaranya sengaja dikecilkan, tapi aku masih bisa mendengarnya didalam kamar.
Apa? 'Yang ini.' Maksudnya aku??? Lalu siapa pembandingnya??? Gila!!! Apa benar dia sudah tidak perjaka? Hummmm bagaimana caraku mengetahuinya??? Ada rasa marah dan cemburu yang memenuhi dadaku. Tapi aku mencoba optimis. Mungkin Revan hanya menanggapi asal pembicaraan absrud itu.
Meraka terus saja membicarakan hal hal dewasa pagi pagi ditambah Ayah ikut nimbrung. Mereka bubar saat kuping Ibu negara sudah risih. Juga kuping kuping wanita dirumah ini.
"Apa enaknya bicara seperti itu sambil sarapan hah. Sudah diam semua habiskan sarapan dan kerja." Kata Ibuku. Empat pria itu pun anteng. Hahahaha....
Revan berangkat kerja setelah sekilas menciumku dikamar.
"Gak usah bangun kalau masih pegal." Godanya kemudian berlalu.
"Mas, lihatin aku ngeluarin mobil dong. Sempit, takut baret." Mintanya pada Mas Kris yang pagi itu nyantai dari mantu yang lain. Dia ambil cuti panjang dari kantornya yang diluar kota.
"Beres, parkir mobil 5 ribu, parkir motor seribu, tapi kalau dikasih dua ribu gak ada kembalian." Kata Mas Kris.
"Hahaha kalkulator rusak itu namanya." Revan menanggapi.
Aku keluar kamar saat Mas Dipo dan Ayah sudah berangkat kebengkel. Langsung ketemu muka Mas Kris yang slonjoran didepan TV.
"Nyonya Revan..... gimana? Masih pegel?" Mulutnya langsung gak pakai rem. Aku cuma senyum senyum menanggapi. Aku diomeli Ibu. Diberikan wejangan menjadi istri yang berbakti.
"Jangan pernah membiarkan suamimu bersiap sendiri untuk kerja. Usahakan bangun sebelum dia bangun. Siapkan sarapan juga minuman. Sesibuk apapun kamu usahakan seperti itu. Dia kerja untuk menafkahi kamu. Bukan buat main main. Buat dia semangat dan nyaman sebelum bekerja." Kata Ibu panjang kali lebar. Aku cuma manggut manggut sambil menghias oleh oleh yang nanti dibawa keacara Revan.
***
Malam hari Revan pulang lagi kerumahku.
"Pulang yukk." Ajaknya. Halah, modus. Aku menggeleng.
"Pulang atau aku bongkar ranjang kamu ini. Cuma itu pilihannya." Ancamnya. Aku tertawa. Pintu kamar diketuk.
"Van, jadi gak??" Tanya Mas Dipo
"Ikut, kita jemput Bass dulu." Suara Ayah semangat.
"Jadi dong!" Kata Revan sambil buka pintu. Mas Kris sudah rapi dengan jaket. Empat pria itu akhirnya pergi satu mobil entah kemana. Mereka langsung akrab saja mirip teman lama. Kami para wanita cuman bengong. Gak ada yang jelas menjelaskan kemana mereka mau pergi. Jawaban empat pria itu mengambang ketika pamit pada kami para istri.
***
Mereka pulang lewat tengah malam. Mulut Revan bau tembakau parah. Mereka cekikikan seperti setengah sadar.
"Tadi kemana?" Tanyaku pada Revan. Saat kami sudah dikamar.
"Kerumahku sebentar, trus main, nongkrong." Kata Revan dengan mata merah setengah terpejam.
"Ngapain aja?!!!" Kataku jengkel. Dia agak mabuk. Revan malah mencium pipiku.
"Keluargamu hangat sayang. Terimakasih.... berkat kamu, aku bisa merasakan enaknya punya keluarga yang lengkap, utuh, dan kompak." Kata Revan kemudian tertidur.
Esok pagi sidang Ibu negara digelar. Empat orang tersangka berjejer senyam senyum saja. Padahal malam nanti sudah ngunduh manten. Tapi mereka malah keluyuran gak jelas.
"Ayah kan ngajakin Mantu Mantu Ayah biar pada akrab, biar kompak. Ibu gak mau mereka saling sayang? Laki laki cara sayangnya beda dengan cewek. Lagian kami gak pulang malam malam kok." Kata Ayah.
"Iya, gak pulang malam!!! Tapi pulang pagi!!!" Teriak Ibu negara tambah ngamuk. Tersangka saling sikut dan cekikian.