I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 46



Hening cukup lama. Aku sudah malas berdebat. Sepertinya dia bosan bertanya.


"French kiss dengan sapuan lidah disekeliling rongga mulut. Ciuman basah yang penuh tuntutan." Katanya lagi. Mengutip persis ocehan Riyan. Masih mau ngajak ribut ternyata. Aku menghela nafas lelah. Emosinya masih tinggi sepertinya.


"Apa saja yang kaulakukan saat berpacaran dengan bedebah itu?" Tanya Revan mode gak santai. Aku malas menjawab. Kupalingkan muka kejendela samping. Hening lagi. Kalau kujawab pasti ribut.


"Tidak dijawab?" Tanyanya lagi.


"Hanya itu!!!! Mau apalagi!!!" Kataku sewot. Aku sudah mencoba coling down, tapi dia tetap ngajak ribut.


"Bertahun tahun pacaran dengan predator kamu hanya dicium? Tidak lebih? Benarkah?" Tanyanya sambil tersenyum mengejek. Meragukan apa yang aku katakan. Aku mau nyakar mukanya.


"Bahkan dia bisa meniduri wanita dalam sekali bertemu. Aku yakin kamu tahu bisnis ibu angkatnya sebagai mucikari." Tambahnya lagi.


"Memang hanya itu!! Iya, aku tahu bisnis Ibunya, tapi dia bahkan meminta ijinku untuk mencium pertama kali. Dia memang bedebah untukmu, tapi dia kekasih yang menjaga untukku. Aku tahu dia penjahat, tapi dia gak pernah jahat sama aku. Bahkan jika dia mau, dia bisa, dan ada kesempatan!!!!" Kataku meninggi. Ayo ribut kalau mau ribut!!


"Haaa pembelaan yang terpendam bertahun tahun kah? Yang tak pernah tersampaikan?" Katanya tak kalah sengit.


"Iya, dia percaya padaku. Dia menjagaku. Dia lembut dan romantis. Dia tidak pernah meragukan apapun yang aku katakan." Kataku sengit. Seakan Revan itu keluargaku dan orang orang yang membenci Riyan dulu. Revan mengangguk beberapa kali.


"Dia bahkan tidak pernah menyentuh bagian intimku dimanapun!! Dia penyayang dan tak pernah meragukan apa yang keluar dari mulutku. Kalaupun aku sudah tidak virgin kau mau apa? Meninggalkanku?" Tantangku padanya. Bahkan dia yang lebih kurang ajar daripada Riyan sebenarnya.


"Aku sekarang tahu arti bocah itu untukmu." Kata Revan.


"Bagus, bagus jadi jangan berdebat lagi denganku!! Aku mau pulang sendiri. Turunkan didepan!!" Kataku sambil menyandang tas slempangku.


Aku sedikit sakit hati dengan kata katanya. Dia tidak hanya menganggap Riyan musuh, tapi juga meragukanku. Meragukan apa yang aku katakan. Terserah dia mau apa setelah ini. Terserah!!! Aku gak peduli. Aku gerah dikejar kejar lamarannya. Aku benci diragukan.


Mobil masih melaju seperti biasa. Tidak ada tanda tanda berhenti.


"Aku bilang aku mau pulang sendiri!!" Kataku meninggi. Dia malah menghela nafas beberapa kali.


"Mas!! Kau dengar aku??!!" Bentakku padanya. Baru kali ini aku membentaknya seperti ini.


"Jangan macam macam. Kau pergi denganku, pulang denganku." Katanya sudah melembut suaranya. Cihhh aku gak sudii...


"Gak mau!!! Aku mau pulang sendiri. Turun disini. Hentikan mobilnya!" Kataku.


Dia mengerem mendadak mobilnya. Bahkan tidak menepi. Untung dibelakang kami sepi. Aku justru syok dia benar benar berhenti. Gak ada perjuangannya sama sekali untuk membujuk!!! Dasar kulkas!!! Aku membuka seat belt dan membuka pintu perlahan. Berharap dicegah atau ngomong apa kek. Nihilll dia diam seperti patung.


Aku turun dari mobilnya dengan perasaan dongkol parah. Kulkas dilawan. Mesumnya aja juara. Masalah hati wanita dia nol besar. Nollll besar. Aku membayangkan dia ditimpa angka noll yang sangat besar sangking dongkolnya. Aku berjalan mengecek hp. Minta jemput seseorang. Siapa? Kira kira siapa? Tapi tidak ada yang bisa aku andalkan menjemput. Aku tidak punya banyak teman dekat. Bahkan bisa dikatakan tidak punya teman. Apapun biasanya aku selalu mengandalkan Revan. Hanya Revan dan semua masalahku selsai. Aku jadi terlihat bodoh. Kulirik mobilnya masih berhenti ditempat yang tadi.


Aku menepi sebentar, bardiri dekat tembok untuk menghindari sinar matahari yang terik. Membelakangi mobil Revan. Ku telpon Mas Dipo tidak diangkat. Minggu begini biasanya dia justru banyak kerjaan dibengkel variasinya. Kutelpon Mbak Sasa.


"Iya Dek, kenapa?" jawab Mbakku setelah dering lama. Background ramai terdengar, sepertinya dia tidak dirumah.


"Mbak, lagi dimana?" Tanyaku lebih dulu.


"Halo, kenapa Dek? Mau nitip?" Tanya Mbakku karena aku bengong.


"Iiiya Mbak, pembalutku habis yang panjang ya pakai sayap dan tanpa gel." Kataku asal.


"Oke oke. Ada lagi?" Tanya Mbakku.


"Gak ada. Ya udah aku tutup telfonnya." Kataku.


Kulirik mobilnya menepi, tapi masih berada dibelakangku. Bodo amat, aku gengsi dong kalau balik lagi. Motor ojol melintas didepanku. Ahhh ojol. Tentu saja ada ojol. Tapi akan butuh waktu agak lama. Aplikasinya saja belum aku download. Ada minimarket bergaris biru didepanku agak jauh. Aku bergegas menuju kesana.


Membeli jus kotak dan duduk diemper mini market itu. Setengah jam mengutak atik hp. Mendaftar register dan lain lain aku seperti dapat angin segar. Tulisan 'driver kami sedang menjemputmu'. Hah pulang juga sekarang. Tak berapa lama driver datang. Kulihat mobil Revan masih disana. Bodo amat. Mau jamuran disana juga boleh!!!!


"Mbak mobil belakang ngikutin kita." Teriak kang ojol.


"Biarin mau ngikutin, mau duluin. Anggep aja gak ada." Kataku. Kami memasuki jalanan padat. Tentu saja motor lebih gesit. Dia tertinggal di belakang.


"Mbaknya lagi marahan sama pacar?" Tanya driver ojol.


"Mau tahu aja. Udah jalan yang bener!!" Kataku ketus. Kang ojol gak berani ngomong lagi.


Sampai rumah tentu saja langsung ditanya mana Revan. Mulutku sudah mau terbuka kalau dia menyebalkan. Tapi tercekat di tenggorokan.


"Ada tugas." Itu jawabanku akhirnya. Aku masuk kamar. Tidak ada pesan apapun. Kulkas!!! Kali ini aku berjanji untuk tidak kangen sama kulkas!!!


Aku menjalankan hari hari seperti biasa. Tapi terasa lebih sepi. Biasaya ada Revan yang mau ini itu. Bertanya apa yang kubutuhkan. Tomy juga masih sebal denganku. Acuh dikampus. Aaaaa aku kesepian. Betapa Revan sudah mendominasi hari hariku sebelumnya.


***


Aku duduk sendiri ditaman kampus. Duduk sambil membaca novel. Seseorang mendekat dia teman sekelasku. Handi namanya.


"Baca apa?" Tanyanya menyapa. Aku sebenarnya mau cuwek aja, tapi kesepian selama seminggu lebih membuatku ingin membuka diri. Tidak bergantung pada orang lain berlebih.


"Novel biasa aja." Kataku.


"Kok gak bareng Tomy, biasanya kemana mana selau gandengan?" Tanyanya. Aku hanya senyum senyum gak jelas.


"Kalian udah putus?" Tanyanya lagi.


"Emang kapan jadiannya?" Tanyaku balik.


"Lah, banyak orang mengira kamu itu pacarnya Tomy. Kemana mana nempel." Katanya. Aku jelaskan padanya kalau kami dari awal masuk cuma berteman. Aku mengakui berita itu, tapi dulu dulu aku tidak peduli. Dia manggut manggut.


"Jadi kamu pacarnya siapa?" Tanyanya. Pacarnya kulkas!! batinku eh... gak tahu juga. Aku cuma senyum senyum gak jelas lagi. Mirip hubunganku dengan kulkas yang gak jelas sekarang. Handi mengerti aku gak mau jawab. Dia mengalihkan topik pembicaraan. Kami asik mengobrol siang itu. Beralih dari satu topik, ketopik yang lain.