
Luka Revan sudah sembuh. Dia bahkan hanya kontrol dua kali. Kemudian mengabaikannya dan menganggap lukanya sembuh.
"Gak bisa gitu Mas, kamu harus kontrol sampai dokter menyatakan sembuh." Kataku.
"Aku sembuh Dek, gak usah dokter yang menyatakan. Lihat bahuku sudah bebas bergerak." Kata Revan gak mau kalah. Sudahlahhhh.....
Terserah.... dia itu keras kepala.
***
Revan ada tugas lagi. Dua hari gak pulang. Pulang pulang hpnya rusak. Kakinya terkilir. Entah apa yang dia lakukan.
"Kemarin tertembak, sekarang hpnya rusak dan kakinya terkilir. Besok apa lagi Mas?" Protesku.
"Itu resiko Dek. Tidak masalah asal tersangka buruanku tertangkap. Pengorbanan kecil untuk negara. Sesuai dengan sumpah yang aku ucapkan dulu." Kata Revan.
"Haaahhh, iya terserah kamu Mas. Lebih cinta mana kamu? Antara aku dan pekerjaanmu?" Tanyaku.
"Dua duanya penting dan tidak akan aku bandingkan. Cintaku sama besar untuk keduanya." Kata Revan santai. Malam itu kami habiskan dengan perdebatan 'cinta yang mana'.
Dia membeli hp baru esoknya. Anehnya dia juga membelikannya untukku. Sama persis dengan miliknya. Cuma beda warna soft casenya. Punyaku warna merah, punyanya warna hitam.
"Hp ku masih bagus Mas." Aku protes.
"Yang ini lebih bagus." Katanya sambil menyeting hp baruku. Terserah lah. Aku sibuk kerja. Dia sibuk menyeting dua hp siang itu.
Hari ini hari Sabtu. Bapak menggaji karyawannya setelah brefing sebentar. Memberi semangat, karena hari hari esok akan lebih sibuk. Daftar tunggu pesanan berderet deret. Kami sudah diskusi menambah karyawan lagi. Bapak juga mau nambah admin, kalau aku merasa keteteran. Tapi untuk saat ini aku masih sanggup. Aku menolak.
"Mas, beliin apa gitu." Kata pegawai Bapak pada Revan. Kebiasaan morotin anak juragan kalau dia ada dirumah juga masih ada. Aku senyum senyum. Yang diporotin masih sibuk nyeting hp.
"Mau apa?" Tanya Revan. Mereka langsung diskusi. Biasanya mereka cari makanan yang viral atau yang mereka pingin. Tapi kali ini lama mereka berdebat sendiri. Anak juragan sudah tidak sabar
"Ke pemancingan j**** mau gak? Besok. Bawa anak istri." Kata Revan. Mereka bengong. Itu pemancingan tempat Septy mengadakan reuni buru buru kemarin.
"Beneran?" Tanya mereka berbinar. Revan mengangguk.
"Daftar berapa orang yang ikut. Transport sendiri sendiri lho. Dekat kok dari sini. Kalau gak ada nanti ikut mobil sama aku." Kata Revan.
"Trsnspot minta Dullah saja sekalian. Dia punya bis kecil, muat mungkin buat kita semua. Tapi ditanyakan dulu soalnya dadakan." Bapak nyahut. Mereka semakin bahagia. Buru buru satu dari mereka menuju tempat Pak Dullah yang katanya ada didepan jalan besar ujung sana. Pulang membawa kabar gembira.
"Bisnya kosong buat besok Pak." Lapor seorang karyawan Bapak. Jadilah piknik dadakan untuk karyawan Bapak.
"Tapi janji habis ini lembur yang semangat." Kata Bapak. Mereka mengangguk sumringah.
Dua orang Bapak anak yang selalu sayang dengan karyawannya. Mereka bukan dianggap karyawan, tapi saudara. Itu sebabnya banyak dari karyawan yang betah kerja disini. Awet sampai puluhan tahun. Sebuah rumah mebel kecil dengan semangat kekeluargaan yang kental. Aku jadi terharu. Revan melakukan reservasi besar untuk esok. Bapak semangat ngajak keluarga Ine sekalian.
Pagi pagi rumah ini sudah heboh dengan keluarga para pegawai. Anak anak kecil berlarian motor motor terparkir rapi dijejer. Ada yang dengan bangga menunjukkan pekerjaan mereka sehari hari pada anak istri. Menujukkan alat alat pertukangan yang kali itu berjajar. Karena para pemegangnya dandan necis mau piknik. Mereka bersemangat. Senyum senyum gembira itu menular pada Bapak, Revan, dan aku.
"Ini tow mantunya Pak Aji? Kemarin waktu nikahan cantik sekali. Ini piknik dalam rangka Mbak Putri hamil?" Tanya seorang ibu yang ternyata istri Pak joko. Aku tertawa dan menggeleng.
"Ini piknik sogokan Bu, biar bapak bapak semangat lembur minggu besok." Kataku.
Pasang wajah senyum tapi hati teriris. Aku kok belum hamil yaa?? Ada bayi dua tahun menghampiri Revan. Dia langsung menggendongnya. Mengajak bercanda sampai bayi itu tertawa keras sekali. Aku kok jadi tambah meloww.
Bus pesanan datang. Kami bersiap masuk bus.
"Mau ikut bus atau naik mobil sendiri?" Revan menanyaiku.
"Bus aja kalau masih muat." Kataku. Revan duduk didepan bersama sopir. Aku kebagian duduk bareng Ine. Dia gak keberatan duduk sama aku.
"Acara apa ini tiba tiba piknik?" Tanya Ine.
"Acara morotin anak juragan." Kataku. Ine tertawa. Aku baru kali itu melihat tawanya. Biasanya cemberut aja.
"Kemarin kenapa? Kok Revan pulang pulang hp nya rusak?" Tanyaku kepo.
"Gimana gak rusak dia gelud banting bantingan sama tersangka yang mau kabur." Kata Ine. Dia ternyata lebih bisa bercerita tentang pekerjaan.
"Yang kemarin? Yang ketembak itu?" Aku semakin kepo.
"Adu tembak mirip coboy. Revan kena bahunya, tersangka kena kepalanya. Tewas ditempat." Katanya singkat. Aku tepok jidat. Ine tertawa.
"Apa kamu tahu dia nekat banget kalau kejar kejaran?" Tanya Ine. Aku manggut manggut dia gigih sekali, termasuk mendekati aku dulu.
Piknik itu membuat aku kenal dengan Ine. Dia dekat dengan Revan setelah Ibu Revan meninggal. Karena Revan sering main kerumahnya. Mereka jadi romeo juliet kecil yang tak terpisahkan. Kemudian semakin besar Revan bertindak sebagai kakak, nganter sekolah, nemenin jalan jalan dan masih banyak lagi. Pantes Ine baper dan jatuh cinta. Aku dulu jatuh cinta juga karena perhatiannya yang berlebih. Kemudian Revan masuk akpol. Dan Ine ikut pingin jadi polisi. Walaupun beda sekolah kepolisian. Ine lulus di tarik Revan satu tim. Kata Revan agar bisa mengawasinya.
"Aku tidak pernah diikutkan dalam aksi aksi berbahaya atau pengintaian diluar kota. Aku selalu ditinggal dikantor." Kata Ine.
"Dia tidak akan mau kamu terlibat bahaya." Kataku. Ine mengangguk.
"Tapi menyebalkan. Aku jadi gak punya cerita banyak." Katanya.
"Dia punya cerita banyak juga lebih banyak bungkam." Kataku. Kami tertawa. Sama sama tahu susahnya mengorek info dari Revan.
"Kamu beneran move on?" Tanyaku
"Gak ada pilihan. Mau apa? Jadi istri kedua sudah jadi ide Nada." Kata Ine aku kembali tertawa.
Sampai dipemancingan kami semua heboh. Kami disediakan meja panjang khusus. Anak anak sudah siap nyemplung. Tempat ini memang area rekreasi keluarga yang asik.
"Ayo main air." Ajak ine.
"Aku gak bisa renang." Kataku. Dia tertawa.
"Konyol dong kalau cuma duduk nungguin tas. Tuh lihat Bapak mertuamu saja nyemplung." Katanya sambil menunjuk area kolam yang dipenuhi karyawan Bapak dan keluarganya. Bapak dan Revan juga sudah nyemplung. Aku ikut mendekat. Revan memercikkan air kearahku.
"Sini Dek, gak dalem kok." Katanya. Kami pun main air. Aku diajar sedikit teknik berenang sama Revan.
Sampai waktunya makan siang. Hidangan ikan tersaji lengkap. Bapak memimpin doa. Berterimakasih pada semua karyawan karena sudah mau bekerja keras bersama.
"Semoga kedepanya Ajilis mebel lebih berkembang." Kata penutup Bapak. Pak Joko juga berterimakasih atas piknik dan segala kebaikan Bapak. Dia mewakili semua karyawan.
"Semoga selalu diberi kebahagiaan untuk keluarga Pak Aji, juga untuk Mas Revan dan Mbak Putri. Semoga bahagia selalu dan segera diberi momongan." Aamiin menggema. Aku juga mengamini sepenuh hati. Makan siang yang hangat dengan keluarga besar Ajilis Mebel.
Hape baru pun kugunakan untuk memotret sana sini. Ine menyadari hapeku baru ternyata.
"Dia yang hapenya rusak, kamu yang hapenya baru. Gak mau kalah deh." Katanya.
"Aku dikasih kok. Tiba tiba datang beli dua hape. Ya udah diterima aja." Kataku. Ine manggut manggut.
"Yang nyeting hp siapa?" Tanya Ine
"Revan lah." Jawabku singkat.
"Lama?" Tanyanya. Aku jadi berfikir sejenak. Iya ya masak Revan nyeting dua hp lama banget. Aku mengangguk. Ine tertawa.
"Jangan heran kalau dia muncul tiba tiba tanpa pemberitahuan." Katanya.
"Haaa maksudnya??" Tanyaku bingung
"Maksudnya ayo makan." Kata Ine tekun dengan piring dan ikannya.
Kami pulang dalam keadaan ngantuk. Ine minta gantian duduk samping kaca. Aku jadi tidur nyender dia. Awalnya galak gak mau, tapi akhirnya dia anteng aku senderi.
"Masak iya aku kesamping sana Ne, tega kamu aku nyungsep di kolong kursi." Kataku.
"Gak usah nyender juga bisa. Geli aku tuh." Katanya galak.
"Aku tuh udah biasa tidur nyender Ne. Plis diem deh." Kataku gak mau kalah. Akhirnya dia anteng. Ngantuk juga jadi kami tidur saling sender. Revan didepan sana sibuk jadi kernet.
"Ne, besok perawatan bareng yuk." Kataku sambil ngantuk ngantuk. Aku sudah di chat sama Bu Nirmala tadi. Jadwal perawatan rutin kami besok.
"Ogah, ngapain perawatan segala." Jawab Ine sambil menguap.
"Biar cantik laahhh." Kataku. Dia tertawa, tapi tidak menjawab. Diam sambil ngantuk ngantuk.
"Ya ya ya, nanti aku jemput deh." Kataku.
"Bodolah." Kata Ine. Kami terpejam berdua. Bangunnya dibangunin Revan. Katanya kami kebablasan sampai terminal Surabaya. Aku dan Ine tertawa. Kubuka hpku saat turun. Revan pasang status fotoku dan Ine saat sedang saling sender tidur. Tanpa embel embel kata apapun. Apa sebentar lagi hujan badai sampai dia pasang setatus?? Haaaa rupanya ada yang hatinya hangat karena keakraban kami.
***
...Selamat hari Minggu bestie, semoga selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan. Juga keikhlasan menjalani apa yang Tuhan telah takdirkan. I Love U, Mas akan memasuki konflik episode akhir. Selanjutnya mungkin ada kisah tentang Serda Lilis dan Lala Sang Penari. Entah yang mana dulu yang akan aku tulis. Doakan lebih menarik dan mood menulisnya juga bagus. Hihihihihi..... Happy Weekend...