
Seseorang wanita memanggilnya dari kejauhan sambil lari lari.
"Ree.... Reee tunggu..." Mas Revan menoleh kearah wanita itu. Diam menunggu.
"Kau mau pulang?" Tanya wanita itu saat ia sudah berada di dekat kami. Sepertinya seorang polwan. Ada lencana menggantung dilehernya. Mas Revan mengangguk.
"Aku ikut yaa?" Tanya sipolwan lagi. Sekilas sinis menatapku. Mas Revan mengangguk lagi. Ia kemudian membawaku kesebuah mobil hitam yang ada diparkiran kantor. Membuka pintu dan menutup kembali saat aku sudah duduk. Dia memutar duduk di belakang kemudi. Temannya polwan duduk dibelakang. Mobil yang acak acakan. Bungkus permen dan botol kosong berserak dbawah kursiku. Astaga..... semoga gak ada nyamuknya batinku.
"Apa akan ada polisi yang datang kerumahku? Memberi tahu orang tuaku?" Tanyaku saat dia masuk. Mas Revan membuka rompi yang dia kenakan. Mengansurkannya kebelakang diterima temannya. Kemudian menjalankan mobil.
"Kalau kau mau aku bisa memberi tahu mereka." Kata Revan
"Jangan!! jangan lah aku mohon jangan. Bisakah kau menyelsaikan semua untukku Mas? Aku mohon." Kataku memelas. Tanganku sudah mengelayut memeluk lengannya. Dia mengambil satu tanganku dan menggenggamnya.
"Asal kau berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Aku akan membereskan kekacauan yang kau buat malam ini. Tapi ini kesempatan terakhir. Kalau kau ulang lagi, aku sendiri yang akan menangkapmu." Katanya. Aku merinding takut. Aku mengangguk berkali kali. Aku gak akan mau ketempat itu lagi apapun kondisinya.
"Cih, pacar seorang perwira polisi terciduk operasi club malam. Memalukan." Kata polwan dijok belakang. Aku menoleh kearahnya. Dia menatapku sinis. Kami saling tatap dalam ketidak sukaan.
"Ini orangnya Van? Mahasiswi hukum yang kau ceritakan bertahun tahun? Yang katanya pintar dan polos? Kenapa tidak terlihat olehku? Pakaiannya saja seperti itu." Katanya. Eee ini cewek mengibarkan bendera perang saat pertama bertemu.
Aku sudah akan menjawab saat Revan menarik tanganku yang digenggamnya.
"Sudah diam. Kamu yang salah. Aku gak mau ada ketegangan apapun. Dia Ine, teman masa kecilku. Sudah seperti adikku sendiri. Kami bertetangga. Kalian harusnya tidak bertemu seperti ini. Ine ini Putri." Kata Revan. Ine menghela nafas sebal.
"Baik pak, saya sudah mengenalnya." Kata Ine formal. Hening tercipta. Dia melepas genggaman tangan kami. Sepertinya jalan menuju rumahku.
"Jadi kamu polisi mas?" Tanyaku memecah keheningan. Dia mengangguk.
"Aku Iptu Revan Aji Pratama. Reserse bagian narkoba. Dia Ineke Sintiya satu tim denganku." Katanya memperkenalkan diri ulang. Keren.
"Kenapa gak pernah cerita?" Tanyaku lagi heran.
"Harusnya aku cerita nanti siang, tapi kamu sudah tau dini hari." katanya. Aku jadi merasa bersalah. Dini hari nganterin aku pulang. Entah masalah apa yang aku tinggalkan dikantor polisi tadi. Dia jelas jelas akan menanggungnya untukku.
"Maaf ya Mas, aku udah bikin kamu repot." Kataku merasa bersalah.
"Terimakasih untuk bantuannya. Aku tertolong lagi berkat kamu." kataku lagi.
Sengaja mengajak bicara terus. Abaikan nenek sihir dibelakang. hihihi jahat.
"Besok kita harus kembali secepatnya. Atasan minta kejelasan operasi kita tadi." Nenek sihir bicara. Sambil melihat hpnya. Revan menghela nafas.
"Bagaimana aku menjelaskannya kalau aku belum tahu penghianatnya." kata Revan bingung.
"Ada masalah?" Tanyaku. Mas Revan menatapku sekilas. Seperti tersadar aku masih di antara mereka. Dia diam sejenak memilih kata.
"Masalah pekerjaan." kata Mas Revan.
"Tadi malam kami mau melakukan penangkapan, tapi sepertinya ada penghianat di dalam tim. Kami gagal. Tenang saja Masmu ini tidak akan menyerah dengan hal hal kotor seperti ini." Katanya optimis. Aku tersenyum. Dia keren.
"Penangkapan dimana? Ihhh gimana prosesnya? Apa ada tembak menembak?" Tanyaku kepo. Dia tertawa.
"Aku gak bisa cerita lebih lanjut dong. Pekerjaanku memang begitu. Maaf ya..." Katanya. Aku kecewa. kukira aku akan dapat cerita seru. Tapi dia malah bungkam.
"Tadi malam aku melihatmu dihalaman kantor. Aku kira aku sedang berhalusinasi sangking takutnya. Ternyata benar itu kamu." Kataku mengalihkan topik.
"Kau merindukaku sampai berhalusinasi?" Tanya Revan sambil senyum senyum. Aku sudah mau buka mulut, keduluan sama orang di jog belakang.
"Merindukanmu saat ada masalah Re, artinya kau hanya dirindukan saat dia bermasalah." Kata nenek sihir.
"Mulutnya jahat yaa. Aku harap gak semua polwan mulutnya sejahat kamu. Lagian siapa yang minta kamu berpendapat? Kenal juga baru saja." Jawabku. Gerah juga dengan nenek sihir ini.
"Sudah sudah hentikan perdebatan kalian. Sekarang masuk rumah dan tidur. Kirim alamat kantormu, aku akan menyuruh orang mengambil motormu. Ingat jangan ulangi apa yang terjadi." Kata Revan menengahi. Ternyata aku sudah sampai di halaman rumahku. Revan mendekat dan mencium keningku sekilas.
"Selamat tidur." Katanya. Aku yakin wajahku semerah kepiting rebus. Aku hanya mengangguk gugup. Dia tersenyum manis. Kulirik jog belakang dia mlengos sebal.
Begitu aku keluar mobil, si nenek sihir pindah kursi depan. Tatapan maut dia lemparkan untuku yang sudah berdiri di depan pintu rumah. Apa sih masalahnya denganku? Heran! Aku menunggui mobil Revan menjauh.
Matahari belum datang. Langit masih gelap dan udara mulai mendingin. Jam tanganku menunjukkan angka 1:30. Waktunya orang orang tidur nyenyak. Aku membuka pintu rumah dengan hati hati. Bisa gawat kalau orang rumah tahu aku pulang jam segini. Aku sudah diberi kepercayaan memegang kunci serep. Segera kulepas pakaian kurang bahan yang kupakai. Kumasukkan kedalam tas sekolah. Aku tidak pernah mencuci sragam kerjaku dirumah. Selalu kuloundry saja. Bisa gawat kalau orang rumah tahu sragam kerjaku yang kurang bahan. Termasuk baju Ica ini.
Aku berangkat tidur setelah berganti baju. Kulihat jaket Mas Revan menggantung digantungan belakang pintu. Aku mengambilnya. Mencium aroma yang tertinggal. Tidak berbau wangi justru sedikit apek karena bau keringat. Aku tertawa sendiri. Orang ini memang bukan cowok yang suka berdandan dan berwangi wangi ria. Entah sudah berapa lama juga jaket ini dipakai tanpa dicuci. Tapi dia mempesona karena perhatiannya. Karena dia menawarkan cinta dengan perbuatan. Apa aku mulai menyukainya? Yang jelas aku gak mau pisah dari dia.
Kulihat langit langit kamarku. Aaa aku sudah memeluknya tadi. Memeluknya tanpa dibalas lagi. Memalukan!! Tapi dia tadi juga menciumku. Kuraba keningku. Nyengingislah aku mirip orang gila. Dini hari senyam senyum sendiri. Apa beneran dia akan membereskan masalahku? Benar orang tuaku tidak akan tahu?? Kali ini aku benar benar berharap pada Mas Revan.
Dia pacarku...... pacarku..... pacarku. Suara Mas Revan menggema di kepalaku. Jadi kita udah pacaran????
Dini hari itu aku tertidur dengan muter muter memikirkan Revan. Entah tidur jam berapa.