I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 63



Aku terbangun. Tanganku pegal sekali terikat didepan. Kacamataku masih terpasang. Aku sadar apa yang terjadi. Kulihat kaki dan tanganku terikat. Aku berada diruangan gelap. Tidur meringkuk diatas tanah. Aku berteriak tapi yang keluar cuma kata


"Hump." Mulutku ditutup lakban dengan sangat kuat.


Aku mencoba berdiri, meronta sebisaku. Lepas dari tali tali ini. Tapi sampai aku berguling guling tidak bisa. Ini terlalu kuat. Kacamataku justru terlepas. Tempat ini kotor dan berdebu. Aku mencium bau kertas kertas lama atau sejenisnya. Ini dimana....


Langkah kaki terdengar saat aku sudah lelah berusaha lepas. Banyak!!! Mereka banyak!!! Aku meringkuk ketakutan. Lampu tiba tiba menyala. Menyilaukan pandanganku. Kulihat beberapa orang berdiri didepanku. Tidak terlalu jelas, karena kacamataku terlepas. Seseorang mendekat mengangkat wajahku. Memasangkan kacamataku, kemudian membelai pipiku dengan sayang. Riyan!!!! Kulihat sekitar enam atau tujuh orang bersamanya. Bagas salah satunya.


"Jangan banyak bergerak cantik. Nanti tubuhmu terluka." Katanya santai. Dia mendekatkan wajahnya kemukaku.


"Bodoh, sudah kubilang untuk pergi. Kenapa malah tertangkap." Bisiknya tepat ditelingaku. Aku semakin meronta dan berteriak tanpa suara. Dia melepaskan cengkeramannya diwajahku.


"Ingat apa yang harus kalian lakukan pada Si Cantik ini." Kata Riyan pada orang orangnya. Mereka mengangguk dalam diam.


Riyan mengambil bangku. Duduk didepanku.


"Kau punya makanan Gas?" Tanyanya pada Bagas.


"Ada permen." Kata Bagas singkat. Menyerahkan lolipop susu kepada Riyan. Riyan membukanya dan memakannya. Santai sekali. Tapi pandangannya menyiratkan kerinduan dan cinta padaku.


Suara derap langkah terdengar lagi. Kali ini ada dua orang lagi datang. Kudengar ada sesuatu berat diseret. Astaga itu Revan!!! Badannya sudah babak belur. Hanya mengenakan celana jeans. Kaki dan tangannya dirantai. Dia diseret mirip binatang. Dia di dudukkan menyandar ke tembok. Bekas kemerahan nampak didadanya. Aku meneriakinya tanpa suara. Sepertinya dia setengah sadar. Aku semakin kuat meronta. Ku hentakkan kakiku ketanah beberapa kali. Tidak ada hasil. Aku sudah capek berteriak tanpa suara. Pandanganku mengabur oleh air mata.


"Apa itu pacarmu cantik?" Kata Riyan. Kami bertatapan. Aku sudah melotot kearah dia. Andai tidak ada lakban ini dibibirku. Sudah kumaki dia dengan kata kata kasar.


"Apa lihat lihat? Kau belum pernah lihat mafia ganteng?" Katanya santai.


Seseorang laki laki tua datang berjalan dengan santainya. Penampilanya bersih dan terlihat bersahaja. Bersama dengan satu orang anak buah dibelakangnya. Dia melihat kearah Revan. Kemudian kearahku. Riyan menyingkirkan bangku yang dia duduki. Menarik tanganku dan mendudukkanku. Tangannya berkeringat.


"Dia cantik Papi, tapi terlalu cerewet jadi aku sumpal mulutnya." Kata Riyan. Orang yang dipanggil Papi mengamatiku sejenak.


Salah satu orang yang menyeret Revan beranjak. Dia mengambil ember berisi air. Revan diguyur entah dengan air apa. Dia memengerjab. Pandangannya langsung tertuju padaku.


"Bedeba* bunuh aku. Bunuh aku saja!!!! Bunuh aku. Lihat kesini Nur aku targetmu bukan!!! Bunuh aku kubilang!!!.... jangan libatkan dia." Revan terus berkata kasar menarik perhatian Nur, Papi Riyan. Nur justru berjongkok didepanku. Riyan berdiri disampingku dengan santai.


Nur kemudian berbalik ke Revan. Menendang mulut Revan dengan sepatunya.


"Kau yang membuat dia terlibat bukan? Aku mau menyiksamu sedikit. Bagaimana kalau kau saksikan dia mati dengan pistolmu sendiri?" Kata Nur.


"Hedline berita perwira polisi gila membunuh kekasihnya. Aku akan mengikat tubuhmu disini. Kau akan melihat tubuhnya membusuk perlahan lahan. Tanpa bisa melakukan apapun. Entah kau akan mati kapan disini. Atau ditemukan orang dalam keadaan gila. Aku tidak peduli. Itu lebih setimpal daripada langsung membunuhmu Iptu Revan." Kata Nur. Aku merinding sendiri mendengarnya.


"Sayangnya kata Riyan kekasihmu itu anak temanku. Tidak masalah dia punya tiga putri. Kehilangan satu putri saja tidak akan merugikannya terlalu banyak." Kata Nur lagi sambil menatapku. Berjongkok lagi didepanku. Memegang daguku dengan tangannya. Memperhatikan wajahku dengan seksama. Aku meronta memalingkan wajah.


"Benar kata Riyan, kamu cantik Nak. Kuberi tahu satu hal, Iput Revan sudah membeli cincin. Untuk memperistrimu mungkin. Cincin itu membuatku berfikir cara balas dendam yang setimpal dengan Iput Revanmu. Dia merepotkan sekali." Katanya. Kulirik Riyan manggut manggut dalam diam.


"Bun*h aku temb*k aku...... kau dengar Nur....... bun*h aku saja.... bun*h aku jangan dia, jangan libatkan diaaa....." Nur tidak peduli. Dia tetap mengarahkan pist*lnya kearahku. Jaraknya hanya dua meter dari tempatku duduk. Riyan mendekatiku. Menarikku untuk berdiri. Tangannya bukan hanya berkeringat, tapi bergetar.


"Begini lebih enak Papi." Katanya. Suaranya santai dan ceria. Padahal aku yakin tangannya bergetar. Dia berhasil mengganggu konsentrasi Nur membidikku.


"Bodoh!!! Kalau bukan karena tindakamu yang lamban, aku tidak perlu turun tangan seperti ini. Aku bisa menemb*knya dengan posisi apapun!" Kata Nur. Riyan diam mengambil jarak dua langkah dariku.


Nur kembali mengarahkan pist*lnya. Aku sudah pasrah.


"Buka, buka matamu Iptu Revan. Ini balasan karena kau terlalu merepotkanku." Kata Nur. Revan kembali berteriak.


"Tidak.... tidakk.... aku mohon...... aku mohon Nur aku mohon....." kata Revan memelas.


Suara letusan senjat* terdengar. Aku sudah memejamkan mataku. Apa rasanya ditembak pel*ru? Apa rasanya mati ditembak pel*ru..... tidak terasa...Kenapa??? Aku membuka mataku.


Riyan bersimbah darah di kakiku. Dia menggantikan aku menerima pel*ru dari Papinya. Dia tengkurap di depan kakiku. Aku menjerit tanpa suara. Hening seketika.


"Riiiii Riyaaann.... ke... kenapa??" Suara Nur tercekat. Dia menatap tubuh Riyan yang teronggok di kakiku. Aku sudah jongkok bercucuran air mata. Aku menggoyang goyangkan tubuh Riyan. Berharap dia membuka mata. Nihil.......Riyan terpejam mukanya menghadap aku.


"Apa hubungan mu dengan anakku J*lang!!!" Kata Nur berteriak kepadaku. Dia menjambaki rambutnya sendiri dengan kasar.


"Apa!!! Apa!!!! Apaaaaaaa!!!!" Bentaknya lagi. Dia shok. Matanya sudah membulat sempurna. Seperti orang setengah gila. Dia kembali mengarahkan pist*lnya kearahku.


Letusan kembali terdengar, tapi bukan dari pist*l Nur. Dari pist*l Bagas yang menemb*k langsung kepala Nur dari kejauhan. Nur ambruk bersimbah darah.


Perang senj*ta dimulai. Setahuku beberapa orang yang masuk bersama Riyan. Melawan beberapa orang yang masuk dengan Papinya. Mereka saling bersembunyi dan menemb*ki dengan pist*l. Hujan pel*ru dimana mana. Revan tiarap ditanah. Aku juga.


"Dek!!!! Tekan lukanya. Tekan lukanya sebisa dan sekuat yang kamu bisa." Kata Revan padaku. Aku kemudian menekan punggung Riyan yang berdarah sambil merunduk. Aku sudah merasakan mual diperutku. Darah Riyan merembes ditanganku. Revan mengerakkan tubuhnya dan mendekat kearahku. Melepas lakban dimulutku. Aku merasa beberapa kulit bibirku ikut terkelupas.


"Awwww...." seruku begitu Revan berhasil membukanya.


Hening........ tiba tiba suasana menjadi hening. Tidak ada letusan apapun lagi yang terdengar.


"Kau baik Dek?" Tanya Revan padaku. Aku hanya menatapnya. Terlalu konyol bilang baik dan terlalu bodoh bilang tidak.


Bagas dan beberapa orang keluar dari tempat persembunyian. Orang orang yang bersama Nur sudah tergeletak. Mereka kalah jumlah tentu saja. Bagas melemparkan hp kearah kami. Menatap dengan tatapan dingin yang kejam.


***


Saya dengar beberapa kata disensor pihak NT, jadi sebelum disensor tak sensor sendiri. hihihihi. Lup yu Bestie.