
Selesai acara kami pulang paling akhir. Reuni keluarga kecil kecilan.
"Putri kapan ini nikahnya?" tanya Bulik.
"Mohon dido'akan aja Bulik." Kataku santai.
"Cepetan nikah, itu Fitri udah nikah." Kata Bulik lagi.
"Iya, nanti habis lulus kuliah Bulik." Jawabku.
"Nikah belum lulus juga gak papa Put." Jawab Bulik.
"Enggak Bulik, pusing. Nanti malah keteteran semua." Kataku.
"Aku juga maunya gitu Dik, calon ada, udah besar, tapi anaknya susah." Ibu ikut nimbrung. Emang paling semangat jadiin Revan mantu. Revan cuma senyum senyum. Pertanyaan seperti itu berulang beberapa kali malam itu.
***
Sampai pada saatnya pulang, Mas Dipo dan Mbak Sasa sudah masuk mobil. Aku juga sudah duduk dikursi depan.
"Revan!!! Revan tunggu!!!" Teriakan itu menghentikan Revan menutup pintuku.
"Revan kapan kapan aku main kerumahmu boleh yaa?" Kata Mbak Pager tadi. Bajunya sudah berganti baju biasa, tapi sanggul dan makeupnya masih ada. Revan mengangguk.
"Boleh, ajak Andi sekalian. Kami udah lama gak ketemu." Kata Revan.
"Aku udah putus dari Andi. Aku ... jomblo sekarang. Revan maaf buat yang kemarin kemarin." Katanya sambil memegang tangan Revan. Mbak pager melirik kearahku sekilas. Revan anteng aja tangannya dipegan Nada.
"Gak papa, aku udah lupain." Kata Revan. Tangannya masih dipegang Mbak Pager. Haning beberapa detik. Mereka saling menatap.
"Aku mau pulang dulu." Kata Revan sambil menarik tangannya. Bukan malah melepaskan Mbak Pager maju ingin mencium pipi Revan. Untung dengan sigap Revan menghindar.
"Nada apa apaan ini." Kata Revan. Nada nampak kecewa. Aku udah melotot kearah dia.
"Selamat malam." Kata Revan menarik tangannya paksa. Menutup pintuku cepat. Memutar menuju kemudi.
Suasana dalam mobil langsung mencekam.
"Mohon maap ni Van, kami disini ganggu gak, kalau ganggu kami pindah kemobil Oca." Kata Mas Dipo. Setelah Revan masuk.
"Enggak!! Gak usah pindah kemana mana. Disini duduk diam anteng!!!" Kataku ketus. Revan melirikku sekilas. Aku sudah mengomelinya dalam hati, tapi tidak terkatakan sepatah pun. Dijalan Mas Dipo mencoba mencairkan suasana. Revan dan Mbak Sasa menanggapi. Mereka ngobrol dengan seru. Aku males. Diam seperti obat nyamuk.
***
Mobil sudah sampai dihalaman rumah. Mbak Sasa dan Mas Dipo turun. Aku juga langsung mau turun. Revan memegangi tanganku.
"Kamu mau ngomong Dek?" Tanya Revan. Aku menggeleng. Menarik paksa tanganku agar terlepas.
"Kalau gitu biar Mamas yang ngomong." Katanya kembali menjalankan mobil dengan cepat.
Mobil berjalan kembali menjauhi rumahku. Dia belum bicara. Setengah jam berkendara pun dia belum bicara.
"Cepet ngomong ih, aku capek mau tidur!" Kataku sebal.
"Aku bingung ngomongnya. Aku lebih takut kamu ngambek dari pada gagal melakukan penangkapan." Kata Revan.
"Kita ngobrol sambil makan yaa..." Kata Revan lagi.
"Kenyang!" Jawabku cepat.
"Gak haus!"
"Ya udah sambil nongkrong aja."
"Aku ngantuk mau pulang!!!" Jawabku dengan nada meninggi.
Revan garuk garuk kepala. Bodo amat aku lagi males.
"Enggak, aku gak akan pulangin kamu kalau kita belum ngomong." Kata Revan.
"Ini udah lebih jam sepuluh. Udah lewat jam malamku buat main." Kataku gak mau kalah.
Revan mengambil hpnya mengutak atik sebentar. Dia menelfon.
"Halo Ayah, Revan mau minta ijin pulangin Putri agak malam boleh? Ada masalah yang harus kami selsaikan." Katanya. Hening sejenak dia mendengarkan.
"Baik Yah, baik. Terimakasih ijinnya." Katanya kemudian. Menutup panggilan telpon itu. Aaaa Ayah kok malah ngijinin sih!!!!
"Udah, mau alesan apa lagi?" Tanyanya sambil tersenyum. Nyebelin!!!!
"Kalau aku pulangin sekarang, ngomong besok besok yakin aku dikacangin lama kan." Katanya lagi.
Mobil berhenti pada sebuah tempat ramai. Tongkrongan berkonsep wedangan. Waaa menarik. Aku pernah kesini, tapi saat itu sore, jadi masih sepi. Ternyata kalau malam rame banget. Revan membuka pintu untukku. Membantuku turun. Rok yang sempit membuat gerakan kakiku terbatas.
"Mau di gendong sekalian?" Tanya Revan sambil senyum senyum. Nyebelin!!!. Dia memeluk pundakku sambil mencari tempat duduk.
Dia memesan dua gelas wedang coklat dan beberapa camilan.
"Aku kenal Nada saat SMA dia... adik kelasku. Kami pacaran saat aku kelas tiga. Berlanjut pacaran saat aku masuk AKPOL. Hubungan lancar walaupun harus LDR dan ketemu 6 bulan sekali saat libur semester. Tapi setelah jalan beberapa tahun, aku mergokin dia selingkuh sama teman dekatku. Yang juga satu angkatan denganku diAKPOL. Yaa.... udah aku putusin. Aku gak menerima penghianatan sekecil apapun. Setahuku mereka jadian sampai kami wisuda. Ternyata sekarang sudah putus lagi." Kata Revan.
"Trus, sekarang mau balikan? Sampai cium cium gitu?" Kataku.
"Dia yang nyium Adek, gak kena lagi. Gimana juga mau balikan kalau aku udah sama kamu." Revan membela diri.
"Trus kamu maunya kena? Kalau kena balikan gitu? Trus aku di kemanain? Kamu pikir aku gak sebel dikacangin. Aku ada lho dideket kamu. Dia berani cium cium. Gimana kalau gak ada? Mau apa dia? Jadi cewek kok kegatelan. Pacarnya nyengoh (ada) disampingnya masih juga di embat. Mau ribut tempat saudara. Gak ribut ngajakin ribut! Trus nanti mau main ketempat kamu ngapain? Pdkt? Otaknya taruh mana udah punya pacar juga." Kataku ngos ngosan sendiri. Aku baru sadar aku memarahi Revan bukan Pager Gatel tadi. Revan menyodorkan aku minum. Mengigit bibir bawahnya agar tidak tersenyum. Aku meminumnya dengan sebal.
Mencomot satu slice pisang bakar dengan taburan coklat dan keju diatasnya.
"Sekarang udah haus yaa." Katanya. Kali ini tidak bisa menahan tawa. Aku menatapnya sebal!!!
"Kalau gak boleh dimunum bilang." Kataku.
"Boleh boleh, boleh diminum. Pisangnya dimakan lagi. Kalau masih lapar itu ada nasi kucing dan teman temannya banyak." Kata Revan sambil senyum senyum. Dia memegang tangan kiriku. Menciumnya sekilas.
"Aku gak peduli gimana dia ngejar aku. Mau pakai cara apapun aku gak peduli. Gimana aku bisa peduli kalau pacarku secantik ini." Katanya.
"Aku bisa jamin sama kamu. Aku bukan orang yang gampang selingkuh, atau suka diselingkuhi." Lanjut Revan dengan serius.
Aku menarik nafas kasar. Iya kamunya gak peduli. Sekuat apa juga imanmu Mas? Karena mereka gak akan gampang menyerah. Tambah satu lagi sekarang selain Ine. Mereka gak akan menyerah karena tau, dicintai kamu tuh enak. Aku hanya berharap kamu kuat iman Mas. Jadi mereka bosan mengejarmu. Dan aku bisa disampingmu selamanya.... Batinku sambil menghabiskan pisang bakar.
"Aku mau ajak kamu kekantor besok. Ada acara kecil. Bolos dari kampus gak papa kan?" Kata Revan.
"Acara apa?" Tanyaku.
"Besok juga tahu. Aku jemput jam 6:30 pagi yaa." Katanya. Aku mengangguk saja.
Kami menghabiskan malam ini dengan wisata kuliner malam. Ternyata Revan tau banyak tentang tongkrongan malam yang asik asik. Aku pulang jam 12 tepat. Di bukakan pintu sama Ayah, sepertinya beliau menunggu. Revan meminta maaf karena memulangkan aku terlalu larut.