I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 94



Aku berkendara dengan seballl sekali. Pantas dia tidak menghubungiku. Karena dia tahu posisiku. Dia tahu dan diam saja. Menyogok dengan kue. Cih... memyebalkan!! Aku sekarang mirip buronan. Berlari dan dikejar polisi. Dan dia itu polisi beneran. Sekarang aku mau kemana? Pulang kerumah? Aaaaaa aku pusing mau kemana. Aku benci Revan. Benci.


Akhirnya aku pulang kerumah Ibu.


"Kamu tadi kenapa? Telfon tapi dimatiin gitu aja?" Tanya Ibu panik menyambutku.


"Enggak, cuma mau bilang aku mau nginep sini. Bapak ambil kayu, Mamas sibuk. Aku takut sendirian." Kataku ngibul lancarr. Ibu dan Kak Sasa malah senang bukan main. Aku bilang aku akan menginap sampai minggu.


Kami ngobrol ala wanita. Menceritakan suami dan kebiasaan buruk mereka.


"Dipo itu kalau ngletakin handuk basah selalu dikasur. Mau di bilangin puluhan kali juga sama." Keluh Mbak Sasa.


"Haaa normal laki laki itu. Suamiku kalau mandi gak pernah pakai handuk." Kataku menanggapi. Ibu dan mbakku terkejut.


"Trus gimana?" Tanya Mbakku kepo.


"Yaudah habis mandi pakai baju. Mau basah semua juga dia nyaman. Katanya nanti kering sendiri." Jawabku. Mereka tertawa.


"Astaga..... suamimu konyol juga ternyata." Kata Mbakku. Bukan cuma konyol Mbak, tapi menyebalkan!!!. Batinku.


Hpku berbunyi. Telfon dari Bapak.


"Masih betah nginep Nduk?" Tanya Bapak. Sepertinya beliau belum tahu masalahku dengan Revan.


"Masih Pak. Bolehkah Putri nginep sampai minggu? Putri kangen rumah." Kataku manja. Bapak tertawa.


"Tentu saja Nduk. Selamat bersenang senang. Salam buat seluruh keluarga. Semua sehat kan?" Tanya Bapak. Aku mau peluk beliau. Bapak mertua yang sangat pengertian.


"Sehat Pak, semua sehat disini. Nanti salam Bapak aku sampaiin." Kataku. Bapak pun mengakhiri panggilan. Aku mensailent hpku dan melemparkan asal dikamar.


Aku kembali ngobrol dengan Ibu dan Mbakku. Dari satu topik ketopik yang lain. Cekikikan dengan hal hal receh. Haaa aku bahkan bisa tertawa disini. Gosip terbaru kakaku yang pertama hamil lagi. Kami nambah anggota. Kami ngobrol sampai sore. Sambil bahu membahu mengerjakan pekerjaan rumah.


Mas Dipo dan Ayah pulang dari bengkel variasi. Kami bubar ngerumpi cantik. Ayah sekarang ikut kebengkel Mas Dipo, daripada gabut dirumah tiap hari mancing aja sama Pak De Bass.


"Eh, Nyonya Revan pulang." Sapa Masku yang paling somplak.


"Iya, kangen sama body mu yang makin berisi." Kataku. Mas Dipo tertawa.


"Ini yang disebut kemuliaan sesudah nikah, Dek. Menumpuk lemak bahagia dalam tubuh." Kata Mas Dipo nyeleneh. Aku tertawa saja. Makan malam bareng dengan masakan Ibu yang ruaaarrrr biasa enyak. Ahhhh....... aku kangen masakan Ibu.


Malam tiba. Semua orang masuk kamar. Aku masuk kekamarku sendiri. Sepi..... airmataku yang seharian ini diam sekarang tidak bisa diam. Mengucur dengan derasnya. Aku membekap kepalaku dengan bantal. Takut isakanku terdengar keluar kamar. Ratusan telfon dan pesan dari Revan kini menghiasi hpku.


***


Dua hari berlalu, hari Minggu tiba. Revan tidak datang menjemput dan berhenti mengirim pesan. Benar benar suami kulkas!!! Biasanya istri minggat dicariin. Ini dianggurin aja. Hebat bukan suamiku. Hah..... siapapun tolong hajar dia.


Aku bersiap pergi kereuni. Ada semangat baru yang timbul. Semangat bersenang senang. Ayo kita lupakan Revan sejenak. Semangatttt!!!


"Pergi sendiri?" Tanya Mbakku sebelum aku berangkat.


"Iyalah, kamu mau ikut?" Tanyaku.


"Revan masih sibuk yaa..?" Tanya Mbakku lagi. Aku cuma mengangguk dan berpamitan. Mungkin Mbakku sudah mencium tanda tanda tidak beres..... entahlah...


Aku datang ditengah tengah. Saat semua orang belum datang, tapi sudah ada yang datang.


"Septy.... halo Selim." Sapaku pada bocah gembilnya. Sambil bersalaman dengan semua orang.


"Habiba.... halo cantik, ketemu Kakak lagi." Sapaku pada anak Habiba sambil menyalami kedua orang tuanya. Asna hadir dengan pacarnya. Meri datang dengan suami dan anaknya yang berusia satu tahun. Reuni yang hanya dihadiri enam orang itu membengkak. Karena membawa keluarga masing masing.


"Sendiri?" Tanya Septy sambil celingukan. Aku cuma senyum mengangguk. Tika datang paling akhir. Nempel dengan kekasihnya entah dapat dari mana. Dari wajahnya kulihat sudah tua. Apa dia ikut jejaku juga dapat om om? hihihihi.


Pemancingan ini cukup ramai pengunjung. Mungkin karena weekend. Kami memesan meja berbanjar. Makan ikan lesehan dan bercerita ini itu.


"Sibuk, dia itu super sibuk." Jawabku.


"Yaaahhh kamu yang jomblo sendiri dong." Kata Tika mepet dempet dengan pacarnya. Pamer kalau dia lebih unggul dari aku. Oke oke, nikamti waktumu Tik.


"Gak papa yang penting udah laku." Jawabku cengengesan.


"Eh, kemarin waktu reuni SMP kenapa dia ribut sama Riyan?" Tika bertanya membuat orang yang kenal Riyan langsung pasang kuping.


"Ribut?" Tanya Habiba.


"Ribut, baku hantam. Yang misah banyak banget." Tika makin kompor.


"Biasalah ngerebutin cewek cantik." Jawabku sok centil. Meri melempar centong nasinya keaku. Aku menghindar sambil ketawa ketawa.


"Maaf aku terlambat." Kata seseorang cukup keras didengar kelompokku. Revan. Membawa kotak besar.


"Sebagai gantinya ini aku bawa pencuci mulut." Katanya santai nimbrung disampingku. Mencium pipiku dengan santai. Aku kaget. Teman temanku mencieh cieh.


"Putri kalau dapet cowok yaa... pasti kaya super hero. Datang membuat kita senang." Kata Meri membuka kotak Revan. Berisi puding buah besar yang menggiyurkan.


"Yang buat senang itu bukan super hero, tapi badut juga bikin seneng." Kataku sebal. Revan duduk disampingku. Dengan tangannya melingkar erat dipinggangku. Menyusup lagi dibalik kaos yang kukenakan. Aku cuma bisa pura pura senyum. Asli, kalau kita cuma berdua, sudah kumaki maki dia.


"Ah, kalau Riyan dulu super hero tau..... mereka menceritakan kejadian hujan di rumah Habiba. Revan menyimak dengan seksama.


"Inget gak waktu dimobil??? Yang Putri bilang 'kamu pikir cuma kamu yang punya hati' aku bahkan sampai sekarang masih inget kata kata itu." Kata Tika. Semua orang tertawa cekikikan.


"Susah ya pacaran sama anak band. Makan hati." Asna komentar.


"Gak semua, aku aman sampai nikah. Put, ambilun nasi dong Mas Revannya. Masak cuma didiemin." Septy komen. Aku terpaksa mengambilkan nasi dan lauk untuk Revan.


"Tergantung orangnya juga kali. Mau anak band atau polisi kalau baji*ngan ya baji*ngan aja. Mau selingkuh yaa selingkuh aja gak usah repot nunggu anak band." Kataku. Mereka manggut manggut. Kulirik Revan senyum kecut. Aku emang sengaja menyindirnya. Meletakkan piring dihadapannya dengan sebal.


Revan mengambil banyak kesempatan. Memegang tanganku, merangkul, mencuri ciuman kecil kecil, sampai mengigit ujung jariku. Dia tahu aku gak akan menolak sentuhannya di depan teman temanku. Aku ekting jadi istri yang bahagia. Dia berlaga jadi suami hangat yang sangat amat menyayangiku. Menjijikan. Tau dari mana sih dia aku disini???? Sebal.


Anak anak sudah tidak tahan. Mereka meronta minta main air. Di pemancingan ini juga terdapat kolam kolam air untuk anak yang lucu. Mereka senang sekali. Lucu..... aku juga mau bayi gembil hiks..... Mereka berpencar mengawasi anak masing masing. Aku yang masih belum punya anak memilih duduk bersandar sambil main hp. Revan ikut duduk disampingku.


"Aku kangen sama kamu." Katanya. Aku diam. Sok sibuk main hp. Pasangan disamping kami membuat kami sedikit risih. Tika berpangkuan dengan pacarnya.


"Ayang geli aaahhh." Kata Tika. Ternyata selain berpangkuan tangan mereka sudah kemana mana.


"Sewa hotel woooiiiii ini tempat rame. Digrebeg nanti." Kataku. Mereka cekikikan malu.


"Kamu pingin juga Dek? Nanti habis dari sini yaa." Kata Revan sambil menowel daguku. Aku melotot sebal kearahnya.


"Kamu belum isi Put?" Tanya Tika.


"Belum. Padahal udah lumayan lama yaa." Kataku. Sedih sebenarnya. Aku juga mau anak. Aku mau hamil..... huft....


"Kami tidak buru buru Tik. Santai saja. Menikmati masa pengantin baru yang indah." Kata Revan. Dia memegang tanganku dan menciumnya.


"Kerja apa Mas?" Tanya Edo, pacar Tika.


"Dia guru olah raga Yang." Kata Tika. Revan mengangguk.


"Iya, saya guru olah raga honorer disebuah SMP." Kata Revan. Diantara teman genkku hanya Septy dan Habiba yang tahu Revan itu polisi sebenarnya. Itu juga gara gara Septy hadir diacara resepsi Revan bersama Re. Dan Habiba tahu karena Septy menyebut Bhayangkari kemarin saat vidio call. Untung dua orang itu gak ada disini.


Acara selesai saat bocah bocah itu kelelahan main air. Kami berpisah, berharap kapan kapan bisa ketemu lagi. Aku sengaja menunggu temanku pulang semua. Lepas dari Revan pasti akan terjadi ketegangan.


Dugaanku salah, Revan sama sekali tak perlu menyeretku masuk mobilnya. Kunci motor dan hpku raib. Aku yakin dia dalangnya. Aku bersandar dimotorku dengan sebal.


"Mobilnya ada disana Dek, aku sudah capek mau pulang. Nanti malam kerja. Kerjaanku lagi padat padatnya. Mau pulang denganku atau mau cari kunci disini?" Tanyanya dengan senyum kemenangan. Picik.