
Hari hariku diisi dengan bekerja, pulang kerumah, main sama Damar. Ini sudah tiga bulan lebih setelah lamaran itu. Dia bertahan dengan sikap dinginnya. Aku juga bertahan dengan syaratku. Meski kadang sikap Ine atau pun Nada membuatku gerah. Revan tahu itu, dulu dia menghindar sebisanya. Sekarang justru menanggapi mereka didepanku. Membuatku kadang ingin ngamuk memukulnya.
***
Sabtu siang hari. Dia pulang siang itu. Mukanya terlihat lelah. Aku sibuk menghitung gaji karyawan Bapak.
"Eh, Mas Revan. Tumben kelihatan." Sapa seorang karyawan. Mereka berhenti sejenak untuk beristirahat. Ini jam makan siang.
"Iya, habis lembur." Jawab Revan santai sambil ikut nimbrung dengan yang lain. Duduk lesehan di teras rumah yang cukup teduh. Dia melirik kearahku.
"Sudah makan?" Tanyanya entah pada siapa. Karena pandangannya tadi mengarah padaku, tapi terlalu ambigu bertanya padaku.
"Sudah Mas." Jawab Mas Parno.
"Waaa ini es yang lagi viral. Es duren lezat katanya." Kata Mas Budi.
"Mas, Mas ini enak lho katanya." Mode morotin Revan sedang berjalan.
"Itu lama antrinya, mau kamu dimarahin Bapak gara gara telat masuk kerja." Kata Revan.
"Pakai aplikasi lah Mas. Tinggal tunggu disini nanti diantar." Mas Ojan nyahut.
"Gayamu tahu aplikasi segala." Kata Revan sambil tertawa.
"Iyalah, sama kaya Mbak Putri dia juga sering pakai aplikasi buat nganter makanan kesini. Kadang bunga juga. Ya kan Mbak?" Tanya Ojan menoleh kearahaku. Aku hanya tersenyum kalem.
"Bunga?" Tanya Revan ambigu lagi. Entah sepertinya bertanya pada dirinya sendiri.
"Ayo Mas, pesan lah buat kita ini es duren lezat." Kata Mas Budi masih mode morotin.
"Iya, dihitung sana berapa orang yang mau. Nanti aku pesenin." Kata Revan. Semua orang girang bukan main. Segera mendaftarkan diri.
"Dua satu Mas, Bapak sudah termasuk, eh, dua dua sama Mas Revan, enggak Dua tiga sama Mbak Putri." Selsai sudah hitungan mereka.
"Aku pesankan 22 yang satu belikan rujak eskrim di food center dekat jembatan xxx. Dia tidak suka durian." Kata Revan sambil menunjukku. Memberiman uang dan kunci motor pada karyawan yang menghitung tadi.
Ada paket datang. Revan sigap menerima.
"Untuk Mbak Putri." Kata kurir. Revan menerimanya, kemudian menyerahkan padaku.
"Aku gak tau kamu suka belanja onlen sekarang." Kata Revan.
"Aku tidak pesan." Kataku sambil membuka paket itu. Dia duduk diam menunggu. Isinya boneka teddy kecil yang memeluk sebatang coklat. Ada tulisan diketik komputer seperti biasa.
'Aku menjadi teddy dan coklat itu kamu, tapi kulitmu lebih mirip bakpao daripada coklat. Sayangnya bakpao tidak bisa dipaket.'
Aku tertawa. Mata Revan melotot padaku minta penjelasan. Mengambil paksa tulisan itu dari tanganku.
"Memang akhir akhir ini ada yang mengirimiku benda benda romantis tanpa nama pengirim. Tapi semuanya tidak berbahaya. Justru lucu lucu." Kataku.
"Haa penggemar rahasia yaa..." kata Revan. Dia mengecek sampul paket.
"Mungkin ada yang kasihan sama aku karena sering melihat pacar sendiri digoda di depan mata. Pacarnya menanggapi lagi." Jawabku ketus.
"Mungkin kamu harus menerima 'pacar sendirimu' itu. Menikah dengannya. Semua masalah selesai. Kau bisa melaporkan para pengoda pacarmu itu dengan perbuatan tidak menyenangkan. Karena kamu sudah punya hak atas pacarmu seutuhnya. Kalau hanya pacaran, walaupun sudah lima atau sepuluh tahun sekalipun setatusmu masih sama. Tidak ada payung hukum yang mengikat." Katanya mengambil kertas dan sampul paket. Kemudian berlalu masuk rumah. Aku bengong dengan kalimat panjang lebarnya.
***
Senin tiba. Aku masuk kerja kesiangan setelah drama kontrol Ibu. Mas Dipo pagi pagi ada kerjaan, dia tidak bisa mengantar. Ibu sama Ayah lagi ngambek.... entah kenapa. Akhirnya aku yang mengantar, Mas Dipo akan menemani setelah pekerjaannya selesai. Untung majikanku Bapak Aji yang pengertian dan gak bisa marah. Hihihihi.
Revan ternyata masih dirumah. Mobilnya dikeluarkan dari garasi. Sepeda motornya malah masih digarasi. Dia pakai mobil dan berangkat siang? Tumben. Dia duduk dikursiku. Sepertinya menyelsaikan pekerjaanku.
"Bagus, tunggu duduk sebentar. Aku mau selesai." Kata Revan. Ini orang maunya apa? Aku duduk didepannya sambil bertanya tanya.
Menunggu sekitar 15 menit dia menutup laptop. Mengeluarkan surat berukuran folio dan menyerahkan padaku.
"Aku tidak ingin membawamu dari rumah. Takut orangtuamu kepikiran. Jadi aku tunggu saja disini. Tidak akan lama kalau kamu kooperatif menjawab." Katanya. Kubuka amplop berlogo kepolisian itu. Surat pemanggilan atas namaku. What?????
"Aku kenapa?" Tanyaku.
"Aku tidak terlibat masalah apapun Mas, surat ini salah." Kataku.
"Ikut denganku. Aku sudah beritahu Bapak. Kau masih percaya padaku kan?" Katanya sambil menggandengku erat menuju mobilnya.
"Duduk." Kata Revan.
"Kau tidak ingin menjelaskan sesuatu? Aku takut." Kataku memegang tangannya.
"Setahuku kamu S1 hukum, tidak perlu pengacara kan?" Kata Revan. Aku menggeleng.
"Jekaskan apa yang terjadi." Kataku lagi.
"Ini aku mau jelaskan. Duduk dulu." Kata Revan sambil melepaskan tanganku, kemudian berlalu pergi.
Aku merasa menunggu lama. Sudah hampir menangis karena ketakutan. Dia muncul dengan beberapa berkas ditangannya.
"Maaf menunggu. Kenapa menangis?" Tanyanya.
"Aku takut." Kataku.
"Kenapa takut kalau tidak bersalah......"
"Omong kosong! Cepat jelaskan." Kataku. Aku tahu omonganya berikutnya. Kalimat penghiburan yang mengintimidasi.
Dia tersenyum. Kami duduk berhadapan.
"Ini tentang pernak pernik dan kiriman makan siangmu dari seseorang penggemar." Katanya.
"Kau cemburu?" Tanyaku.
"Iya, eh.... maksudnya bukan begitu. Aku tidak membawamu kesini atas dasar cemburu." Katanya. Nadanya sudah mengintimidasi.
"Kamu tahu siapa pengirimnya?" Tanyanya. Aku menggeleng.
"Kamu tidak cari tahu? Tidak penasaran?" Katanya menatap lekat mataku.
"Tidak. Pengirimnya tidak pernah menyebut siapa dia. Kurirnya biasanya dari aplikasi tanpa mau menyebut siapa pengirimnya. Aku tidak ambil pusing karena yang dikirim bukan barang berbahaya. Hanya barang receh yang menghibur." Kataku juga menatap matanya.
"Kamu sering mendapatkan barang seperti itu?" Tanyanya lagi.
"Tidak, hanya akhir akhir ini. Setelah Riyan meninggal kalau tidak salah." Kataku sambil mengingat ingat.
"Tidak menceritakan padaku!!!" Katanya sambil mengebrak meja kesal. Aku terlonjak kaget. Air mata langsung merembes deras dari mataku.
Dia memejamkan mata dan menghembuskan nafas.
"Aku mohon jangan menangis. Aku tidak bisa mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Dan aku akan melanggar pekerjaanku dengan melihat air matamu. Ini berat untukku. Aku tidak mau kamu diintrogasi orang lain karena aku tidak akan tenang. Aku sampai meminta ijin khusus untuk bisa mengintrogasimu sendiri. Dengan catatan tidak boleh mencampurkan urusan pribadi." Katanya.
"Tapi bisakah kamu sedikit lembut? Aku takut." Kataku. Dia tersenyum.
"Kau ingin bicara di pangkuanku? Sambil bermesraan?" Tanyanya. Sorot kerinduan jelas dimatanya. Aku tersenyum.
"Jangan berharap!!" Katanya kembali kemode kerja. Aku bergidik. Seperti melihat dua kepribadian Revan yang berbeda. Lembut disisiku, garang saat bekerja. Menyeramkan.
"Sekarang jawab. Apa kau tidak penasaran mencari tahu?" Tanyanya lagi mode kerja.
"Tidak. Aku anggap itu seperti surat cinta kaleng jaman sekolah. Aku sering mendapatkannya dulu. Kubaca, kemudian kusimpan. Sampai ada yang mengakuinya. Kalau tidak ada ya sudah. Dia tidak terlalu jantan mengakui perasaannya. Aku anggap tidak ada." Jelasku.
"Wooooo primadona sekolah sedang berbicara." Katanya menyembunyikan nada cemburu.
"Kapan surat cinta itu datang? Saat SMP kah? Saat SMK kah? Atau saat kuliah?" Tanyanya lagi.
"Saat SMP paling sering. Karena aku di SMP Negeri yang jadi satu antara murid laki laki dan perempuan. Saat SMK semua siswa mayoritas perempuan. Hanya ada lima laki laki, itupun masuk dalam keadaan jantan, lulus hanya dua yang masih jantan. Sisanya sudah melambai membawa sisir dan bedak kemana mana." Kataku. Dia tertawa. Diam menungguku melanjutkan penjelasan.
"Kuliah kau tahu sendiri aku disibukkan dengan pekerjaan sambilan dan tugas. Juga dengan satu laki laki yang selalu ada denganku. Aku tidak sempat memiliki fans." Kataku.
"Sempat saat makan dimsum bersama." Koreksinya cepat.
"Haa kau cemburu hanya karena aku makan dimsum?" Tanyaku.
"Hentikan. Kita melebar kemasalah pribadi." Katanya.
***
Menulis membuatku lupa dengan kesedihan. Seperti pelarian dari dunia nyata. Selamat pagi Bestie, berharap kalian semua selalu dalam keadaan sehat. Aku mau naik Titipo nanti..... ada yang mau ikut???? hihihihi