
Masa PKL ku usai. Kami masuk sekolah seperti biasa. Aku dan Tika masih berteman. Aku juga pura pura gak tahu apa apa. Dia masih asik dan nyeplos seperti biasa. Sedikit ku pancing katanya dia punya pacar sekarang. Benarkah??? Apa Riyan dianggap pacar sekarang?? Aku gak tau dan gak mau tau. Hahaha. Suka suka dia lah.
Aku gak mau ribut gara gara hal kayak gitu. Biar gimana pun, Tika tetap temanku yang paling dekat. Lagi pula aku percaya Riyan.
Kami beriringan menuju gerbang sepeti biasa saat pulang sekolah. Mobil Riyan sudah terparkir disebrang jalan. Dia memang bilang mau jemput aku hari ini.
"Weee udah di jemput. Nebeng dong tuh mumpung naik mobil." Kata Tika saat melihat mobil Riyan. Aku gak yakin kalau Riyan mau. Mau jawab boleh, kalau nanti Riyan nolak gimana. Kemarin katanya dia trauma pelecehan. Trauma sama Tikanya gak yaaa??? Aku jadi bingung sendiri.
"Gak dijawab, gak boleh yaaa?" Tanya Tika.
"Lha itu mobil Riyan, bukan mobilku." Jawabku nemu alasan tepat.
"Ya udah yuk samperin. Siapa tahu boleh." Katanya sambil menarik tanganku.
"Yan, nebeng yaa...." kata Tika saat tiba didepan pintu kemudi yang jendelanya sudah terbuka. Riyan menganguk santai. Seragam batik biru khas sekolahnya membuat dia makin tampan.
"Masuk." Katanya. Aku lega gak perlu drama. Tika membuka pintu belakang dengan cepat. Aku duduk di depan. Baru pantatku nenyentuh kursi. Riyan mencium pipiku dengan cepat.
"Hai cantik." Katanya sambil tersenyum. Aku kaget melirik Tika di belakang. Dia sama kagetnya denganku. Ternyata Riyan belum puas. Dia mencium bibirku dengan rakus. Aku kaget. Mendorong tubuhnya menjauh. Tapi dia malah merengkuhku dalam pelukannya. Lama, seperti biasa ciumannya enak dan lama. Aku melirik Tika dia bengong memperhatikan.
"Ehem aku pulang sendiri deh!!" Kata Tika. Mau beranjak membuka mobil. Sepertinya cukup kesal.
"Jangan dong. Maklum dikit lah Tik, aku kangen sama Putri. Lagian kamu udah boleh kok lihat adegan yang lebih panas dari ini. Kita kan udah gede." Kata Riyan santai. Sambil jarinya mengusap sisa salivanya di sekitar bibirku.
'Buaya sedang balas dendam' batinku. Kubiarkan saja semau maunya.
"Iya, tapi ngapain kangen kangenan didepanku. Bikin iri aja!! Lain kali sewa kamar hotael kek.!!" Tika mode galak.
"Ngapain sewa hotel, dikamarku aja sampai puas." Jawab Riyan sambil menjalankan mobilnya.Mulutmu Yaaannn batinku.
"Oh megot, oh megot.... kalian udah begituan? Bener put? Udah gituan di rumah Riyan?" Tika syok.
"RAHASIA" jawab Riyan sambil mencium tanganku dan mengedipkan satu matanya. Aku cuma ketawa ketawa gak jelas. Tika nyerocos berusaha mengorek lebih banyak info yang baru ia dapat. Riyan muter muter menanggapinya. Ku biarkan dua orang itu berdebat. Aku hanya menyimak sambil cengar cengir.
Tiba tiba mobil Riyan dipepet dua mobil hitam. Riyan ngerem mendadak sambil mengumpat. Enam orang berbadan kekar turun dan menggedor mobil yang kami tumpangi. Riyan turun sambil memaki mereka.
"Anjin*, mau apa loe!!!" Kata Riyan sambil turun.
Gerakan mereka cepat meringkus Riyan. Aku panik ikut turun. Aku juga ikut diseret masuk mobil mereka. Aku teriak dan meronta. Tika juga di seret. Aku panik tapi mereka terlalu kuat. Mulutku disumpal dan mataku di tutup. Mobil kemudian berjalan pergi. Tanganku terikat. Aku seperti de javu saat Riyan melakukan ini dulu. Sepertinya dekat dengan cowok itu menempatkanku dalam bahaya. Aku yakin ini salah satu urusan Riyan.
"Happy brithday!!!!!!" Teriak orang orang didepanku.
Ternyata di depanku ada lengkap personel Simpel dan beberapa teman sekelasku. Mereka teman yang sama saat main kerumah Habiba dulu. Riyan membawa kue tart yang sudah tertancap lilin diatasnya. Mendekat kearahku. Mereka bersama sama menyanyikan lagu ulang tahun. Aku terharu saat itu juga. Aku yakin Riyan yang merencanakan ini. Air mataku membanjir. Lagu berubah menjadi tiup lilin. Riyan bilang aku harus membuat permintaan terlebih dahulu.
"Make a wish Sayang." Katanya didepanku.
'Tuhan izinkan dia menjagaku selamanya.' permintaanku dalam hati sambil melihat Riyan yang tersenyum kepadaku. Ki tiup lilin berangka 17 itu. Tepuk tangan menggema.
Pesta kejutan itu berlangsung meriah. Sebenarnya ulang tahunku itu besok. Riyan sengaja memajukannya agar tidak tertebak.
"Pakai acara culik menculik bikin deg degan deh." Protesku pada Riyan. Dia tertawa.
"Biar tegang sayang, serukan kalau gitu. Lagian sama buat aku belajar nyulik orang." Katanya sembarangan.
"Belajar kok nyulik orang. Serem banget." Kataku. Dia malah tertawa. Kami makan siang dengan meriah.
Usai makan siang kami masih nongkrong disini. Teman temanku berbaur dengan personil Simpel. Riyan disampingku, dibibirnya terus mengukir senyum. Kenapa dia begitu manis. Tiba tiba ide gila terpikir olehku. Aku mengoleskan butter cream kepipinya. Dia ingin membalas aku kabur duluan sambil membabi buta mengoleskan cream yang ku genggam di tanganku kepada siapa saja. Perang butter cream terjadi seru di ruangan itu. Kami menjadi pusat perhatian pengunjung lain. Karena jejeritan dan tawa kami. Restoran itu terdiri dari beberapa ruang dan satu ruang ini sepertinya di sewa untuk kami.
Saatnya pulang. Semua orang sudah membersihkan butter ditubuhnya. Butuh banyak tisue untuk kami semua. Satu persatu mengucapkan selamat padaku. Aku bahagia. Tinggal aku dan Riyan. Kami berpandangan cukup lama.
"Ayo pulang Sayang." Katanya. Dia menggandeng tanganku menuju mobil. Ada kotak kecil yang menungguku dikursi penumpang depan.
"Apa ini?" Tanyaku pada Riyan.
"Bukalah. Hadiah kecil untuk pacarku yang cantik." Kata Riyan duduk dibelakang kemudi. Aku membukanya. Berisi sebuah gelang tali dengan inisial 'P' berwarna perak dengan manik hitam ada di tengahnya.
"Aku membuat sketsanya sendiri. Baru kubawa ketukang gelangnya. Ini tidak akan karatan. Kau bisa memakainya sampai kamu ingin melepasnya." Kata Riyan sambil memakaikannya ditanganku.
" kenapa maniknya hitam?" Tanyaku karena kontras sekali dengan kilau peraknya.
"Karena hitam akan menonjolkan warna peraknya. Jika warna lain tidak akan terlalu menonjol peraknya. Seperti bintang malam. Tidak akan terlihat jika bukan hitam warna langitnya." Jelasnya. Aku tersenyum dan memeluknya.
"Makasih yaa. Ini ulang tahun yang indah untuku. Makasih untuk semua kejutan dan hadiahnya." Kataku. Kami masih berpelukan. Dia melepaskan pelukkan.
"Kembali kasih Sayang. Untukmu semua asal kamu bahagia." Katanya. Kami berciuman lagi dalam suka cita. Dia menciptakan pesta seweet seventeen yang pastinya akan kukenang seumur hidupku.