
Aku kembali merebut juara satu saat kenaikan kelas 3. Nilai yang memuaskan karena hanya matematika yang dapat nilai 7. Yang lain diatas 8. Aku puas dan ingin bertahan seperti itu. Mati matian aku belajar siang malam.
Orang tuaku melihat perubahanku. Mereka bangga. Berjanji untuk mengumpulkan uang untuk kuliahku nanti. Aku senang mendengarnya. Tapi aku berjanji pada diriku sendiri. Untuk tidak terlalu merepotkan mereka kelak. Ketika aku sudah ulus SMK.
Simpel berhasil menembus pasar nasional. Album pertama mereka sudah diluncurkan. Foto Riyan dan teman temannya terpampang menjadi cover. Good jobs Simpel. Aku menjadi pendengar lagu mereka. Kebanyakan lagu lama yang aku ciptakan dengan Riyan dulu menggunakan perekam kecil. Lagu lagu itu kini digarap profesional. Aransemennya tak sesederhana dulu. Lagu itu menjadi pengobat rinduku pada Riyan. Walau tiap kali mendengarkan aku harus meneteskan airmata. Aku kangen.
HUT sekolah datang lagi. Kali ini tidak penampilan Simpel. Tidak ada buket bunga mawar merah yang kuterima. Diisi oleh band lokal. Mirip seperti Simpel dulu. Septy duduk disebelahku. Tempat duduk diteras kelas menghadap panggung. Sama seperti saat aku kelas satu menyaksikan Simpel. Tika sudah kedepan panggung untuk melihat band itu lebih dekat.
"Kamu ke inget Simpel yaa?" Tanya Septy. Aku mengangguk.
"Terutama vocalisnya?" Tanya Septy lagi.
"Kenapa putus sih? Apa karena Simpel sekarang di Jakarta?" Kepo Septy. Aku mengangguk saja.
"Karena aku gak bisa ikut ke Jakarta." Jawabku.
"Tapi aku masih sering chat sama Re. Dia baik kok. Maksudnya gak jadi sombong gitu."
Aku kaget. Sejak kapan Septy dekat dengan Re?
"Sejak kapan kalian akrab?" Tanyaku. Septy senyum malu malu
"Sejak pesta sweet seventeen kamu." Jawabnya lirih.
"Kalian pacaran?" Tanyaku lagi. Septy menggeleng
"Mana berani aku mengharap jadi pacar anak band yang lagi booming Put. Dibalas pesannya saja sudah bahagia." Jawab Septy. Aku menepuk punggungnya.
"Jangan berhenti berharap. Kalau jodoh pasti ada jalan untuk bersama." Kataku.
"Lalu kenapa kau dan Riyan malah putus? Bicaramu sudah mirip motifator cinta, tapi cintamu berantakan." Kata Septy skak mat.
'Aku juga masih berharap Sep, tapi sepertinya jalanku lebih sulit'. Batinku. Aku hanya tertawa menanggapinya.
"Ngomong ngomong masalah acara ultahmu kemarin, ada drama sebelum kamu datang lho." Kata Septy lagi.
"Apaan?" Tanyaku kepo.
Kata Septy, Tika datang marah marah karena tak sesuai sekenario yang dibuat. Katanya Riyan sangat menyebalkan. Mereka sedikit adu mulut. Riyan bilang kalau Tika harusnya tahu malu.
"Aku gak tau persis apa yang mereka ributkan. Tapi itu membuat Tika kesal luar biasa." Kata Septy mengakhiri kisah. Aku senyum senyum. Aku tahu persis apa yang mereka ributkan.
"Lagu terakhir, kami akan cover dari band simpel. Asmara Kita." Kata vocalis di depan panggung sana. Septy fokus kedepan melihat band. Intro sudah dimainkan. Aku menghela nafas. Penyanyi sudah melantunkan bait awal. Rasanya dadaku semakin sesak. Air mata juga sudah mendesak keluar. Aku tak sanggup. Bayangan Riyan tersenyum, Riyan yang menyanyi dan berkelakar berputar putar dikepalaku. Aku berdiri menyandang tas. Melangkah kedepan gerbang.
"Put!!! Put!! Putri tunggu!!" Aku menoleh, Septy mengejarku.
"Kenapa?" Tanyaku.
"Eemmmm aduh gimana ngomongnya yaa. Gini aku mau ngasih ini. Dari Re, tapii sebenarnya bukan dari Re. Kata Re ini dariiii..... dariiii.... kata Re kamu jangan sampai tahu. Tapi..... menurutku kamu harus tahu. Kamu akan suka kalau tahu..... ini dikirim langsung dari Jakarta. Katanya aku harus berikan saat HUT sekolah." Kata Septy sambil mengacungkan kotak merah seukuran telapak tangan. Aku mengambil kotak itu.
"Aku ngerti." Kata ku kemudian berlalu.
Aku membukanya sambil menunggu angkot datang. Ini baru jam 12. Aku tidak bisa memberitahu ayah kalau aku sudah pulang. Sampai sekarang aku belum boleh pegang hp.
Sebuah kotak berisi coklat dan permen kenyal berwarna pink putih. Aku tertawa.... teringat beberapa tahun lalu saat masih SMP.
*flash back on*
Pelajaran seni musik yang mendebarkan. Guru seni musik terkenal angker. Suaranya mengelegar kalau marah. Teman temanku lebih anteng diajar dia dari pada guru fisika. Bocah paling bandel pun akan anteng. Bu Is namanya. Guru perempuan bertubuh mungil, tapi pengaruhnya sangat besar untùk kami.
Saat riuh mencari anggota kelompok, Bagas bertanya padaku.
"Kamu dapat apa Put?" Tanyanya sambil malu malu.
"Gitar, kamu apa?" Tanyaku balik.
"Orgen." Katanya sambil menunjukkan kertas undian.
"Uu... udah dapat kelompok?" Tanyanya ragu ragu
"Belum." Jawabku malu. Yaa malu. Kalau itu pelajaran biasa, bukan bersifat seni musik aku pasti dengan mudah berkelompok. Mereka dengan senang hati menjadi kelompokku, tapi ini musik. Temanku sekelas tahu benar aku buta nada. Tidak becus main musik apa pun. Bahkan menyanyi pun suaraku fals. Mereka tidak ada yang menerimaku. Seorang bintang kelas yang dilupakan dalam pelajaran muatan lokal seni musik. Memalukan!!
"Kita bentuk kelompok saja." Kata Bagas sambil meremas ujung kemejanya yang kekuningan dan kusut. Bagas sering menjadi orang terlupakan dikelas. Ia sering tidak dapat kelompok saat pelajaran kelompok.
"Boleh, lalu sisanya siapa?" Tanyaku pasrah pasrah menyerah. Dia menggeleng. Kami lesu dipojok kelas.
Istirahat kedua setelah seni musik yang melelahkan. Aku masih di kelas kebingungan mencari siapa yang bisa kujadikan kelompok. Tapi sebagian besar anak sudah hilang menikmati jam istirahat mereka. Di belakang ada anak anak cowok terkenal bandel. Aku memberanikan diri mendatangi mereka.
"Kamu tadi dapat kelompok belum?" Tanyaku pada Sofian. Disekelilingnya ada beberapa anak lain.
"Udah, punyaku lengkap. Kenapa kamu kelompokan sama Bagas aja berdua. Siapa tahu bisa jodoh. Si pintar dan si bodoh. Kalian belum pernah pacaran jugakan." Semua orang menertawakanku.
"Oke, aku juga cuman nanya. Jangan nyontek pelajaran apa pun lagi sama aku." Kata ku kesal meninggalkan mereka.
Aku berjalan dikoridor sekolah dengan gemetar gemetar kesal. Mereka seperti gak tahu budi. Aku memberikan contekan saat mereka gak bisa, tapi saat aku seperti ini mereka dengan santainya membuangku!!! Sialan. Aku duduk ditaman belakang dengan kesal.
"Kamu belum dapat kelompok musik?" Tanya Riyan ikut duduk disebekahku. Aku menggeleng masih kesal.
"Kamu mau satu kelompok dengan aku?" Tanyanya. Aku memandangnya heran. Yang kudengar dia anak band. Hampir tiap hari memangku gitar dan memainkannya. Banyak cewek yang nempel juga karena dia ganteng. Tadi saja sudah banyak yang ngantri mau satu kelompok dengan dia.
"Jangan ngaco. Kamu tadi udah dapat kelompok kan." Jawabku ketus.
"Aku belum bilang mau satu kelompok sama mereka." Katanya.
"Siapa saja kelompokmu? Kurang berapa orang?" Lanjutnya.
"Baru aku sama Bagas. Kamu yakin mau kelompokan sama kita?" Tanyaku tak percaya.
Dia mengangguk.
"Bisa repot kalo kamu gak mau nyontekin PR sama aku. Hahahaha anggap saja balas budi. Kamu sering ngasih contekan keaku, sekarang aku yang bantu kamu." Katanya. Ternyata dikelas masih ada orang mau balas budi.
"Trus siapa lagi? Cuma bertiga?" Tanyaku.
"Biar aku yang urus. Masalah musik kamu serahin keaku. Masalah pelajaran, aku tetep minta contek kekamu. Oke." Katanya sambil membentuk tanda oke dari tangan.
Dia berdiri, beranjak meninggalkan aku.
"Oh iya, aku punya ini." Katanya menyerahkan satu bungkus coklat dan dua buah premen kenyal rasa strawberry.
"Katanya cewek kalau bete makan yang manis manis biar betenya ilang." Lanjutnya kemudian berlalu. Aku bengong dengan coklat dan permen ditanganku.
*flashback off*
Kini aku memangku benda yang sama yang diberikan Riyan beberapa tahun yang lalu. Jumlahnya lebih banyak dari yang dulu. Dengan kotak merah yang indah. Dia tidak ingin aku bete saat HUT sekolah? Tapi memang benar aku sedang bete. Bukan karena hut sekolah, tapi karena kangen sama dia. Huftttt hatiku pedih.