I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 54



Vila yang disewa Bagas tidak jauh dari danau itu. Ada tiga atau empat bangunan kecil kecil. Rupanya mereka menyewakan secara terpisah. Kami masuk diiringi pemilik vila. Sepi. Mungkin karena hari kerja. Hanya mobil kami yang terlihat diparkiran.


Ada empat kamar dalam satu bangunan vila. Mengelilingi ruang tengah yang hangat. Juga dapur kecil dan dua kamar mandi disamping dapur.


"Nanti kalau mau pakai air panas, ditunggu dulu 10 menit ya Mas." Kata Pemilik vila. Bagas mengangguk. Pemilik vila menatap Riyan sekilas.


"Mas ini...... Riyan Simpel?" Tanyanya ragu ragu. Riyan mengangguk. Pemilik vila bergegas mengambil hp dan berfoto dengan Riyan. Girang sekali dia. Aku jadi senyum senyum sendiri. Benar juga, Riyan itu selebritis sekarang. Dia dikenal diseluruh penjuru negri sebagai vocalis Simpel. Ada rasa bangga menyelip didadaku.


Pemilik vila pergi setelah meminta ijin Riyan memajang fotonya sebagai salah satu tamu yang pernah singgah. Riyan mengijinkannya dengan cepat. Riyan duduk disofa ruang tengah.


"Kemarilah." Katanya padaku. Dia menepuk sofa di sebelahnya. Aku nurut duduk disebelahnya. Bagas memeriksa setiap kamar dan dapur. Dia seperti asisten pribadi Riyan sekarang.


"Carikan kami makan siang Gas. Kalau ada mie atau sejenisnya. Kau masih suka mie kan?" Tanya Riyan padaku. Aku mengangguk.


"Beli juga minuman hangat khusus untuk kita. Terbiasa hidup dikota panas, berada digunung seperti ini membuatku serasa membeku." Kata Riyan lagi. Bagas kembali berlalu tanpa suara.


"Kenapa dia nurut sekali? Berapa banyak kau menggajinya?" Tanyaku. Riyan tersenyum, mendekatkan tubuhnya padaku.


"Karena dia memang penurut. Gajinya banyak, karena pekerjaannya berat." Jawab Riyan.


Dia meluruskan tangannya disandaran sofa dibelakangku. Tangannya semakin diturunkan sampai memeluk pundaku. Dasar buaya!


"Apa modus ini selalu berhasil?" Tanyaku. Dia tertawa. Semakin erat pelukannya dipundakku. Aku juga tidak berusaha melepaskan tangannya. Tawanya masih sama. Bibirnya juga sama. Dia.... masih Riyanku. Bibir kami sudah bertemu. Dia mulai memperdalam ciumannya. Bukan hanya bibir ketemu bibir. Ciuman khas Riyan. Pelan, penuh penghayatan. Lidahnya sudah meringsek masuk. Kami saling hisap dalam tempo yang lambat. Tapi kenapa dadaku tidak bergetar. Aku justru teringat Revan. Aku merasa...... mengkhianatinya. Ciuman ini.... hambar. Padahal aku yakin aku merindukan Riyan. Juga ciumannya.


Aku menyudahi ciuman ini. Riyan nampak kecewa. Kembali mencoba menciumku, tapi aku menolak. Mamalingkan wajahku menjauh. Kalau Revan pasti tidak terima. Dia akan memaksa berciuman lagi dengan berbagai alasan. Aku kangen cara Revan memaksaku.


"Aku mau kekamar mandi." Kataku. Kemudian berlalu. Riyan diam memandang kepergianku.


Aku kembali dalam suasana..... canggung. Riyan sibuk dengan hpnya. Aku juga membuka hpku. Belum ada pesan dari Revan. Aku jadi sedikit.... cemas. Mencoba menelfonnya lagi tidak diangat. Apa Revan baik baik saja? Bagaimana nasib teman temanku. Grub kampus juga sepi...


Bagas kembali dengan makan siang dan beberapa botol minuman berlabel putih yang asing bagiku. Mie ayam yang masih hangat. Air liyurku langsung menetes. Segera kuambil mangkok yang ada di dapur.


"Sepertinya enak." Kataku. Bagas menuangkan mie dalam mangkuk dan meletakkan di depanku.


"Awas panas." Katanya mengingatkan sambil memberikan sendok dan garpu.


"Terimakasih Gas." Kataku. Riyan mencibir.


"Apa Revan selalu manis seperti itu juga? Kau tahu berapa usianya terpaut denganmu? Rugi. Kamu seperti dapat kakek kakek Put." Kata Riyan membahas Revan lagi.


"Dia memang tua, tapi manis sekali sikapnya. Dia.... selalu menunjukkan rasa cintanya dengan perbuatan. Dengan selalu ada disampingku, mendukungku, dan membahagiakan aku." Kataku sambil mengingat Revan. Riyan tertawa.


"Lalu.... kau terima terima saja dengan penampilannya? Tidak bermaksud kasar, tapi... dia lebih mirip copet daripada polisi." Kata Riyan terlalu jujur. Bagas tertawa aku juga. Tidak ada yang bisa aku bela. Revan memang seperti itu.


Kami makan siang dengan canda tawa. Berbicara ini itu dengan santai. Mengingat kenangan kenangan masa SMP. Tentang guru seni musik galak yang memaksa kami membentuk band. Band kacau dengan Riyan sebagai drumer, sekaligus mentor band itu.


"Aku sampai pusing mengajari juara kelas main gitar. Dipakai cara apapun felling ditelinganya mati. Tidak bisa membedakan nada dan fals. Mungkin itu cara Tuhan bersikap adil. Cantik, pintar, tapi sama sekali tidak berbakat dalam bermusik." Kata Riyan. Aku menimpuknya dengan bantal sofa. Bagas tertawa. Riyan melihatku dengan tatapan yang sulit diartikan. Beberapa kali dia menenggak botol minuman keras yang dibawa Bagas.


"Dia masih hidup. Walaupun aku berharap dia mati." Katanya sadis. Aku menepuk lututnya.


"Bicaramu buruk sekali. Kau yang akan mati duluan kalau terus meminum botol botol itu." Kataku. Dia tertawa cekikikan, sepertinya setengah mabuk.


"Aku mati karena cintamu Put. Aku mati karena tersingkir. Aku mati tenggelam dalam lautan bola matamu yang coklat. Aku mati membayangkan mencumbu kulit putihmu." Katanya melantur. Kemudian matanya terpejam pelan pelan. Tertidur entah sangking mabuknya atau ngantuk. Aku jadi bengong bengong gimana. Bagas nyekikik saja.


Bagas berdiri disamping Riyan. Membenarkan posisi tidur Riyan. Memastikan dia tidur.


"Kau tahu kalau Riyan selalu mengawasimu Put?" Tanyanya. Aku mengangguk. Bagas kemudian duduk disofa singgel menghadap kepintu.


"Mengerikan sekali. Bagaimana cara dia mengawasiku selama bertahun tahun?" Tanyaku. Bagas diam, tentu tidak mau menjawabnya.


"Dia tidak bisa melupakanmu. Begitu cemburu saat kamu datang dengan Revan saat reuni. Sebenarnya reuni itu dia yang atur untuk kembali bertemu denganmu. Karena tahu kamu punya pacar. Dia tidak rela kamu punya pacar. Malah hancur berantakan karena kamu bawa cowok. Hahahaha." Bagas tertawa. Aku tersenyum kecut. Persis seperti yang dibilang Tomy.


"Bagaimana kamu bisa menjadi anak buahnya? Kamu tahu dia itu siapa selain vocalis band?" Tanyaku.


Bagas mengangguk. Dia menceritakan pertemuannya dengan Riyan setelah lulus SMP.


"Saat itu aku tidak lulus SMP. Riyan datang kerumahku memberikan makanan dan uang. Saat itu aku dan ketiga adikku sedang kelaparan." Kata Bagas mengawali kisah. Ayahnya berjudi tiada henti. Ibunya hanya bekerja serabutan.


"Riyan datang menawarkan pekerjaan. Sebagai kurir narkoba. Aku tahu itu pekerjaan buruk. Tapi uang yang ditawarkan menepis semua hal hal buruk. Aku hanya tamatan SD. SMP tidak lulus ujian. Mau kerja apa?" Kata Bagas matanya menerawang mengingat masa getir. aku jadi sedikit.... simpati.


"Sejak saat itu Riyan menjadi bossku. Semakin lama Kami semakin dekat. Aku mengikuti Riyan ke Jakarta. Menyalurkan hobynya menjadi anak band. Aku bekerja dibawah Riyan sebagai bandar. Sejak saat itu aku ikut kemanapun Riyan pergi." Kata Bagas panjang lebar. Dia menghela nafas. ikut menenggak botol minuman keras itu.


"Aku sanggup menghidupi dan menyekolahkan adik adiku sampai sekarang. Kalau tidak ada Riyan entah jadi apa aku dan keluargaku. Mungkin saat ini sudah mati kelaparan." Kata Bagas. Aku manggut manggut.


"Satu lagi yang perlu kamu tahu Put..... ini tidak penting, tapii.... aku ingin kamu tahu." Bagas menghentikan kalimatnya. Memeriksa Riyan lagi. Dengkuran halus masih terdengar dari mulut Riyan.


"Seperti Riyan yang menyukaimu sejak SMP. Aku juga menyukaimu sejak SMP." Katanya. Aku bengong....


"Kenapa?" Tanyaku.


"Aku bukan gadis gadis modis berambut lurus. Dengan rok dan baju ketat. Aku cenderung cupu saat sekolah." Lanjutku.


"Karena kamu mempesona dengan otakmu. Dengan kebaikan hatimu. Bahkan saat semua juara satu sombong, kamu justru menyontekkan PR dan tugas pada siswa lain. Dan anehnya kamu tetap jadi juara satu. Kamu itu cantik, walaupun dengan kemeja dan rok standar. Kamu cantik bahkan dengan buku yang selalu kamu bawa bawa. Apa lagi sekarang." Bagas melihat ku dari atas sampai bawah.


"Aku yakin Revan susah payah menjagamu." Katanya sambil senyum. Aku.... jadi salah tingkah gimanaaa gitu. Dia membuatku ge er.


"Aku tidak ingin apapun. Aku hanya ingin kamu tahu. Tidak perlu diingat, tidak perlu dibalas, tapi Riyan benar, kamu makin cantik..... " Kata Bagas. pandangannya tajam melihat keluar halaman.


"Pacarmu datang menjemput." Katanya sambil menunjuk halaman. Aku ikut menoleh, mobil Revan berhenti dihalaman.


"MAMAAAAASSSSSSS!!!!"Teriakku senang sekali.