I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 114



Aku mandi terburu buru. Mengeringkan rambut dengan buru buru lagi. Untung hair dryerku masih ada. Dia gantian mandi. Aku beres memasukkan barang saat dia selesai mandi. Menatapku dengan tatapan kesedihan.


"Jangan melihat seperti itu." Kataku. Aku masih gak sanggup melihatnya bersedih.


"Apa aku boleh memintamu untuk tetap tinggal?" Tanyanya pasrah. Mirip bocah minta permen.


"Tidak, daripada aku sakit tiap kali bersamamu." Kataku.


"Apa aku boleh berjanji untuk berusaha tidak menyakitimu? Aku khawatir padamu, bakatmu terkena masalah dan berada ditempat yang tidak tepat besar sekali." Kata Revan benar. Aku diam sejenak. Bahkan kejadian itu juga bukan salahnya. Aku sendiri yang menyulut bara memukul orang itu dengan payung.


"Aku bisa melindungi diriku. Terimakasih sudah peduli." Kataku dengan keraguan besar.


"Apa boleh aku mengajakmu pergi? Aku mau menghabiskan waktu sebelum benar benar berpisah." Katanya.


"Dengar! Kita ini mau berpisah. Bukan berpisah hanya long distance, tapi berpisah melepaskan hubungan pernikahan. Bukan main main. Bukan juga untuk mainan!!" Kataku gerah dengannya.


"Tapi..... aku masih melihat tatapan cintamu. Aku masih bisa mendengarkan desa**hanmu saat basah. Aku masih merasa kau mencintaiku." Katanya tepat. Aku memang masih mencintainya. Tidak mungkin aku langsung melupakan cinta yang sekian lama menancap kuat dihatiku.


"Itu wajar karena kita bersama terlalu lama. Aku akan belajar untuk melupakanmu." Kataku.


"Turunkan hukumanku Dek. Jangan perceraian. Aku akan menunggumu marah sampai kapanpun, tapi tetaplah jadi istriku." Kata Revan lagi masih berharap. Aku diam tidak menanggapi.


Aku kesulitan mengangkat tas itu. Perutku masih sakit untuk mengangkat barang yang terlalu berat. Dia membantuku setelah mendapat tatapan maut dariku. Tidak biasanya dia begini. Dia seperti mengulur waktu agar kami tetap bersama.


"Aku pulang naik mimin." Kataku karena dia memasukkan tasku dalam bagasi mobilnya.


"Motormu sudah lama tidak dipakai. Aku akan membetulkannya dulu. Kuantar nanti saat sudah benar." Alasan Revan.


"Kalau gitu aku naik taksi saja." Kataku lagi.


"Anggap aku taksimu. Kau bisa duduk dibelakang nanti." Katanya keras kepala.


Aku pamit dengan Bapak. Kubilang kalau tidak usah mentransfer uang hasil mebel lagi.


"Apa sudah putusan bercerai? Belum bukan? Sebelum putusan kamu masih anak Bapak." Kata Bapak sama keras kepalanya dengan anaknya. Biarlah, paling juga beberapa bulan lagi aku mengalah.


"Atau Bapak lebih senang kalau kamu masih kerja disini Nduk. Tidak jadi istri Revan tidak apa, tapi bekerjalah sebagai asisten Bapak." Kata Bapak lagi. Aku menggeleng. Apa rasanya bekerja dirumah mantan suami dan mantan mertua??? Ada ada saja.


Aku duduk diam disamping Revan didalam mobil.


"Maukah kau menemani aku kemakam..... Sa.... Satria? Aku tidak berani kesana selama ini." Kata Revan lirih. Aku mengangguk, mataku sudah mengembun dengan air mata.


Kami pun kesini lagi. Tempat para duka dimakamkan. Berpelukan dalam tangis. Revan meminta maaf dan memohon ampun pada Satria dengan sangat menyedihkan. Sepertinya dukaku yang hanya tersalurkan saat bersamanya. Ternyata segala kesedihannya juga tersalurkan hanya bersamaku.


"Aku tidak berani kesini Dek, tidak berani. Aku takut melihat makam Satria." Katanya setelah tangis kami reda.


"Maafkan Papa ya Nak..." kata Revan. Pecah lagi tangisnya. Aku memeluknya dengan sayang. Ternyata kami hancur dengan cara yang berbeda. Tapi kami sama sama hancur. Lama kami disana.


"Apa dia tampan Dek?" Tanya Revan. Aku mengangguk.


"Dia imud, kecil, dan tampan." Kataku. Aku menceritakan mimpiku saat operasi dilakukan. Tentang wajah seorang anak yang perpaduan kami. Tentang dia yang berlari meninggalkanku.....


"Maafkan aku tidak hadir disampingmu." Kata Revan penuh penyesalan.


Kami meninggalkan pemakaman dan mencuci muka dengan air mineral. Muka sembab kami sangat terlihat.


"Bagaimana cara menghilangkan sembabnya?" Tanya Revan padaku sambil melihat kaca sepion. Dia malu ketahuan menangis lama ternyata.


"Aku sering melakukan sedikit touch up." Kataku. Aku mengeluarkan bedak. Aku bedaki semua bagian wajah yang berkilap karena kelamaan menangis. Biasanya hidung, kelopak mata, dan bawah mata. Mengusap sedikit eyeliner agar mempertajam mata menarik perhatian. Menutup bengkak dimataku.


Revan memperhatikan dalam diam.


"Bagaimana?" Tanyaku saat sudah selesai.


"Wanita, manipulatif." Katanya sambil tersenyum.


"Ini teknik, bukan manipulatif." Kataku.


"Terserah, lakukan yang sama padaku!" Perintahnya. Aku pun mulai mengoles bedak kewajahnya. Muka kami terlalu dekat. Wajah Revan yang berbeda. Licin tanpa jenggot. Dia tambah.... menarik. Aku hampir saja mencium bibirnya. Untung saja tersadar sebelum melakukannya. Dia juga memejamkan matanya. Kalau tidak aku bisa langsung ditagih ciuman gagal itu.


***


Dia mengantarkanku pulang kerumah. Disambut Ibu dan Mbak Sasa dengan ramah.


"Mampir dulu Van, udah lama gak kesini." Kata ibu. Aku tepok jidat. Semakin girang dia bisa mengulur waktu bersamaku. Damar sudah menyeret nyeret Revan menunjukkan mainan barunya. Mbakku melihat mukaku dengan seksama.


"Segeran deh. Lebih ceria. Habis liburan berdua. Benar kata Dipo Bu. Revan itu pawangnya." Kata Mbak Sasa. Ibu manggut manggut.


"Padahal Ibu bertaruh dengan Dipo kalau kali ini Revan butuh waktu lama. Tapi sepertinya tidak. Ahhh Ibu harus beliin Dipo martabak deh." Kata Ibu. What!!! Aku dijadiin taruhan keluargaku sendiri??? Siapa yang somplak!!!


"Ternyata masih cinta Bu, yang kemarin karena butuh perhatian. Cuma gengsinya masih besar." Kata Mbak Sasa.


"Kalian itu ngomong apa?? Aku lho disini. Ngomongnya bikin telinga panas. Gak ada yang berubah dari liburan atau penculikan ini!!!" Kataku sebal. Aku melirik Revan. Dia menanggapi ocehan Damar, tapi aku yakin dia nguping.


Lama Revan dirumahku. Makan siang disini dengan santai. Aku cuwekin dia tetap anteng belum mau pulang. Dasar nyebelin!!! Ayah dan Mas Dipo pulang dari bengkel variasi.


"Eh, AKP Revan, ganteng banget sekarang." Kata Mas Dipo sambil menyalami Revan. Ayah juga menyambutnya dengan senyuman. Ini kenapa orang rumah menyambutnya begitu hangat? Dua bulan yang lalu mereka kompak mengusir Revan. Aku jadi heran sendiri. Bodolah aku kan belum memaafkannya. Aku masih bertekad meceraikannya.


Geng Hello Kitty sudah asik ngobrol seperti tidak terjadi apapun. Aku mandi dan masuk kamar. Kutata baju bajuku dan menyimpan maps dokumenku. Membuka laptop usang dan mulai menulis. Para pembacaku menunggu dengan tidak sabar kelanjutan kisahku. Hedehhh mereka gak tahu hidupku didunia nyata juga tak kalah dramatis.


Dia masuk kamar. Mengambil bajunya yang sengaja ditinggal disini. Bersiap mandi dengan santai.


"Kamu gak pulang? Mau sampai kapan disini?" Tanyaku kasar setengah mengusir.


"Pulang kemana? Ini juga rumahku. Aku bebas disini sampai kapan pun." Jawab Revan santai.


"Tidak!! Siapa bilang ini rumahmu hemm.... ini rumahku. Kita hanya menunggu waktu. Pulang sana." Usirku lagi dengan nada tinggi. Dia sudah akan membuka mulutnya untuk menjawab. Terdengar suara Ayah diruang tengah.


"Revan.... cepat mandi. Ini sudah sore. Masuk angin nanti kalau mandi kemalaman." Kata Ayah diluar kamar. Dia memgangkat alisnya mengejeku. Aku jadi gemetar gemetar kesal sendiri.