
Sekarang katakan siapa saja yang mengaku suka padamu saat SMP." Kata Revan lagi.
"Kau mau tahu sainganmu? Ayolah itu sudah lama. Aku tidak akan kemana mana. Aku disisihmu. Tinggal kau terima syaratku dan semua beres. Kita akan menikah, aku akan menerima gelar baru sebagai Nyonya Revan dengan senang hati." Kataku mengambil kesempatan merayunya.
"Aku bilang jangan melebar keurusan pribadi!" Katanya kesal.
"Sebutkan sekarang!! Ini tidak ada hubungannya dengan lamaranku yang kau gantung!!" Mode galak. Menyeramkan. Dia menyeramkan sekali.
"Aku banyak mendapatkan surat. Dari tulisnnya aku tahu semua surat itu berbeda pengirimnya. Tapi tidak banyak yang mengakui. Hanya Riyan yang berani mengakui dan memegang tanganku untuk pertama kali." Kataku sambil membayangkan adegan beberapa tahun lalu. Ada rasa sesak kembali memenuhi dadaku. Aku teringat senyuman Riyan. Suaranya.... kemudian aroma parfumnya.....
"Apa aku boleh minta minum?" Tanyaku.
"Nanti. Kutraktir minum kalau sudah selsai. Ada orang lain?" Tanya Revan lagi.
"Ingat ingat dengan benar. Tidak harus menyatakan saat SMP itu juga. Mungkin beberapa tahun setelahnya." Lanjut Revan.
"Kalau hanya pernyataan cinta receh harus juga diceritakan ada MC saat reuni yang aku lupa namanya dan..... ada Bagas sesaat sebelum kamu menjemputku di vila." Kataku mengingat ingat. Matanya langsung melotot.
"Haaa kemana Riyan saat dia menyatakan cinta? Mereka bisa baku hantam kalau Riyan tahu Bagas menyatakan cinta padamu." Kata Revan.
"Riyan mabuk, tertidur entah karena lelah atau mabuk." Kataku.
"Lalu, apa yang Bagas lakukan setelah itu?" Tanya Revan.
"Tidak ada. Dia hanya bilang suka. Katanya tidak perlu dibalas dan tidak perlu diingat." Jawabku. Dia berdiri menuju kursiku.
"Lalu?" Tanyanya sambil berdiri memegangi sandaran tangan dikursiku. Aku terdesak mentok bersandar dikursi. Nafasnya hangat menerpa wajahku. Aku merindukannya, dia juga. Aku tahu itu.
"Bisakah kamu mundur Iptu Revan? Ini membuatku mellow karena tidak boleh menciummu, tapi kamu sedekat ini." Kataku. Dia tertawa dan mundur. Duduk lagi dikursinya.
Dia mengulang ulang pertanyaan tentang Bagas mendetail. Apa yang dia katakan per kata harus aku ceritakan ulang. Apa yang dia lakukan setelah itu. Apa yang terjadi pada kami? Apa ada nomer Bagas. Dan bagaimana caraku menghubunginya.
"Mana aku tahu cara menghubunginya. Kau bisa cek dihpku kalau gak ada kontak dia dihpku." Jawabku.
"Lalu bagaimana cara kalian berhubungan?" Tanya Revan ngeyel.
"Berhubungan apa Mamas, berhubungan yang bagaimana!!!!???? Aku tidak pernah berhubungan dengan Bagas dalam bentuk apapuunn!!!" Jawabku jengkel.
Pertanyaan terus diulang sampai aku bosan. Aku yang ditanya sudah bosan, Revan yang menanyai sepertinya belum bosan. Dia tetap santai dan cool. Sepertinya memang seperti ini cara mereka bekerja.
"Aku sudah katakan berkali kali!! Tidak ada yang dia lakukan. Tidak pernah mengajakku bertemu!! Aku terakhir ketemu dengannya saat penyekapan. Kamu tahu itu!!!" Kataku ngos ngosan. Emosiku sudah tidak terkendali karena setres. Berada diruangan kotak, gelap, sempit, dengan seorang polisi ngeyel.
"Oke tenanglah. Aku akan kembali." Kata Revan dengan nada datar. Kemudian beranjak meninggalkan ruangan ini.
"Apa aku bisa keluar?" Tanyaku sebelum dia menutup pintu. Dia menggeleng.
"Belum, tunggu disini." Kata Revan.
Lama lagi aku menunggu. Tidak ada yang bisa dilakukan. Hanya ketegangan diruangan gelap tanpa jendela ini. Ada kaca besar menempel didinding. Aku yakin itu kaca satu arah.
Pintu terbuka. Ine masuk membawa berkas mirip yang dibawa Revan. Mukanya sudah sinis abiss.
"Apa yang dilakukan wanita cantik diruang introgasi. Kau mirip tersangka sekarang." Kata Ine.
"Mana aku tahu kenapa aku disini. Aku merasa tidak salah, tapi ditanya tanya dengan pertanyaan bodoh." jawabku gak kalah ngegas.
"Mana mungkin orang tidak bersalah disini. Mungkin kau kaki tangan penjahat." Katanya.
"Ah, Nona Polwan, hidupku terlalu menyenangkan. Untuk apa aku menjadi kaki tangan penjahat." Jawabku santai.
"Baik, jawab pertanyaanku kalau begitu." kata Ine.
Dia kembali mengulang pertanyaan tentang Bagas. Aku masih menjawab sama. Berkali kali dilakukan. Aku sampai bosan.
"Aku sudah katakan! Aku sudah katakan pada Revan, sekarang padamu!!! Apa belum cukup?" Tanyaku kesal. Ine mengangguk.
"Memalukan, seorang kekasih perwira polisi secerdas Revan selalu saja terlibat masalah." Kata Ine mengejek.
"Kau bahkan menggantung lamarannya seakan kamu adalah wanita paling cantik didunia." Lanjut Ine ngajak ribut. Dia mulai mencampurkan urusan pribadi.
"Aaaa kau mencampur urusan pribadi sekarang. Baik, maafkan aku mengatakan ini. Apa kau iri? Apa kau iri aku masih dicintai Revan bahkan saat aku selalu terlibat masalah? Apa kau iri karena sudah ada di sampingnya lama, tapi hanya dianggap adik? Apa kau bermimpi bisa menikah dengannya? Menikmati ciumannya yang lama dan nikmat seumur hidupmu?" Tanyaku. Dia mau membuka mulut tapi aku dahului.
"Dengar nona polwan, aku kasihan padamu yang selalu menepuk angin. Jika kau mengidolakan Revan sebagai pria terbaik, maka kuberitahu. Revan mu itu bahkan tidak sempurna menurutku. Kami sama sama tidak sempurna, tapi saling melengkapi dalam ketidak sempurnaan. Cari laki laki yang mampu mencintai dan melengkapimu. Yang memberi cinta sama besar dengan yang kau berikan. Kau.... aku.... dan semua wanita didunia ini berhak untuk dicintai dan disayangi. Bukan hanya memberi tapi menerima. Didunia ini ada jutaan laki laki dengan berbagai jenis. Kau tinggal pilih. Jangan terpasung pada Revan yang jelas sudah berpaling darimu. Kalau kau benar tidak bisa mencari lelaki yang mencintaimu, maka MAINMU KURANG JAUH DAN KOPIMU KURANG KENTAL!!!" Kataku dengan sangat menekankan kalimat terakhir.
"Oh ya... mungkin kamu perlu sadar diri Nona Polwan, kenapa Revan memilihku. Mungkin great kita kejauhan dan kita tidak selevel." Kataku balas mengejeknya.
Dia berdiri dan menampar pipiku. Aku berbalik menamparnya. Kami saling mencengkeram rambut masing masing. Dia berusaha memukul mukaku. aku menangkisnya. Revan masuk dengan beberapa temannya memisah kami.
"Wow wow wow. Menyeramkan. Ketika dua betina ini disatukan. Ini lebih menyeramkan dari filem horor sekalipun." Kata Boby.
"Tutup mulutmu Bob. Jangan campuri urusan kami. Kita belum selesai!!" Kata Ine masih belum terima. Matanya lekat menatapku. Aku tidak bisa bergerak dipegangi Revan. Dia mencengkeram kedua tanganku dibelakang tubuhku.
"Ayo selsaikan Nona Polwan. Ayo selsaikan. Aku sama sekali tidak takut dengan mulut jahatmu dan tamparanmu!!!" kataku tidak kalah sengit.
"Sudah diam semua!! Boby, bawa Ine pergi dari sini!!" Perintah Revan. Boby dan dua temannya menarik paksa Ine keluar dari ruangan. Revan melepaskan cengkeramannya. Mumeriksa pipiku yang bekas ditampar Ine. Dia bungkam, kemudian berlalu begitu saja.
"Tetap disini Mas, temani aku." Kataku pada Revan. Dia hanya menoleh sejenak.
"Mamas aku mohon untuk temani disini." Kataku sambil menggenggam tangannya. Dia masih bungkam dan berlalu melepaskan tautan tangan kami. Aku sendiri lagi diruangan ini. Kutendang kursiku sampai mentok di ujung tembok.
"Sial*n, Brengs*k, se*tan!!!" Makiku entah pada siapa.