
Aku keluar kamar mandi. Revan sudah tidak ada. Terserahlah semakin bagus kalau dia tidak terlihat. Aku berdandan pakai baju pink khas. Menyanggul sederhana rambutku. Mengambli sepatu di rak. Tidak lupa dengan tas semi formal hitam. Sebenarnya malas malas gimanaa gitu. Aku gak terlalu bisa bergaul. Apa lagi dengan orang orang baru.
"Revan mana Pak?" Tanyaku pada Bapak sambil pakai sepatu diteras.
"Lah, belum pamit kamu? Masalah kalian belum selesai?" Tanya Bapak lagi. Aku diam. Selesai belum sebel nambah Pak. Batinku.
"Tadi dia terburu buru. Katanya tugas penting. Dia bilang gak akan pulang malam ini." Kata Bapak setelah aku bungkam. Aku manggut manggut mencium tangannya.
"Pamit dulu Pak." Kataku. Bapak mengangguk.
"Kamu cantik kalau pakai baju gitu. Terlihat dewasa." Kata Bapak.
"Memang biasanya terlihat anak anak?" Kataku sambil tertawa.
"Terlihat muda saja. Kamu terlihat lebih muda dari usiamu Nduk. Kalau jalan sama Revan yang acak acakan rasanya gak percaya kalian suami istri." Kata Bapak. Aku tertawa.
"Pergi dulu Pak." Kataku. Anakmu sudah sedemikian rupa kubuat rapi Pak, dia sendiri yang mau acak acakan. Batinku.
Aku datang digedung pertemuan itu. Kebanyakan bermobil rupanya. Aku bingung gak punya teman. Istri Pak Sidiq mendekat. Kami cipika cipiki.
"Aku pangling biasanya penampilanmu kaya anak SMA Put. Sekarang terlihat lebih dewasa." Kata Bu Nirmala. Aku mesem saja. Ngekor dibelakang dia sepanjang acara. Wanita anggun yang baik hati. Aku teringat sosok peri dimajalah anak anak kesukanku dulu. Mirip. Apalagi baju si peri juga pink begitu. Hahaha.
Beberapa orang mengangguk hormat pada Beliau.
"Kenalkan, dia Putri istri Iptu Revan Aji. Anaku." Kata Bu Nirmala pada beberapa orang. Aku tertolong dari mati gaya diacara baru. Bu Nirmala menyelamatkanku. Beberapa orang mengajakku ngobrol dengan ramah. Walaupun aku tahu beberapa diantaranya hanya peres. Hahaha hal biasa diantara perkumpulan wanita dimanapun. Didepan saling senyum, dibelakang saling mencibir. Aku tidak perduli. Asal jangan tunjukkan cibiranmu didepanku.
"Ayo nyalon bareng Put. Udah lama aku pingin nyalon bareng sama kamu." Ajak Bu Nirmala.
"Boleh, kayaknya asik juga. Mau nyalon dimana Bu?" Tanyaku.
"Salon yang dulu buat perawatan kamu sebelum nikah itu langgananku. Gimana? Revan suka dengan perawatanmu disanakan?" Tanya Bu Nirmala.
"Kok Revan?" Kataku cemberut. Lagi males denger nama itu.
"Lah, perawatan pra nikah kan untuk suami Put." Kata Bu Nirmala.
"Hah, benar juga." Kataku jengah. Aku perawatan habis habisan, taunya dapat bekas.
"Kalian serasi. Satunya pendiam dan tertutup satunya cerewet dan mirip buku terbuka suasana hatinya. Hahahaha. Ada apa? Kamu bertengkar dengan Revan?" Tanya Bu Nirmala. Aku bengong. Apa seterlihat itu aku ada masalah???
"Hanya masalah kecil Bu." Jawabku.
"Apa? Apa masalah pertama kalian? Aku penasaran." Kata Bu Nirmala sambil nyekikik.
"Apa Bu Nirmala kenal Nada?" Tanyaku asal.
Jawaban yang kuterima gak asal. Bu Nirmala kenal Nada. Pak Sidiq awal dekat dengan Revan saat beliau menjadi dosen tamu di Akpol. Sejak semester empat, awal kepindahan pendidikan Revan dari Magelang ke Semarang.
"Revan menjadi murid favorit Sidiq. Katanya Revan mengingatkannya pada teman lama. Cerdas, jeli, pendiam, tepat. Kemampuan menembaknya juga sama bagusnya. Saat libur semester Revan diperkenalkan kepadaku. Aku juga menyukainya. Revan seperti anak lelaki untukku. Dia tak punya Ibu, aku tak punya anak. Sejak saat itu dia selalu mampir rumah saat liburan semester." Cerita Bu Nirmala.
"Lalu Nada?" Tanyaku penasaran. Bu Nirmala tersenyum sambil mengamatiku.
"Sabar Sayang, ini Ibu lagi mau cerita." Katanya. Aku jadi malu terlihat begitu kepo.
"Nada beberapa kali diajak kerumah saat liburan semester. Ibu tahu mereka saling mencintai. Tapi menurutku Nada itu terlalu posesif." Kata Bu Nirmala.
"Lalu apa masalah kalian berhubungan dengan Nada?" Tanya Bu Nirmala.
Aku menceritakan pertengkaran Revan dengan Nada dikantor. Kalau mantan pacarnya itu tidak terima kami menikah. Aku menutupi tentang 'virgin' yang dipertengkarkan. Kemudian pertengkaranku dengan Revan tadi. Bu Nirmala justru tertawa saat aku bilang Revan mau dua istri.
"Aku bisa menjamin 95% Revan bukan tipe seperti itu. Dia hanya berkelakar mungkin. Jika itu terjadi, aku yang akan berdiri didepanmu untuk menampar Revan duluan. Masa lalu tetap jadi masa lalu Sayang. Kamu masa depan Revan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Mungkin butuh dibicarakan lagi. Jangan terbawa emosi dulu." Kata Bu Nirmala sambil memegang tanganku. Tapi aku kecewa Bu.... Revan yang terlihat sempurna ternyata seperti itu. Batinku saja.
Acara berakhir. Aku pulang dengan janji perawatan salon dengan Bu Nirmala.
"Hubungi Ibu kalau ada apa apa. Revan itu anakku dan kamu juga anaku sekarang." Kata Bu Nirmala sambil memelukku.
Pulang kerumah sudah sore. Pekerjaanku menggunung tinggi tinggi sekali. Entah pekerjaan diteras atau pekerjaan rumah. Ganti baby doll aja biar enak. Aku berjibaku dengan pekerjaan sampai malam. Makan malam berdua sama Bapak. Kemudian masuk kamar. Sepii....
Aku kangen dengan orang yang paling aku sebel saat ini. Kupandani foto prewed kami yang terpampang di dinding kamar. Foto saat kami berpangkuan. Dulu benar benar terpasang di gedung saat resepsi. Kurebahkan diri dikasur. Aroma shamponya tertinggal dibantal. Minimal ada wangi wanginya orang itu. Aku jadi senyum senyum sendiri.
Kubuka hp. Ada grub baru bertengger minta konfirmasi. Aaaaa Septy dan Habiba serius ngadain reuni kecil kecilan. Tika juga ada di grub. Kami heboh merencanakan reuni sampai mataku mengantuk. Revan tidak mengirim chat apapun. Terakhir terlihat tadi pagi. Aku kangeeeeennnn. Kalau dilogika memang Revan bukan buaya yang mau istri banyak. Bu Nirmala benar, tapi dia tetap bekas....
***
Pagi datang. Alaremku berbunyi berisik. Biasanya ada yang mematikan. Mana tukang matiin alarem? .....Kosong..... dia tidak pulang semalam. Kubuka hp ada pesan darinya.
'Aku gak pulang ya Dek, nanti siang sudah sampai rumah kok. Kita bicara baik baik yaa... Sumpah, aku susah konsentrasi kerja kalau kamu kayak gini.' Pesannya. Tidak kubalas. Aku bergelut dengan aktifitas pagiku.
Bapak mau ambil kayu hari ini. Katanya akan sampai malam dijalan.
"Kalau kamu takut sendirian, pulang kerumah Ibu dulu. Atau mau Bapak antar kesana dulu sebelum Bapak ambil kayu?" Tawar Bapak padaku. Aku menggeleng.
"Nanti Revan akan pulang siang, Pak." Kataku. Bapak tertawa.
"Kalau lagi marahan panggil nama yaaaa.... gak 'Mamas'." Kata Bapak menegaskan kata mamas. Aseemmm aku dirosting mertua.
"Kalau sebel banget aku panggil dia kulkas Pak." Kataku. Tambah ngakak lah Bapak.
"Kenapa Kulkas?" Tanya Bapak.
"Karena cuma kotak, dicolokin listrik.... dingin. Udah, mirip banget sama dia. Dingin, diem gitu aja." Kataku. Bapak tertawa sampai batuk batuk.
"Ada ada aja kamu Put Put. Bapak harap kulkasmu cepet pulang. Nanti kalau sampai sore belum pulang, suruh Joko atau siapapun nganteri kamu pulang kerumah Ibu. Bapak pergi dulu yaa Nduk." Kata Bapak. Aku pun mencium tangannya.
Yang ditunggu tunggu pulang. Matanya merah menahan kantuk. Langsung nyelonong masuk kamar. Capek banget kayaknya. Aku mengikutinya. Agak kasihan melihat mukanya yang capek abis.
"Mau kubuatkan sesuatu?" Tanyaku. Dia tengkurap dikasur tanpa melepas sepatunya. Berbalik menatapku.
"Kemarilah...." Katanya sambil mengerakkan jarinya mengkode mendekat. Aku duduk ditepi kasur. Dia menyergapku. Melucuti bajuku secepat kilat. Aku lupa kondisi seperti ini napsunya besar. Aku menyesal mengikutinya.
Bajuku sudah berserakan. Keringat membasahi aku dan dia. Aku lemas. Dia menyalakan ac disuhu paling dingin. Revan mencium pipiku.
"Temani aku tidur sebentar. Aku minta maaf untuk apa yang kamu dengar kemarin. Aku mencintaimu. Dan berjanji kamulah satu satunya." Katanya sambil memelukku. Aku percaya itu. Aku hanya kecewa dia menyembunyikan fakta virgin itu. Baru mata ini terpejam. Ada yang mengetuk pintu.
"Mas, Mas Revan ada yang cari." Suara Pak Joko. Dia bangkit. Menyelimuti aku. Memakai baju dan celana dengan asal. Kemudian keluar kamar.
"Pak... eh anu....." Suara Boby sepertinya. Tidak kudengar lagi karena dia menutup pintu.