I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 102



Aku rutin meminum obat yang dokter berikan. Dengan hitungan khusus. Semoga usaha ini membuahkan hasil. Aamiin.


Revan menerima seorang admin wanita yang menggantikan tugas adminku. Aku tinggal bantu bantu Bapak cari orderan dan ngecek produk jadi. Dia juga akan memperkerjakan seorang asisten rumah tangga.


"Aku gak butuh asisten rumah tangga Mas. Admin saja sudah cukup." Kataku protes.


"Enggak, pekerjaan rumah juga menyita waktumu. Ingat kata dokter. Kamu harus mengurangi kegiatan." Sanggah Revan.


"Gak papa nambah asisten Nduk, kamu bisa fokus dimebel dan gak capek. Bapak setuju tambah asisten." Kata Bapak. Akhirnya aku mengalah dengan syarat asistennya pulang pergi. Gak nginep.


Admin baru itu datang senin pagi dengan gugub. Tatapan Revan sudah mengintimidasi. Dia duduk didepan Revan dengan canggung.


"Siapa namamu?" Tanya Revan santai tapi mode polisi introgasi.


"Alya Pak." Kataya takut. Bapak sama aku yang mendengar sudah senyum senyum. Semakin terlihat takut menghadapi Revan, semakin dia senang menjadi menakutkan. Begitulah Revan. Jahil.


"Aku dengar kamu masih sekolah?" Tanya Revan.


"Masih Pak, saya kuliah sore." Jawab Alya.


"Mau gaji berapa?" Tanya Revan. Masih dengan mode galak. Kadar jahilnya meningkat.


"Sama dengan gaji admin sebelumya gak papa Pak." Kata Alya.


"Gak mungkin, admin sebelum kamu gajinya mahal. Dia membayar dengan seumur hidupnya tidur denganku." Kata Revan mirip penjahat kela*m1n. Alya sampai terlonjak, mukanya pucat pasi.


"Mas, udah!!! Anak orang takut itu." Kataku gak tahan lagi.


"Udah jangan dengerin dia. Aku admin sebelum kamu. Aku istrinya. Namaku Putri, salam kenal." Kataku sambil mengulurkan tangan. Alya ragu ragu menjabat tanganku. Tangannya sudah dingin. Bapak sudah tertawa dari tadi.


"Santai saja Al, semakin kamu takut, semakin Revan suka." Kata Bapak, kemudian berlalu menuju para pegawai. Aku menarik Revan berdiri dari kursinya.


"Kerja sana!" Kataku sambil mencium tangan Revan. Dia berlalu sambil cengar cengir.


"Tadi hanya shok terapi Al, aku aslinya baik kok." Kata Revan kemudian berlalu.


Aku mengajari Alya. Dia bukan orang yang bodoh. Lumayan cerdas juga. Tapi terlalu pendiam dan pasif. Mirip Revan jaman dulu. Iya jaman dulu.... sekarang dia lebuh banyak tersenyum dan bicara. Walaupun mungkin hanya berlaku untukku.


Asisten rumah tangga yang baru juga datang.


"Nama saya Marni Mbak." Katanya memperkenalkan diri. Seorang wanita setengah baya dengan penampilan sederhana. Dia kemudian kuajari SOP dirumah ini. Semua yang boleh dan tidak.


"Sebenarnya tugas rumah sedikit Bude, kalau sudah selesai boleh pulang." Jelasku. Beliau manggut manggut mengerti.


***


Tiga bulan kondis seperti ini. Aku makin mahir menghadapi masalah mebel. Sering bertemu Diki juga karena dia pemasok utama kita sekarang. Kami juga bertemu dibeberapa acara untuk pebisnis kecil.


"Bu CEO Ajilis datang juga." Kata Diki saat kami bertemu diacara UMKM.


"Haaa bahasamu ketinggian Dik, aku cuma pegawai." Kataku.


"Aku juga cuma anak bawang yang beruntung ayahnya punya bisnis. Kita sepertinya bisa berteman. Sama sama bocah ingusan dalam berbisnis." Kata Diki. Lumayanlah.... Diki memang teman yang asik. Aku jadi gak kesepian dalam acara seperti ini.


***


Ine juga beneran dekat dengan Nando. Mereka berpacaran. Revan yang kalang kabut. Dia takut Nando menyakiti Ine.


"Dia adiku. Baru pertama ini pacaran. Jangan membuatnya terluka atau menangis. Kalau sampai itu terjadi, kau berhadapan denganku!!!" Ancam Revan pada Nando. Yang diancam cengar cengir saja.


Minggu dirumah Ibu. Revan duduk sambil mengawasi hpnya. Laporan kencan Nando masuk baru saja. Dia mengamati foto Ine mendetail. Entah latarnya entah apanya. Yang jelas dia tidak mau dikibulin. Aku membayangka betapa susahnya jadi Nando. Hahahaha.


"Kamu kok pucetan Nduk?" Tanya Ibu padaku. Aku emang agak masuk angin karena beberapa hari ini padat urusan. Sering terasa mual.


"Mau Ibu kerokin?" Tawar Ibu.


"Gak mauuuuu.... sakit." Jawabku cepat. Mbakku langsung ketawa.


"Kerokan Ibu emang sakit, tapi cepet sembuh." Kata Ibu.


"Enggak, bekasnya seminggu baru hilang, trus njarem lagi." Kataku. Mbakku mengacungkan jempol. Kami lagi masak telur balado, kangkung saos tiram, dan pisang goreng. Sebentar lagi Mas Dipo dan Ayah pulang. Revan anteng kalau begini. Teman gengnya belum pulang hahaha.


Baru saja kupukirkan, suara motor mereka terdengar. Revan langsung berdiri menyambut.


"Weeee Bapak AKP Revan tambah montok aja." Kata Mas Dipo.


"Susunya cocok walaupun tidak dinikmati tiap hari." Suara Revan membuka aib. Mereka tertawa. Sudah... geng Hello Kitty akur duduk diteras. Aku bawa pisang goreng yang masih mengepul dihadapan mereka. Menyalami Ayah dan Mas Dipo. Tiba tiba perutku mual karena aroma keringat Mas Dipo dan Ayah.


"Kalian kok bau banget sihh!!" Kataku. Tiga laki laki itu bengong. Aku lari kekamar mandi untuk muntah.


Revan mengikutiku. Memijat tengkukku dengan lembut. Ibu dan Mbakku juga heran.


"Udah sering begitu?" Tanya Ibu. Revan mengangguk.


"Dia selalu gak tahan nyium bau keringat akhir akhir ini Bu. Aku pulang juga harus mandi baru mendekat." Kata Revan.


"Udah tes pack?" Kata Ibu dan Mbakku bersamaan.


"Tahu gitu nitip Bu, gak keluar nafas buat omong." Mbakku Ketularan somplak suaminya.


Aku baru ingat dokter mengganti obat terapi dengan vitamin saat kontrol terakhir. Dan aku juga belum bulanan padahal sudah tiga minggu lebih!!! What??? Apa ini berita baik??? Revan menyodorkan minum. Mas Dipo mendekat mau mandi. Aku langsung tutup hidung.


"Berasa truk sampah lewat aku." Kata Mas Dipo. Semua orang tertawa.


Pulang dari rumah Ibu aku beli tes pack berbagai merek dan jenis. Aku tidak sabar menunggu besok pagi. Revan sepertinya juga tidak sabar.


"Apa bisa digunakan setelah pulang? Atau mau kedokter saja sekalian?" Tanyanya. Aku menggeleng.


"Tes pack saja dulu, nanti hasilnya gimana baru kedokter." Kataku. Dia mengangguk. Aku mau segera tidur agar pagi cepat datang.


Saat ditunggu pagi seperti datang lebih lama. Aku mencelupkan semua tes pack itu. Berdebar...... seakan lama sekali. Beberapa tes pack berubah warna. Revan tidak sabar ikut masuk kekamar mandi.


"Gimana Dek?" Tanya Revan. Aku mengambil satu. Garis dua!! Mataku sudah mengembun karena air mata. Revan ikut mengambil satu satu tespack itu.


"Hampir semua garis dua Dek!!!" Katanya girang. Kami berpelukan. Kita berhasil..... kita berhasil.....!!!!


Aku dilarang keluar kamar. Tidak boleh memasak seperti biasa. Kami langsung sibuk mencari dokter kandungan dengan jadwal terdekat pagi ini.


"Ini Mas, nanti jam 9. Masih ada yang kosong nomer antriannya." Kataku. Dia manggut manggut. Mengutak atik hp untuk ijin dari kantornya. Sejarah baru terukir. AKP Revan Aji ijin dari kantornya. Dia menghujani aku dengan ciuman pagi ini.


Bapak yang tahu pertama langsung sujud syukur. Langsung aku ditanyai mau makan apa? Sigap mengambil kunci motor. Aku jadi terharu.


"Putri gak pingin apa apa kok Pak." Kataku.


"Gak pingin sarapan apa gitu Nduk? Apa bilang? Nanti Bapak carikan. Makan apa yang terlintas dipikiranmu." Kata Bapak.


"Aku jadi membayangkan soto daging dekat kantornya Mamas Pak. Enak gitu berasap panas." Kataku. Betapa terharunya saat mereka berebut membelikannya. Kali ini Revan kalah. Mbah kakung lebih ngoyo.


"Aku Mbahnya kamu Bapaknya. Semua harus sama Mbahnya dulu baru Bapaknya. Mbahnya masih bisa ini." Kata Bapak buru buru pergi.


"Aturan macam apa Itu Pak." Revan protes tapi tidak didengar. Revan kembali menghujaniku dengan ciuman.


"Mandi yuk, aku mandiin. Habis itu sarapan dan berangkat." Kata Revan.