
Aku sudah janjian sama Revan. Dia akan menjemputku ketika jam kuliahku usai. Hari ini kami akan muter muter sampai pusing di kota ini. Hahahaha. Menyebar undangan mungkin akan butuh waktu seharian sampai malam nanti. Undangan luar kota sudah kukirim dari kemarin. Siapkan tenaga dan stamina karena ini melelahkan.
Tomy keluar kampus bareng aku. Kami mendiskusikan tugas terakhir sambil jalan. Aku sekarang jarang sekali punya waktu sama Tomy buat ngobrol. Revan mengalihkan duniaku. Hahahaha aku terlalu lebay sepertinya. Kulihat mobil Revan terparkir tak jauh dariku. Orangnya sudah keluar melambai kearahku.
"Oww, di jemput Pak Guru...... makanya sumringah." Kata Tomy sinis. Mereka memang masih tidak bisa akur. Aku jadi malas menceritakan hubunganku dengan Revan yang sudah naik level dari kemarin kemarin.
"Kaya juga guru honorer bisa punya mobil." Kata Tomy masih sinis.
"Kalian ini kenapa sih? Gak bisa akur. Pusing aku tuh. Satunya sinis satunya nyolot. Punya masalah apa kalian ini sebenarnya?" Kataku heran. Revan tidak sabar menunggu dia mendekat kearah kami. Tidak Revan yang biasa. Dia mencium pipiku sekilas saat bertemu. Pamer kepemilikan sama Tomy. Tomy kaget bengong sesaat.
"Ayo pulang sayang, jadwal kita padat." Kata Revan sambil melingkarkan tangannya dipundakku. Pamer kepemilikan belum usai.
"Kalian jadian?" Tanya Tomy heran. Seperti jadian kami adalah kejadian mendaratnya UFO dibumi.
"Siapa yang bisa menolak pesonaku." Kata Revan sok keren. Merangkul pundakku lebih erat dan menggiringku menuju mobil. Aku menoleh sebentar melambai ke Tomy. Yang dilambai masih bengong seolah tak percaya. Hahahah apa seaneh itu aku jadian sama Revan??? semoga Tomy tidak marah karena aku belum cerita apapun. Lagi pula dia kan teman yang sangat pengertian selama ini.
Bukan Revan namanya kalau tidak uyel uyel manja dulu ketika bertamu denganku dan ada kesempatan. Aku sudah mendorong mukanya dua kali mengelak ciumannya yang panjang tiada henti. Dia belum juga puas menciumiku.
"Udah ayo berangkat." Kataku berpaling dari mukanya. Masih menghimpit tubuhku antara sandaran jog dan dadanya.
"Satu kali lagi, kemudian kita berangkat." Katanya masih nego lagi. Sudah kembali menyerang dengan bibirnya. Ini orang sepertinya ketagihan bibirku dalam tahap akut. Aku sudah kegerahan karena efek ciuman yang terlalu lama. Dia menghentikannya saat nafas kami mulai pendek pendek. Mengakhiri dengan menciumi sekeliling leherku kecil kecil. Aku menggeliat karena kegelian.
"Kenapa kamu wangi?" Tanyanya. Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku wangi. Sekarang sudah dihisapnya habis wangi tubuhku.
"Aku suka wangimu." Katanya. Sudah mau nyosor lagi. Aku menahan mulutnya dengan jariku.
"Lain kali kencan pakai motor." Kataku. Dia tertawa.
"Lama lama aku tidak kuat menunggu. Aku bisa kurang ajar sama kamu." Katanya lagi.
"Ya jangan!! Lebih dari ini aku akan menamparmu." Ancamku sungguh sungguh.
"Ampun Nona ampun." Jawabnya sambil mengatupkan kedua tangan. Sudah menjauhkan tubuhnya dari tubuhku. Baru menjalankan mobilnya setelah bibirku lecek.
Benar dugaanku. Kami sampai malam masih di jalan. Ketemu Bulik, Paklik, Bude, Pakde, dan beberapa sepupu. Gak enak juga kalau langsung cabut. Apalagi bawa Revan yang ditanya ini dan itu. Kami mampir bosa basi, mampir bosa basi sampai pegal sendiri. Berhenti sebentar untuk makan malam. Revan masih segar bugar. Orang ini kaya gak punya capek. Sekarang saat kenyang dan capek seperti ini kelopak mataku memberat. Mataku sudah mengantuk. Beberapa kali menguap.
"Tidurlah, nanti kalau sampai rumah aku bangunin." Kata Revan meliriku.
"Hummmm." Kataku sambil memejamkan mata. Aku tertidur saat perjalanan pulang.
Badanku seperti melayang. Sayup kudengar suara ayah. Revan tidak membangunkanku, tapi menggendongku masuk rumah. Kemudian aku dibaringkan ketempat tidur dengan lembut. Dia juga melepas sepatuku. Aku setengah sadar tapi malas bangun. Ya sudah merem saja. Toh sudah sampai rumah, bahkan sudah sampai kamarku. Enak sekali kalau dimanja seperti ini.
"Kasian Pak, dia pasti capek. Gak berat juga.... saya pamit pulang ya Pak, Ibu." Kata Revan sambil keluar kamarku. Mataku berat sekali. Aku jatuh kealam mimpi.
Paginya alaremku berbunyi seperti biasa. Kumatikan kemudian mencari cari benda paling penting dihidupku. Bukan hp, bukan uang, atau kunci brankas. Tapi kacamata silinder dan minus yang cukup tebal. Benda wajib yang setia menemaniku. Aku menemukannya disamping tempat tidur. Setelah kakak pertamaku menikah, aku tidur sendiri. Kakaku yang kedua pindah kamar kosong yang ditinggal pemiliknya menempuh hidup baru. Dirumah ini ada tiga kamar kecil kecil.
Kemudian ritual kedua bangun tidur adalah buka hp. Kulihat ada pesan dari Revan.
'Aku membelinya setelah dua jam bingung memilih sambil berdesakan dengan emak emak. Tolong diterima' pesannya. Apa??? Aku bingung. Kulihat dikamar tidak ada bungkusan hadiah yang belum dibuka. Aku duduk dan mengambil tasku. Apa diselipkan kedalam tas? Ada yang aneh dileherku. Aku merabanya. Sebuah kalung berliontin peri menari balet dengan sayap full manik manik berwarna warni. Kaki peri itu memanjang lurus dengan cantiknya. Dan yang paling menarik adalah sayapnya dengan manik manik berpendar warna warni dari pink, biru, ungu, hijau. Indah sekali!!!
Aku sampai bengong melihatnya. Bagus sekali!!!!. Aku bercermin sambil senyum senyum. Waaaa ini dalam rangka apa aku dapat hadiah seindah ini? Ulang tahunku sudah terlewat lama. Kapan dia memberikannya? Saat aku tertidur dimobil kah? Ahhh bodolah yang penting aku senang.
Aku mengetik pesan balasan.
'Terimakasih untuk perinya yang cantik. Ini bagus sekali. Aku senang.' Ketik ku dengan emoti love dimata berderet deret. Tidak dibaca. Aku lihat terakhir aktif tadi dini hari. Mungkin dia tidur.
Sampai siang belum ada balasan apapun. Aku sudah diberondong Tomy pertanyaan dikampus.
"Kapan jadiannya? Pelit ih, gak ngajak makan makan. Trus kok kamu mau sama dia? Kan tua. Seleramu itu jelek. Hahaha." Katanya.
"Sadis deh.... kamu. Dia itu kaya kasur awan yaa. Lembut, nyaman, tenang." Pujiku pada Revan.
"Perumpamaan yang aneh. Kamu jadi ketularan aneh kayak Dia." Kata Tomy sewot.
"Eh, SMP angkatan kita mau ada reuni lho... ikutan yuk, nanti berangkat sama aku." Lanjut Tomy. SMP? reuni? Riyan?? Pikiranku sampai ke Riyan. Orang yang beberapa kali menjadi bahan ketidak nyamanan hubunganku dengan Revan.
"Ikut yaa...." kata Tomy. Aku mengangguk.
Hape ku bergetar. Revan membalas.
'Terimakasih sudah menyukainya. Apa dipakai? Selfie dong.' Ini anak mintanya aneh aneh. Aku memotret diriku sendiri setelah membenarkan letak liontin itu dengan sempurna. Masih duduk disamping Tomy kemudian mengirimkannya. Aku masih terus ngobrol sama Tomy. Babnya sekarang pekerjaan sampingan. Aku butuh kerjaan baru.
'Sama Tomy ya... ngapain anak itu.'
'Biasa aku minta tolong carikan info pekerjaan sore.' Balasku.
'Gak usah kerja, bentar lagi masuk skripsi. Keteteran kamu.'
'Kan ada kamu.... Mas temenin aku reuni SMP yaa' ketikku. Dia membalas dengan jempol 4. Sementara ini Tomy belum dapat info pekerjaan sampingan.