I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 53



Dia mengajakku kesebuah danau. Danau buatan diatas gunung. Jajaran penjual oleh oleh dan sate kelinci bertebaran. Juga kuda tunggangan yang disewakan. Kapal kapal speed boat berjajar di pinggir danau. Sedikit bergoyang karena riak dari danau itu. Kami berjalan jalan dipinggir danau itu. Kabut menutupi puncak puncak bangunan dan bebukitan di sekitarnya. Aku rasa bangunan itu sebuah hotel yang disewakan. Terlihat dari papan nama yang tertera. Sepi... mungkin karena ini hari kerja.


Riyan memakai topi, masker dan kacamata hitam. Memakai jaket coklat panjang yang krah jaketnya diberdirikan. Tampak tak ingin dikenali.


"Kau mirip penculik beneran kalau begitu." Ejekku padanya. Riyan tertawa.


"Aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu, tidak ingin diganggu fans. Mereka akan menyita waktuku. Padahal waktuku bersamamu itu sangat berharga." Kata Riyan santai, tapi kembali menggetarkan hatiku. Seperti dulu, aku memalingkan mukaku agar tidak terbaca ekspresinya. Dia menggandeng tanganku mengajakku berjalan jalan.


Kami berjalan di ikuti satu body guardnya yang tadi menjadi sopir kami.


"Apa orang terkenal tak bisa jalan sendiri? Aku risih dengan temanmu itu." Kataku sambil menunjuk belakang.


"Apa kau lupa siapa dia? Ingatanmu cukup buruk ternyata." Jawabnya santai. Aku menoleh kebelakang mengamati orang itu dengan cermat. Tak menemukan hasil. Sepertinya aku memang tidak mengenalnya.


"Kau mengerjaiku?" Kataku ketus. Riyan tertawa lagi. Sayang wajahnya kini tertutup, aku jadi tidak bisa menikmati ketampanannya.


"Dia Bagas, teman sekelas kita dulu waktu kelas tiga. Kau benar benar melupakannya? Kasihan sekali kau Gas." Kata Riyan sambil menoleh kebelakang. Aku ikut menoleh kebelakang. Jarak kami dengan Bagas hanya dua langkah. Mustahil dia tak mendengar percakapan kami. Samar kuingat sosok Bagas. Bocah kucel kurus yang selalu dibully karena kekucelannya. Dia..... anggota band bobrokku dulu waktu SMP. Heiii dia terlihat berbeda sekarang.


"Helo Bagas, apa kabar?" Kataku sambil nyengir gak enak karena melupakan teman sendiri. Dia tersenyum dan mengangguk. Penampilannya sekarang jauh berbeda. Dia terlihat keren. Badanya juga besar berisi. Tidak terlihat ringkih dan kucel.


"Ngedip!! Kamu jatuh cinta dengan Bagas? Seleramu berubah dari musisi keren ke pria pria macho berbadan bagus? Jadi kau memacari polisi bodoh itu?" Kata Riyan. Aku sebal Dia mengatai Revan bodoh terus terusan.


"Revan gak bodoh!!! Senang sekali bilang dia bodoh. Menyebalkan." Kataku. Riyan justru tertawa lagi.


"Kau tidak trima aku sebut dia bodoh yaaa. Manis sekali, apa kau jatuh cinta padanya?" Kata Riyan. Dia mengusap pergelangan tangan kiriku. Ada gelangnya yang masih kupakai. Walaupun sudah terlihat berumur gelangnya. Beberapa talinya memang sudah terlepas dari jalinan.


"Kenapa tidak membuangnya? Kalau kamu mencintai Revan?" Tanyanya. Aku ikut melihat gelang itu. Kuangkat tangan kiriku kedepan mukaku, sambil membelai gelang itu.


"Ini bagus, kenapa harus aku buang." Kataku. Lagi lagi Riyan tertawa.


"Bagus yaa... bukankah lebih bagus kalung dari Revan itu? Lihat kilaunya. Aku yakin itu ratusan kali lebih mahal dari gelangku. Kau tidak membuangnya karena masih mencintai aku. Bukan karena gelangnya bagus." Kata Riyan.


"Haa percaya diri sekali kamu!" Ejekku sambil buang muka.


"Pesona Riyan itu tidak terbantahkan." Katanya sambil berjalan mundur menghadapku membuka tangan lebar lebar. Cihh... aku mau mencibir ketengilannya, tapi dia memang keren.


Riyan berhenti disebuah warung. Memesan tiga kopi susu untuk kami. Aku dan Bagas mengikutinya. Bertiga kami duduk menghadap danau. Bagas membuka bungkusan yang dia beli tadi. Ada bermacam macam camilan.


"Mau yang mana Put?" Tawarnya padaku. Aku mencomot coklat berbungkus ungu.


"Biar aku bukakan." Kata Bagas. Dia membuka coklat itu dan menyerahkannya padaku.


"Cih kau memanjakannya Gas, tangannya masih berfungsi." Kata Riyan yang kini membuka maskernya. Bagas bungkam hanya senyum senyum.


"Itu yang dinamakan gentelman. Lagi pula aku suka dimanja. Revan selalu memanjakanku." Jawabku. Aku jadi kangen Revan. Apa dia baik baik saja?


"Haaa itu bukan gentelman, tapi bucin. Aku gak mau jadi bucin. Bagiku hubungan itu setara, tidak boleh ada yang lebih rendah atau lebih tinggi kastanya." Riyan mengoceh berbicara masalah hubungan. kubiaran saja, aku sibuk dengan hpku.


"Tenanglah sedikit. Bukankah dia polisi bodoh yang pintar? Dia akan baik baik saja. Kudengar kemampuan menembaknya baik. Karatenya juga pernah aku jajal. Dia akan baik baik saja Sayang." Kata Riyan merapatkan duduknya disampingku. Aku masih fokus mengetik pesan. Kuabaikan ocehannya.


"Haaa Mamas? Kau bahkan punya panggilan kesayangan." Dia mengintip hpku. Aku langsung menyembunyikan hpku.


"Kamu tidak sopan." Kataku sebal.


"Kamu yang gak sopan. Aku baru saja sampai dikota ini. Dapat telpon entah dari siapa. Ternyata dari polisi bodoh yang meminta aku menjemput pacarnya. Kau tahu aku capek sekali." Kata Riyan mengeluh.


"Kenapa berangkat menjemputku kalau capek?" Tanyaku.


"Kau pikir aku akan membiarkanmu dalam bahaya? Aku masih...... Kau..... masih..... cantik walaupun berpacaran dengan polisi bodoh." Kata Riyan terbata. Aku menoleh padanya. Kalimatnya terdengar aneh ditelingaku.


"Apa?" Tanya Riyan saat aku menatapnya. Aku menggeleng sambil tersenyum. Sepertinya dia ingin mengatakan 'aku masih mencintaimu' tapi gengsi hahahaha.


"Carikan vila sekitar sini Gas." Kata Riyan pada Bagas. Bagas berlalu tanpa suara.


Riyan juga beranjak dari duduk. Menyelipkan banyak lembar uang merah dibawah gelas kopinya.


"Uuu Riyan yang murah hati." Pujiku. Dia tersenyum.


"Uangku banyak. Aku bingung cara membuangnya." Katanya sok keren. Aku tertawa. Dia melepas kacamata dan topinya sambil jalan.


"Sepertinya disini aman dan cukup sepi dari fans." katanya sambil menggandeng tanganku.


Kami mengobrol sambil menyender dibesi pinggiran danau. Udara dingin menyapa permukaan kulit. Dia masih Riyan yang supel. Obrolan mengalir begitu saja. Tentang Simpel, tentang kejadian lucu, dan pacar pacar artisnya.


"Aku pernah merayu mereka, tapi salah sebut nama. Saat itu yang kurayu Selly, aku menyebutnya Putri." Katanya. Aku tertawa.


"Kau bahkan masih buaya sama seperti dulu." Kataku. Sesaat kemudian hatiku kembali teremas. Dia..... salah sebut namaku? Atau nama pacarnya yang lain? Yang bernama Putri juga? Aku memandanginya. Dia juga menoleh kearahku. Kami berpandangan seperti dulu.


"Dan kenapa kamu makin cantik? Bahkan aku tidak bisa melupakanmu dulu. Sekarang aku tidak tahu bisa tidur atau tidak setelah bersamamu begini." Katanya dengan intonasi tenang. Dia..... jujur. Atau limu buayanya sudah meningkat. Dia mendekat, tidak menyisakan jarak antara tubuh kami. Menyelipkan rambutku yang jatuh menutupi sebagian wajah.


"Aku sudah dapat vila Yan." Kata Bagas dibelakang kami. Kami sama sama terkejut dengan kehadiran Bagas.


"Kita kesana. Aku mau tidur sebentar." Kata Riyan.


"Cih, baru saja ngegombal tidak bisa tidur. Dasar buaya tidak konsisten." Aku mengolok Riyan. Dia tertawa mencubit pipiku sebentar.


"Kadang gombalanku berlebih yaa. Tapi aku jujur saat bilang kamu makin cantik." Katanya.


"Pesona Putri tidak terbantahkan." Kataku sambil merentangkan tangan meniru gayanya tadi. Riyan dan Bagas tersenyum melihat tingkahku. Aku mendahului mereka berjalan menuju mobil.


"Aku ingin memakannya sekarang Gas, dia menggemaskan." Kata Riyan pada Bagas. Aku masih bisa mendengarnya.