I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 108



Aku dapat kerja disebuah pusat grosir baju dikotaku. Tidak banyak gajinya. Apalagi untuk orang yang sudah pegang uang banyak seperti pembagian keuntungan hasil mebel. Yang bahkan sampai sekarang masih mengalir deras direkeningku. Aku tak peduli gajinya yang penting bisa mengalihkan pikiranku dari kesedihan.


Kios kecil itu membuka tulisan lowongan. Aku mendatangi begitu saja saat diajak Mbakku cari baju Damar.


"Nama?" Tanya pemilik kios judes.


"Putri." Jawabku singkat.


"Kerja disini gajinya kecil, jam kerjanya panjang. Kamu mau?" Tanyanya lagi.


"Mau.... saya mau asal diterima kerja." Jawabku bersemangat.


"Oke, besok datang kesini mulai kerja." Kata pemilik kios. Aku diterima kerja bahkan tanpa surat lamaran.


***


Dua minggu aku kerja disana.....


Aku punya dua teman dikios kecil itu. Satu bocah baru lulus SMA. Dan satu lagi sudah dua tahun ikut pemilik kios. Tapi usianya masih dibawahku. Aku jadi merasa tua. Mereka mengira aku masih singgel. Aku juga tidak mau menceritakan lebih dalam tentang diriku.


Diki sering datang mengantarkan makan siang. "Selamat siang....adakah yang butuh makan siang?" Kata Diki. Dia datang dengan tiga box makan siang bertuliskan sebuah restoran rumah makan padang. Teman teman baruku sumringah.


"Aduhhh Mas Diki, kalau baik begini aku lho yang baper." Kata Sofi. Diki menyerahkan box makan siang itu pada Sofi.


"Aku sudah bilang berkali kali Dik, aku....." Kata kataku terputus. Diki menggantikan.


"Aku tidak mau merepotkan kamu Diki. Aku bisa cari makan siang sendiri. Kamu kan juga punya kesibukan, kenapa repot sering mengantarkan makan siang kesini..... Kurang lebih begitu." Kata Diki sambil nyengingis. Dia hapal kalimat mantraku kalau dia mengantar makan siang.


"Lha itu udah hapal. Kenapa masih diulangi?" Tanyaku.


"Yang pertama ini tidak merepotkan, yang kedua aku senang, yang ketiga aku suka omelanmu." Kata Diki. Kemudian berlalu pergi melambaikan tangan dengan banyak gaya. Teman baruku mencieh cieh. Mereka mengira aku pacaran sama Diki. Haaa andai mereka tahu aku bahkan masih bersetatus istri orang lain.


***


Kami sudah beres beres mau tutup kios kecil ini. Tiba tiba temanku nyeletuk.


"Maaf Pak kami sudah mau tutup." Kutoleh kearah orang itu. Revan. Mataku sudah berembun saja. Dia melihat tajam kearahku. Tanpa menjawab perkataan temanku.


"Di.. dia temanku Din." Kataku pada temanku Dinda. Revan langsung tersenyum kecut saat kubilang kata 'teman'. Mereka ber ow ria. Melihat Revan dengan sedikit ketakutan. Muka dan penampilannya memang masih acak acakan.


"Aduh mbak Putriii banyak fansnya ternyata. Tapi yang ini agak serem." Bisik Dinda. Aku cuma nyengir.


Revan diam bersandar pada besi pembatas sambil menungguku selesai tutup toko. Matanya tak lepas memandangku. Aku sedikit risih dengan tatapanya. Dia membantuku saat aku kesulitan menarik roling door turun. Tubuhnya berhimpit dengan tubuhku. Aku mencium bau tembakau yang sangat kuat. Dia merokok?


Dia mengikutiku sampai aku tiba diparkiran basement. Dua temanku sengaja mempercepat langkahnya. Memberiku ruang untuk bicara.


"Ini sudah dua bulan. Kita harus bicara. Batasmu mendiamkanku cukup." Kata Revan. Aku berbalik menatapnya. Kami bertatapan dalam diam. Kerinduan jelas terpancar dimatanya. Dua temanku sudah tancap gas pergi.


"Mobilnya disana." Kata Revan menunjuk mobilnya.


"Kita bicara di depan. Aku bawa motor dan mau pulang sendiri." Kataku berbalik naik kelantai dasar.


Kami disambut night market dengan payung payung besar dan meja kursi di bawahnya. Tempat ini sebenarnya jalan searah kalau pagi. Berada di depan gedung pusat grosir baju tempatku bekerja sekarang. Kalau malam jalan ditutup. Diputarkan dibelakang gedung ini. Kemudian jalan ini diisi dengan meja kursi. Jajaran pedagang makanan berada disebrang jalan gedung pusat grosir.


Aku memesan dua teh botol dan duduk disebuah kursi. Dia mengikutiku. Kami duduk berhadapan.


"Apa kau sering ketempat ini?" Tanya Revan sambil mengamati sekitar. Aku masih bungkam. Sebenarnya malas bicara, tapi dia benar. Mau atau tidak kami harus bicara.


"Apa kau cukup makan? Kenapa kurus sekali? Aku....merin..." Revan tidak melanjutkan kalimatnya. Aku menatapnya.


"Apa?" Aku memintanya melanjutkan. Dia menunduk.


"Aku tidak berani melanjutkannya." Kata Revan sendu. Wajahnya berubah penuh tekanan.


"Aku minta maaf Dek, aku minta maaf. Aku tahu kesalahanku mungkin tidak termaafkan. Aku..... aku lebih takut melihatmu berdarah dan juga apa yang terjadi pada....... pada..... Satria. Aku pengecut karena memilih pergi .....mengejar dia yang menyakiti kalian. Aku pastikan dia mendapat hukuman, tapi aku takut...... takut menghadapi kalian. Aku takut." Kata Revan dengan kalimat panjang yang terbata. Dia mengusap mukanya. Lama menekan matanya. Aku tahu dia menahan diri untuk menangis ditempat umum. Mataku juga mengembun dari tadi. Padahal aku berencana tegar dan memakinya.


"Maafkan aku. Walaupun aku entah pantas tidak untuk meminta maaf, tapi maafkan aku. Aku mohon." Kata Revan terhenti karena pelanyan menyerahkan teh botol kami.


"Aku ...... akan menyerahkan semua keputusan padamu. Semuanya. Aku pantas menerima hukuman apapun darimu..... apa lagi dari........Sat.....satria. Aku berdosa padanya. Aku... terlalu pengecut dipanggi papa. Termasuk jika kau mau kita ..... berpisah." Dia menghela nafas beberapa kali. Menenangkan diri dengan begitu terlihat. Biasanya dia mampu mengendalikan diri dengan baik, tapi tidak kali ini.


"Bagus, aku tidak ada niat kembali kerumahmu lagi dan kembali menjadi istrimu. Kau lebih mementingkan pekerjaanmu dari pada istrimu bahkan anakmu. Aku akan memasukkan gugatan kita. Agar kau bisa mengejar penjahat sampai pelanet Pluto sekalipun. Tanpa harus menyakitiku lagi." Kataku pedas. Dia mengangguk pasrah. Hening beberapa saat...


"Tapi jujur aku tidak mau menyerah dari cintamu Dek. Aku tidak menyerah. Aku masih berharap kau mau memafkanku. Kita bersama lagi. Aku tidak berjanji bisa menutup lukamu. Tapi aku akan berusaha untuk tidak membuat luka baru. Aku mencintaimu Dek. Aku hancur tanpamu. Tapi..... tapi jika memurutmu itu hukuman yang pantas untukku. Aku terima. Aku menerima atas nama cintaku padamu." Kata Revan mantap. Sejak kapan dia pandai berkata kata seperti ini?? Hening..... aku meminum teh botol itu. Entah apa rasanya.


"Tapi, bercerai dariku agak memakan waktu lama. Kita harus menghadapi sidang kantor lagi sebelum sidang dipengadilan agama." Kata Revan. Aku mengangguk.


"Akan mudah kalau kita bisa bekerja sama memberi alasan tepat untuk berpisah." Kataku.


"Tidak, aku akan mempertahankan pernikahan ini. Jangan harap bekerja sama denganku." Kata Revan.


"Kalau begitu ayo kita buktikan siapa yang menang." Tantangku.


"Daftarkan sidang perceraian kita! Aku juga masih bisa membela diriku sendiri." Kataku sebal.


"Aku akan mendaftarkannya. Aku minta nomermu yang baru. Agar bisa memberi tahu jadwalnya nanti." Kata Revan sambil mengeluarkan hpnya. Sebuah korek gas ikut keluar dari saku celananya. Terjatuh kebawah membentur aspal.


"Kamu merokok Mas?" Tanyaku spontan. Bodoh!!! Makiku sendiri dalam hati. Sekarang aku terlihat memperhatikannya. Harusnya aku bersikap masa bodoh. Dia memungutnya sambil tersenyum.


"Untuk mengalihkan sesak di dada. Lagi pula aku agak tidak sibuk sekarang. Banyak waktu luang. Jadi ini untuk mengisi waktu saja." Kata Revan dengan sedikit senyuman. Dia bersiap dengan hape. Aku menyebutkan nomerku dengan jelas.


"Sudah? Aku mau pulang." Kataku.


"Kau mau makan sesuatu?" Tawar Revan tidak ingin berpisah.


"Tidak, terimakasih. Aku akan mengambil barang barangku dirumahmu. Bisakah kau mengepaknya untuku? Jadi.... aku gak terlalu lama disana." Pintaku. Dia menggeleng.


"Aku tidak mau. Itu alasanku untuk bersamamu walau sebentar. Aku akan membantu mengemasnya bersamamu." Kata Revan santai.


"Kau manyebalkan!" Kataku. Dia tersenyum.


"Aku akan menjadi menyebalkan atau picik sekalipun. Asal bisa menikmati waktu denganmu." Kata Revan. Aku merindukan senyumannya. Tidak!!!!! Tidak ada yang kurindukan dari pria bodoh ini.


"Omong kosong! Aku mau pulang." Kataku berdiri mengambil tas, helem dan jaketku yang tersampir dikursi tengah tengah kami. Dia memegang tanganku. Mengusap cincin pernikahan kami dijariku.


"Boleh aku minta kau tetap memakainya? Kalau terlalu berlebih boleh aku minta kau menyimpannya? Jangan dibuang. Aku mohon." Kata Revan menyedihkan.


"Aku akan menyimpannya." Kataku melepaskan tangannya.


"Satu lagi. Tidak perlu mengirim uang hasil mebel lagi kerekeningku. Aku bukan tanggunganmu atau tanggungan Bapak lagi." Kataku.


"Itu bukan kewenanganku Dek, itu kewenangan Bapak. Minta sendiri padanya." Kata Revan sambil menatap wajahku. Dia..... merindukanku.


"Selamat malam." Kataku berlalu.


Ternyata dia mengikutiku lagi sampai parkiran motor. Mensejajarkan langkah kami.


"Makanlah yang banyak. Kau tinggal tulang." Katanya sambil kami berjalan. Tulang... dia pikir aku ini ayam goreng apa. Bahasanya menyebalkan!!!


"Jangan urusi bodyku. Tidak penting untukmu." Kataku berjalan cepat.


"Kenapa buru buru sekali?" Tanyanya bodoh.


"Karena aku tidak ingin bicara denganmu!" Kataku menohok dengan nada membentak. Aku sudah sampai dimotor milik mbakku. Yang beberapa bulan ini kukuasai. Motorku sendiri masih dirumah Revan. Aku memandang ban motor itu. Kempes dua duanya. Setan!!!


"Kau yang melakukannya Mas?!!" Bentakku padanya.