I Love U, Mas

I Love U, Mas
part 111



Aku bisa memastikan kami mengarah kepegunungan area favorit Revan melepas penat. Kami berhenti diembung puncak ketinggian. Lokasi ini terletak dikabupaten tetangga kotaku. Kabupaten yang terkenal dengan julukan kota susu. Jalanannya cukup ekstrim untuk sampai disini. Aku kalau sendiri tidak akan mampu. Terlalu menantang.


Sepi.... karena ini hari kerja. Hamparan pemandangan khas daratan tinggi menyambut kami. Kabut tipis dan hawa dingin memeluk tubuh kami. Lereng Merbabu yang indah. Revan memberikan hodienya. Karena aku hanya memakai kaos lengan pendek ketat. Dia merangkul pundakku, tapi kutepis.


"Tidak ada kontak fisik dalam bentuk apapun!" Kataku. Dia tersenyum.


"Tapi ini dingin lho Dek, enak sekali kalau berada dibawahku sambil mendesah." Kata Revan. Otaknya sudah terveling ternyata.


"Jangan harap!" Jawabku ketus. Aku masuk disebuah warung dan memesan dua kopi juga dua mangkuk mie instan. Aku lapar. Warung ini satu satunya warung yang buka diembung ini. Pemilik warung seorang ibu ibu berlipstik tebal yang berkali kali memandang kearah Revan. Penampilannya tanpa brewok dan rambut cepak seperti ini memang lebih menarik dari biasanya. Apa lagi dengan kaos polo army yang menampilkan separuh otot lengannya. Dia masih rajin fitnes sepertinya. Kegiatan yang dia lakukan seminggu sekali kalau sibuk. Kalau tidak sibuk bisa seminggu tiga kali walau hanya satu jam.


"Sepertinya aku cukup tampan Dek." Kata Revan menyadari tatapan emak emak pemilik warung.


"Itu karena cuma kita yang disini. Kalau ada pengunjung lain dia tidak akan melirikmu." Kataku kejam menjatuhkan percaya dirinya. Dia tertawa. Lesung pipinya terlihat jelas tanpa brewok. Membuatku ingin menutup wajahnya dengan tas slempangku agar tidak tetlihat oleh emak genit. Aku terlambat. Emak genit datang dengan dua cangkir kopi saat tawanya belum reda.


"Ih, Masnya manis banget lesung pipinya." Katanya sambil menyajikan kopi.


"Terimakasih Mbak." Kata Revan sengaja mengelus tangan emak genit sambil mengambil kopi. Memanggilnya dengan sebutan 'Mbak' agar dia semakin geer. Haaa modus murahan!!! Emak langsung tersenyum senang sambil berlalu. Kucubit pinggangnya dengan keras. Revan tertawa sambil berusaha melepaskan cubitan.


"Lucu sekali Dek, mulutmu pedas mencelaku, tapi matamu cemburu padaku." Kata Revan tepat. Aku diam memalingkan wajah.


Dia mengeluarkan rokok dan menyulutnya. Sepertinya memang sengaja menguji kesabaranku. Aku melotot kearahnya.


"Apa? Katamu gak ada kontak fisik kan Dek, jadi aku tidak apa apa merokok." Kata Revan santai. Asap mengepul dari mulutnya.


"Kenapa merokok sekarang? Apa enaknya sih?" Tanyaku sebal.


"Enaklah, terlihat lebih jantan." Katanya santai.


"Jantan, tapi baumu mirip om om dengan tembakau melekat di tubuh." Aku mendebat.


"Aku emang Om dari tiga ponakan lucu. Suami dari Tante mereka yang cantik." Kata Revan sambil intens menatapku.


"Iya sekitar beberapa bulan lagi." Jawabku. Dia tersenyum kecut. Mie datang dengan asapnya yang mengepul.


Emak penjual menanyakan kenapa kesini pada saat weekday. Revan menanggapi obrolannya dengan ceria. Menanyakan dimana penginapan rekomended dan tempat wisata lain selain disini.


"Ada kampung home stay tak jauh dari sini Mas, seluruh kampung menyewakan penginapan dengan harga miring. Lalu ada gardu pandang yang bisa melihat Merapi dari arah sebaliknya dari sini." Kata Emak Warung menjelaskan. Revan mengucapkan terimakasih. Emak Warung pergi dengan senyum genit.


"Aku gak mau nginep yaa. Aku mau pulang setelah ini." Kataku.


"Pulanglah, jalan kaki dari sini." Katanya santai sambil menyeruput kuah mie.


"Aku belum ijin dan aku kerja besok. Jangan minta lebih dari ini atau aku akan...."


"Akan apa? Memanggil Diki untuk menjemputmu lagi?" Potong Revan.


"Suruh dia kesini kita lihat siapa yang babak belur." Ancamnya. Kilat kemarahan jelas dimatanya. Dia tidak main main.


"Lalu apa maumu???!!!" Kataku meninggi. Untung suasana sepi walaupun pertengkaran kami dilirik Emak Genit.


"Memperjuangkan istriku. Meminta maaf darinya. Membatalkan niatnya untuk bercerai." Kata Revan tegas menatap mataku. Hatiku bergetar dengan kesungguhannya.


"Masalah perijinan gampang. Aku sudah minta ijin Ayah. Lagi pula statusku masih suamimu." Kata Revan.


Kami berjalan jalan sebentar disekitar embung. Ada spot foto menarik perhatianku. Dibawahnya menghampar kebun warga yang indah. Aku menyiapkan kameraku mau selfie. Dia ikut nempel disampingku. Saat kamera mau menjepret dia sengaja mengubah pose mencium pipiku. Hahhhh menyebalkan!!!. Dia mengambil hpku dan memasang foto terbaru itu menjadi status terbaru dimanapun. Termasuk sosmed publikku.


"Itu namanya pembajakan. Terlalu memalukan memasang foto seperti itu! Pasang sendiri disosmedmu!! Jangan mengganggu sosmedku!!!" Kataku marah marah. Berusaha mengambil hpku. Dia tidak menyerah. Mengacungkan tinggi tinggi hpku ditangannya. Tetu saja susah meraihnya karena tinggi badan kami yang berbeda. Saat aku berusaha menggapai tangannya dia mencium bibirku dan mengunciku dalam pelukannya. What the Fuc*. Emak pemilik warung melihat kearah kami. Aku meronta tapi percuma. Aku.... juga merindukan bibirnya. Ini ciuman kami setelah sekian lama. Rasanya...... berdebar..... seperti ciuman pertama dulu. Entah mengapa. Notif sosmedku yang ramai menghentikan ciuman itu. Dia melihat semua notif sambil senyum senyum. Menyebalkan!!!


Sampai kami tiba disebuah home stay dia tetap menyimpan hpku.


"Aku mau dua kamar!" Kataku protes.


"Hanya tersisa satu kamar Dek, tidur saja diluar kalau tidak mau sekamar denganku." Kata Revan santai. Edan apa!! Di dalam kamar menjelang malam saja sedingin ini apa lagi diluar. Aku cemberut duduk ditepi ranjang. Dia membuat dua cangkir teh panas memberikannya satu untukku.


"Kamu gak dingin Mas?" Tanyaku. Dari tadi dia hanya memakai kaos tanpa jaket. Aku yang menyita hodienya saja masih kedinginan.


"Aku lebih takut tatapan dingin dari matamu." Gombalnya. Aku tertawa.


"Ayo lupakan masalah kita sampai esok Dek. Ijinkan aku bersamamu sebagai suami dan kekasihmu malam ini." Kata Revan. Dia kembali menciumku.


Malam ini? Baiklah.... aku akan menjadi istri dan kekasihmu Mas. Biar kunikmati senyumanmu. Kunikmati belaianmu yang kurindukan. Malam ini... biar kucurahkan segala kerinduan yang terpendam didadaku. Akan kulupakan sejenak semua surat surat yang sudah kusiapkan. Anggap saja ini perpisahan yang manis. Aku tidak bisa hidup diduakan dengan pekerjaanmu. Tidak bisa melupakan kesedihanku saat kamu melepaskan paksa tanganku saat aku dan Satria membutuhkanmu. Aku tidak bisa hidup dalam kekejaman semacam itu.


***


Kami makan malam dengan nasi goreng kuli. Bukan kuli, mungkin nasi goreng monster. Aku tidak yakin ada orang mampu menghabiskan seporsi nasi goreng itu seorang diri. Aku dan Revan menyerah menghabiskannya.


"Aku tidak kuat Mas." Kataku menyingkirkan piring nasi goreng yang tersisa banyak sekali. Revan tersenyum dia masih mengunyah.


"Dua porsi nasi goreng ini bisa buat makan satu tim dikantor." Kata Revan. Dia juga menyerah. Menyingkirkan menjauh nasi goreng itu dari hadapannya. Kami cekikikan berdua. Tidak habis pikir porsi yang ditetapkan penjual nasi goreng itu.


Revan juga menyerah dengan udara dingin yang menusuk kulit. Kami membeli sepasang jaket coupel yang bikin sakit mata karena terlalu lebay. Aku tidak menyangka Revan mau memakainya.


"Kau yakin akan memakainya?" Tanyaku setengah tidak percaya.


"Kenapa tidak? Jaket ini tebal cocok untuk hawa dingin. Kau juga harus memakainya Dek. Rangkapkan saja dengan hodie itu." Kata Revan sambil memakaikan jaket itu ditubuhku.


Jaket berwarna kuning mencolok dengan tulisan. 'I'M HER' untuk Revan dan 'I'M HIM' untuk aku. Hahahaha. Ini jaket paling norak dan paling gila yang pernah kupakai. Dia Juga beli topi hangat kembar bertuliskan tempat ini. Mirip sovenir atau sejenisnya.


Kami menghabiskan malam didepan kamar. Memghampar pemandangan gunung merapi yang gagah dengan puncak garudanya. Kerlipan lampu dari rumah rumah penduduk dibawah sana menambah indah suasana. Seperti bintang dibawah kami. Revan mengambil bed cover dari dalam kamar. Mengalungkannya ditubuhku.


"Ini sangat dingin. Aku gak mau kamu masuk angin." Katanya. Aku meringkuk di kursi depan kamar berbalutkan bed cover.


"Kenapa ganti motor?" Tanyaku melihat motor ninjanya terparkir dipelataran berhimpit dengan motor pengunjung home stay yang lain.


"Motor lamaku rusak parah terseret kereta. Tidak bisa diperbalik lagi." Katanya santai seolah menceritakan motornya rusak ganti lampu.


"What??? Terseret kereta?!!!" Tanyaku takjub. Dia mengangguk.


"Saat mengejar Tomo, orang yang menyebabkan ......kalian celaka." Kata Revan sedikit terbata.


"Lalu kamu baik baik saja?" Tanyaku bodoh. Tentu saja dia baik. Sehat segar bugar duduk disampingku. Dia tersenyum, semakin mendekat dan mengalungkan tangannya dipundakku.


"Tentu saja aku baik sayang, aku senang kau mengkhawatirkanku." Kata Revan dengan cepat mencuri satu ciuman dipipiku.


"Apa yang terjadi dengan Tomo?" Tanyaku.


"Kritis, pagi hari saat Satria juga pergi." Katanya. Kami menghela nafas bersama. Ternyata ini berat untuk kami berdua.


Terdengar cekikikan dari halaman. Dua muda mudi yang menempati kamar sebelah pulang. Mereka saling berpelukan.


"Malam Mas, Mbak." Sapa si cowok. Sedang si cewek membuka kamar dengan kunci.


"Malam." Sapaku. Revan lekat memperhatikan mereka sampai menghilang dibalik pintu. Suara jejeritan manja terdengar. Sepertinya mereka menghangatkan diri dengan cara lain. Aku jadi merinding. Entah mengapa berada didekat Revan seperti ini membuatku mudah merinding.


"Kalau aku tidak sedang diskors, aku sudah gerbek mereka." Kata Revan pelan. Berbisik mendekatkan bibirnya ditelingaku.


"Kenapa?" Tanyaku.


"Mereka jelas baru saja menggunakan sabu." Kata Revan.


"Kenapa kamu diskors?" Tanyaku lagi.


"Aku memburu Tomo nonstop setelah dia melukaimu. Aku melakukannya tanpa surat ijin dan melakukan beberapa pelanggaran. Termasuk menentang perintah Pak Sidiq sebagai pimpinan tertinggi dikantor. Walaupun akhirnya dia terbukti menjadi bandar, tapi aku tetap dinilai bersalah. Aku diskors 3 bulan tanpa gaji. Juga pemindahan tugas kebagian lain." Kata Revan terlihat putus asa.


"Kata Bapak, Pak Sidiq memerintahkan untuk menembakmu ditempat. Apa benar?" Tanyaku. Revan tertawa.


"Aku bahkan masih ditodong pistolnya sesaat sebelum sidang kode etik polri digelar Dek, tapi aku yakin itu cuma menggertak. Pak Sidiq tetap membelaku saat sidang berlangsung." Kata Revan.


"Lalu tadi, kenapa masuk kerja?" Tanyaku teringat baju polisinya siang tadi.


"Mengambil surat tugasku yang baru. Sekarang aku harus memakai sragam setiap hari dan juga berpenampilan rapi. Melelahkan." Katanya. Aku tersenyum.