
Orang rumahku heboh aku diantar cowok. Ayah langsung membrondong Mas Revan dengan banyak sekali pertanyaan. Dia menjawabnya dengan santai. Pembawannya memang santai dan tidak terburu buru. Lumayan juga. Cool menurutku.
Mas Revan permisi saat menjelang magrib. Setelah Ayah bosan menanyainya secara berulang ulang.
"Dulu ayahmu jadi PNS bagian apa Put?" Tanya Mas Revan saat aku mengantarnya kehalaman.
"PNS kelurahan Mas, tukang buat KTP. Kenapa?" Tanyaku balik. Dia malah senyum.
"Pertanyaannya mirip polisi lagi introgasi. Jadi lukisan itu lukisan Mbah Kakungmu dari pihak Ayah?" Tanyanya lagi. Ternyata dia memperhatikan lukisan kecil di dinding ruang tamuku.
"Iya, Mbah Kakung dulu seorang polisi dan Mbah Putri seorang guru." Kataku.
"Lalu apa mantan pacarmu berandalan atau mantan pacar kakak kakakmu?" Tanyanya sambil tertawa.
"Kenapa?" Tanyaku. Tadi Ayah sama sekali tidak bercerita tentang Riyan. Dia melihat mataku. Tambah lebar tawanya.
"Mantan pacarmu ya yang berandal. Hahaha harusnya aku bisa menebak dari awal." Katanya. Aku sedikit merinding sekarang. Apa dia paranormal?
"Oke, pulang dulu yaa. Lain kali boleh main dong. Katakan pada Ayahmu aku tidak akan mengecewakan seperti mantan pacarmu." Katanya sambil mengenakan helem dan melesat dengan motornya. Meninggalkan aku yang masih merinding dengan sikapnya.
Aku ancang ancang mau kuliah. Banyak orang menyarankan aku mengambil jurusan sastra. Karena bakatku memang terlihat disitu. Tapi aku memilih jurusan hukum. Orang tuaku tidak terlalu mementingkan mau jurusan apa. Mereka sibuk memikirkan biayanya. Hahahaha.
Mas Revan senang sekali aku ambil jurusan hukum. Katanya dia punya teman yang bisa membantu tugas tugasku kelak. Dia juga menyarankan aku daftar beasiswa. Dia akan membantuku.
Dengan bantuan Mas Revan aku dapat sedikit keringanan biaya. Walau bukan beasiswa full, tapi itu cukup membantu. Awal masuk kuliah aku juga di bantu untuk ini dan itu. Kadang aku merasa Mas Revan terlalu bersemangat melebihi aku sendiri.
"Kenapa semangat sekali membantuku Mas?" Tanyaku suatu hari diwarung bakso
"Karena akan bagus sekali ada gelar S.H dibelakang nama seorang ibu bahayangkari." Katanya sambil sibuk mengaduk kuah bakso dengan sambal. Aku menaikkan alisku.
"Maksudnya?" Tanyaku gak ngerti. Dia diam sejenak.
"Tidak ada, siapa tahu kamu bisa jadi istri polisi." Jawabnya asal sambil makan lagi.
"Itu gak pedes sambel 3 sendok buat satu mangkok?" Tanyaku. Aroma cabai bahkan sampai di hidungku. Dia menggeleng.
"Ini enak, apalagi kalau habis begadang semalam." Kata Mas Revan sambil terus makan.
"Kamu begadang?" Tanyaku lagi. Kalau tidak salah dia pamit mau tidur jam setengah 7 malam tadi. Aku bahkan mengoloknya karena mirip bayi. Dia berhenti mengunyah sebentar. Kemudian mengangguk.
"Kemarin temanku datang kerumah, aku gak jadi tidur malah nongkrong sampai pagi." Katanya memberi penjelasan. Aku pun ber oww ria.
Telfonnya berbunyi. Dia berdiri dan permisi mengangkatnya diluar warung. Datang lagi dengan tergesa gesa katanya ada lah yang penting. Dia menyerahkan kunci motornya dan menyuruhku pulang dengan motornya. Tidak lupa membayar tagihan bakso dikasir. Ini cowok memang sedikit aneh menurutku. Tapi bodolah. Dia sudah banyak membantuku diawal masuk kuliah. Terserah dia mau seperti apa. Toh dia tidak pernah memintaku jadi pacar. Atau menuntutku ini dan itu. Hubungan kami hanya sebatas teman.
***
Aku dapat hadiah motor dari orang tuaku. Ayah bilang karena aku dapat beasiswa walau separuh. Walaupun tidak baru, tapi cukup mendukung diawal awal perkuliahan seperti ini. Motor merah itu kuberi nama Mimin. Entah kenapa terlintas saja nama Mimin saat melihatnya.
Awal masuk kuliah seperti kebanyakan maba lainnya. Dikerjain sana sini sampai pusing tujuh keliling. Jualan daun sampai meminta senior berkencan aku jalani. Melelahkan saat dijalani, namun menjadi kenangan setelahnya.
Aku bertemu Tomy, teman SMP ku dulu. Sekarang menjadi teman sekelas dan sejurusan. Dulu kami sempat dikirim lomba geguritan (puisi dalam bahasa jawa) bersama. Aku rasa dia juga kuat dibahasa. Kenapa memilih hukum?
"Kenapa pilih hukum Tom, bukan sastra?" Tanyaku padanya.
"Karena yang membiayaiku sekolah memilih jurusan ini. Aku saja bersyukur bisa kuliah, jurusan apapun gak masalah." Kata Tomy.
"Kamu dapat bea siswa?" Tanyaku lagi.
"Bea siswa sekaligus uang saku." Jawabnya.
"Hebat! Masih ada? Aku boleh ikut?" Aku bersemangat. Dia menggeleng.
***
Mas Revan sudah sebulan gak ada kabar setelah buru buru meninggalkanku diwarung bakso. Hanya sesekali menanyakan kabar atau mengomentari setatusku. Hingga saat aku pulang kusadari dia mengikutiku dari belakang. Saat dilampu merah dia mensejajarkan motornya.
"Ada waktu?" Tanyanya. Aku mengangguk.
"Aku tunggu diperempatan depan." Katanya. Dia sampai duluan. Menungguku sambil memainkan hpnya.
"Mau makan sesuatu?" Tanyanya. Siang yang terik. Aku membayangkan rujak eskrim yang segar.
"Rujak eskrim boleh? Tapi traktir yaa." Kataku memelas. Dia tersenyum dan mengisyaratkan oke dengan tangannya.
"Kamu duluan. Aku ikutin dari belakang." Katanya. Aku tancap gas menuju rujak eskrim yang kuinginkan.
Dua porsi rujak eskrim sudah terhidang di meja depan kita. Tempat lesehan ini yang selalu kudatangi kalau butuh rujak yang enak.
"Kaya orang hamil aja minta rujak." Kata Mas Revan sambil menyendok rujak miliknya.
"Rujak enak, sehat pedas, siapa tahu kamu habis begadang lagi." Kataku.
"Kali ini aku gak begadang kok, malah tidur nyenyak beberapa hari." Kata Mas Revan sambil senyum senyum.
"Gimana kuliahnya?" Tanyanya lagi.
"Lancar biasa lah kalau dikerjain dikit." Jawabku. Dia mengangguk.
"Aku dulu juga begitu. Lebih parah malah." Katanya. Kami diam menikmati sensasi eskrim dan rujak yang rasanya lengkap.
"Put, aku sebenarnya mau jujur. Tapi kamu janji gak marah setelah aku jujur." Katanya.
"Mau omong apa?" Tanyaku.
"Tapi janji gak marah yaa." kata Mas Revan.
"Ya gak janji, kalau bohongnya kebangetan."
"Ya udah gak jadi jujur."
"Ih, nyebelin banget sih!" Kataku sambil mencubit lengannya. Dia mengaduh bahkan berteriak. Langsung menekan lengannya dengan tangan satunya. Ada cairan yang merembes lewat jaket flanel hitamnya. Bahkan menetes dari tangannya. Darah!! Aku panik dan memboncengkannya keklinik terdekat yang di rekomendasikan tukang rujak.
Dokter klinik membuka jaketnya. Ternyata ada perban mengelilingi lengannya darah sudah mengucur. Aku disuruh menunggu diluar. Dokter akan menjahit ulang lukanya. What??!! Luka apa?
Tirai dibuka jahit menjahit ala dokter sudah selsai. Dia malah sudah senyum senyum manis seolah baru saja dapat lotre.
"Maaf ya Mas, aku gak tahu lenganmu luka. Sekarang masih sakit? Luka apa sih? Dijahit ulang? Emang habis kena apa?" Tanyaku. Dokter di sampingku sudah membuka mulutnya.
"Cuma kecelakaan biasa gak parah kok." Sahut Mas Revan cepat.
"Lagian aku udah gak papa. Aku kan kuat." Katanya lagi nada berkelakar.
"Bapak memang kuat, saya yakin Bapak kuat, tapi sebaiknya Bapak istirahat dengan benar agar lukanya cepat sembuh. Agar pacar Bapak tidak perlu mengkhawatirkan 'kecelakaan' yang Bapak alami." Kata dokter menekankan kata kecelakaan. Aku jadi curiga ada yang disembunyikan.
"Maksudnya 'kecelakaan' apa Dok? Apa sebenarnya buka kecelakaan kecil?" Tanyaku sambil menekankan juga kata kecelakaan. Revan menggeleng.
"Ditanyakan saja sama Bapak, permisi mbak. Semoga saja lekas sembuh."
****
Welcome Riyan dalam dunia nyata. Walaupun sedikit misuh misuh setelah tahu garis besar cerita. hahahahaha. Selamat menikmati kisah yang terinspirasi dari kisah cinta monyet kita. Sehat selalu, bahagia selalu. Aku merindukan petikan gitarmu dalam temaram lampu stodio musik. Atau saat kita berbalas SMS lebay jaman dahulu.