
Beberapa hari kemudian aku dapat kiriman bunga mawar merah besar. Aku mempostingnya disemua sosmedku. Dibumbui kata kata romantis dan terimakasih yang indah. Memalukan sebenarnya.
Aku menelfon Revan.
"Bagus, bagus. Kita tunggu responnya. Aku kirim orang untuk mengawasimu." Kata Revan ditelpon.
"Kenapa bukan kamu saja? Kenapa bukan kamu sendiri yang mengawasiku." Tanyaku. Hening sesaat...
"Karena kita pura pura putus." Kata Revan menekan pada kata 'putus' Haa... hatiku remuk walaupun dia menambahkan kata 'pura pura' didepannya.
***
Tidak ada respon dari Bagas. Revan menyuruhku bikin status galau selama tiga hari berturut turut.
"Galau gimana?" Tanyaku saat malam dia menelpon. Hubungan kami semakin jauh. Revan sengaja menghindariku bahkan dirumahnya sekalipun. Kami hanya berhubungan lewat telpon atau pesan. Tidak lagi bertemu muka. Aku.... kangen.
"Terserah, gambarkan dengan kata katamu. Gambarkan kalau kita putus." Katanya Mantap.
"Aku tidak mau!" Kataku cepat.
"Kenapa? ini hanya ekting." Kata Revan. Hatiku semakin perih.
"Ini tidak akan terjadi sungguhankan?" Tanyaku.
"Lakukan saja sesuai perintahku." Kata Revan kemudian menutup telfonnya. Dia.... semakin dingin dan jauh.
Malam minggu aku dapat kiriman buket coklat besar dirumah Revan. Aku sumringah menerimanya. Walaupun tahu siapa pengirimnya kini, tetap saja buket coklat berwarna kuning dan ungu itu indah. Pegawai Bapak heboh minta bagi coklatnya. Aku memfotonya dulu sebelum kubongkar. Kemudian kubagikan pada pegawai Bapak. Masih sisa banyak walaupun setiap orang sudah dapat bagiannya. Kumasukkan tiga bungkus dalam tasku. Ada yang kutinggal dimejaku.
"Kalau ada yang mau lagi ambil saja. Lumayan buat oleh oleh anak." Kataku pada para pegawai. Bapak pun tertarik ikut makan satu.
Revan datang dengan motornya. Ikut nimbrung diteras bersama pegawai yang nunggu gajian.
"Waahh ada yang bagi bagi coklat ini." Katanya sambil nyomot satu dari meja.
"Dari siapa?" Tanyanya sambil makan coklat itu.
"Ah, Mas Revan suka pura pura lupa. Masa coklat sendiri, dikirim kerumah sendiri, ditanyain sendiri." Kata salah satu pegawai. Revan berpikir sejenak.
"Ini punyamu?" Tanyanya sambil melihat kearahku. Aku mengangguk cuwek.
"Kiriman kurir." Jawabku. Dia berdiri masuk rumah setelah melempar coklat yang setengah dia makan ketong sampah. Hpku bergetar pesan dari Revan.
'Posting jangan lupa!!!!!!!!' Dengan tanda seru berderet deret.
***
Aku dihubungi Bagas. Awalnya hanya bertanya kabar. Lama lama makin intens berchating. Dia mengakui kalau dialah yang mengirim kado kado itu. Dia bertanya apa aku putus dengan Revan? Kujawab iya. Beberapa hari kami berkomunikasi intens. Kemudian dia mengajakku bertemu. Hatiku melorot jatuh. Aku takut.
'Dia mengajak bertemu. Aku takut ' ketiku pada Revan.
'Bagus, mau ketemu dimana biar kita persiapkan tempatnya.' Balas Revan cepat.
'Kafee xxx, minggu jam 10 pagi.' Ketiku mengcoppy pesan dari Bagas.
'Bagus, persiapkan dirimu. Dandan yang cantik. Ada timku yang akan menjemputmu sebelum kamu datang ke cafe.' Balas Revan.
'Aku kangen.' Ketikku lagi. Dia tampak mengetik balasan, tapi tidak ada pesan terkirim lagi. Akhirnya pesanku hanya dibaca. Nyesek....
Malam harinya aku menelfonnya. Tidak diangkat. Padahal dia pasti sudah pulang kerumah.
'Mamas, aku gak bisa tidur, aku takut.' Pesanku. Dibaca, tapi tidak dijawab.
***
Esoknya aku dijemput Boby jam 9. Dia membawaku kesebuah mobil mini bus tidak jauh dari cafe. Revan ada disana. Dia ada dimobil bersama dua temannya. Revan memberikan aku alat yang ditempelkan didada.
"Cepat tempelkan didada!" Perintah Revan melihat aku bengong.
"Disini?" Tanyaku sedikit keheranan.
"Memang mau dimana lagi?" Tanyanya dengan nada tinggi.
"Tapi katamu tempel dibelakang pakaian dalam." Aku kebingungan. Dia bengong sesaat. Dia garuk garuk kepala salah tingkah.
"Oooo....oh iya, baiklah." Katanya gugub.
"Aku tidak boleh terlihat disekitar sini. Jon, Beri, keluar dari mobil dulu. Aku akan tutup mata." Kata Revan. Dua temannya cekikikan sambil keluar dari mobil.
"Jangan mengintip!" Kataku pada Revan yang mulai menutup mata. Mukanya yang cemberut saat mode kerja membuatku gemes. Tapi mendinginnya hubungan beberapa bulan ini membuatku enggan melakukan kontak fisik.
"Sudah?" Tanyanya saat aku mengamati wajahnya. Kangen.....
"Sudah." Jawabku.
Aku menyayanginya. Sudah masuk kecanduan atas dirinya. Aku.... tidak mau kehilangan dia.
"Aku menerimanya. Aku menerima lamaranmu tanpa ada syarat." Kataku. Dia bengong sejenak. Mukanya masih mode kerja, tapi terlihat cerah. Kemudian dia masangkan benda kecil ditelingaku.
"Terimakasih." Katanya. Mencoba alat ditelingaku.
Dia menjelaskan kalau kami akan berkomunikasi seperti ini dengan semua tim. Aku harus terbiasa mendengarkan suara dari tim, dan berbicara pada Bagas diwaktu yang sama. Dia merapikan rambutku agar menutupi telinga. Mengelus pipiku sejenak. Ternyata yang kangen bukan cuma aku.
"Bagaimana kalau gagal?" Tanyaku panik.
"Tidak masalah, tidak semua penangkapan berhasil." Jawab Revan santai.
"Aku takut." Kataku.
"Kau dilindungi banyak polisi. Tidak perlu takut." Jawab Revan.
"Kau akan disana juga kan?" Tanyaku sambil memegang tangannya. Dia balik menggenggam tanganku dalam dekapan tangannya.
"Tentu saja, percaya padaku." Katanya.
***
Aku duduk sendiri disebuah cafe yang dijanjikan Bagas. Ada beberapa microfon yang dipasang disekitarku duduk.
Tanganku gemetaran, tapi kucoba tenang. Suara ditelingaku menenangkan. Mereka sudah bersiap di posisi masing masing. Beberapa polisi ditempatkan didalam dan diluar cafe. Revan menunggu dalam mobil disebrang cafe. Aku akan aman.
Sebuah mobil mewah datang. Bagas, ditemani seseorang. Tapi dia masuk sendiri. Penampilannya berbeda. Dia lebih.... rapi.
"Siapa menyangka kado kado kecil itu meluluhkanmu." Katanya sumringah. Aku tersenyum seceria mungkin.
"Kamu cantik kalau tersenyum seperti itu." Katanya.
"Kamu juga.... berbeda. Lebih rapi." Kataku.
"Aku tahu kamu suka cowok cowok berpenampilan rapi. Aku berusaha memenuhi seleramu." Katanya.
"Aku sedikit heran kenapa kamu mau dengan cowok seperti Revan. Dia sama sekali tidak modis dan awut awutan." Kata Bagas.
'Anjin*' Revan mengumpat. Aku tersenyum menahan tawa. Gaya mengumpatnya yang santai seperti berbicara biasa menambah semakin lucu. Dua polisi di ujung caffe sudah tertawa. Anehnya mereka seakan teman lama yang sedang bercanda. Natural sekali.
"Kenapa putus dengan Revan?" Tanya Bagas.
"Dia melamarku, aku memintanya berhenti jadi polisi. Dia tidak mau dan meninggalkanku." Kataku. Cekikikan terdengar dari alat ditelingaku. Suara Boby. Yang kali ini menyamar sebagai pelayan cafe.
"Lagi pula dia punya dua fans yang selalu mengejarnya. Aku gerah merasa tidak dihargai sebagai pacar." Lanjutku.
"Ow, tampangnya Om Om, tapi punya fans juga ternyata." Kata Bagas. Tawa kembali terdengar. Aku cuma bisa tersenyum.
"Pria perfeksionis yang lebih mencintai pekerjaan daripada kekasihnya. Pria bodoh meninggalkan gadis secantik ini." Katanya. Sambil meraih tanganku dan menciumnya. Aku tersenyum. Bukan karena Bagas, tapi karena suara ditelingaku. Revan mengumpat lagi.
Bagas berkata dia berduka untuk Riyan. Katanya Riyan sudah mempersiapkan diri untuk melawan ayahnya sendiri. Dia membentuk tim kepercayaan. Salah satunya Bagas. Karena itu saat Riyan tertembak, dia berani menembak balik Nur yang hanya membawa anak buah sedikit saat itu. Aku manggut manggut mendengarkan.
Dia berpindah duduk disampingku.
"Lalu, kau berencana berpacaran denganku? Kau yakin? Aku sama saja dengan Riyan." Katanya.
"Aku tidak tahu, jalani saja semua seperti ini." Kataku. Dia menggunakan modus Riyan. Merentangkan tangan dan menurunkan dipundakku pelan pelan.
'Anj*ng' Umpatan Revan kembali terdengar. Aku tersenyum.
"Kenapa?" Bagas bertanya tentang senyumku. Aku bingung mencari alasan.
"Modusmu mirip Riyan dulu." Kataku setelah kebingungan.
"Tapi aku belum berani menciummu." Kata Bagas
"Jangan!!!" Kataku panik. Apa jadinya kalau dia menciumku dibawah pengawasan Revan.... hiiii ngeriiii. Bagas kaget dia mengerutkan keningnya.
"Jangan ciuman ditempat umum, aku malu." Kataku. Dia manggut manggut. Kami diam sesaat. Tangannya masih dipundakku sambil mengelus pelan.
"Adek, lepaskan tangannya dari pundakmu. Ijin ketoilet sekarang. Goo tim goo. Sebelum dia benar benar mencium pacarku." Kata Revan. Aku permisi ingin ketoilet. Dia melepasku dengan senyuman.
Tim Revan bersiap. Mereka mendekati meja kami. Aku sempat melihat Bagas ditodong, dia terbengong. Dia diringkus tim dengan cepat. Aku ditarik Boby menjauh dari lokasi. Kami berhasil meringkus Bagas. Operasi ini berhasil.
"Kerja bagus Mbak Cantik. Ini penangkapan terkonyol yang pernah kami lakukan. Pak Revan memang cerdas. Ini penangkapan yang menguras tawa, karena dia mengumpankan pacarnya sendiri. Hahahaha." kata Boby.
"Ayo aku antar pulang Mbak." Kata Boby lagi setelah tawanya reda.
"Aku mau pulang sama Revan." Kataku.
"Dia sibuk setelah ini. Tenang saja, aku akan mengantarkanmu sampai rumah dengan selamat." Kata Boby.
"Aku juga gak akan bilang Pak Revan kalau kau mau pegangan aku." Katanya sambil nyengir. Aku pun berboncengan dengannya menuju rumahku.