
Kejadian tadi pagi menjadi hedline dimana mana. Polisi belum mengeluarkan pernyataan resmi tentang apa yang terjadi. Yang jelas grombolan pendemo itu bersenjata. Beberapa pendemo tewas, beberapa polisi juga. Luka luka banyak dari kedua belah kubu. Aku mendengarkan berita dari radio dimobil Revan.
"Mereka menunggu grombolan kami ditengah jalan. Tidak jauh dari kantormu berada. Menyatu dalam barisan. Aku sudah curiga siapa mereka? Tampangnya tidak mirip mahasiswa. Saat tiba didepan kantormu. Mereka mengeluarkan macam macam dari dalam tas masing masing." Kataku. Revan mengangguk. Sambil fokus memperhatikan jalan.
"Sudah pasti, tidak ada mahasiswa yang pandai merakit senjata, bahkan bom. Banyak temanku terluka. Sekarang ini jadi urusan anti teror." Kata Revan.
"Kalau kamu tadi tidak segera pergi, mungkin akan nginep dikantor polisi. Minimal dimintai keterangan. Aku gak bisa bantu, karena sudah urusan anti teror bukan area wewenangku lagi." Kata Revan lagi.
Aku menggelayut dilengannya. Dia menurunkan satu tangannya yang kugelayuti dari kemudi.
"Terimakasih sudah menyelamatkanku. Terimakasih sudah menjagaku." Kataku. Dia tersenyum.
"Jangan tetlibat masalah lagi. Janji? Befikir sebelum bertindak. Aku heran kenapa kau sering terlibat masalah." Kata Revan. Aku senyum. Makin mengeratkan pelukanku dilengannya.
"Mungkin karena aku punya pelindung polisi tangguh." kataku manja. Dia tertawa.
"Kenapa kamu memanjakanku seperti ini Mas? Aku dulu wanita tangguh, tapi mengenalmu membuat aku pelan pelan jadi lemah dan manja. Dikit dikit kamu dikit dikit kamu. Aku terlalu bergantung sama kamu." Kataku.
"Aku tidak memanjakanmu. Aku hanya melakukan yang terbaik untuk kamu. Tapi aku suka memanjakanmu." Kata Revan sambil melirik aku sekilas. Perjalanan sore itu diisi dengan curahan perasaan dari hati kehati. Sepertinya.... aku mulai tahu siapa yang kucintai sekarang.
***
Aku mengecup pipinya sebelum kami turun dari mobil. Dia ikut turun menyapa orang tuaku.
"Makan dulu Van, Ibu bikin jenang sumsum." Kata Ibu.
"Lah, tumben bikin jenang segala." Sahutku.
"Mbakmu minta jenang. Dipo udah muter kemana mana gak ketemu. Yaudah Ibu bikinin aja. Ajak Revan makan dulu. Ibuk bikin banyak." Kata Ibu. Revan menolak. Katanya masih banyak kerjaan. Aku mengantarkan kembali kemobil.
"Kakamu sakit?" Tanya Revan. Aku menggeleng.
"Nyidam." Jawabku. Revan terkejut kemudian manggut manggut.
"Kapan kamu juga nyidam anakku?" Tanyanya.
"Secepatnya Iptu Revan Aji. Tapi ijinkan aku selsaikan sekolahku dulu." Kataku. Dia tersenyum.
"Aku akan menunggu. Sepertinya sudah ada sedikit titik terang untuk lamaranku." Katanya sumringah. Kami berpisah dengan senyuman dibibirnya.
Cuaca sangat panas malam ini. Aku mengambil handuk, melintasi kamar Mas Dipo. Yang punya kamar buka pintu.
"Ngapain kamu malem malem bawa handuk?" Tanya Mas Dipo.
"Mau macul." Jawabku santai.
"Malem malem mandi. Rematik kamu." Katanya.
"Panas Mas, gerah banget malam ini." Kataku sambil berlalu masuk kamar mandi.
Selsai mandi kulihat Mbakku muntah muntah diwastafel. Mas Dipo mengurut leher belakangnya.
"Ambil minyak angin Put!" Perintah Mas Dipo. Buru buru kuantarkan minyak angin kedapur.
"Masih muntah yaa... " kataku prihatin.
Mbakku mengangguk sambil memperhatikan daster longgar yang kupakai.
"Ini enak dasternya anyep, longgar lagi." Kataku sambil memutar mutar daster perca bertali kecil di bahu. Emang agak terbuka sih, tapi gak papa. Ini kan udah malem. Mau buat tidur doang. Mbakku manggut manggut. Berlalu kekamar diiringi Mas Dipo.
Baru mau ngikut masuk kamar, Mas Dipo balik lagi ambil ember kecil. Terdengar muntahan lagi dari dalam kamar Mbakku. Padahal ini sudah malam. Sepertinya jadi ibu baru itu sulit.
Ibu yaa..... mereka seibu. Revan dan Riyan. Pantas saja terkadang kulihat kemiripan diwajah mereka. Bahkan seorang Revan menangis mengetahui fakta itu. Aku yakin Riyan juga menangis. Mereka sama sama dibesarkan dalam kondisi seorang diri yang kesepian. Kemudian setelah sebesar ini baru menyadari kalau mereka punya saudara. Astaga..... takdir macam apa ini. Bahkan mereka dikubu bersebrangan. Air mataku turun juga walaupun tadi sudah puas berbagi kesedihan dengan Revan.
Aku mengoleskan krim kewajah dan leherku. Liontin peri dari Revan bergaser. Aku membenarkan dan mengamatinya sejenak. Apa semahal yang dikatakan Riyan? Tapi tidak heran, Revan dan ayahnya itu sebenarnya kaya. Tapi mereka low profile sekali. Revan diam saja sudah dapat keuntungan dari hasil mebel. Ditambah gajinya sebagai polisi. Hummm sebelum aku bekerja disana hasil keuntungan pasti dibagi dua. Kalkulator bobrok diotakku bekerja. Semakin dewasa aku semakin tahu kalau uang memang bukan segalanya, tapi mempermudah segalanya hahahaha. Dan yang terpenting uang yang didapat halal.
Kini giliran pakai lotions di tanganku. Gelang Riyan tersentuh oleh tanganÄ·u. Aku teringat ciuman kami..... hambar. Apa rasa cintaku yang selama ini kuanggap ada ternyata sudah tidak ada? Aku terus memikirkan Revan saat bersama Riyan. Aku memegang pengait diujung gelang. Sekali tarik gelang itu terlepas. Tidak bisa satu hati ditempati dua cinta. Sekarang aku tahu cinta mana yang harus kupilih. Aku simpan gelang itu dalam laci meja rias kecilku. Riyan itu cinta pertama, cinta terindah, tapi cukup untuk dikenang. Tidak lebih. Walaupun niatku untuk mengeluarkan dia dari dunia mafia masih sama membaranya.
Hpku berbunyi tanda pesan masuk. Dari Revan.
'Mimpi indah Dek' weleh tumben anak ini kenal kata 'mimpi indah'. Aku jadi senyum senyum sendiri.
'Nice drem too. I love u Mas' balasku dengan cepat. Kalau dipikir pikir aku gak pernah bilang cinta padanya selain dikantor polisi itu. Dia mengirimkan setiker bentuk hati berderet deret. Aku tertawa melihatnya.
'Apa harus kubalas dengan uyel uyel manja yang lama?' Pesannya lagi.
Aku tepok jidat.
'Mesum.' balasku. Dia mengirimkan emosi ketawa berderet deret. Mengirimkan foto meja kerjaku. Nota bertumpuk juga dafar order dan laptop yang menyala.
'Tidurlah, pekerjaanmu banyak besok.' aaaaa tentu saja. Aku membolos sehari ini. Kuamati lagi fotonya. Aku yakin dia sedang mengerjakan pekerjaanku yang menumpuk. Laptop menyala sebagai buktinya. Tapiiii..... ada tangan wanita nyempil dipojok foto. Hah!!! pasti Nenek Sihir.
'Itu malam malam kenapa ada Nenek Sihir dirumahmu!!" Ketikku.
'Dia menemaniku. Lumayan ada teman ngobrol.' balas Revan.
'Tidur!!! Besok biar aku yang kerjakan' ketikku. Tidak ada balasan. Menyebalkan! Aku menelfonnya. Tidak diangkat. Asem aku kesal sendiri!!! Kulempar diriku keatas kasur yang empuk.
Saat aku setengah terpejam tiba tiba telfonku berbunyi. Vidio call. Aku angkat sambil meringkuk berbaring miring.
Wajah Revan terpampang dilayar. Matanya melebar melihatku.
"Kam....kamu sudah tidur?" Tumben suaranya tergagap.
"Setengah terpejam." Kataku sambil menguap. Hening. Dia berpindah kedalam rumah. Suara Nenek Sihir memanggilnya terdengar. Dia tidak peduli. Dia masuk kamarnya. Matanya lekat melihat layar hp.
"Apa bajumu seperti itu kalau tidur? Aku berharap bisa jadi peri dikalungmu." Katanya sambil senyum senyum aneh.
Aku menunduk melihat kalung. Liontinnya terjepit diantara dua gunungku yang ternyata setengah terbuka. Aku langsung melempar hp. Langit langit kamarku menggantikan wajahku dilayar. Revan langsung protes.
"Aku mau yang tadi, aku mau yang tadi!!! Dek, tiga menit aja..... Dek, semenit juga boleh. Aadddeeekkk plis." Kata Revan merengek. Mirip anak kecil minta permen. Aku duduk sambil menperlihatkan muka kesal.
"Mesum!!" Jawabku. Mukanya terlihat kecewa.
"Dek yang tadi seger lho.... hemmm malam malam gini." Jawab Revan mukanya sudah merah padam. Aku jadi merinding.....
"Udah ah, ngantuk. Aku mau tidur. Dadahh....." Kataku sambil melambai. Kumatikan sambungan vidio itu.
***
keter bestie, aku ketetaran hari ini. Sibuk mirip orang punya kerjaan hahahahaha. Selamat pagi, selamat beraktifitas.