
Revan naik pangkat dalam upacara khusus. Upacara korps rapot dimulai. Kami para istri ikut berbaris dengan seragam kami. Revan menjadi salah satu perwaklian yang melapor pada inspektur upacara. Berpakaian polisi lengkap dengan rambut rapi.
Setelah laporan komandan, Revan maju bersama dengan beberapa teman polisinya. Intinya menyatakan kalau tanda kepangkatan baru sudah terpasang. Ternyata balok emas dipundaknya menjadi tiga baris. Pangkat barunya Ajun Komisaris Polisi disingkat AKP.
Selesai upacara kami para istri mendampingi suami menerima ucapan selamat. Saat aku mendekat dia tersenyum. Lagi lagi lesung pipinya yang sendirian itu mengganggu. Dia sudah berhasil merubah seleraku dari pria klimis, bersih, rapi, jadi pria awut awutan dengan bewok dan rambut acak acakan. Tidak, menurutku pria ideal hanya Revan.
"Apa kau hanya akan menatap seperti itu? Tidak memberiku selamat atau pelukan?" Tanya Revan membuyarkan lamunanku. Aku segera menubruk tubuhnya.
"Selamat Mamas, selamat sayangku, suamiku tercinta. Selamat untuk pangkat barumu. Semoga selalu selamat menjalankan tugas dan amanah." Kataku berbisik ditelinganya. Aku melepaskan pelukkanku. Dia tersenyum haru.
"Aku pikir aku tidak pernah merasakan ini. Dipeluk kamu dalam upacara kenaikan pangkat. Terimakasih sudah mau mendampingiku. Terimakasih untuk tetap mengizinkanku berkarier dikepolisian." Kata Revan.
"Apapun untukmu Mas. Aku bahagia asal kamu juga bahagia." Kataku bucin.
***
Satu setengah tahun pernikahan.....
Aku sudah tidak tahan lagi. Aku mau priksa sendiri dengan atau tanpa izin dari Revan. Mensku memang bermasalah dari dulu. Selain tidak teratur juga terkadang sakit. Tapi sakitnya bisa diatasi dengan minum obat anti nyeri ringan diapotik. Tidak berat, tapi aku takut aku tidak bisa hamil.
"Pokoknya aku mau periksa kedokter kandungan. Dengan atau tanpa izin dari Mamas." Kataku suatu malam pada Revan.
"Kenapa sih Dek, terburu buru sekali. Kita masih pengantin baru." Katanya.
"Baru apanya, ini sudah satu setengah tahun Mas." Jawabku ngeyel. Dia itu terlalu santai untuk urusan anak.
"Ah, masak sih, aku kok berasa masih pengantin baru." Katanya sambil cengir cengir. Kucubit lengannya. Dia mengaduh tapi tidak melepaskan.
"Kapan mau priksa? Aku temani." Kata Revan kemudian.
Aku langsung heboh milih rumah sakit dan dokter via onlen. Kutemukan beberapa jadwal yang dekat dengan hari ini. Tapi kalau bukan hari libur, sulit bisa bersama Revan. Aku juga mau ditemani.
"Ada beberapa jadwal hari kerja. Mamas ijin sebentar dong." Kataku saat kami sudah masuk kamar.
"Yang minggu aja Dek, pekerjaan Mas lagi padat." Kata Revan. Kapan tidak padatnya emang? Sebel!!!
Dia ikut aku tiduran dikasur. Tangannya sudah bersiap melancarkan aksi. Malam ini dia tugas malam. Pastinya akan membuatku lemas dulu agar aku tidak cerewet mengatakan pekerjaannya berbahaya dan lain lain.
"Mamas iiihhh aku lagi serius cari dokter." Aku berguling menjauh.
"Aku juga serius membuatmu hamil." Kata Revan, kemudian merampas hpku dan melucuti dasterku. Aku pasrah..... ini enak. Dia semakin mahir mengetahui titik sensitif tubuhku. Terus menghajar titik itu saat melakukannya. Membuatku tidak bisa bertahan minimal satu ronde imbang....
"Pergi dulu ya Dek." Kata Revan sudah berpakaian lengkap. Sambil mencium pipiku. Seperti biasa aku tidak bergerak. Polos tertutup selimut. Tidur......
Siangnya dia sudah pulang. Menciumku sekilas sambil memberiku undangan. Boby akan menikah.
"Ada juga yang mau dengan anak itu." Kata Revan. Aku tertawa. Boby adalah teman terdekatnya setelah Ine dikantor.
"Dek, kemari sebentar." Kata Revan sambil masuk kamar. Tidak mau!! Aku tahu apa yang dia mau setelah begadang.
"Aku mau ketempat suplyer Mas. Ada janji temu buat projek besar." Jawabku berkilah.
"Cepaaaattt!!" Mode polisi galak Revan keluar. Aku berlari masuk kamar.
"Satu ronde gak lebih... ini siang siang aku mal..." Kata kataku belum terselsaikan. Dia sudah menubrukkan bibirku. Bergerak terus sampai kami menyatu lagi.
"Ada satu dokter besok minggu siang Mas." Kataku. Dia setengah ngantuk.
"Minggu kita kepernikahan Boby." Jawab Revan.
"Pulangnya juga bisa. Dokternya siang kok." Kataku. Dia mengangguk dan memelukku.
"Temani aku tidur." Katanya kemudian terpejam. Tidur apanya Mas, pekerjaanku mengunung tinggi tinggi sekali.
Mebel lagi bagus bagus bagusnya. Bapak dan aku kuwalahan bin keteteran. Bapak mempersiapkan aku menggantikannya kelak. Karena mengharap Revan mengantikannya itu mustahil. Dia lebih suka menarik pelatuk dan kejar kejaran dengan penjahat. Aku di ajari memegang kendali penuh dalam bisnis ini. Dari mulai memilih bahan baku, sampai finishing.
Aku juga kembali jatuh cinta pada novel. Walaupun wujudnya sekarang onlen. Kudownload aplikasi biru. Awalnya hanya sebagai pembaca, namun lama lama jiwa sastraku mengelitik mencoba menulis. Walaupun tidak menghasilkan, tapi menulis adalah hobi yang menyenangkan. Itulah kesibukanku diluar mebel dan mengurus pekerjaan rumah. Juga kemauan ranjang Revan. Hampir subuh ketemu subuh semua aktifitasku berjalan....
Aku bangkit pelan pelan. Dengkuran halus masih kudengar. Kalau dengkuran itu berhenti, berarti dia bangun. Aku sudah hapal kebiasaannya. Tidak berani membuat suara, aku memunguti bajuku dan mandi dikamar mandi luar kamar. Aku pergi menemui suplayer kayu.
Ternyata supplyer yang kutemui Diki. Vocalis Simpel yang baru. Simpel memang tidak seterkenal dulu. Tidak seboming dulu saat Riyan vocalisnya. Itu sebabnya para anggota memilih pulang kampung dan menjalankan bisnis mereka masing masing.
"Wooooo kejutan ceweknya Simpel dimasa lalu ternyata seorang owner Ajilis." Katanya sambil menjabat tanganku.
"Aku bukan owner, cuma orang beruntung yang kebetulan dekat dengan Owner." Kataku.
"Tapi Pak Aji memintaku untuk nego denganmu. Apapun keputusan kita dia terima." Katanya. Aku mengangguk.
"Anggap saja aku anak ownernya kalau begitu." Kataku. Kami memulai bisnis...
"Tidak, itu merugikanku Put. Kenapa tidak sepakati harga yang dulu?" Kata Diki. Aku tersenyum. Harga negoanku memang lebih rendah. Aku tahu itu tidak mungkin. Anggap saja untung untung berhadiah. Hahahha
"Ayolah, biar Pak Aji tahunya aku hebat." Rayuku.
"Kamu dipuji Mertuamu aku dibunuh Ayahku." Katanya. Aku tertawa. Dia juga sedang diajari menghendel bisnis Ayahnya ternyata. Kami sama sama bocah ingusan dalam berbisnis.
"Sesuai kesepakatan yang tetua buat dulu. Kutambahi mendengar suaraku live sekarang." Katanya sambil menunjuk panggung mini dibelakangnya.
"Haaa kau pikir suaramu bagus?" Aku mengejek.
"Aku tidak akan menggantikan Riyan kalau tidak bagus." Sombongnya.
"Tidak, uang puluhan juta kau ganti dengan sebuah lagu itu tidak adil." Kataku belum menyerah.
"Dengarkan suaraku, aku beri diskon 2% untuk keseluruhan. Aku yang akan mengantarnya ketempatmu. Kau tidak perlu mengambil. Bagaimana? Kalau tidak mau tebang saja sendiri kayu di hutan." Kata Diki. Aku tertawa. Dia mengulurkan tangan. Kuterima jabatan tangannya.
"Dill." Ucap kami bersama. Kesepakatan ini sangat menguntungkan Ajilis. Hahahaha aku jadi takut Diki diomeli ayahnya nanti.
Dia benar benar menyanyi di panggung itu. Langsung dapat perhatian dari pengunjung lain. Aku memberinya tepuk tangan yang paling keras. Suara beratnya mengalun. Menyanyikan lagu Simpel dari album yang terakhir. Aku seperti melihat Riyan menyanyi. Sedikit melow juga.
Diki turun panggung menyambut tanganku. Menyanyi sambil merangkul pinggangku dengan sayang. Aaaahhhh..... aku seperti de javu beberapa tahun lalu.